Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)

Lahirnya Sang Dewa Kematian Hitam(Remake)
Ch. 37


__ADS_3

Sambil tersenyum kaku. Xi melihat Draco yang terlihat menggelikan di matanya.


Draco adalah seekor kadal yang memiliki Layar di kedua sisi tubuhnya. Kulitnya yang kasar dan keras, menjadi salah satu kemampuan pertahanan terbaik yang dia miliki.


Serta kuku yang tajam seperti pisau di gunakannya sebagai senjata untuk mematikan lawan-lawannya.


Kadal ini dapat terbang dengan bebas seperti burung yang terbang di alam bebas. Dan di tempat ini ia adalah yang terkuat, dan tidak ada predator yang lebih kuat darinya. Itu membuatnya lebih lalu ada untuk terbang sesuka hatinya.


Draco melirik ke arah Xi dan Airis berada. Saat melihat keduanya ada di depan pintu, dia segera meraung keras.


Itu menandakan Draco tidak suka atau tidak senang dengan kehadiran mereka.


Mendengar teriakan dari Draco, membuat Airis gemetaran hingga pucat.


Sebagai bos dungeon hal yang normal bila Draco memiliki sebuah kemampuan untuk menekan dan membuat takut lawan-lawannya.


Draco memiliki sebuah skill bernama [Petrify of Scream] yang menarik efek dari teriakan Draco dalam memberikan efek buruk kepada lawan-lawannya efek [Fear].


Efek negatif [Fear] dapat membuat seseorang merasakan rasa takut yang tinggi terhadap sesuatu, membuat seseorang gelisah, dan membeku sesaat.


Kemampuan seperti ini sudahlah hal yang normal dimiliki oleh monster-monster kuat dan berlevel tinggi.


Sementara Airis merasa takut karena teriakan Draco, hal sebaliknya yang Xi rasakan.


Bagi Xi, yang memiliki satu level lebih tinggi dari pada Draco. Di telinganya teriakan Draco hanya terdengar seperti teriakan menganggu.


Dan sebagai Black Dragon keturunan langsung dari Black Dragon. Meski darah dan kekuatannya tidak bangkit, secara alami, sebagai seekor naga, Xi telah memiliki Fear Resistensi dalam dirinya.


Sehingga, teriakan Draco benar-benar tidak berpengaruh memberikannya rasa takut, dan hanya terdengar menganggu.


“Lihat kadal ini, berteriak-teriak sesuka hatinya, membuat telinga saya menjadi sakit.” Katika Draco berteriak ke arahnya, Xi merasa sebagai seekor naga, raungan atau teriakan tersebut adalah provokasi dari Draco.


Xi menepuk pundaknya, dan berkata dengan tenang saat melihat kakinya gemetar.


“Apa yang kau takutkan? Dia tidak se mengerikan itu.” Tentu, Xi memandang Draco dengan jijik. Xi mencoba menyadarkan Airis yang jatuh dalam ketakutan karena efek [Fear] dari skill [Petrify of Scream] yang Draco sebelumnya gunakan untuk mengancam sekaligus menakuti mereka.


Ketika tangannya jatuh tepat di pundak. Airis tertegun dan sejenak sadar kembali. Kini secara misterius efek [Fear] yang di rasakan nya menghilang.


Itu seperti sebelumnya tidak pernah ada sama sekali.


Hal ini adalah karena perbuatan Xi yang memberikan resonansi baik kepada sekitarnya sebagai naga.


Dan sebagai bawahan yang mendapat berkah dari Prince of Death dan Prince of Darkness, sekaligus berkah dari naga, Airis mendapat [Fear] Resistensi.


“Bagaimana? Sudah lebih baik?” Xi bertanya kepada Airis untuk memastikannya. Jika kondisinya tidak memungkinkan Airis untuk bertarung, maka ia akan maju sendiri untuk menghadapinya.


