Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 29


__ADS_3

Sembari menunggu orangnya datang. Xi membuka topeng yang ia kenakan. Sudah lama ia memakannya sejak pelelangan di mulai. Dan itu membuatnya merasa tidak nyaman, menyembunyikan wajahnya di belik topeng cukup melelahkan. Meski bagus karena identitasnya tidak di ketahui oleh orang-orang, namun cepat atau lambat orang-orang juga akan mengetahuinya.


Melihat Xi yang melepaskan topengnya. Mina juga ikutan melepaskan topengnya. Terlihat beberapa bintik air di wajahnya, itu adalah keringat. Hal tersebut wajar, karena terus memakai topeng tanpa melepasnya akan membuat wajah menjadi gerah, sehingga keringat akan membasahi wajah agar tetap menjaga kelembaban wajah.


Pelayan tua itu datang menghampiri mereka. Dan memberikan mereka masing-masing handuk untuk membersihkan wajah mereka yang penuh keringat.


“Silahkan.” Memberi.


“Terimakasih” Menerima.


Xi melihat-lihat sekeliling ruangannya. Terlihat ada banyak barang didalamnya, sepertinya itu adalah barang-barang yang seharusnya di lelang.


Dari semua item yang tertata rapi di atas meja sana, ada satu item yang menarik perhatiannya.


Namun, sebelum dia mengambilnya, Xi pun bertanya kepada pelayan tua itu.


“Apakah barang-barang itu di jual?”


Melihat ke arah Xi menunjuk. Pelayan tua itu mengangguk dan menjawab. “Benar tuan muda.” Barang-barang yang ada di atas meja sana seharusnya adalah item yang di jual di pelelangan sebelum-sebelumnya. Namun, masih tetap ada di sana mungkin karena barang-barang itu tidak laku atau tidak menarik bagi peserta lelang. “Apakah ada sesuatu yang Anda inginkan?”


Xi mengangguk membenarkan. “Iya, Tolong. Bisakah anda mengambilkan benda itu?” Pelayan itu cukup tuan jadi Xi berbicara sopan. Meski status pria paruh baya itu adalah seorang pelayan, namun Xi tetap memandangnya sebagai orang tua. Karena pria paruh baya itu lebih tua darinya, alasan itu sudah cukup untuknya untuk bersikap sopan. Itu sebabnya dia meminta tolong.


Xi tidak ingin asal bertindak menyebabkan masalah kepada orang tua itu karena asal-asal menyentuh barang orang lain, lagi pula pria tua itu adalah orang baik, jadi sudah sewajarnya. Siapa yang mengetahui kalau barang-barang itu boleh di sentuh? Tentu saja tidak ada, kecuali orang-orang yang mengurusi rumah lelang ini.


“Tentu, mohon tunggu sebentar. Saya akan ambilkan.”


Xi mengangguk setuju. Setelah itu, pelayan tua tersebut berjalan meninggalkan mereka berdua dan segerah mengambilkan barang yang Xi inginkan.


Mina yang penasaran bertanya kepada Xi. “Apakah ada sesuatu yang menarik dengan benda iru?”


Xi mengangkat kedua bahunya bersamaa. Dia tidak tahu, hanya saja instingnya mengatakan kalau itu adalah barang yang bagus. “Entahlah... Hanya mengikuti instingku saja.”


Tentu, siapa yang mempercayai itu. Bahkan orang bodoh saja tidak akan mempercayai kata-katanya. Hanya mengandalkan insting untuk mendapatkan sesuatu yang bagus itu terdengar sangat mustahil. Meski keberuntungan itu ada, tetapi itu tentu saja tidak dapat di picu dengan hal tersebut. Yang ada hanya akan mendapatkan batunya, atau kesialan.


Mina mengembangkan pipinya. Itu terlihat sangat lucu. Namun, dia melakukan itu bukan karena ia ingin bersikap imut. Hanya saja dia cukup kesal karena Xi seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Xi yang melihat itu bingung. ‘Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?’ sangat heran. Namun tidak ada niatan untuk bertanya.


Pelayan tua itu tiba dengan membawakan barang yang Xi inginkan. Itu adalah sesuatu atau sebuah benda yang cukup berat dan keras, berbentuk bulat seperti bola, dan memiliki permukaan cukup kasar. Dan itu terlihat seperti batu biasa dan tidak ada istimewa-istimewanya sama sekali.


‘Ha? Bukankah itu hanya batu biasa yang ada di pinggiran jalan?’ Mina bertanta-tanya. Ia keheranan mengapa Xi tertarik dengan batu biasa ini? Bahkan item langkah yang sebelumnya muncul di pelelangan tidak menarik perhatiannya.


