Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 40


__ADS_3

Setelah semua urusan di Kota Aiter selesai. Sesuai dengan apa yang telah mereka rencanakan, bersama rombongan pedagang, semuanya pergi meninggalkan Kota Aiter menuju ke Kota tujuan mereka, Kota Jisa.


Dengan beberapa diskusi sebelum keberangkatan mereka tadi malam, mereka telah menentukan rute tercepat yang akan mereka tempuh.


Bertepatan dengan acara pembukaan Ancient Monument tujuh hari dari sekarang di Kota Jisa, berharap mereka dapat cepat sampai, dan tidak ada halangan di jalan.


Mereka harus cepat sampai, tentunya ini berkaitan dengan para pedagang. Mereka harus segera menemukan dan menyewa tempat di Kota Jisa untuk mendirikan tenda dagang.


Jika terlambat, mungkin mereka sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendirikan tenda.


Pada acara Ancient Monument yang di adakan setiap tahunnya di Kota Jisa, ada banyak sekali pedagang dari seluruh Kota datang.


Dan jelas tujuannya untuk mencari ke untungan, dan bertransaksi dengan para petualang yang nantinya akan ikut Vestifal ini.


Tentunya tidak hanya akan satu atau dua orang petualang saja yang akan ikut.


Akan ada ratusan, bahkan ribuan petualang yang akan mengikuti festival ini.


∆∆∆∆


Dua hari ini sebelum pembukaan Ancient Monument. Kota Jisa yang ramai akan penduduk, menyambut hangat kedatangan semua pedagang dari luar kota serta para petualang yang ingin ikut berpartisipasi.


Kedatangan mereka semua telah meraup keuntungan yang banyak bagi kota Jisa. Khususnya, mereka yang membuka usaha sebagai pemilik penginapan, tokoh Potion, dan tokoh senjata.


Ketiga tempat tersebut adalah tempat yang paling ramai pengunjung.


Pada Festival ini, semua penginapan yang ada di sekitar area Ancient Monument selalu terisi penuh.


Dan mereka semua adalah orang-orang yang berasal dari kota lain. Orang-orang yang berasal dari kota Jisa itu sendiri lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah mereka masing-masing.


Mungkin karena mereka sudah merasa nyaman untuk tinggal di rumah ketimbang dengan penginapan.


Ya, meski jaraknya terkadang cukup jauh, namun banyak orang yang tidak ingin mengeluarkan uang mereka untuk hal-hal yang tidak di perlukan.


Berbeda dengan para petualang yang berasal dari luar kota. Mereka menyewa ruangan di suatu penginapan karena mereka memang membutuhkannya.


Tokoh Potion. Sebelum orang-orang masuk kedalam Hidden Word, terkadang... Tidak... Mereka selalu menyiapkan beberapa potion didalam tas mereka.


Healing Potion, Mana Potion, Stamina Potion, Strength Potion, dan berbagai macam jenis potion lainnya sesuai dengan kebutuhan setiap orang masing-masing.


Setiap orang membutuhkan jenis potion yang berbeda-beda, mengingat tidak semua orang memiliki Job yang sama.


Bahkan, jika bila Job mereka sama, ada kalanya pilihan potion dari masing-masing orang adalah yang terbaik.


Bukan dari orang lain, melainkan dari diri sendiri. Bagaimana cara menilai diri sendiri, dan menentukan apa yang paling berguna dan bermanfaat untuk dirinya.


Mengenali diri sendiri, itu adalah dasaran yang sangat penting bagi semua orang. Tidak hanya terkhusus untuk petualang saja, namun untuk semua orang.


Pada Tokoh Senjata, biasanya yang paling banyak berkunjung kesana untuk membeli barang adalah seseorang dengan jobnya sebagai “Pemanah”.


Dari pada membuat anak panah sendiri, dan itu membuang-buang banyak waktu, terkadang para Pemanah lebih memilih untuk membeli anak panah mereka di tokoh senjata.


Beberapa seperti Warrior atau tank sebagai contohnya, jarang untuk berkunjung. Seseorang dengan job sebagai Warrior ataupun Tank biasanya lebih memilih untuk pegi ke Tokoh Blacksmith.

