Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 61


__ADS_3

Pada sisi lain hutan, di siang hari yang cerah. Kelompok Tota menghadapi seekor monster yang cukup kuat, hingga membuat mereka kesulitan dalam menghadapinya. Monster, ini sangat ganas, memiliki badan yang besar, namun memiliki kecepatan yang luar biasa. Tidak hanya besar dan cepat, ia juga kuat, serangannya sangat mematikan, dan memiliki pertahanan yang kuat. Serangan-serangan biasa, akan sangat sulit untuk menembus pertahanan dari kulitnya yang tebal.


Beruang Iblis. Saat ini, dia sedang berhadapan dengan mereka. Bahkan, dalam satu dobrakannya, membuat Khatasi tepental.


“Kuegh... Kuat sekali... *seteguk darah keluar dari mulutku, aku tidak cukup kuat untuk menahan serangannya itu. Dia terlalu kuat!


Seorang gadis berteriak saat melihat Khatasi terluka. Dia, bertanya kepada Khatasi tentang kondisinya, dari sudut pandang gadis periang itu, terlihat bahwa Khatasi tidak sedang baik-baik saja.


“Khatasi, apa kau baik-baik saja?”


Meski kesulitan untuk mengatur nafasku dengan baik, namun aku berusaha untuk menjawabnya “Ya, jangan khawatir... Aku hanya sedikit terluka.” Efek dari benturan nya tadi, membuat tanganku gemetaran.


“Jangan sok kuat seperti itu, jelas kau sedang tidak baik-baik saja. Tunggu sebentar, aku akan menyembuhkanmu.”


Aku hanya bisa tersenyum pasrah ketika mendengarnya. Dan, tidak ada yang aku lakukan, selain diam dan menunggu sihir penyembuhan itu selesai. Selama aku di belakang dan memulihkan diri, pada garis depan, Total mengambil alih nya untuk sementara waktu.


Aku mulai berpikir dalam pikiranku. Bahwa aku, tidak bisa terus melakukannya, seperti menahan serangan musuh terus-menerus. Tidak masalah jika aku dapat menahannya dengan baik, namun jika terjadi sesuatu hal seperti ini, pasti akan sangat merepotkan.


Melihat Tota yang sedang bertarung. Khatasi, mengevaluasi dirinya sendiri, dari segi cara bertarungnya sebagai seorang Tank didalam tim.


Memang benar, dalam pengetahuan umum bahwa seorang Tank bertugas untuk menahan serangan musuh, karena seorang Tank memiliki Vitality yang tinggi. Namun, setinggi apapun Vitality seorang Tank, tidak akan bisa terus menyelamatkan dirinya dari marabahaya. Contohnya, adalah Tank yang paling sering menerima kerusakan di bandingkan penyerang dan warrior.


Jika dalam satu pertarungan aku terluka, maka sudah menjadi tugas bagi seorang Helaer untuk menyembuhkan dan memulihkan luka yang diterima. Namun, bagaimana jika aku terus dan terus terluka? Bukankah itu akan merugikan teman satu timku?


Khatasi, mulai mengingat kembali beberapa kata yang Xi sampaikan kepada dirinya, sebelum Xi pergi meninggalkan mereka bersama Airis.

__ADS_1


*Itu, setelah beberapa pertarungan yang telah mereka lalui, dan Xi selama itu selalu memerhatikan cara dan kebiasaan rekan-rekannya saat bertarung.


Meski kerjasama itu luar biasa, namun, semua kembali karena itu jalan pertarungannya terkontrol. Tetapi, bagaimana jika seseorang yang mengontrol tim tersebut menghilang? Apakah cara bertarung dan strategi tim masih sama? Ya, tentu saja tidak! Itu akan berbeda sangat jauh.


Oleh sebab itu, meski kerja sama tim mereka bagus dan luar biasa. Namun, masih ada banyak hal yang harus di perbaiki.


“Khatasi, kau memanglah seorang Tanker yang luar biasa. Aku, akui itu. Kau terus menjalankan tugasmu dan melindungi teman-temanmu dengan sangat baik. *itu sebuah pujian, tentu hal tersebut membuat Khatasi senang dan bahagia karena ada seseorang yang mengapresiasi kerja kerasnya*... Tapi, meski kau memiliki mata yang tajam, cepat tanggap, dan tahu bagaimana cara memamcing perhatian musuh dengan kemampuan [Taunting] milikmu sebagai seorang Tank. Tetapi, yang menjadi permasalahannya adalah, kamu terlalu fokus untuk mengalahkan mereka, musuh-musuhmu yang telah terpengaruh oleh Skill [Taunt] dengan kekuatanmu sendiri.”


“Aku tidak menyalahkanmu untuk itu, namun aku ingin memberikanmu sebuah saran. Apa kamu ingin mendengarnya?” Aku bertanya kepada Khatasi, apakah dia ingin mendengar, dan menerima saran yang aku berikan sesuai dari apa yang telah aku lihat dan amati sejauh ini. Jika beberapa kesalahan kecil ini dapat di perbaiki, aku yakin, Khatasi dapat menjadi seseorang yang besar nantinya. Dan namanya, mungkin akan di kenal oleh banyak orang.


Saat mendengarnya, Khatasi terdiam sejenak. Dia memikirkannya. Melihat dari apa yang telah mereka lalui bersama, tentu, Khatasi telah menyadarinya kalau semua perjalanan ini telah berjalan dengan baik. Namun, itu bukan berkat dirinya, melainkan, berkat seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Meski, Xi bukanlah seorang Tanker, namun perannya didalam tim ini adalah mengontrol jalannya pertarungan. Meminimalisir kerugian, kerusakan yang di Terima, dan bahkan mengurangi tingkat bahaya yang dapat menyebabkan kematian menjadi lebih rendah.