“Ini dia, Tuan muda.” Pelayan tua itu memberikan sesuatu yang mirip dengan batu itu kepada Xi.


Xi menerimanya. Dan memegang benda itu di kedua tangannya.


Ketika Xi memegangnya, itu terasa aneh baginya. Batu ini setidaknya sebesar bola kaki, tetapi kenapa itu tidak seberat batu sebesar itu pada umumnya. Bahkan berat benda tersebut tidak sampai empat kilogram. Dan itu sudahlah sangat aneh.


Notif sistem muncul dan memberikan informasi atau catatan tentang benda tersebut. Saat itu muncul, Xi hendak membacanya sambil pura-pura mengamati. Namun, sebelum dia mulai membaca, Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar, dan pandangannya langsung teralihkan.


Xi pun mengurungkan niatnya untuk membaca informasi yang sistem berikan. Meski dia sebenarnya ingin sekali membaca itu. Namun, orang yang dia tunggu sudah memasuki ruangan ini. Akan tidak nyaman jika dirinya terus memerhatikan benda yang di pegangnya tanpa melihat pemilik rumah lelang.


Pelayan tua memberikan hormat kepada pemilik rumah lelang. Namun, untuk Xi dan Mina sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Sesuatu yang Xi tidak duga adalah. Pemilik rumah lelang ini adalah seorang wanita cantik. Namun, usianya sudah tergolong cukup tua. Sekitar 27 tahun, dan statusnya belum menikah.


Dia berjalan dengan anggun, pakaiannya rapi serta ia juga memakai syal yang terbuat dari bulu hewan. Hmmm, itu terbuat dari rambut rubah perak, dan bahkan ekornya masih tergantung disana. Ia tidak mengenakan Rok, namun celana panjang. Tidak ada kesempatan untuk kalian melihat bagian bawahnya meski dia tersandung dan jatuh. Karena itu sepenuhnya tertutup.


“Maaf membuatmu menunggu lama pelanggan terhormat.” Suara merdu keluar dari mulutnya. Dan yang mendengarnya merasa sejuta.


Setelah dia tiba, duduk di sofa tepat di depan Xi. Duduk di sofa dengan anggun selayaknya seorang ratu.


Mereka mulai berbicara soal pembayaran. Si pemilik bertanya “Bagaimana anda akan membayarnya?”


Xi merogok dalam bajunya dan mengambil sesuatu. Sebuah kantung kecil. Hmmm, itu tidak cukup menyakinkan. Bagaimana uang sebanyak seratus ribu koin emas bisa di simpan di dalam Kentung kecil itu? Itu sangat mencurigakan.


Semua orang di ruangan mengangkat alisnya dan bingung. Mereka berpikir ini bukan candaan kan?


Ya, itulah. Xi memberikan kantung itu dan meletakkan di atas meja.


Saling menatap. Meragukan.


“Apakah semuanya ada disini?”

__ADS_1


Xi mengangguk pelan “Ya, lihatlah sendiri.”


Masih ragu. ‘Apakah ini jebakan?’ Pemilik rumah lelang ragu-ragu untuk mengambilnya.


“Tunggu sebentar Nona, biarkan saya yang memeriksanya.” Seorang pengawal yang bekerja untuk ke amanan pemilik mulai angkat suara.


Tertegun. Mengangguk. “Ya, lakukan.” Izin di berikan.


“Dimengerti.”


Dia mengambil kantung kecil itu. Lalu membuka tali pengikat nya. Setelah tali pengikat di buka, ia mulai membuka kantung tersebut dan melihat isi dalamnya.


Sesaat tidak terjadi apapun. Tidak ada sesuatu yang keluar dari sana. Seperti gas beracun atau apalah itu yang dapat membahayakan nyawa seseorang.


Namun, Tiba-tiba pengawal itu jatuh dan gemetaran.


Semua orang terkejut, namun Xi tidak. Spontan mereka berdiri dari kursi, dan beberapa pengawal mengarahkan senjatanya kepada Xi.


“Sialan! Apa yang kau lakukan kepada rekan kami?”


Xi tidak dapat pergi kemanapun. Setiap tombak yang ada di ruangan ini telah mengarah kepada dirinya.


Mina yang melihat hal tersebut sangat ketakutan sehingga dia mendekat dan memegang tangan Xi.


Seseorang mendekat untuk memeriksa keadaan rekannya yang terlihat pucat. Mereka masih tidak tahu apa yang membuat rekannya sampai seperti ini. Padahal, sebelumnya tidak terjadi apapun bahkan setelah dia membukanya.


“Apa kau baik-baik saja?”


Dengan tubuh yang gemetaran, dia mengangkat tangannya dan menunjuk kantung tersebut.