__ADS_1


Tentu, tujuan mereka untuk memeriksa keadaan peralatan mereka, apakah itu masih layak pakai atau tidak.


Tentunya, jika itu tidak layak pakai lagi, mereka akan meminta seorang Blacksmith untuk membuatkannya peralatan yang baru yang sesuai dengan apa yang di butuhkan.


Dan sekarang, dua hari telah berlalu. Ada banyak sekali petualang dan pedagang yang telah tiba di Kota Jisa.


Dan bahkan beberapa dari mereka, pedagang, telah mendirikan tenda mereka untuk berjualan.


Sementara itu, rombongan Xi yang masih dalam perjalanan menuju ke Kota Jisa terjebak di jalan. Karena jalannya di hadang oleh beberapa monster yang tinggal didalam hutan dari jalur cepat yang mereka lalui.


Nama Monster : Wind Boar. Level : 10. Jumlah mereka sekarang terdapat sekitar ada dua puluh lebih menghadang jalan.


“Sial... Kita malah bertemu dengan kelompok Wind Boar~”


Seorang pria berbedan kekar. Dia terlihat gagah dan perkasa. Maju dengan tenang dan berdiri di barisan depan sambil menatapi kelompok Wind Boar itu dengan sinis.


“Semuanya bersiap! Kita akan menghadapi mereka!” Ia mengangkat dan mengacungkan pedangnya.


Perintah dia berikan kepada empat rekannya yang ikut dalam misi pengawalan ini.


Ke empat rekannya langsung masuk dalam posisi mereka masing-masing, dengan seorang penyihir berada di barisan paling belakang. Tertutupi oleh dua penyerang, dan satu tanker di depannya.


“Kia, Tolong beri kami Buff.”


Kia mengangguk mengerti.


Mengangkat tongkat sihirnya, dan ujung tongkatnya bercahaya ketika Kia merapalkan mantra sihirnya.


Cahaya merah muncul dari bawah kaki kedua orang itu, dan kemudian terus naik ke atas hingga ke ujung kepala. Menandakan, buff nya telah sukses di berikan.


Kia memberikan kedua Warrior itu buff [Strength]. Yang mana, buff tersebut meningkatkan kekuatan kedua Warrior itu sebesar 7%.


Setelah buff di dapatkannya, ia kemudian bertanya kepada salah satu rekannya lagi yang sejak tadi menyembunyikan dirinya di balik pepohonan.


“Lore, bagaimana situasi sekitar?”


Seseorang muncul di atas sebuah batang pohon. Kamuflase nya begitu hebat, bahkan sampai tidak di sadari oleh penjaga pribadi Alixsa.


“Aku telah mengecek situasi sekitar, tidak ada monster lain di dekat sini.” Ia merupakan seorang Archer. “Tetapi, kita harus cepat menyelesaikannya, ingat bau darah dapat memancing lebih banyak monster untuk datang.”


Menyelinap, dan berkamuflase adalah kemampuan umum dan dasar dimiliki oleh Archer.


Itu bukanlah lagi menjadi rahasia umum sekarang. Semua orang telah mengetahuinya, dan bahkan pengetahuannya dapat didapatkan saat masih menjadi murid di Akademi petualang.


“Aku mengerti, kalau begitu, kita harus menyelesaikan ini dengan cepat!”


“Ayo Maju!”


Kedua Warrior itu maju dengan penuh semangat. Dengan di bantu oleh Lore dengan menembakkan anak panahnya, dan Kia dengan beberapa serangan sihirnya, menjaga punggung kedua rekannya yang sedang bertarung melawan Wind Boar.


Pertarungan berlangsung sengit. Kelompok Wind Boar maju tanpa rasa takut menyerang tentara bayaran itu.


Namun, mereka masih dapat di atasi oleh kedua Warrior tersebut.

__ADS_1


Selagi Wind Boar sibuk dengan kedua rekannya. Kia merapalkan mantra sihirnya, dan menembak [Fire Ball].


Dengan bantuan Kia yang menembakkan [Fire Ball], kedua Warrior itu jadi lebih mudah untuk menyerang Wind Boar yang kebingungan.


