Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 52


__ADS_3

Bos Goblin. Level : 30. Ras Monster : Hobgoblin. Level Bencana : Menengah.


Tatapan sinis nya sungguh membuat orang-orang ini merasa terintimidasi. Apalagi, level mereka yang berbeda cukup jauh dari Bos Goblin ini, mematahkan semangat bertarung mereka.


Mau di lihat dari segi apapun, monster ini memiliki lebih banyak ke unggulan dari pada yang mereka bayangkan.


“Aku dengar dari ayahku. Hobgoblin ini memiliki beberapa skill unik yang tidak dimiliki oleh Goblin lainnya. Meski aku tidak tahu apa skill uniknya itu, tetapi... Jelas ini bukan situasi yang baik.”


Selain memiliki kemampuan di atas rata-rata dari Goblin lainnya. Hobgoblin juga memiliki kecerdasaan tinggi, sehingga dia dapat berpikir dan berbicara selayaknya manusia pada umumnya. Salah satu kemampuan uniknya ketika Goblin berevolusi menjadi Hobgoblin adalah, mereka secara alami akan dapat berbicara selayaknya manusia, dan berbicara dengan menggunakan bahasa manusia.


Tidak seperti monster be-kecerdasan tinggi lainnya, yang biasanya menggunakan sihir untuk berbicara dalam bahasa manusia. Hobgoblin berbeda, dia benar-benar bisa melakukannya bahkan tanpa mempelajarinya. Hal itu, sudah seperti kemampuan alami yang dimiliki manusia.


“Monster ini jelas bukan monster tingkat dasar... Apakah kau yakin ini akan berhasil?” Tota kembali ragu. Dia menanyakan rencana kembali. Menurutnya, mustahil untuk mengalahkan Hobgoblin hanya dengan beberapa orang saja.


Xi sudah menduga hal ini. Meski orang-orang ini kuat, namun mereka belum memiliki cukup banyak pengalaman menghadapi monster. Hal yang wajar jika mereka takut, karena yang ada di hadapan mereka saat ini adalah Bos Monster. Tetapi, hal yang salah karena memaksakan diri untuk ikut tanpa mengetahui batasan sendiri.


Sebenarnya, Xi cukup kecewa karena mental orang-orang ini begitu lemah. Xi berpikir, untuk apa mereka selama ini meningkatkan kekuatan mereka menghadapi yang begini saja mereka sudah takut dan ragu. Apakah mereka ini meningkatkan kekuatan mereka hanya untuk pamer saja? Atau karena paksaan keluarga mereka untuk menjadi lebih kuat?


Bahkan jika apapun itu alasannya. Jika mental mereka hanya segini, maka usaha mereka selama ini untuk meningkatkan level mereka dan berlatih setiap harinya, semua waktu itu telah terbuang sia-sia.


“Masih belum terlambat untuk kalian mundur... Monster itu, dia... Tidak akan bergerak sebelum dia di serang.” Ucap Xi.


Dia memberikan orang-orang ini pilihan. Tetap disini bersama dirinya menghadapi bos monster, atau mundur dan menyelamatkan diri serta menghindari pertarungan yang dapat melayangkan nyawa ini.


Sebelum mereka membuat keputusan. Tota, membuka mulut dan bersuara dengan nada pelan “La lalu... Bagaimana dengan dirimu?”


Untuk menjawabnya, Xi bahkan tidak menoleh maupun melirik nya. Dengan tenang, Xi berkata “Tentu, aku tetap disini. Karena aku berniat untuk mengalahkannya.” Karena Xi memiliki sebuah alasan untuk tetap tinggal. Jadi, dia tidak bisa ikut pergi jika mereka memilih untuk pergi. “Apapun keputusan yang kalian buat, aku tidak masalah. Itu adalah pilihan kalian semua... Jika kalian tidak ingin kehilangan nyawa kalian, kalian bisa pergi sekarang...


Meski aku percaya diri dapat mengalahkannya, tetapi aku tidak bisa jamin jika tidak ada nyawa yang melayang.”

__ADS_1


Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, tentu membuat semua orang menjadi semakin ragu untuk tetap tinggal. Semuanya jatuh dalam keheningan sesaat. Seperti pikiran didalam kepala mereka telah berhenti untuk beberapa saat mereka tidak bisa berpikir.


Ini pilihan yang sulit. Di satu sisi menghadapi Bos monster sangat berbahaya, dan nyawa juga adalah taruhannya. Dan di sisi lainnya, ada Xi yang tidak bisa meninggalkan tempat ini karena sebuah misi.


Tota yang sempat diam sesaat, mulai membuat keputusan. Namun, ini untuk dirinya sendiri.


Telapak tangan dibasahi oleh keringat dingin, dan rasa ragu juga masih menghantui. Namun, dia berusaha keras untuk tetap tenang, dan membulatkan tekatnya.


“Aku... Aku akan tetap tinggal! Aku akan bertarung bersama denganmu!” Ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


Tidak hanya itu, di ikuti oleh yang lainnya, semua orang sepakat untuk tetap tinggal. Karena, mereka tidak bisa meninggalkan teman-teman mereka hanya untuk menyelamatkan diri saja.


