
Nabila membanting pintu, melempar semua barang yang ia bawa di tangannya. Ia menangis dengan keras, meluapkan semua kesedihannya selama ini. Selama setahun dekat dengan pria yang ia sukai, apapun yang disukai dan tidak disukai Reyhan Nabila sangat tau. Selama ini Ia selalu mencoba bertahan dan lebih mementingkan perasaan Reyhan daripada perasaannya sendiri.
"Sudah cukup aku selalu menangis karena kamu, Rey! Hiks..." lama Nabila menangis, akhirnya tangisannya berhenti karena ponselnya berbunyi.
Wanita berusia 27 itu menatap layar ponselnya yang menyala, ternyata Ibunya menelepon. Nabila menarik selembar tisu di atas meja samping, membersihkan hidungnya yang tersumbat karena menangis baru ia mengangkat telepon.
"Assalamualikum, Bunda."
"Wa'alaikusalam. Nak, tadi Papah nya Delova telepon, katanya Delova mau pulkam dulu kesini. Kamu pulang juga kan, sayang?"
"Iya, Bun. Nab pulang bareng Nia juga, mungkin lusa baru pulang nunggu Lova dulu."
"Loh, kenapa suaramu serak gitu? Kayak abis nangis--"
"SIAPA YANG BERANI BIKIN ANAK AYAH NANGIS?!!!" ucapan sang Ibu terpotong oleh teriakan sang Ayah.
"Kagak mewek Yah, aku lagi flu ini. Idih, Ayah kalo ngomong kudu pake teriak weh..." Nabila paling dekat dengan Ayahnya, terkadang seperti sepasang sahabat yang selalu peka dengan perasaan masing - masing.
"Kamu pikir Ayah bakal percaya! Entar kamu pulang kalo Ayah tanya kamu jawab yang bener. Nih sama Bunda-mu lagi..."
"Sayang, beneran kan gak ada apa - apa?" tanya sang Bunda sekali lagi memastikan.
"Benar Bun, Nab gak papa kok. Tadi udah minum obat flu, bentar lagi mendingan," bohong Nabila.
__ADS_1
"Ya udah, Bunda tutup ya. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam." jawab Nabila.
"Fiuhhhh... Napa Ayah tau aja sih kalo aku lagi nangis. Udah ah, mau sholat dulu biar hati tenang."
Saat bersiap tidur Nabila menulis status di WA.
'Kalau lagi melow gini jadi kangen kucing gue yang dead... yang bisa gue peluk... Ahhh pengen punya lagi tapi takut gak keurus.'
...***...
Reyhan tak langsung pulang setelah pergi dari Apartemen Nabila, dia langsung pergi ke club karena perasaannya merasa tak karuan. Kenapa selama ini dia bodoh sekali? Dibutakan obsesinya pada Delova sampai tak menghargai wanita seperti Nabila yang selalu ada di sampingnya.
"Oiiii! Napa lo?" Satria teman nongkrong sedari SMA menepuk bahu Reyhan.
"Lo, mabuk? Lo, kan gak kuat mabuk, Rey!" lanjut Satria.
"Gue emang cowok gobl0k, Sat! Gue udah nyia-nyiain wanita yang sangat berharga di hidup gue!" racau Reyhan mabuk yang sudah mulai terlihat efek dari minuman beralkohol yang diminumnya.
"Apa? Masalah Delova lagi?" tanya temannya karena semua orang yang mengenal Reyhan sudah tau kalau Reyhan sangat terobsesi pada wanita bernama Delova.
"Delova lagi? Kenapa semua orang nyebut namanya disaat gue gak mikirin dia!" Reyhan membentak Satria, lalu melemparkan gelas di tangannya sampai pecah membuat para pengunjung club melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Woiii, tenang bro! Jangan ngamuk - ngamuk gini! Come on Man... sebentar gue telepon Nabila, kalo ada dia lo pasti jadi jinak!" Satria merogoh ponselnya bersiap menekan nomer Nabila.
"Shitt! Sialaaan! Nabila benci gue, Sat... dia gak bakalan temenin gue lagi, dia bilang sudah muak sama gue!" omongan Reyhan semakin tak terkontrol, Satria bingung tak mengerti.
"Apaan sih yang lo omongin? Gue kagak ngerti, Rey! Rey, hei!" Ternyata Reyhan sudah tak sadarkan diri.
"Astaga nih anak! Makin hari makin parah!"
Satria menekan nomer Nabila, segera menelepon karena sudah setahun ini yang ia tau sahabatnya itu dekat dengan Nabila.
...***...
"Halo, Sat?"
"Nab, gue lagi di club biasa. Reyhan mabuk lagi nih, lo biasanya yang ngurus dia kalo lagi mabuk. Gue bawa pulang ke Apartemen-nya, lo tunggu seperti biasa disana, ya?" ucap Satria yang belum tau hubungan Nabila dan Reyhan sedang memburuk.
"Ogah! Lo urus aja dia sendiri! Gue bukan babu dia, bukan temen dia! Reyhan bukan siapa - siapa lagi buat gue!"
Nabila memutus panggilan teleponnya.
"Gue mau tidur, ada aja gangguannya! Cih, ogah gue kudu ngurus tuh cowok ogeb. Tahan, Nab. Lo bisa lupain tuh cowok, bisa gak perduli lagi sama dia! Bisa kok...."
Tapi lain di mulut lain di hati, ia tak bisa pungkiri meskipun rasa sukanya sudah berkurang tapi Nabila tak bisa begitu saja gak perduli lagi. Akhirnya Nabila bersiap berganti baju dan ia pergi melajukan mobilnya menuju Apartemen yang ditinggali mantan Bos-nya.
__ADS_1