
Setelah berhasil mengalahkan lima Goblin yang menghadang jalan mereka. Xi memuji kinerja Airis yang dapat mengalahkan lima Goblin dengan mudah.
Itu tidak perlu di pingkiri lagi. Dengan statistik setinggi itu, bahkan jika ada lebih dari sepuluh Goblin, Airis masih dapat mengalahkannya dengan mudah.
“Kerja bagus, kau benar-benar layak untuk itu.”
“Terimakasih Tuan.” Sambil membungkuk dan menundukkan kepalanya.
“Sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi. Ayo.” Ajak Xi untuk melanjutkan pemburuan ini. Xi paham, kalau ini bukanlah Dungeon sesungguhnya. Ini hanyalah bagian luar dari pintu masuk yang ada di dalam Dungeon. Dan kelima Goblin itu sebenarnya adalah monster-monster yang tinggal di luar Dungeon.
Jaraknya cukup jauh. Namun, mereka berhasil menempuhnya dengan cepat.
Di ujung jalan, terlihat dua obor yang menyala. Dan itu adalah obor yang di gunakan untuk menerangi pintu masuk Dungeon.
Tepat di depan pintu masuk Dungeon, terdapat beberapa mayat manusia, dan juga mayat monster yang tergeletak disana.
Aroma busuk yang tidak enak yang selama ini mereka cium adalah berasal dari tumpukan mayat ini. Dan sepertinya, Orang-orang itu tidak berniat untuk membersihkannya. Atau mungkin karena mereka terlalu melas untuk melakukannya, karena kejadian seperti ini sangat sering terjadi. Itu membuat mereka menjadi bosan, sehingga melupakan hal tersebut dan hanya membiarkannya disana.
Lagi pula, aroma busuk yang berasal dari dalam tidak akan tercium sampai keluar. Jadi, tidak ada alasan untuk memikirkannya.
Xi berjalan mendekati tubuh manusia yang tergeletak disana. Warna kulitnya telah berubah menjadi biru, itu terjadi karena proses pembusukan mayat. Itu hal yang normal.
Meski bau busuknya begitu kuat dan menyengat sampai ke hidung. Tetapi, itu bukan apa-apa untuk Xi yang sudah sering mencium dan merasakan aroma busuk semacam ini.
Tugasnya sebagai seorang prajurit dimasa lalu telah melewati banyak hal yang gila. Dan hal-hal semacam ini telah menjadi kegiatan seharian nya. Sehingga, dapat di katakan Xi sudah kebal dengan aroma busuk semacam ini.
Dikarenakan tidak ada yang mengurus mayat-mayat ini, dan jika terus di biarkan akan menjadi buruk dan bau busuknya akan semakin menyengat.
Xi menggunakan sihirnya “[Flame]” membakar mayat-mayat tersebut hingga menjadi debu. Sehingga tidak akan ada lagi orang yang terganggu oleh bau busuknya, serta ini akan sedikit lebih menghormati mereka yang telah mati.
Xi hanya tidak ingin mayat-mayat ini di langkahi oleh monster-monster yang tinggal didalam sini nantinya. Atau para petualang lain yang mencoba mengambil harta yang tertinggal. Meski sepertinya, barang berharga yang mereka miliki telah di ambil oleh orang lain sebelum mereka.
Ada alasan mengapa Xi tidak mengubur mereka. Itu karena, struktur tanah didalam Dungeon ini sangat keras, dan terasa seperti batu yang padat. Untuk mengubur mereka, itu jadi sulit, jika itu memang mudah, maka sudah ada banyak pemakaman orang-orang didalam Dungeon ini. Dan para penjaga juga tidak perlu Repot-repot membawa keluar mayat orang-orang yang mati keluar dari Dungeon.
Setelah semua mayat terbakar habis, Xi mulai berjalan mendekati pintu masuk yang ada disana. Membuka pintu tersebut yang terbuat dari batu. Tidak ada yang istimewa dari pintu tersebut, hanya sebuah pintu batu polos tanpa adanya ukiran apapun disana.
Pintu terbuka dan cahaya merah yang terpancar keluar dari dalam Dungeon menyilaukan mata.
Terangnya cahaya yang terbias harus membuat Xi melindungi matanya dengan tangan dengan munutupinya.
Dengan cepat cahaya merah itu memudar, menampilkan penampilan dalam Dungeon yang sesungguhnya.
__ADS_1
Xi dan Airis masuk kedalam untuk melihatnya dengan lebih jelas. Setibanya didalam, pintu Dungeon tertutup dengan sendirinya.
Airis terkejut, namun Xi tidak. Ini adalah pengalaman pertama Airis masuk kedalam Dungeon. Sama halnya dengan Xi, namun dengan fenomena semacam itu, itu bukanlah pertama kalinya.
Di dalam Dungeon, ternyata bau amis juga ada. Xi dan Airis melihat-lihat sekitarnya, dan tepat saat melihat ke langit-langit Dungeon. Disana terlihat jelas sebuah kerangka, seperti tengkorak kepala besar dari suatu hewan.
[Anda telah memasuki Dungeon]
Sebuah notifikasi di Terima oleh masing-masing dari mereka.
“Tuan, apa anda juga melihatnya?” Untuk memastikan apa yang di lihatnya benar, Airis bertanya kepada Xi.
“Iya... Ini Quest.” Xi membaca notifikasi tersebut. “Jadi ini syarat untuk menyelesaikan dungeonnya? Atau syarat untuk kita dapat keluar dari Dungeon ini?” Xi sedikit bingung. Karena yang terdapat dalam Quest tersebut tidak di sebutkan untuk mengalahkan bos monster yang menguasai Dungeon ini.