Selama ini, Khatasi selalu merasa bahwa dirinya sudah melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Bahkan, beberapa petualang tingkat atas, dan kesatria mengakui kehebatannya. Namun, tidak pernah satu kalipun dari mereka yang pernah melihat kekurangan, ataupun memberikan masukkan kepada dirinya.


Dan dalam hal ini, ada seseorang yang ingin memberikan sebuah masukkan kepada dirinya.


Khatasi, bukanlah orang yang arogan, maupun sombong. Membanggakan diri bukanlah hal yang salah, karena itu adalah sifat manusia dan salah satu kebutuhan. Agar, seseorang tidak di rendahkan, atau di pandang rendah oleh yang lainnya. Namun, tidak ada salahnya untuk bersikap rendah hati, dan menerima masukan ataupun saran dari orang lain.


Karena, mungkin dari saran-saran tersebut akan membuatnya berkembang menjadi lebih baik. Bahkan, jika itupun tidak, meski dia bersyukur karena masih ada seseorang yang peduli terhadap dirinya.


“Tentu, silahkan.” Ungkap diriku dengan suara rendah, dan dengan senang hati, menerima dan mendengarkan apa yang ingin Xi sampaikan kepadaku.


Xi tersenyum, aku cukup senang karena Khatasi mau mendengarnya.


“Baiklah, terimakasih. Mari mulai dengan kebiasaanmu terlebih dahulu, yaitu dengan dirimu yang berusaha keras mengalahkan lawanmu dengan kekuatanmu seorang diri. Aku yakin itu, telah menjadi kebiasaanmu selama ini.”

__ADS_1


Khatasi terkejut, bagaimana mungkin hanya dalam beberapa waktu, Xi dapat mengetahui kebiasaannya dengan baik. Mungkin selain dirinya, ayahnya adalah yang paling mengerti dan paling paham soal itu. Namun, untuk seseorang yang baru saja dia kenal, dan dapat mengetahui kebiasaannya dalam waktu singkat, itu sangat mengerikan.


Terkadang, aku merasa merinding di punggung saat bertatap mata dengannya, Xi.


“Seperti yang kau ketahui, seorang Tanker memiliki Vitality yang kuat, dan di atas rata-rata dari yang lainnya. Dengan Vitality yang tinggi, jelas pertahananmu sangat kuat, namun disatu sisi, serangan yang kau hasilkan lemah. Itu, karena Strength poin yang rendah, sehingga kau memerlukan banyak usaha untuk menghasilkan serangan yang kuat.”


Khatasi mengakuinya, dan itu memang benar. “Itu karena aku berniat untuk mengalahkan mereka dalam satu serangan.”


Xi mengangguk mengerti. “Ya, aku tahu itu. Tapi, bagaimana jika lawanmu saat itu tidak langsung terbunuh?”


Pertanyaan itu membuatnya terkejut. Dan jelas, itu bukan hanya sekedar oposisi belakang saja. Aku berpikir keras, dan mulai berkeringat. Aku tidak menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu.


“Hal tersebut, dapat menjadi bumerang untukmu. Dengan dirimu yang mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan musuh, kau secara tidak sadar telah menciptakan kelemahan untuk dirimu sendiri sebagai seorang Tanker. Aku tahu, bahwa kau, menghabiskan stamina yang banyak untuk memberikan satu serangan yang kuat yang dapat mengalahkan musuh dalam satu serangan.”


“Tapi, apa yang akan terjadi jika wave monster selanjutnya muncul? Kau adalah seorang Tanker, tugasmu adalah menahan dan menghindari serangan musuh jika memang di perlukan. Kau, juga harus mengetahui seberapa besar serangan yang dapat kau tahan, jika kau tidak dapat menahannya, lebih baik menghindarinya.”


Khatasi terdiam sesaat setelah mendengarnya. Merenungkan apa yang Xi katakan, itu memanglah benar. Menghabiskan stamina, pastinya akan membuat seorang Tanker di jatuhkan dengan bagitu mudah. Itu bisa berakibatkan fatal untuk seorang Tanker dan rekan yang harus di lindungi.


“Aku mengerti. Terimakasih sarannya!” Aku membungku untuk menunjukkan rasa terimakasih ku dengan tulus kepadanya. Aku telah di berikan sebuah pembelajaran, dan ilmu yang berharga. Ini bukan hanya sekedar untuk kebaikan ku saja, namun untuk kebaikan rekan-rekanku juga. ‘Aku tidak akan melupakan ini. Aku pasti akan berusaha keras untuk melakukan yang terbaik.’


Saat aku tersadar dalam lamunan itu. Aku menyadari, bahwa lukaku sudah sembuh sepenuhnya. Aku tersenyum, dengan percaya diri aku bangun kembali dan memegang erat perisai kebanggaanku.


“Serahkan kepadaku, aku akan menjatuhkannya!” Suara Khatasi terdengar oleh semua orang, dan semua orang telah bersabar cukup lama untuk ini.


“Ini yang aku tunggu, lakukan Khatasi! Akan aku habisi dia setelah kau menjatuhkannya!” Ujar Tota dengan keras.

__ADS_1


“Dimengerti!” Meletakkan perisai ku di depan, dan aku bersiap dengan kuda-kuda. Aku bersabar untuk menunggu, dan saat sebuah sihir membutakan pandangan Baruang Iblis. Itu memberikan jalur yang aman untukku maju, dan aku berlari dengan kencang, kencang, dan lebih kencang lagi. Memberkan semua kekuatan dalam satu serangan ini, untuk menjatuhkan Beruang Iblis. “Aku Mulai!”


__ADS_2