
Perisai Mana dan Dinding Tanah yang Xi ciptakan untuk menghalau serangan dan untuk melindungi dirinya. Hancur seketika ketika serangan itu berbenturan. Menghasilkan ledakan yang cukup kuat, hingga menghancurkan perisai berlapis nya. Membuatnya terpukul mundur beberapa kaki dari tempatnya berpijak sebelumnya.
Xi merasa kesal, pada dirinya sendiri karena begitu terbawa suasana hingga dirinya melupakan artian penting dalam pertarungan. Dirinya sendiri tidak mengira, bahwa dia yang selalu berhati-hati akan jatuh dalam permainannya sendiri.
“Sial... Untung masih sempat...” Sebelum ledakan itu semakin membesar, Xi dengan cepat melompat kebelakang untuk meminimalisir kerusakan yang akan dia Terima dari ledakan tersebut. Tidak ada luka fatal yang di Terima, hanya beberapa luka goresan saja di kedua lengan.
Aku merasa kecewa pada diriku sendiri, karena aku masih belum dapat mengendalikan diriku dengan baik. Sehingga, hal ini dapat terjadi. Meski memalukan, namun itu tidak mengapa. Karena, bagian terbaiknya aku masih selamat dari serangan itu.
“Untuk berpikir bahwa aku akan jatuh dalam kesombongan sesaat, aku benar-benar tidak memperkirakannya...”
Selain itu, ditambah dengan kepintaran dari Kera Halilintar Raksasa. Yang dapat mengendalikan situasi dengan baik, itu juga lah yang membuat Xi terdorong dalam kesombongan. Sehingga, dia melupakan dasar-dasar bertarungnya, hingga ia tidak waspada dan memiliki banyak celah.
Beruntung dengan casting sihir yang cepat, Xi dapat meminimalisir dampak yang dia Terima.
Baiklah, kesalahan yang sama tidak akan terulang lagi... Aku harap begitu. Dan untuk berjaga-jaga *Rantai Kegelapan! Aku memanipulasi kegelapan yang sebelumnya bahkan tidak dapat di sentuh, kemudian aku memadatkannya. Menjadikannya sebuah rantai yang kuat dan tak terhacurkan. Untuk mengikat Kera Halilintar Raksasa agar tidak dapat bergerak dan mudah untukku menghabisinya.
Saat aku berjalan mendekat, aku melepaskan indera sihir ku ke sekitar. Untuk memastikan, bahwa tidak ada orang lain, ataupun monster lainnya yang ada di dekat sini yang dapat mengancam dan menyerang ku tiba-tiba.
Dan setelah memastikan keadaan di sekitar ku aman. Aku mulai mengeksekusi Kera Halilintar Raksasa dengan menusukkan Dagger ku tepat di dadanya. Menghancurkan jantungnya.
[Anda Telah mengalahkan Kera Halilintar Raksasa]
[Pencapaian yang luar biasa dari anda, memberikan apresiasi dari hasil kerja keras. Sebuah Title : Pemburu Kera Halilintar]
[Hadiah telah mengalahkan Kera Halilintar Raksasa. 30.400 Gold dan exp 30.000]
__ADS_1
[Anda Naik level]
[Level Anda sekarang : Level. 27]
“Aku mendapatkan penghasilan yang besar kali ini... *Aku melirik seseorang yang sedang terdiam menatapku dari kejauhan sana. Dia tampak sangat terkejut, ketika melihat aku mengalahkan Kera Halilintar Raksasa sendirian. ‘Hampir saja aku melupakannya...’ Kemudian, karena aku tak ingin dia melihat aku membangkitkan mereka menjadi pasukanku, jadi aku memberikan kepadanya sebuah sihir [Tidur] ketika aku mengucapkan itu, dia langsung terpengaruh oleh efek dari sihirnya, yang membuatnya langsung tertidur.
Ketika semuanya telah siap. Dan aku mulai menyebarkan kegelapan kesegala arah. Menutupi semua mayat yang ada di sana, mau itu mayat monster ataupun mayat manusia. Dengan kegelapan ini, Xi menyerap sisa-sisa energi kehidupan yang masih tersimpan didalam mayat, kemudian, menggunakan sisa-sisa dari energi kehidupan itu untuk memanggil jiwa-jiwa dari makhluk yang telah mati untuk di bangkitkan menjadi pasukan kegelapan.
[Berhasil Memanggil Pasukan Kegelapan]
[Dari semua pasukan Kegelapan yang dimiliki, keberadaan Spesial telah muncul.]
Pemberitahuan itu tertuju pada salah satu pasukan kegelapan yang baru saja aku bangkitkan. Ya, salah satunya, itu adalah Kera Halilintar Raksasa. Ia adalah keberadaan Spesial yang sistem maksudkan. Mungkin, itu juga berdasarkan level dan kemampuannya, level Kera Halilintar Raksasa berada di atas rata-rata dari pasukan kegelapan lainnya.
Xi memegang dagunya, dan memikirkannya lagi. Ada satu hal yang membuatnya monster ini spesial, itu adalah element petir yang di miliki nya. Di antara semua jenis monster, monster dengan element tipe petir adalah salah satu jenis monster yang langkah, dan jarang di temui.
