
Petarungan melawan kelompok Goblin masih berlanjut. Sesuai dengan apa yang Xi pikirkan, mereka belum memiliki cukup pengalaman untuk menghadapi jumlah musuh yang lebih banyak.
Tidak hanya itu, bahkan mereka membuang-buang banyak energi dan mana hanya untuk membunuh beberapa monster saja. Seharusnya, itu tidak di perlukan. Pada saat kritis saat mana habis, itu akan membuat mereka kesulitan untuk bertahan.
Terlebih lagi, jumlah monster yang ada masih banyak. Dan itu terus berdatangan seperti tidak ada habisnya.
Lama kelamaan semakin banyak Goblin yang bermunculan. Bahkan Tota dan Katashi sudah tidak sanggup lagi bertahan di garis depan. Aiko yang memberikan bantuan dengan sihir [Penyembu]han miliknya, juga tidak begitu banyak membantu. Mungkin itu dapat membuat Tota dan Katashi dapat bertahan, dan berdiri lebih lama lagi. Namun, itu bukan dalam jangka waktu yang panjang. Sebelum mananya habis karena terus-menerus menggunakan sihir [Penyembu].
Annya yang memiliki kecepatan tinggi terjebak didalam kerumunan Goblin. Sebagai penyerang Light attack atau penyerang yang mengandalkan kecepatan. Tempat yang sempit dan hanya memiliki beberapa space kecil akan membuatnya terpojok. Atau bisa di sebutkan membuat orang tersebut menjadi tidak berguna.
Semakin sempit space yang dimilikinya, semakin sulit untuk Annya dapat bergerak. Saat ini, dia benar-benar dalam kesulitan.
“Tidak... Aku harus menggunakan sihir pembekuan! Aku akan segera merapalkannya!” Yu yang melihat situasi di luar kendali. Mulai panik dan tidak konsisten dalam memainkan perannya. Dengan cerobohnya ia ingin menggunakan sihir yang kuat tanpa sebuah persiapan. Dan lagi, Yu baru mulai ingin merapalkan mantranya di dalam situasi yang berbahaya.
Aliran mana yang deras terkumpul di sekitarnya saat Yu merapalkan mantranya pembeku-nya.
Pada saat itu, semua perhatian Goblin teralihkan pada Yu yang sedang mempersiapkan spellnya.
Merasa mantra tersebut sangat kuat, dan sangat berbahaya untuk mereka(Goblin). Segera mereka berlari dan mengejar Yu. Demi meng-gagalkan mantranya, mereka mengabaikan Katashi, Tota, dan Annya yang ada di garis depan.
__ADS_1
‘Sedikit lagi...’
Ketika mantranya selesai di baca. Yu membuka matanya dan berniat menggunakan spell yang sudah di siapkan. Namun, itu terhenti seketika saat Yu melihat puluhan Goblin berada tepat di depan matanya.
‘??... A... Ini...’ Spell yang telah dia siapkan dengan susah payah di bawah tekanan menghilang. Sudah terlambat untuknya merapalkan kembali mantra spell tersebut.
Para Goblin sekarang benar-benar ada di cepat mata. Dia sangat ketakutan. Mata terbuka lebar dengan pupil yang membesar. Wajah pucat seluruhnya tertutupi oleh keringat dingin. Sudah tidak ada yang bisa dia lakukan lagi pada situasi ini. Dia benar-benar telah sampai pada ujung tanduknya. Teman-temannya tidak ada yang dapat menolongnya. Semuanya tengah di sibukan oleh para Goblin yang menghalangi niat mereka untuk membantu.
Air mata mengalir keluar membahas pipi merahnya yang halus. Dia sangat takut. Dalam benaknya, dengan tersedu-sedu seraya dia berkata ‘Inikah akhirnya?.... Akhir... Dari perjalananku?... Perjalanan- Dia mengingat semua kenangan kebersamaan. Kebersamaan dengan teman-temannya, Tota, Katashi, Aiko dan Annya... Serta teman-teman baru yang baru saja dia kenal saat ini. Lutut nya tertekuk lemas. Betapa takut dan putus asa nya dia saat ini. Ini benar-benar mengguncang metalnya... Dia telah sangat putus asa. Dengan suara pelan nanti putus asa dalam hatinya, mengucapkan sebuah kalimat, dan memohon ‘Siapapun... Kumohon.... Tolong aku-
KRASSS!! Sebuah gerakan yang sangat cepat. Keajaiban? Dunia masih ingin dia tetap membuka matanya dan melihat betapa indahnya dunia ini yang sebenarnya.