“Iya, terimakasih tuan telah menyadarkan saya.” Airis bergumam dalam hatinya ‘Akun tidak menduga hal seperti ini akan terjadi, padahal sebelumnya aku sudah di peringkat untuk tetap tenang dan tidak gugup. Siapa yang menyangka aku akan langsung kehilangan ketenanganku ketika monster itu berteriak.’ Wajah berkeringat. Airis sedikit malu.


Sebagai pelayan dari seorang naga, membaku karena makhluk lain yang lebih rendah dari pada naga mau itu dari kekuatan, dan kasta. Itu pastinya sangat memalukan.


Namun untungnya, Airis belum mengetahui bahwa orang yang di layani-nya adalah Naga.


Jika dia tahu itu, ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengangkat kepalanya lagi di hadapan tuannya.


Beruntungnya dia, karena Xi tidak mengungkapkan dirinya.


Jika tidak, saat ini ia mungkin akan berlutut bersujud di tanah.


“Monster ini cukup kuat, setidaknya sedikit lebih kuat dari Elder Demon Snake yang pernah aku lawan.”


“Walau dia sedikit lebih kuat, aku masih percaya diri dapat mengalahkannya.” Xi kembali melihat Airis lalu berkata “Bagaimana? Apa kau masih bisa bertarung?”


Airis mengangguk pelan, lalu menjawab “Tentu, aku masih bisa bertarung.” Tepatnya untuk menjadi lebih kuat dan menjadi lebih berguna sangat besar.


Ia tidak mungkin menyerah hanya karena sedikit takut. Masih ada monster yang bahkan jauh lebih kuat di luar sana dari pada Draco ini.


Jika dia menyerah sekarang, itu pasti akan mengecewakan perasaan tuannya.


Nama Monster : Draco. Level : 22. Monster Dungeon-Bos Dungeon. MP : 13.889.


Draco adalah seekor monster yang berevolusi. Dari seekor kadal terbang biasa, yang biasanya ada di atas pohon.


Namun, karena tepapar oleh Mana Dungeon yang kuat saat pembentukan dungeon, membuatnya menjadi bermutasi menjadi makhluk yang menyeramkan, dan akhirnya berevolusi menjadi seekor monster yang kuat yang tinggal didalam dungeon.

__ADS_1


Mendominasi Dungeon, dan akhirnya menjadi bos dungeon serta monster yang mengatur jalannya dungeon.


Membuka inventory, dia mengambil busur dan sebuah anak panah.


“Mari kita mulai.” Membidik Draco yang berdiam diri di depan sana, bahkan setelah dia mengeluarkan busurnya, Draco masih diam di tempatnya.


Xi menembak anak panahnya, dan itu melesat dengan begitu cepat menuju Draco.


Akan tetapi, saat anak panah itu mengenai Draco. Itu tidak memberikan dampak apapun. Tidak melukainya, bahkan anak panah yang Xi gunakan untuk menyerang Draco patah saat anak panah menyentuh tubuh Draco.


‘Ternyata tubuhnya sekeras Demon Snake. Senjata biasa tidak akan berguna untuk melawannya...’ Dia hanya memastikan saja. Seberapa kuat dan seberapa keras kulit Draco ini. Harapannya terjawab, dan dia benar, kulit Draco yang bergerigi sangat keras hingga anak panah tidak mempunyai menembusnya. ‘Kulitnya yang keras dapat menahan anak panah, artinya sihir tingkat rendah juga tidak akan terlalu berguna.’


Xi menyipitkan matanya, dan menganti senjatanya menjadi sebuah Dagger.


[Demon Snake Dagger]


‘Artinya, Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah dengan pertarungan jarak dekat... Karena ruangan ini juga sempit, tidak ada ruang untuknya dapat terbang. Dan ini akan menjadi ke untungan buat kami karena dengan tubuhnya yang besar, tidak akan mudah bergerak di tempat yang sempit.’


SWOSS!


“HUH?!!”


Xi terkejut dengan gerakan Draco yang begitu cepat.