Bibirnya bergetar hebat, saat dia berbicara terbanta-banta. “i itu... Kantung itu... Itu adalah... Item ruang...”


Mata semua orang terbuka lebar setelah mendengar suara rendah itu. Tidak ada yang dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya dari wajah mereka.


APA? ITEM RUANG?


Wajah semua orang menghitam dan penuh keringat. Sebuah item seperti item ruang itu lebih langkah di bandingkan dengan item sihir jenis lainnya. Tidak ada banyak orang yang memilikinya, terlebih dari kelangkaan nya, harga satunya saja sudah sangat mahal.


Hanya petualang peringkat emas atau lebih tinggi biasa yang memilikinya. Atau seorang penyihir besar, dan keluarga bangsawan.


SIAPA SEBENARNYA ORANG INI?


‘Siapa sebenarnya dia? Mau di lihat dari manapun, dia terlihat biasa dan seperti bocah biasa pada umumnya. Hanya saja, yang membedakan antara dirinya dan orang-orang seusianya adalah sikapnya yang tenang. Bahkan setelah begitu banyak senjata mengarah kepada dirinya, dia masih bersikap tenang, dan bahkan dia telah begitu lama menatap ku dengan tajam.’ Seluruh tubuh berkeringat. Melihat tatapan yang tenang namun dingin dan tajam membuatnya takut.


Dalam situasi ini, meski dia sedang di untungkan namun dirinya tidak yakin dapat menang jika terjadi pertarungan.


Melihat dari tatapan mata Xi, bahwa dia sudah siap untuk membunuh bila terjadi pertarungan. Dan bila itu terjadi, bahkan jika Xi mati, aku akan itu mati bersamanya.


“Semua, turunkan senjata kalian.”


“Ta tapi... Nona... Dia...”


“Apa yang kalian lakukan? Kenapa tidak segerah menurunkan senjata kalian? Tuan ini adalah tamu ku!”


Saling menatap satu sama lain. Dengan ragu-ragu setiap penjaga menurunkan mata tombak mereka. Ini adalah perintah dari atasan mereka langsung. Tidak ada alasan untuk mereka membantah, dan mengarahkan senjata mereka kepada tamu atasan mereka lagi.


Membungkuk serta menundukkan kepalanya. “Tuan, tolong maafkan ketidaksopanan bawahan saya!” memejamkan matanya, berharap Xi dapat berpikir dewasa dan tidak marah.


Beberapa saat ruangan menjadi hening. Semua orang terdiam mematung. Tidak ada suara sedikit pun, bahkan gerakan pun tidak ada.


Pemilik rumah lelang sadar bahwa dirinya telah menyinggung perasaan tamunya.


Xi tidak mengatakan apapun selama itu, bahkan tidak meresponnya. Sorot matanya masih tajam, dan warna merah menyala masih terlihat jelas di kedua matanya.


Suasana ini begitu canggung. Bahkan Xi sampai bingung bagaimana harus memulai pembicaraannya. Tapi, karena sudah jadi seperti ini, maka ia harus mencairkan suasananya.


Menarik nafas dalam, lalu Xi membuka mulutnya dan berkata “Tidak apa. Aku mengerti.” Dengan tenang dan beransur-ansur mata merah menyala dengan niat membunuh didalamnya mulai memudar. Xi telah kembali tenang. Ia juga tidak merasakan adanya aura atau perasaan permusuhan di antara mereka. “Jadi, bagaimana dengan milikku?” Tanya Xi kepada pemilik rumah lelang.


Mendengar itu, pemilik rumah lelang langsung berdiri tegak. “ya, ya. Saya akan segera membawakannya.” Panik. “Kalian segera bawakan dia kemari!” Memberi perintah kepada dua orang penjaga yang ada di belakangnya untuk membawa budak yang berhasil Xi beli saat lelang tadi.


“Dimengerti!” Bergegas pergi.


Keduanya seterah meninggalkan ruangan ini.

__ADS_1


Suasana kembali tenang seperti sebelumnya. Namun, saat ini pemilik rumah lelang memandangnya dengan berbeda. Ia memandang Xi dengan lebih hormat dan sopan.


“Atas kecerobohan saya dan bawahan saya, saya minta maaf.”


“Ya, bukankah sudah ku katakan tidak apa”


Mengangguk mengerti. Ia bersyukur karena Xi dapat memaafkan mereka. “Sebagai tanda permintaan maaf kami, tuan, anda dapat mengambil item apa pun yang Anda mau di ruangan ini.”


Di dalam ruangan ini ada begitu banyak item yang bagus, dan tentunya berguna untuk para petualang.


“Anda dapat menganggapnya sebagai hadiah dari kami karena telah memberikan investasi besar kepada kami.”


