Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 65


__ADS_3

Terpojok oleh bahaya, Airis, Total, dan yang lainnya mencoba untuk bertahan sambil melindungi Yu yang terluka di tengah. Suatu kerugian, karena di saat-saat seperti ini seorang penyihir sangatlah penting. Karena penyihir dapat memberikan damage serangan yang lebih kuat dan lebih besar dari pada yang lainnya. Namun apa daya, saat ini satu-satunya penyihir dalam party telah jatuh dalam ketidakberdayaan. Membuat rekan-rekannya satu party lainnya tidak memiliki pilihan lain selain bertahan. Bertarung, sambil melindunginya.


“Dasar b*jingan! Mereka memancing monster ke arah kita dan mereka meninggal kita dalam masalah sekarang?” Total begitu kesal kepada party petualang lainnya yang melibatkan mereka kedalam masalah mereka. Selain itu, Total juga marah karena mereka memperlakukan partynya sebagai umpan untuk mereka melarikan diri. “Jika masalah ini selesai. Lihat saja para b*jingan itu, aku akan menghajar mereka sampai mati!” Total cukup di buat kesulitan saat menghadapi Babi hutan besar. Babi hutan besar memiliki kekuatan yang luar biasa, dan lagi otot-otot mereka sangat kuat, khususnya otot kaki yang membantu mereka untuk memberikan tekanan kepada lawannya.


“Aku mengerti perasaanmu, tapi simpan itu untuk saat ini... Kita harus fokus untuk bertahan saat ini, jangan pikirkan hal-hal lainnya.”


Tentu saja Tota mengerti apa yang Khatasi katakan. Namun kekesalannya dengan kejadian sebelumnya masih belum dapat dia redakan.


“Aku tahu itu, tapi-


*Dorongan keras. Itu menjatuhkan Babi hutan besar yang hendak menabraknya.


“Pikirkan itu nanti, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara kita meloloskan diri dari situasi ini sekarang... Kendalikan emosimu, jangan sampai karena ego satu orang dapat membahayakan seluruh nyawa.”


“Jika itu terjadi, aku tidak bisa tidak bilang untuk mengutuk sampai mati!”


*Cakar Harimau! Total membunuh monster yang telah Khatasi jatuhkan. Sembari itu, ia juga berkata “Baiklah-baiklah, berhenti mengoceh...” Ketika berkata seperti itu, dan aku mulai berbalik untuk melihat situasi di belakang. Tiba-tiba, mendadak sebuah serangan mengarah padaku secara langsung.


Dalam jarak tersebut, aku dengan cepat mempertahankan diriku dengan menyilang lengan. Guna untuk meminimalisir dampak dari kerusakan yang aku Terima.


“Argh *Terhempas. Aku mendarat, dan kembali mendapatkan pijakan ku.


Semua orang teriak khawatir menyebut namaku. Lalu, aku menjawabnya dengan tenang, tanpa sepatah-katapun mereka mengangguk mengerti. Aku kembali, melihat sosok orang yang baru saja menyerang diriku dari belakang...


“Kau...” Aku cukup penasaran dengan sosok pria berbadan besar itu. Aku tidak mengenalnya, namun dia terlihat berniat mencoba untuk membunuhku sebelumnya. Entah ada masalah apa yang aku tidak ketahui, atau tidak aku ingat tentangnya. Namun, dari ekspresi wajah itu, terlihat ia senang ketika berhasil memberikan luka padaku.


“Siapa kau?! Berani sekali menyerangku dari belakang!!” Sambil menunjuk ke arah pria tersebut, Tota dengan nada suara keras dan marah bertanya.


Pria itu menanggapi dengan sebuah senyuman. Lalu, dia berkata untuk menjawabnya “Siapa? Aku? Aku adalah orang yang akan membunuhmu!”


“Membunuhku?”


“Ya, untuk orang yang akan mati, sebaiknya jangan banyak bicara!”

__ADS_1


Aku terkejut. Aku bahkan tidak dapat merasakan kehadirannya, sesaat ia berada tepat di belakangku menggenggam pundakku dengan erat dengan kedua tangannya.


“Apa?” Aku terkejut, dia mencoba untuk menekan ku. Beberapa kekuatan aku gunakan untuk memberontak, supaya aku dapat keluar. Namun, tanpa di duga aku sama sekali tidak dapat melawannya. Genggamannya begitu kuat dan berat. Terlebih lagi, ada seseorang yang ahli dalam sihir tumbuhan, dia mengendalikan akar-akar tanaman yang ada di sekitar mengikat tubuhku. Semakin membatasi pergerakan ku dan aku semakin kesulitan untuk melawan.


Memikirkan untuk melepaskan diri, itu terasa mustahil sekarang. Kedua tanganku telah di ikat, dan tubuh bagian bawah ku seluruhnya telah di lumpuhkan. Dan lagi, ada seseorang yang bersih keras untuk tetap menjagaku di belakang.


Aku melihat Katashi yang berniat untuk menolongku. Namun, niatannya itu tertahan oleh monster-monster yang berdatangan menghalangi jalannya.


Di lain sisi, Annya tertahan oleh orang yang aku kenal, itu adalah sepasang kekasih yang aku hajar di penginapan kala itu. Dan Airis, juga tidak dapat menolong karena dirinya di sibukkan oleh beberapa monster Leopard bayangan.