Kecepatannya luar biasa, bahkan sampai tidak menimbulkan suara.


‘Dia mencoba kabur? Tidak bisa di biarkan!’


“[Dinding Tanah] berlapis!”


Tidak mau Draco kabur dan pergi keluar. Xi dengan cepat langsung menggunakan spellnya [Dinding Tanah] untuk memblokir jalar keluar Draco dari ruangannya.


Dua dinding Tanah yang muncul berhadap-hadapan menutupi pintu masuk dan keluar ruangan bos.


Cepatnya kecepatan yang dimiliki Darco, membuatnya menghantam dinding Tanah berlapis yang kokoh karena tidak dapat berhenti dengan tepat waktu sewaktu dinding Tanah itu muncul.


Lapisan depan dinding Tanah yang kokoh bahkan di buatnya sampai hancur seperti di hantam oleh sebuah peluru yang di tembakkan oleh meriam.


‘Untung saja masih sempat... Akan merepotkan jika dia berhasil keluar dari ruangan ini dan mendapatkan tempat yang luas. Kecepatan seperti itu dengan tubuhnya yang besar, itu sangat tidak normal, dia benar-benar monster. Layak untuknya menjadi bos di dungeon ini.’


Bahkan Xi tidak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika berhadapan dengan Draco ini di tempat yang luas, dan memiliki langit-langit yang tinggi.


Itu pasti sangat berbahaya.


Terlebih lagi, Draco ini, kemampuannya tidak dapat di samakan atau di bandingkan dengan kadal terbang biasa.


Jika kadal terbang memerlukan pohon lainnya untuk terbang ke pohon lainnya, Draco yang telah berevolusi sekaligus bermutasi, tidak memerlukan hal umum tersebut.


Draco dapat terbang dengan bebas di tempat yang luas dengan dua layar di kedua sisi tubuhnya, terbang di langit-langit layaknya seekor burung.


Draco menggelengkan kepalanya setelah menabrak dinding yang keras. Tidak menyakitkan, namun cukup untuk membuat pandangannya kabur.


Dia menatap Xi, lalu mengalihkan pandangannya dan melihat dinding yang di tabrak nya.


“Menyerahlah, dan jangan berpikit bahwa kau dapat keluar dari ruangan ini.” Xi menutupi pintu keluarnya dengan sihir [Dinding Tanah] lagi dan lagi. Sampai seluruh pintunya tertutup dengan rapat dan tidak ada celah untuk Draco ataupun Xi Airis untuk keluar dari ruangan.


Jika petualang lain melihat tindakan Xi ini, mereka pasti akan mengatakan bahwa Xi ini “Gila”.


Dia mengurung dirinya bersama dengan bos dungeon. Tindakan ini sama saja seperti sudah menyerah dengan hidup.


Tindakan bunuh diri!


“Hati-hati! Dia sangat cepat!”


“Dimengerti!”


Keduanya maju untuk menyerang Draco.


Namun, Draco tidak tinggal diam saja membiarkan dirinya di serang begitu saja.


Dengan kecepatannya, Draco kembali bergerak dengan sangat cepat untuk menghindari setiap serangan yang Xi dan Airis lancarkan.


Berkali-kali mereka menyerang Draco, namun tidak ada satu pun serangan yang kena.

__ADS_1


Draco dapat menghindari setiap serangan mereka dengan mudah.


Bahkan Draco dapat memberikan serangan balasan selagi dia menghindari serangan.


Dengan nganyukan ekornya panjang, itu mengarah langsung ke Airis.


Draco melihat Airis adalah yang lebih lemah dari pada Xi. Dan berniat untuk menghabisinya terlebih dahulu.


Akan tetapi, Airis tidak semudah itu dapat di singkirkan.


Beberapa detik sebelum ekornya mengenai Airis.


Airis dengan cepat mempertahankan dirinya dengan menahan serangan Draco menggunakan padangnya yang dia pegang di kedua tangannya.