“Thunder, ya, aku akan memberikanmu nama Thunder! Bagaimana? Apa kau menyukainya?”
Dia merespon ku. Bukan dengan perkataan, namun dari tindakannya. Ia memukuli dadanya seperti apa yang gorila sering lakukan.
“Bagus, senang jika kau menyukainya... *Dan aku kembali pada tujuanku datang ke tempat ini. Yaitu, untuk buah mana yang di hasilkan oleh pohon Akkarta. Dan sekarang, bagian terakhirnya...” Aku memerintahkan pasukan kegelapan ku, para Kera Petir ini untuk mengambilkan buah-buahan itu.
“Ambil semua itu.” Saat perintahku di jatuhkan, mereka dengan sigap langsung bergerak dan mengerjakannya.
Tidak perlu waktu lama untuk mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut, karena itu bukanlah hal yang sulit untuk mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Kira-kira itu datang dan membawakan ku buah Pohon Akkarta yang aku inginkan. Kemudian, aku mengambilnya, dan menyimpannya kedalam inventory satu per satu.
[Buah Mana : Tingkat Kelangkaan. Langkah. (Buah yang di hasilkan oleh Pohon Akkarta yang hanya berbuah sekali dalam tiga bulan. Buah ini menyimpan banyak kandungan mana murni dari proses penyaringan mana alam yang di lakukan pohon Akkarta) (Efek : Dapat meningkatkan jumlah mana seseorang khusus penyihir, healer, dan support sebesar 5%-20%.) ]
“Apa artinya jika aku memakannya aku tidak akan mendapatkan efeknya?” Aku bertanya kepada diriku sendiri ketika selesai membacanya. Jika itu benar, maka ini perjuangan yang sia-sia. Meski tidak semuanya.
Namun, tanpa di duga, aku mendapatkan sebuah jawaban dari sistem yang memberitahukan diriku.
[Jawab. Host adalah pemiliki dari dua class Uniq yang salah satu dari class tersebut, Pangeran Kegelapan merupakan keberadaan class yang sangat dekat dengan mana dan segala jenis sihir. Jika host mengkonsumsi buah tersebut, Host akan mendapatkan efek yang sama. Pada dasarnya, Host juga seorang naga, makhluk yang paling dekat dengan mana. Meski host sekarang belum terbangkit sepenuhnya, namun itu sudah lebih dari cukup.]
Itu membuat aku lega ketika mendengarnya.
Seberapa banyak mana yang akan kau dapatkan dari buah mana ini, itu tergantung seberapa banyak mana yang dapat kau serap. Yang perlu di ingat, seseorang harus melakukan yang terbaik dalam menyerapnya, karena buah ini sangat langkah, dan hanya dapat di gunakan sekali seumur hidup.
Setelah seseorang mengkonsumsi buah mana, maka selanjutnya mereka tidak mendapat efek apapun dari buah mana selanjutnya yang di konsumsi.
Saat memegang buah mana tersebut. Xi berpikir, pakah dia harus menggunakannya sekarang? Mengingat, disini juga cukup aman karena semua monster yang ada di sekitar telah di bersihkan semuanya. Dalam heningnya siang ditemani oleh pasukannya, Xi menggigit buah tersebut.
Berniat untuk menggunakannya sekarang, namun langkah itu terhenti seketika ketika ia mendapat sebuah penglihatan dari salah satu pasukannya. Yang mana, dalam penglihatan yang tersambung dengan pasukannya itu, dia melihat Airis dan rekan-rekannya yang lainnya terlibat dalam bahaya oleh gerombolan monster kuat. Tidak hanya itu, mereka juga terjebak dalam pertarungan melawan beberapa petualang, dan tentara bayaran yang mengepung jalan pelarian mereka. Sehingga, pertarungan itu tidak terhindarkan.
Airis dan yang lainnya, dalam kondisi yang buruk. Dimana, mereka harus berhadapan dengan lawan-lawan yang berbeda. Itu bahkan, menyulitkan Khatasi dalam melindungi rekan-rekannya, karena hanya dia satu-satunya badan yang dapat melindungi rekan-rekannya saat ini. Di sisi lainnya, Yu juga tampak terluka, dan wajahnya memucat. Tampak seperti terkena sebuah racun yang mematikan, dan saat ini Airi berusaha keras untuk membantu menghambat penyebaran racunnya.
“Aku berubah pikiran... *Xi pun mengurungkan niatnya untuk mengkonsumsi buah mana karena kondisi yang tidak memungkinkan ini. Segera setelah ia menyimpan buah mana didalam inventory nya, Xi bergegas pergi kesana dengan kecepatan penuh.
“Bertahanlah sebentar, aku akan segera tiba disana!” Ia cukup khawatir dengan kondisi rekan-rekannya saat ini, namun yang paling ia khawatirkan adalah Airis. Airis adalah satu-satunya rekan sekaligus bawahan yang ia percayai. “Segera setelah aku tiba disana, itu akan menjadi akhir untuk kalian semua!” Dengan tatapan mata tajam, Xi mengungkapkan kemarahannya dengan niat membunuh yang tersebar luas.
__ADS_1