
Pada esok hari di pagi harinya. Xi bersama Airis pergi bersama menuju tempat Dungeon berada.
Pada pinggiran kota, tepatnya di luar tembok kota Aiter terdapat sebuah gunung yang cukup besar. Dan pada gunung itu, terdapat sebuah mulut goa yang di yakini sebagai pintu masuk Dungeon.
Sesuatu hal yang menurut Xi aneh. Alixsa mengatakan bahwa Dungeon adalah sebuah tempat yang biasanya sering sekali di kunjungi oleh para petualang dari setiap kalangan petualang tidak peduli seberapa rendah atau seberapa tinggi tingkatan mereka.
Dungeon adalah cara tercepat untuk mereka dapat menghasilkan uang banyak, serta satu-satunya tempat yang paling cocok untuk meningkatkan level seseorang.
Jumlah monster yang banyak, dan areanya yang luas membuat monster kerap mudah berkembang biak. Di tambah lagi, hal yang paling di butuhkan oleh para monster untuk berkembang biak telah tersedia sangat banyak di dalam Dungeon.
Dungeon mengandung banyak sekali mana didalamnya. Sehingga menjadi hal yang wajar bila ada banyak monster yang betah untuk tinggal didalamnya.
Monster yang tinggal didalam Dungeon bukan hanya sekedar monster yang berasal dari dalam Dungeon. Ada beberapa monster yang berasal dari luar Dungeon juga tinggal didalamnya, namun mereka yang berasal dari luar tidak berani untuk tinggal lebih dalam lagi.
Mungkin itu di sebabkan karena mereka adalah pendatang. Dan mereka tidak di sambut dengan baik oleh monster-monster asli dalam Dungeon. Yang berakibat mereka di benci sehingga mereka di diskriminasi kan oleh penghuni asli Dungeon.
Berbeda dengan manusia, atau para petualang lainnya. Manusia atau petualang tetap di anggap sebagai makhluk asing, namun mereka lebih di kenal sebagai makhluk invasif bagi makhluk penghuni Dungeon. Dan hal itu juga berlaku sebaliknya, makhluk-makhluk yang keluar dari Dungeon adalah monster yang menginvasi, sehingga manusia harus membasmi mereka untuk mempertahankan tempat tinggal mereka.
Disamping itu, di sini memang tidak ada siapapun kecuali beberapa penjaga yang memang di khususkan oleh Baron untuk menjaga Dungeon agar tetap aman dan terkendali.
Jika suatu hari ada situasi dimana Dungeon tidak terkendali, dan monster-monster yang tinggal didalam Dungeon mulai keluar dan menyerang, mereka dapat lebih dahulu menghalau dan menyampaikan informasi tersebut. Supaya orang-orang di dalam kota dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi invasi monster.
“Ini terlihat lebih sepih dari apa yang dia katakan. Tapi itu bagus karena dengan begini tidak akan ada yang mengganggu kita berburu.”
Xi dan Airis berjalan mendekati pintu masuk Dungeon yang berupa mulut goa. Bahkan dari luar, Xi sudah dapat merasakan mana yang menusuk dari dalam. Namun, beberapa waktu dirinya juga nencium bau busuk seperti bau bangkai.
Xi mengira jika itu adalah bau dari mayat monster yang mati didalam sana dan tidak jauh dari tempat masuk.
Ketika dia mendapatkan izin masuk kedalam Dungeon yang memang telah di persiapkan oleh Alixsa. Xi dan Airis pun masuk kedalam Dungeon.
Berjalan melalui lorong goa yang gelap dan sulit sekali untuk melihat karena tidak adanya pencahayaan dari dalam. Xi menyalakan obor dengan api yang dia hasilkan dari sihir [Flame].
Sedikit lebih baik, sekarang mereka dapat melihat jalan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam perjalanan mereka, aroma amis dan busuk di depan semakin menyengat dan menyerang indra penciuman mereka.
Xi masih dapat menahan aroma busuk tersebut. Namun berbeda dengan Airis. Dia terlihat sudah tidak sanggup lagi, dan berasa ingin muntah.
__ADS_1
“Tahanlah sebentar lagi, kita...” Sebelum Xi selesai berbicara. Dari kejauhan Xi dapat mendengarkan langkah kaki dari makhluk yang berada di depannya.
Langkah suara kakinya pelan, namun itu berkali-kali pada waktu yang berbeda tipis. Indra pendengar Xi yang tajam dapat mendengar suara gema itu meski sangat samar. Seperti halnya kelelawar yang memanfaatkan indra pendengarannya yang tajam untuk mencari mangsanya. Namun yang membedakan hanyalah Xi tidak perlu mengeluarkan suara yang keras seperti suara ultrasonik yang biasanya kelelawar lakukan untuk dapat mengenali benda tersebut.
“Berdirilah. Dan mulai sekarang kau harus membiasakan ini.” Xi memberikan pedang yang di ambilnya dari dalam inventory.
Airis mengambil pedang tersebut dengan tangan kanannya, dengan menerimanya dengan baik.