Walau tidak mengalami luka, namun hanya dengan sekali serangan itu membuat Airis terpukul mundur beberapa meter dari tempatnya.


Draco terkejut karena Airis dapat bertahan dari serangan kejutan.


Belum pernah ada yang dapat menahan serangan kejutannya, bahkan beberapa petualang yang datang ke tempatnya sebelumnya tidak dapat menahannya.


Disaat Draco lengah, Xi melompat tanpa suara dan mendarat di punggung Draco dengan menusukkan Dagger nya tepat di punggung.


Kulit Draco yang keras tidak akan mempan di tembus dengan senjata biasa.


Namun, Dagger yang terbuat dari taring Demon Snake yang bahkan taring Demon Snake sendiri mampu menembus baja yang tebal, dengan ketajamannya menembus kulit Draco yang setebal baja.


[Draco Terkena Demon Snake Poison]


Stay Draco yang tinggi pada levelnya yang tinggi pula. Membuat penyebaran racunnya lambat.


Dan lagi, Draco memiliki kemampuan yang unik untuk mengendalikan sistem dalam tubuhnya.


Dirinya mampu untuk mengatur jalannya penyebaran racun ke tempat atau kebagian-bagain yang bukan bagian vital.


Dia menggerakkan semua racunnya, dan membuatnya menetap di bawah kulit, kulit punggung.


‘Aku sudah menduganya, penyebarannya lambat... Tapi...’ Mana mengalir. Xi menerapkan sihirnya saat itu juga. Tangan kanannya di selimuti oleh listrik. [Thunder Bolt] “Rasakan ini!”


Dengan sihir petir, Xi menyetrum Draco. Dengan kekuatan 600 Voltnya, itu seharusnya cukup untuk membuat Draco berhenti memberontak.


Pada kasus ini, seorang manusia biasa akan mati jika tersengat listrik 600 Volt.


Beda halnya dengan Draco yang merupakan monster. Meski dia adalah reptil biasa yang bermutasi dan berevolusi menjadi monster, namun ketahanan tubuhnya telah setingkat dengan monster nyata.


Dengan sengatan listrik 600 Volt itu, tidak cukup untuk membuatnya terbunuh dalam satu serangan.


Meski tidak membuat Draco terbunuh, setidaknya itu telah membuat irama jantungnya terganggu.


Dan membuat racun yang telah dia tempatkan di punggung kembali menyebar melalui pembuluh darah.


Yang tidak Xi duga, adalah Draco yang masih memberontak dan dengan paksa membuatnya terhempas dari atas punggungnya.


Xi pun pergi mundur dan menjaga jaraknya dari Draco.


Saat itu, dia melihat Draco yang kesakitan, namun setelah sihirnya terlepas telihat Draco masih baik-baik saja.


‘Setidaknya dengan ini sudah membuatnya membuang banyak tenaga. Seharusnya dia sudah tidak memiliki cukup banyak tenaga lagi untuk menyetabilkan detak jantungnya.’


Keduanya bertatap muka dan saling memandang tajam satu sama lain.


Xi yang ingin mengalahkan Draco untuk dapat keluar dari dungeon ini, sekaligus untuk membuat dirinya menjadi lebih kuat. Tak akan melepaskan Draco begitu saja meski dia dapat keluar dari dungeon ini dengan paksa.


Disisi lain.


Draco ingin segera menghabisi musuhnya ini. Ia sangat kesal dan marah karena ada makhluk lain yang mengganggu tidur siangnya.


Permukaan tanah di genggamnya hingga hancur. Draco bersiap dengan acang-ancangnya menyerang Xi.


Sebelum Draco memulai pergerakannya. Xi terlebih dahulu menembakkan sihirnya tepat ke arah Draco berada.


[Fire Ball] dia tembakkan berkali-kali tanpa merapalkan mantranya.


Menyambut itu, Draco menggerakkan ekornya dengan cepat. Kulit ekornya yang sekeras baja di gunakannya untuk menepis semua bola api yang mengarah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2