Syarat untuk menyelesaikan Dungeon ini adalah menemukan sebuah [Rune Stone] didalam ruangan bos. Dan untuk sampai ke ruangan bos, Xi dan Airis harus menyelesaikan lantai pertama terlebih dahulu. Dan konsep Dungeon ini adalah Dungeon bertingkat.
Untuk dapat melewati lantai pertama, dan pergi ke lantai kedua. Xi dan Airis harus bertahan hidup selama tiga hari tiga malam di lantai pertama.
Jika itu berhasil, akan ada sebuah pesan muncul memberitahukan mereka. Setelah itu, akan ada sebuah hadiah yang akan membawa mereka untuk pergi ke lantai selanjutnya.
“Questnya adalah bertahan hidup selama tiga hari. Dungeon seperti ini sangat cocok untuk meningkatkan level kita.”
Jumlah monster yang banyak seperti tidak ada habisnya dan Wave monster-monster yang dapat muncul secara akan dapat memberikan Exp dalam jumlah besar. Tentu, semakin banyak monster yang di kalahkan, semakin banyak Exp yang di dapatkan.
“Lalu tuan. Apa yang harus kita lakukan? Mungkin ini terdengar mudah karena hanya perlu bertahan selama tiga hari. Tetapi ini juga berbahaya, karena kita tidak mengetahui jenis monster apa yang ada di lantai pertama.”
“Kau benar. Ini juga berbahaya. Oleh karena itu, kita juga harus berhati-hati dan jangan lengah. Informasi yang kita miliki bisa di katakan tidak ada.” Xi berpikir langkah apa yang harus dia ambil. Meski Dungeon ini sering di kunjungi oleh para petualang, namun para petualang lainnya juga sangat pelit untuk membagikan informasi yang mereka punya.
Tidak mudah untuk membuka mulut mereka. Karena informasi adalah kekuatan, dan kekuatan adalah uang.
Itu terdengar buruk, tapi, itulah kenyataannya. Tanpa adanya uang, tidak akan ada informasi yang akan didapatkan.
“Mari bergerak perlahan, kita perlu mengetahui monster macam apa saja yang tinggal didalam sini.”
Xi mengajak Airis untuk masuk lebih dalam lagi. Karena, tampaknya di bagian depan tidak ada satu pun monster yang berjaga.
Tidak tahu apa alasannya, namun itu terlihat sepi untuk sebuah sistem bertahan hidup. Ini terlalu mudah.
Memanfaatkan luang waktu yang ada sebelum para monster datang dan menemukan mereka. Xi mencoba untuk berjalan dan menelusuri dungeon ini untuk mengetahui struktur dari dungeon ini.
Semakin lama mereka berjalan, area dungeon terasa semakin melebar. Dan langit-langit dungeon juga semakin tinggi. Namun, terlihat jelas di sana terdapat sebuah kerangka seperti tulang punggung yang menopang langit-langit agar tidak jatuh.
__ADS_1
Melihat dari usia tulangnya. Itu sudah sekitar dua atau tiga ratusan tahun masa hidupnya. Dan dungeon ini terbentuk bukan secara alami oleh tanah, namun dungeon ini muncul karena adanya makhluk besar yang berusia panjang mati.
Tidak di ketahui alasan kenapa makhluk tersebut dapat mati. Xi menduga kalau hal tersebut mungkin karena faktor usianya.
Terus memerhatikan langit-langit, dan itu semakin tinggi namun masih dapat di gapainya jika menggunakan sihir [Fly].
Xi menyimpulkan, setelah melihat semua itu. Makhluk raksasa ini mungkin adalah seekor kura-kura raksasa. Kura-kura adalah salah satu makhluk yang di berkati dengan umur yang panjang.
Dunia dimana hal-hal yang tidak masuk akal terjadi.
Pada umumnya kura-kura meski telah berumur sampai seratus tahun atau lebih tidak akan tumbuh besar, sebesar gunung.
Namun pada kenyataannya, ini bukanlah dunia yang normal. Dimana makhluk-makhluk kuat dan makhluk berukuran besar seperti gunung ada di dunia ini.
Tatanan dunia ini sangat berbeda dengan dunia lain. Dunia ini mampu menampung banyak sekali jenis kekuatan yang bahkan tidak masuk akal sekali pun.
Meski para dewa itu turun ke dunia, dunia ini tidak akan hancur.
Melihat tuannya yang terus-terusan memandangi langit-langit, Airis bingung sekaligus penasaran.
Dan untuk menjawab rasa penasarannya itu, Airis pun bertanya. “Tuan... Apakah ada yang salah? Kenapa anda terus memandangi langit-langit?”
“Tidak ada yang spesial. Hanya saja, kini aku tahu dungeon ini terbentuk didalam tubuh kura-kura raksasa yang mati.”
“Ja jadi, maksud anda ini terbentuk karena makhluk hidup yang sudah mati?”
“Iya, aku tidak tahu bagaimana caranya, namun faktanya itu terbentuk dari makhluk hidup yang mati.”
Xi bergumam dalam-dalam.
‘Jika dungeon ini terbentuk karena makhluk hidup yang sudah mati, apakah aku juga bisa membuat dungeon dari jiwa-jiwa kematian?’
Itu rasa penasaran. Namun, tentu saja tidak ada jawaban untuk gumaman nya itu.
Ini suara langkah kaki. Dapat terdengar cukup keras. Mendengar dari suaranya, dan permukaan tanah yang bergetar.
Xi dan Airis menyadari ada yang datang, dan sepertinya tamu yang datang tidaklah sedikit.
“Tuan...”
Xi mengangguk dalam-dalam. Dia mengetahuinya. “Bersiap.” Ia mengambil Demon Snake Dagger dari dalam inventory. “Mereka datang.”
__ADS_1