‘Sialan... Sekarang aku benar-benar telah berada di ujung tanduk!’ Aku sangat khawatir serta takut. Aku mencoba untuk melawan, namun aku tetap tidak dapat melepaskan diri.


Dalam situasi ini, seseorang yang melihat kematian didepan mata akan kehilangan ketenangan mereka. Sehingga, sulit untuk mereka dapat berpikir dengan baik, atau memikirkan gara-gara terbaik untuk lepas dari situasi terburuk yang sedang di hadapi.


Kunci dalam mengatasi segala situasi adalah ketenangan. Namun, Tota telah jatuh dalam ketakutan dan kepanikan yang membuat pikirannya buyar.


Pria besar itu mengambil langkah kuda-kuda sembari bersiap untuk menghabisi Tota, ia mulai memakai beberapa buff untuk memperkuat serangannya. Semua ini, ia lakukan demi dapat menghabisi Tota dalam sekali serangan.


Semua tenaga ia fokuskan pada tinjunya. Setelah semua siap, ia melesat dengan sangat cepat.


“Bersiaplah untuk mati!”


Melihatnya membuat jantungku bedebar kencang. Itu, terjadi karena diriku panik ketika melihatnya berniat membunuhku.


Semakin, dan semakin mendekat itu menimbulkan rasa takut dalam hatiku. Aku bingung, dan mulai menggila. Menggunakan akan semua kekuatan yang masih aku miliki untuk melepaskan diri. Namun, hal tersebut tetap sia-sia. Bahkan ikatan tanaman yang mengikat ku ini malah semakin kencang. Itu membuatku semakin tidak berdaya dalam situasi ini.


“Sialan... Aku tidak sudi mati disini...” Meski begitu, Tota hanya bisa putus asa menunggu kematiannya walau ia tidak sudi.


Tota memikirkan, sebelum kematiannya. Bahwa, ada banyak hal yang belum ia lakukan di dunia ini, ada banyak misteri yang belum dia ungkapkan dan ingin dia ketahui. Dan yang pasti, ada satu hal yang ingin Tota lakukan dalam hidup ini yaitu... Menjadi kuat dan melampaui saudaranya.


“Cih... Sialan...


“Hanya ku tinggal sebentar dan kalian telah terlibat dalam masalah lagi?”

__ADS_1


Semua orang terkejut ketika mendengar suara itu bergema. Semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara, dan disana seorang pria muncul menghentikan kuatnya tinju dari pria besar yang hendak membunuh Tota.


Pria besar dan rekannya kala itu sangat terkejut dengan pemandangan yang mereka berdua lihat. Bagaimana tidak, karena pria yang ada di hadapan mereka ini dapat menghentikan serangan super kuat hanya dengan tangan kosong.


“”Apa? Dia mampu menghentikan serangan ku/Kuga?”” Keduanya serempak dalam hati. Dan mata mereka di buat takjub melihatnya.


Tota yang melihatnya tentu juga terkejut, sekaligus senang. Dengan spontan dia langsung memanggilku tanpa berpikir panjang.


“Xi!... Kau akhirnya kembali.” Tota terlihat sangat senang ketika melihat aku kembali kedalam kelompok.


Aku, dengan tenang menoleh dan melihatnya, Tota yang dalam kondisi menyedihkan itu. Hal tidak aku duga, bahwa dia akan jatuh dalam kekangan seperti itu.


“Ya, sepertinya kau baik-baik saja.”


“Sialan, berhenti mengejekku... Sebelumnya, situasinya sangat mengerikan, tapi kerena kau sudah ada di sini, jadi merasa aman sekarang. Tolong bantu aku.”


Mendengarnya meminta tolong kepadaku, tentu sebagai temannya aku segera membantunya.


Namun, seseorang sangat marah karena di merasa di abaikan. “Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi kau berani mengabaikanku maka kau sudah siap untuk mati.”


Sebelum pria besar itu, Kuga menyerang diriku. Dengan cepat aku mendorongnya, memberikannya sedikit dorongan untuk mendapatkan beberapa waktu. Ku tahu dia tidak dalam posisi siap, jadi itu sangat mudah untuk mendorongnya mundur meski hanya dengan dorongan pelan.


Kemudian, aku mengembil satu langkah maju lalu menyerang dengan tendangan berputar.


Dengan segala kekuatan yang aku memiliki, aku memfokuskan seluruh nafasku di kaki, sehingga aku dapat memberikan tendangan secara maksimal.


Counter yang sangat cepat dariku membuatnya tidak dapat berkutik. Dan hanya bisa pasrah menerima serangan ku dengan tubuhnya. Dan lagi pula, dengan tubuh sebesar itu mustahil untuknya dapat menghindari serangan dalam jarak yang dekat.


Karena tendangan tersebut, membuat Kuga terhempas mundur.


Lalu aku membalas dengan tenang tentang apa yang baru saja dia katakan kepadaku tadi. Bahwa aku sudah sering mendengar ungkapan tersebut dari seseorang hingga membuatku bosan mendengarnya.


“Aku sudah sering mendengarnya. Tapi... Apakah kau memang mampu melakukannya?”

__ADS_1


__ADS_2