Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 41


__ADS_3

Setelah pertarungan yang melelahkan melawan Wind Boar.


Kelima tentara bayaran itu telah menunjukkan kemampuan dan kerjasama mereka yang luar biasa.


Hanya dengan lima orang, mereka mampu mengalahkan kelompok Wind Boar yang berjumlah dua puluh ekor.


Coveran yang baik dari penyihir dan pemanah, membuat kedua warrior yang bertarung di garis depan dapat fokus menghadapi Wind Boar yang di hadapinya dan mengalahkan mereka.


Dan salah satu dari mereka yang berperan sebagai seorang Tanker. Ia mampu menahan lebih dari Lima Wind Boar sendirian.


Meski itu sulit dan berbahaya, tetapi dia berhasil melakukannya.


BRUK! “Fyuuu, sangat melelahkan...”


Mengusap keringat, dia setuju dengan apa yang di katakan nya. Meski mendapatkan beberapa luka, namun itu tidak parah. Hanya luka lecet yang di dapat.


Segerah setelah mengusap keringat, dia mengambil potion yang di simpan didalam tas kecilnya yang terikat di kaki kanan.


Lalu memunumnya.


Setelah meminumnya, semua luka yang di dapatkannya sembuh dan lenyap. Seperti luka itu sebelumnya tidak pernah ada.


“Kalian, cepat kemari dan tepikan ini. Kita harus melanjutkan perjalanan kita.” Ucapnya kepada para penjaga yang ikut dalam pengawalan ini.


Sebelumnya, mereka mendapat arahan dari Archer dari kelompok tentara bayaran ini, Lore, meminta mereka untuk diam di tempat dan jangan menganggu ketika tim tentara bayaran berhadapan dengan kelompok Wind Boar.


Namun, Lore tetap meminta mereka untuk bersiaga.


Akan tetapi, hasilnya seperti apa yang mereka inginkan. Mereka dapat mengatasi Wind Boar dengan mudah.


Mungkin akan berbeda jika yang mereka hadapi adalah ‘Boar Mamont'. Monster yang masih satu keluarga dengan Wind Boar, namun yang membedakannya hanyalah Boar Mamont sangat kuat.


Dan Boar Mamont adalah tipe monster yang sangat teritorial. Bahkan sesama Boar Mamont mereka dapat saling membunuh jika bertemu.


Dari pada bekerjasama dengan Boar Mamont lainnya, mereka lebih senang untuk memerintah monster-monster yang ada di wilayah kekuasaannya.


Sama seperti Demon Snake. Namun, Boar Mamont memiliki sifat yang tidak dapat di tebak. Terkadang mereka pasif, bahkan kepada para petualang. Namun, terkadang mereka juga agresif.


Kelompok ini cukup beruntung. Karena Boar Mamont tidak tinggal di pinggiran hutan. Jadi, tidak ada yang perlu mereka khawatir akan kedatangan Boar Mamont, karena itu mustahil untuk mereka datang.


Menjalankan perintah Ketua dari kelompok tentara bayaran itu.


Para prajurit bergerak cepat dan segerah memindahkan mayat-mayat Wind Boar ke pinggir jalan agar mereka dapat melanjutkan perjalanan mereka menuju Kota Jisa.


Sembari membersihkan jalanan. Lebih tepatnya mengawasinya. Leo terus mengamati setiap orang yang ada di sini.


Tidak ada yang istimewa dari mereka semua, akan tetapi kali ini cukup berbeda.


Memang benar prajurit-prajurit itu hanya prajurit biasa, namun berbeda dengan wanita yang duduk di samping kusir.

__ADS_1


Di kala orang-orang takut dan gemetaran saat melihat Wind Boar, wanita itu terlihat sangat tenang bahkan menanggapi situasinya dengan terus bersiaga.


‘Memang dia tidak membantu saat kami menghadapi Wind Boar tetapi... Wanita itu terus bersiap siaga dengan memegang gagang pedangnya dari awal hingga akhir. Jika terjadi sesuatu, ia sudah siap dengan segala situasinya...’


Mungkin, dari semua orang yang ada disini, hanya dia yang dapat di andalkan.


Sementara itu, Airis yang duduk di kursi depan bersama kusir dengan tenang bergumam.


‘Apa yang tuan katakan memang benar. Meski penampilan mereka tidak menyakinkan, tetapi kita tidak boleh melihat buku dari sampulnya... Orang-orang ini penampilannya terkesan seperti bandit meski mereka adalah tentara bayaran. Namun, kerjasama mereka sangat baik dengan memahami masing-masing kelebihan dan kekurangan rekan mereka, sehingga dalam pertarungan tadi, mereka dapat saling menutupi kekurangan itu sehingga tidak ada celah yang terbuka.’


Itu cukup mengagumkan untuknya. Pengalaman mereka serta kerjasama yang saling menutupi kekurangan satu sama lain itu luar biasa.


Tidak seperti kebanyakan yang terlalu percaya diri dengan kekuatannya, sehingga mereka akhirnya bertarung masing-masing tanpa memperdulikan rekan-rekannya.


“Jalan sudah di bersihkan, kita bisa melanjutkan perjalanan!”


Pemimpin kelompok tentara bayaran itu mengangguk setelah mendengarnya. Segerah ia memerintahkan anggotanya untuk kembali ke posisi mereka masing-masing.


“Baik semuanya, mari kita lanjutkan perjalanan. Semua kembali ke posisi masing-masing.”


“Baik!” Serempak.


Dengan arahan tersebut, semua orang lalu bersiap dan melanjutkan perjalanan menuju Kota Jisa.


Beberapa anggota pedagang sebenarnya berminat untuk mengambil beberapa gading dan daging Wind Boar.