Ada hal yang membuat Airis penasaran, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. Ada terlalu banyak keajaiban yang dimiliki oleh tuannya, dan itu tidak mungkin bisa di jelaskan satu persatu oleh Xi. Dan dari pada bertanya tentang keajaiban apa itu, lebih baik untuk diam dan tidak mengetahuinya.
Semakin sedikit yang di ketahui, akan semakin baik pula. Karena Airis tidak perlu memikirkannya, dan hanya perlu fokus pada apa yang di minta atau yang di perintahkan oleh tuannya.
“Dimengerti. Maaf merepotkan tuan.”
Dia segerah berdiri. Malu karena hanya bisa menjadi beban untuk hal-hal remeh seperti ini.
Airis berdiri sambil menggenggam pedang yang Xi berikan. Dia menempatkan posisinya di depan tuannya, mengambil langkah kuda-kuda dengan memegang pedang dengan dua tangannya. Matanya terfokus ke depan.
Melihat hal tersebut, Xi tidak melakukan apapun selain mengamatinya. Melihat dari
Ini adalah waktu dimana dia harus menunjukkan kemampuannya. Setidaknya itulah yang terpikir dibenaknya.
Airis menyipitkan mata dan melihat ke arah lawannya yang perlahan mendekat namun masih cukup jauh dan bahkan tidak terlihat karena gelapnya jalan ini. Tetapi, gema suara yang di hasilkan oleh monster-monster itu dapat terdengar jelas.
Suara tawa khas menjijikan dari para monster terdengar semakin dan semakin jelas. Menandakan bahwa mereka telah sampai di dekat mereka.
Penerangan yang berasal dari sebuah obor itu cukup untuk menerangi sekitar. Dan beberapa monster berlarian muncul dari kegelapan.
“Lima Goblin, dan semuanya dibawah level 4. Seharusnya kau dapat mengatasinya sendiri, kan?”
“Iya, saya akan berusaha.” Sambil mengangguk pelan.
Tatapan matanya tajam, dan dalam sekejap tingkat fokusnya meningkat. Menganalisis pergerakan dari setiap musuhnya, dan melihat ke arah mana mereka akan bergerak dan menyerang nantinya.
Pada tingkat ini dia telah jatuh dalam kediaman untuk beberapa saat. Tingkat ke fokus annya terus meningkat dan semakin meningkat.
__ADS_1
Xi yang memerhatikan nya tidak dapat menahan rasa kekagumannya. ‘Ini sesuatu yang berbeda.’ Xi bergumam.
Di kota Aiter dia telah melihat banyak sekali petualang yang lebih senior dari dirinya. Dan dari semua petualang yang ada, tentunya ada banyak di antara mereka yang memiliki Job Swordman.
Akan tetapi, hal yang membedakan dari Airis dan Swordman lainnya adalah, tingkat fokus yang tinggi. Kebanyakan mereka yang amatir hanya akan mengacungkan pedang mereka saja tanpa memerhatikan musuhnya. Semua kehilangan fokus karena mereka meremehkan lawan.
Kuda-kudanya berubah dan Airis bersiap untuk menyerang.
Beberapa langkah yang di tempuh oleh kelima Goblin telah memasuki areanya.
Airis maju dengan kecepatan penuh. Menebaskan pedangnya dengan cepat sekuat tenaga.
Itu tentu membuat kelima Goblin terkejut. Bagaimana bisa Airis yang ada didepan sana tiba-tiba ada di dekat mereka.
Posisi mereka kala itu bukan dalam posisi yang di untungkan. Mereka telah mengambil langkah yang salah dan mustahil untuk berhenti atau menghindarinya.
Sudah tidak ada waktu, semuanya sudah terlambat.
Bahkan ketika mereka menyerang, itu tidak dapat mengenainya. Perbedaan mereka jauh meski hanya terpaut satu level di antara mereka.
Tebasan pedang Airis yang cepat sukses menggagalkan serangan dadakan dari kelima Goblin itu. Dan membuat kelimanya berakhir dalam satu serangan.
{ mengalahkan Goblin, 50 Exp poin dan 10 Gold didapatkan} 5x
Xi memegang dagunya dan bergumam mengenai seberapa hebatnya kemampuan Airis dalam menggunakan pedang.
‘Itu hebat. Dia bisa mengalahkan mereka dalam satu tebasan untuk masing-masingnya. Ilmu pedangnga tidak dapat di remehkan, bahkan itu lebih baik dari punyaku.’
Xi membandingkan kemampuan dirinya dengan Airis. Jika mereka berada di dalam level yang sama, dan semua stat dan skill sama. Masih ada peluang, namun itu akan sangat sulit untuk Xi dapat mengalahkan Airis.
Selama ini gerakan yang di buatnya hanyalah asal-asalan meski dia dapat menganalisa lawan-lawannya. Ilmunya dalam ilmu pedang berada di bawah Airis.
Xi mengakui hal tersebut. Itulah mengapa dia kagum dengan kemampuan hebat yang Airis tunjukkan kepadanya. Itu membuktikan bahwa dirinya, Airis layak untuk semua itu.
‘Bahkan jika aku membayar lebih banyak, aku tidak akan rugi. Sebaliknya, aku menemukan berlian yang sangat berkilauan.’ Senyum kecil senang. Usahanya tidak sia-sia.
__ADS_1