Tepat di depan matanya. Seorang pria berdiri menghentikan monster yang ingin mencelakai nya. Datang di saat yang tepat bagaimana pahlawan yang datang untuk menjemput sangat kekasih. Namun sayangnya, ini bukanlah sebuah cerita, cerita romantis yang di penuhi kesedihan.
Tepat di tengah kirinya. Xi telah mempersiapkan sebuah serangan lanjutan. Dimana, ia pertama kalinya menggunakan element kegelapan, element sejati yang terlahir di dalam dirinya.
Skill [Pisau kegelapan]. Selayaknya pedang yang tajam di satu matanya. Itu mengayun dari samping bawah ke atas. Dalam cangkupan area yang luas, puluhan Goblin langsung tertabas. Seluruh tubuh dari masing-masing nya terpotong menjadi dua bagian atas dan bawah.
Batapa mengerikannya itu. Sebuah element yang tidak dapat di sentu. Bahkan ketika itu di padat kan, [Pisau Kegelapan] dapat dengan bebas memotong segala yang ada di depannya ataupun yang di laluinya. Benar-benar tajam, dan tidak dapat di bandingkan dengan sebuah pedang biasa, atau pedang khusus yang di perkhususkann untuk memburu monster.
__ADS_1
Semua mata yang melihat sangat terkejut. Mereka tercengan bahwa melihat betapa luar biasanya pemandangan itu. Sungguh-sungguh sangat luar biasa.
“He... Hebat...” Tota terkejut dan hanya bisa diam menerima kenyataan tersebut. Bersama, dia juga ketakutan saat melihat Xi tanpa ragu mengayunkan pedangnya untuk membunuh para Goblin tersebut.
Tidak terbayangkan olehnya. Apa yang akan terjadi bila dia yang berada dalam posisi itu. Mungkin, hal yang sama akan terjadi pada dirinya. Sekarang, dia mengetahui. Seberapa menakutkannya kekuatan teman barunya ini.
Dengan wajah pusat. Dalam hatinya Tota berkata ‘Tidak heran kenapa mereka hanya membawa dua orang... Jika dia sekuat ini, siapa yang bisa menjadi lawannya di levelnya? Tidak! Apakah itu benar-benar ada?’
Goblin yang tersisa ketika melihat pemandangan tersebut. Dimana, rekan-rekannya di bantai dengan mudahnya membuat mereka ketakutan dan lari, melarikan diri.
Melihat hal tersebut, Xi tidak bisa membiarkan mereka datang dan pergi seenaknya bahkan jika mereka berada di wilayah kekuasaan mereka sekalipun.
“Datang dan pergi setelah kalian menyarang? Aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja! Kegelapan, menyebar!” Saat perintahnya di jatuhkan. Dari bawah kakinya kegelapan dengan cepat menyebar luas mambasahi area sekitarnya.
Membuat Goblin yang berada di dalam kegelapan terkena sebuah efek status negatif [Slownes]. Yang mana, itu membuat pergerakan mereka menjadi terhambat.
Situasinya buruk untuk mereka. Melihat peluangnya begitu kecil jika hanya melekat di tanah. Mereka menggunakan otak untuk berpikir bagaimana harus lepas dari situasi ini. Oleh karena itu, untuk dapat kabur, mereka harus lepas dari kegelapan yang menjebak kaki. Dan satu-satunya cara untuk keluar adalah memanjat pohon.
Di ikuti oleh yang lainnya, semua bergegas memanjat dan melepaskan diri dari kegelapan.
__ADS_1
Namun, wajah tanpa ekspresi itu benar-benar tidak memberikan mereka kesempatan untuk kabur.
“Skill [Jeratan Kegelapan] tarik mereka semua kembali kedalam kegelapan!”