Asap yang di hasilkan dari ledakan [Fire Ball] membuat Wind Boar kesulitan untuk melihat, bahkan ketika mereka mengendus menggunakan hidung mereka yang besar, serta memiliki kemampuan penciuman dan pelacakan sebaik serigala, asap yang menutupi mereka membuat indera penciuman tidak berguna.


Terlebih, aroma tubuhmu dari kedua Warrior tersebut tersamarkan oleh asap yang menutupi mereka.


Disamping itu, kedua Warrior tersebut menggunakan dua jenis skill yang berbeda untuk mendeteksi keberadaan Wind Boar di dalam asap.


Salah satunya menggunakan skill [Life Essence] dan satunya [Mana Essence]. Dengan begitu, mereka dapat melihat esensi Mana dan esensi kehidupan yang di miliki oleh Wind Boar.


Melihat pertarungan itu, salah satu pedagang terlihat cemas.


Tuan Melnir menatap ke arah Xi yang duduk di depannya.


Kondisi mereka saat ini sedang duduk berhadapan karena mereka berada didalam kereta kuda.


Saat itu, Tuan Melnir mengungkapkan kecemasannya mengenai kelompok tentara bayaran yang sedang bertarung menghadapi monster kepada Xi.


“Ehmmm... Ano, tuan... Apakah anda hanya akan diam saja?”


Mengangkat alisnya.


Mengisyaratkan ia menanyakan apa yang baru saja Tuan Melnir tanyakan padanya.


“Aku melihat ada banyak Wind Boar disana, dan sepertinya mereka cukup kesulitan untuk menghadapinya...” Tuan Melnir cukup ragu untuk meminta bantuan kepada Xi. Meski tuannya, Nona Alixsa telah mengatakan kalau Xi ini adalah orang yang luar biasa, namun ia masih belum dapat mempercayai itu.


Untuk melihatnya, dia hanya terlihat seperti pemuda biasa yang tampan dan tidak ada yang istimewa. Meski dia terlihat tenang, aku ragu saat ini sebenarnya dia sedang panik, namun dia mencoba untuk menyembunyikan nya.


Selain mendengar kabar, aku belum pernah melihatnya bertarung secara langsung, oleh karena itu aku ragu dengan kemampuan yang dia miliki. Apakah dia lebih baik dari para penjaga ini, atau malah sebaliknya?


Aku tidak bisa percaya dengan kabar angin saja, sebelum aku melihatnya dengan mata kepalaku, aku rasa tidak masalahkan jika aku mencurigai nya?


Menyadari bahwa tuan Melnir terus menatap inya, bahkan saking seriusnya sampai membuat wajahnya penuh keringat.


Terlihat jelas apa yang di pikirkan oleh pria gemuk ini tentang dirinya.


Aku tidak peduli bahkan jika kau ragu mengenai kemampuanku. Lagi pula masalah ini masih dapat di selesaikan oleh mereka, tidak ada alasan untukku turun dan membantu mereka sekarang.


Dan lagi, sebenarnya aku cukup tertarik untuk menonton pertarungan mereka, namun aku rasa itu tidak perlu...


Dirinya terlalu malas untuk turun dan keluar kereta sekarang. Bahkan hanya sekedar untuk menonton saja, dia tidak ingin berusaha untuk melakukannya.


Ya, Xi adalah orang yang akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Jika menurutnya itu tidak perlu, dan tidak terlalu penting, maka itu cukup untuknya menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk dirinya dapat bermalas-malasan.


Namun, itu tidak seperti kelihatannya. Meski dirinya berada didalam kereta, ia juga tahu bagaimana situasi pertarungan di luar sana.


Salah satu pasukan kegelapan yang di tempatkan di bayangan Airis, merekan situasi pertarungan dengan jelas, dan rekaman itu secara langsung langsung tertampil di depan matanya.


Xi dapat membagi penglihatannya dengan pasukan kegelapan yang dia kehendaki. Dengan begitu, dia dapat terus mengamati setiap situasi, dan apa bila terjadi sesuatu dia telah siap untuk bertarung.


Terlebih, menurut Xi, mengirim Airis seorang diri sebagai bala bantuan, sudah lebih dari cukup untuk mengatasi satu kelompok Wind Boar berlevel 10.

__ADS_1


__ADS_2