“Saudara, aku akan ikut bersamamu. Entah kemampuanku membantu atau tidak, tetapi aku akan berusaha sebaik mungkin.”


Katashi adalah seorang tanker. Tentu saja, dia memiliki peran yang penting dalam penyerangan kali ini. Meski tugasnya terdengar mudah, namun nyatanya itu sangat sulit. Katashi perlu menajamkan indera nya, dan melindungi penyihir dan helaer di belakang.


Semua orang menelan ludah dengan berat. Ini adalah moment yang menegangkan. Saat melihat Xi menembakkan anak panahnya, semua langsung bersiaga. Bersiap untuk langkah selanjutnya.


Bos Goblin. Hobgoblin itu masih diam di tempatnya bahkan ketika melihat anak panah melayang ke arah dirinya. Dahinya mengerut seram saat menanggapi serangan tersebut


Hobgoblin mulai menggerakkan Satun tangannya, mengambil senjata yang telah dia simpan di samping singgah sananya. Itu adalah sebuah kapal dua sisi.


Hanya dengan ayunan pelan. Dia dapat menepis dan menghentikan lajunya anak panah Xi. Bahkan dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


‘Sudah ku duga... Dia dapat menahannya.’ Seperti yang Xi pikirkan. Bos monster memang berbeda dari monster biasa. Itu benar-benar tidak dapat di bandingkan dengan Goblin yang sebelumnya mereka temui. Monster ini, memiliki kelas yang berbeda. Bahkan dari monster-monster yang pernah dia temui sebelumnya.


Hobgoblin menatap tajam. Membuka mulutnya dan dengan suara berat nanti menyeramkan seraya berkata. “Manusia... Matiiii!!” Dia melompat tinggi ke udara. Lalu dia terjun dengan kecepatan tinggi.


“Menghindar!” Teriak Xi dengan keras. Meminta semua orang untuk seterah menjauh dari jangkauan nya.

__ADS_1


BOOM! Hobgoblin mendarat. Tanah hancur dan hembusan angin hasil dari kekuatannya cukup kuat hingga dapat mendorong dan menerbangkan mereka. Betapa gilanya kekuatan tersebut, bahkan jika mereka mencoba untuk menahannya sekuat tenaga, mungkin mereka akan di hancurkan.


Seusai menjaga jarak dari Hobgoblin, Yu mulai menjalankan tugasnya. Sihir es yang telah di persiapkan mulai dia rapalkan.


“Ingat... Saat monster itu maju dan mendarat, gunakan sihir es mu untuk mengunci pergerakannya. Apa kau bisa?”


Meski tidak terlalu percaya diri, Yu menginyakannya. “I iya... Tapi... Aku tidak bisa menahannya...”


“Tidak usah di pikirkan. Beberapa detik sudah cukup... Ingat, kau hanya perlu membekukan tangan yang memegang senjata.”


Mengingat hal tersebut. Yu dengan dengan cepat melepaskan sihirnya. [Pembekuan]. Sihir es pembekuan itu tepat di arahkan ke lengan Hobgoblin yang memegang senjata.


Saat sihir tersebut di aktifkan, itu benar-benar langsung membekukan lengannya.


Seketika saat lengan Hobgoblin di berkukan. Xi langsung melepaskan beberapa anak panah yang telah di olesi dengan racun di mata anak panahnya. ‘Sekarang!’ Ia menambahkan mana kedalam busur dan anak panah tersebut, hingga meningkatkan kekuatan dorongan yang di berikan saat menembakkan anak panahnya.


Anak panah yang ditutupi oleh mana, untuk mempertahankan mata anak panahnya, supaya dapat menembus pertahanan dari Hobgoblin dengan mudah.


Hobgoblin heran. Bagaimana lengannya tiba-tiba membeku. Padahal, dia tidak melihat ataupun mendengar seorang penyihir membacakan mantaranya.


Namun, hal yang mengejutkan baginya adalah. Beberapa anak panah yang tiba-tiba melayang ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa.


Hobgoblin menguatkan lengannya yang membeku. Saat itu, es yang membekukan lengannya hancur berkeping-keping. Dan dengan cepat, dia mengkis semua serangan yang mengarah kepada dirinya.


“Trik murahan! Aku sudah melihat ini beberapa kali manusia! Huuh?!!” PAK! Satu anak panah terlewatkan olehnya. Dan anak panah itu mengenai mata kanannya. “Argh... Dasar manusia sialan! Aku akan membunuh kalian semua!!!” Dia berteriak keras. Selayaknya hewan buas yang meraung keras menunjukkan keperkasaan-nya. Aura yang dia pancarkan juga sangat kuat, menimbulkan hembusan angin kuat yang bahkan itu dapat di rasakan oleh semua orang.


Dia mencabut anak panah yang bersarang di mata. Setelah mencabutnya, dia melirik orang yang menembakkan anak panahnya, yaitu Xi. Menggenggam kuat kapaknya, tampak dia sangat merah karena telah di lukai oleh seseorang yang lebih rendah darinya. Mengangkat kapaknya, lalu dengan sekuat tenaga dia melemparkannya.


“Matilah!”

__ADS_1


__ADS_2