Tetapi, niat mereka di hentikan oleh para tentara bayaran karena itu akan memakan waktu.


Tidak dapat di pungkiri, hampir semua jenis monster sangat tertarik dengan bau darah.


∆∆∆∆∆∆


Dua hari telah mereka lalui hingga akhirnya mereka tiba di gerbang Kota Jisa.


Dari kejauhan terlihat sebuah gerbang Kota yang sangat besar dan terlihat megah. Di keliling oleh tembok yang tinggi, dan sangat kokoh.


Ketatnya penjaga di setiap tempat membuat tidak bisa sembarangan orang masuk kedalam kota.


Para penjaga wajib memeriksa barang bawaan mereka, untuk menghindari adanya barang yang mencurigakan atau barang yang di larang di bawa masuk kedalam Kota.


Para penjaga juga selalu taat untuk memeriksa setiap identitas setiap orang yang ingin masuk ke kota dan mencatatnya pada sebuah buku data pengunjung.


Buku data pengunjung di gunakan sebagai identifikasi identitas setiap pengunjung mau itu yang masuk kedalam kota atau yang keluar dari kota.


Bukan hanya itu saja, itu juga di gunakan sebagai laporan bagi para penjaga kepada pusat. Berapa banyak pengunjung yang masuk setiap harinya.


Hal tersebut sangat penting. Dan ini telah di terapkan sejak lama, bahkan ketika Kota ini di dirikan dan di pimpin oleh seorang keluarga bangsawan yang mendapat dukungan dan kepercayaan langsung dari Sang Raja dari Kerajaan Blue Sky Bird.


Segala hal yang merepotkan tentang administrasi Xi serahkan kepada Tuan Milner. Tentu, jika soal membayar biaya masuk, dia akan menggunakan uangnya sendiri.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai dan mereka mendapatkan izin untuk masuk kedalam Kota, semuanya mulai masuk kedalam Kota dengan pintu gerbang yang besar di buka lebar.


“Silahkan Masuk! Semoga harimu menyenangkan!” Kata Sambutan itu di tujukan kepada mereka semua. Mau itu pedagang, petualang, tentara bayaran, dan orang-orang biasa. Tidak ada perbedaan satu sama lain di antaranya.


Berada didalam Kota. Setelah melewati pintu gerbang. Semua orang terpukau oleh ke indahan Kota Jisa yang terlihat begitu bersih dan rapi.


Jalannya mulus, semuanya telah di apasi oleh Benton halus. Sehingga kereta kuda mudah melaluinya.


Lampu jalan terdapat di setiap pinggir jalan, dan pencahayaannya berasal dari sebuah material. Light Stone.


Itu akan berfungsi untuk menerangi jalan di malam hari.


Jadi, Orang-orang tidak perlu memikirkan membawa obor lagi untuk meningkatkan penglihatan dimalam hari.


Melihat keluar jendela, Xi dapat melihatnya. Perbedaan antara Kota Jisa dan Kota Aiter.


Pasar, perumahan, dan bangunan-bangunan besar dan mewah memiliki tempatnya masing-masing, dan itu tersusun dengan rapi sepenuhnya.


Terdapat jarak yang cukup untuk kereta kuda melewatinya. Benar-benar konsepnya telah di pikirkan dengan matang-matang sebelum mereka mulai membangunnya.


‘Ini luar biasa... Aku pikir Kota Aiter itu luar biasa, tetapi itu tidak bisa di bandingkan dengan ini...’


Mau berapa kali ia melihatnya, dan memikirkannya. Perbandingan antara Kota Aiter dengan Kota Jisa sangat berbeda jauh.


“Bagaimana menurutmu nak?” Ketikan suara itu terdengar Xi melirik nya tanpa merubah posisinya. “Mengenai Kota ini? Luar biasa bukan?”


Tidak bisa di pungkiri lagi, Kota ini memang luar biasa. “Ya, seperti yang Anda katakan tuan Melnir. Kota ini luar biasa.”


“Hoho, itu memang seharusnya begitu... Kota Jisa adalah kota Kormesial Terbesar kedua di Kerajaan ini. Tidak heran kenapa Kota ini bisa lebih baik dan lebih maju daripada kota-kota lainnya. Terlebih lagi, orang yang menjalankan/memimpin Kota ini adalah Count Singten yang ahli dalam bidang ekonomi.”


‘Jadi seperti itu ya? Tidak heran kenapa Kerajaan Blue Sky Bird bisa begitu kaya. Kota ini telah menjadi bukti dari ucapan Alixsa.’


Sesampainya di pusat perdagangan.


Xi turun dari kereta kuda bersama tuan Melnir.


“Akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di kota ini lagi.” Betapa senangnya Tuan Milner setelah sekian lama akhirnya dapat menginjakkan kakinya di Kota Jisa.


Untuk beberapa tahun terakhir, ia di tugaskan di kota-kota lainnya, dan itu membuatnya sedih.


Melihat Xi dan Airis yang pergi berpisah dengan kelompok, tuan Melnir terkejut sekaligus bingung.


“Hei, nak! Kalian akan pergi kemana?” Tanya Tuan Melnir kepada Xi dan Airis.


Sambil melambaikan tangannya tanpa berbalik sedikitpun, Xi menjawab. “Jangan pikirkan kami, lakukan saja apa yang harus anda lakukan. Kami memiliki urusan kami sendiri di kota ini.”


Tuan Milner yang mendengar jawaban itu hanya terdiam dan bingung... “... A... “


“Mereka sudah pergi? Cepat sekali!”

__ADS_1


Belum lama keduanya meninggalkan mereka, bahkan Xi dan Airis sudah tidak terlihat lagi. Itu terlihat seakan-akan mereka itu seperti hantu.


__ADS_2