Xi menghela nafas dan memegangi kepalanya dengan tangan kanannya. ‘Entah apa yang di pikirkan oleh orang-orang ini... Ah, terserahlah'


“Karena ini permintaan langsung dari pemilik rumah jadi aku tidak akan menolaknya. Dan aku akan membawa item ini bersamaku. Apa tidak masalah?” sambil menunjukkan batu yang di pegangnya.


Semua orang di dalam ruangan bingung.


Dari banyaknya sekian item yang ada di ruangan ini, dia malah memilih batu itu?


Semuanya bingung dan tidak mengerti apa yang Xi pikirkan.


Tepatnya, jalan pikiran Xi sudah jauh di depan mereka, dan tidak mungkin untuk mereka gapai.


Dengan senyum canggung dan ragu, pemilik rumah lelang bertanya kepada Xi. “Apakah anda benar-benae yakin akan memilih itu? Bahkan saya tidak mengetahui apa kegunaannya. Anda masih dapat memilih yang lainnya.”


“hmm~ memangnya ada apa dengan ini?”


“Tuan, meskipun benda itu di dapatkan dari dalam dungeon. Tetapi nyatanya benda itu tidak memiliki nilai guna. Kecuali jika anda melemparkan itu ke kepala monster... Mungkin masih sedikit berguna.”


Permukaan batu yang keras dan kasar mungkin dapat melukai monster yang di kenainya.


Mendengar kata dungeon. Itu terdengar asing di telinganya. Dia tidak tahu apa itu dungeon, dan seperti apa dungeon itu.


Tetapi, Xi dapat merasakan kalau dungeon adalah sesuatu atau sebuah tempat yang berisi banyak monster.


Jika perkiraannya memang benar, maka itu akan menjadi tempat yang bagus untuknya untuk meningkatkan level dan melatih beberapa skillnya.


Akan lebih mudah jika dungeon itu ada di dekat sini, terlalu jauh untuk pergi ke hutan hanya untuk menguji sebuah skill. Dan untuk farming dan meningkatkan level di hutan juga tidak terlalu bagaimana, karena jumlah monster yang sedikit.


“Dungeon?”


Pemilik rumah lelang mengangguk membenarkan pernyataannya. “Iya, di kota ini ada sebuah dungeon yang di namai dengan nama Cave of Grim. Letakkan berada di luar kota, sekitar bagian timur tembok kota ini. Dan dungeon itu di kelolah oleh penguasa kota, dan di jaga dengan ketat. Meski di buka untuk umum, namun anda tidak dapat masuk dengan paksa disana.”


“Begitu... Ya? Jadi, bagaimana cara aku agar dapat masuk kesana?”


Mendengar pertanyaan Xi, tentu membuatnya senang. Mungkin ini adalah satu kesempatan yang tidak akan datang dua kali untuknya bekerjasama dengan Xi.


Tersenyum “Jika anda ingin pergi kesana, saya dapat membantu Anda untuk memasukinya.”


Xi berpikir. Itu pasti akan membantunya karena dengan itu ia tidak perlu repot-repot mengurus sesuatu yang merepotkan. Tetapi, Xi tidak tahu apa tujuan pemilik rumah lelang ini membantu dirinya.


“Lalu, apa yang anda inginkan?”


“Ya?”


“Jangan berpura-pura bodoh. Tidak barang geratis didunia ini, jadi apa yang anda inginkan?” Xi yakin, pemilik rumah lelang itu pasti menginginkan sesuatu darinya.


Pemilik rumah lelang tersenyum senang. Dari semua orang yang di temui, ini Xi adalah sesuatu yang menarik. Hanya dalam sekejap dia dapat mengetahui niat tersembunyinya.


“Anda sangat pintar.”


Xi mengangkat alisnya dan berkata “Apa itu pujian?”


Pemilik rumah lelang mengangguk pelan”iya, Anda adalah orang yang menarik.”


“Meski saya tidak tahu Anda ini siapa, tetapi saya yakin Anda akan menjadi orang besar di masa depan. Jadi, sebelum hari itu tiba, saya ingin menjadi orang pertama yang bekerjasama dengan anda. Anda dapat yakin, bahwa kerjasama ini akan saling menguntungkan.”


‘How, jadi dia bermaksud untuk menjadikanku sebagai bantuan besar untuknya dimasa depan ya? Itu tidak terlalu buruk, masih layak untuk di pertimbangkan.’ Gumam Xi. “Baiklah, saya mengerti.”


“Senang rasanya dapat berbicara dengan orang seperti Anda. Jadi, mulai sekarang mohon bantuannya tuan.”


“Ya, semoga semua berjalan baik.”

__ADS_1


Saling berjabat tangan, menandakan kerjasama mereka telah terjalin mulai sekarang.


__ADS_2