
Nabila melongo tak percaya mendengar persyaratan dari Reyhan, pasalnya jika Reyhan menjadi investor dalam film- nya sudah dipastikan dia akan selalu berada dalam genggaman pria keras kepala itu.
"Aku gak setuju!" tolak Nabila.
"Kenapa?" tanya Dimas.
"Ya, Nabila. Pak Dimas bertanya padamu, kenapa kamu menolak. Bukankah harus ada alasan yang jelas?" tantang Reyhan, dia tau Nabila tak akan mau membicarakan tentang hubungan tak jelas mereka berdua.
"I-itu, hanya saja untuk apa agensi lain ikut berinvestasi? Bukankah setiap perusahaan bersaing?" Nabila akhirnya menemukan alasan yang masuk akal.
"Tidak juga, kami biasanya bisa bekerja sama dengan baik meskipun berbeda agensi. Kalau aku sih setuju dengan persyaratan dari Pak Reyhan." Kata Dimas.
Nabila menggigit bibirnya, ia bingung mencari alasan lainnya. Lagipula Dimas adalah Produser di film yang akan mereka garap, sudah tentu keinginan pria itu lebih penting.
"Baiklah, kalau Mas Dimas sudah setuju. Aku hanya ikut saja keinginan Mas," Lyra mengangguk setuju.
"Nah, karena kesepakatan sudah dibuat. Bagaimana jika kita merayakannya, mari makan siang ini sudah waktunya." Ajak Reyhan seraya menatap jam tangan di lengannya yang menunjukan pukul 12.17 WIB.
"Tentu." Jawab Dimas.
"Saya yang traktir, ayo." Ajak Reyhan kembali.
__ADS_1
Mau tak mau Nabila mengikuti langkah kedua pria yang sudah berjalan pergi lebih dulu di depannya, ia hanya merasa kesal karena Reyhan selalu saja mengganggunya.
Setelah sampai di sebuah Restoran yang lumayan terkenal di kalangan agensi hiburan, bahkan banyak artis makan disana. Seorang staff Restoran lelaki muda membuka pintu dari dalam untuk mereka bertiga, Nabila tersenyum sopan berterimakasih.
Reyhan mencolek lengan Nabila lalu berbisik di telinga wanita itu, " Jangan tersenyum kepada lelaki manapun, jangan membuatku cemburu. Kau tau kan, bagaimana kelakuanku saat cemburu? Jangan menantangku, baby!"
Nabila memutar bola matanya malas, dia bahkan belum ada hubungan apapun dengan mantan Bos resenya itu tapi terus saja Reyhan membuat dia kesal.
"Bodo!" balas Nabila sama berbisiknya.
Dimas menatap kedekatan antara Nabila dan Reyhan, sontak ia merasa penasaran. Sejak berada di sanggar dia sebenarnya sudah merasa heran karena dari perbincangan Nabila dan Reyhan tidak seperti percakapan mantan Bos dan mantan pegawai.
Dimas hanya tersenyum ke arahnya, "Ayo, kita duduk," ajaknya.
Reyhan malah tidak merasakan malu saat terpegok bersama Nabila oleh Dimas, dia malah ingin mengatakan secara lantang jika Nabila adalah wanitanya dan jangan berani mendekati Nabila.
Nabila berjalan lebih dulu, ia mencari meja kosong lalu segera duduk disana.
Pintu Restoran terbuka di belakang Reyhan, seorang wanita cantik masuk. Nabila mengenalnya, wanita cantik itu adalah seorang artis film yang sudah membintangi beberapa film romantis. Lain lagi dengan temannya Delova, terkadang temannya itu mengambil peran dalam film action.
"Rey!" teriak wanita itu.
__ADS_1
Reyhan berbalik badan saat namanya dipanggil, ia mengerutkan kening karena mengenal wanita yang memanggilnya. Wanita itu adalah Anggita, mantan kekasihnya 4 tahun lalu. Reyhan sedikit tak nyaman, pasalnya Anggita adalah seorang wanita agresif. Tapi jika ia tidak balik menyapa wanita itu, image nya sebagai pemilik agensi hiburan akan terlihat jelek.
"Hai, Gita. Lama gak jumpa," Reyhan berbasa - basi.
"Lama apanya, kita kan terakhir bertemu 5 bulan yang lalu saat acara Grammy. Ternyata kamu pelupa sekarang. Hihi..." ucap Anggita centil.
Anggita beralih menatap Dimas karena ia juga mengenalinya, " Halo, Produser Dimas. Kapan aku diajak bergabung dalam film barumu?"
"Ah, tentu saja Anda bisa mengirim CV kepadaku. Kami saat ini masih mencari beberapa pemeran pendukung. Tentu Anda hanya ingin menjadi pemeran utama, bukan?" tanya Dimas.
"Tentu saja, aku akan senang bisa berperan dalam film Anda. Semua film yang pernah Anda luncurkan selalu booming." Anggita tersenyum senang.
Dimas mengangguk sopan, " Saya permisi duluan, Sutradara saya sudah menunggu." Pamitnya lalu berjalan ke arah meja dimana Nabila sudah duduk disana.
Reyhan pun ingin kabur, tapi Anggita merangkul lengannya. " Rey, traktir aku makan. Aku tau kamu ditolak oleh Delova selama ini, apa ada kemungkinan kita bisa kembali berhubungan? Jadi, ayo kita bicara." Wanita itu menarik lengan Reyhan agar duduk makan bersamanya.
Reyhan melirik Nabila yang sedang menatapnya, tapi Nabila langsung memalingkan wajahnya. Hati Reyhan tak nyaman, ia tak ingin menyakiti perasaan Nabila dan tak ingin dianggap playboy karena sekarang dia sedang PDKT pada Nabila.
Reyhan melepas rangkulan Anggita, ia menjauh. " Gita, sudah lama hubungan kita berdua hanya sebatas mantan. Jadi, meskipun aku ditolak Delova. Sekarang aku sudah menemukan tambatan hati yang baru, jadi dengan jelas aku katakan padamu, Git. Jangan bertingkah seperti ini lagi ke depannya jika kita tak sengaja bertemu. Mengerti!"
Reyhan tak menunggu respon jawaban dari Anggita, ia segera berjalan mendekati meja tempat Nabila berada.
__ADS_1