
Monster-monster yang melarikan diri dari pertempuran, karena kalahnya kekuatan mereka dalam pertempuran itu. Memaksakan mereka, untuk mundur dan memulihkan dirinya.
Untuk beberapa monster jenis tumbuhan, memiliki sebuah kemampuan untuk mulihkan dirinya, selama masih berada dalam area hutan. Dan untuk kecepatan pemulihan tersebut, tergantung dengan tingkatkan monster tersebut. Semakin tinggi tingkatannya, semakin cepat pula pemulihan yang di dapatkannya.
Semua hal itu tidak berlaku, jika para monster ini keluar dari area hutan. Mereka, akan kehilangan kemampuan untuk memulihkan dirinya. Karena hutan memiliki banyak pohon, dan pohon adalah perantara terbaik untuk menyerap energi alam. Bagi mereka, pohon adalah jantung kehidupan kedua untuk mereka.
Tentu hal tersebut sangat berbahaya. Jika sampai mereka memulihkan diri, maka pertarungan ini akan berakhir dengan kemenangan di pihak para monster.
“Kejar mereka!”
Semua orang bergegas untuk mengejar para monster tumbuhan yang melarikan diri. Para Penyihir mencoba untuk membantu para penyerang didepan, bersama, merapalkan mantra sihirnya dan menciptakan [pagar api] yang luas. Melintang, menghalangi jalan kembali.
“Bagus, mereka terjebak. Ini kesempatan kita untuk menghabisi mereka, Serang!!”
Semua seketika bersemangat ketika mereka melihat para monster tidak berdaya dihadapan pagar api. Bahkan, beberapa dengan paksa memaksa masuk untuk melewati pagar api, namun hasilnya mereka terbakar hingga mati.
Semakin dekat langkah mereka, mereka semua tiba. Menyerang para monster tanpa ampun, dan segera menghabisi mereka satu persatu.
Tebasan! Tebasan!
Jatuh.
“Haha, rasakan itu monster sialan! Ini adalah balasanmu atas kematian rekan-rekan kami!” Dia terlihat sangat senang, ketika berhasil mengalahkan para monster itu. Mengingat, seberapa keras pejuangan mereka untuk menghadapi mereka, bahkan banyak dari mereka yang kehilangan nyawa.
Dengan usaha keras, balas dendam ini telah terbayarkan.
“Bagus, akhirnya mereka semua sudah di kalahkan.” Tuan muda ini begitu senang, ketika semua monster yang menjaga pohon Akkarta berhasil di kalahkan. Dia segera menurunkan perintahnya, kepada para kesatria yang mengawal dirinya. “Cepat! Ambil buahnya, kita tidak boleh menunda waktu lebih lama lagi!”
Keempatnya mengangguk, dan membalas dengan hormat “Siap! Tuan Muda!”
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, pemuda itu mengirimkan semua kesatrianya untuk mengambil barang yang dia inginkan. Seperti, dia begitu percaya diri, bahwa semua monster yang sudah dikalahkan ini adalah monster-monster terakhir yang menjaga pohon Akkarta. Meski benar, bahwa monster-monster itu adalah pasukan terakhir yang menjaga pohon. Namun, dia telah melupakan sebuah fakta bahwa dirinya saat ini berada didalam hutan didalam hidden world.
Terlalu percaya diri, dan merasa keamanannya terjamin ketika semua monster telah di kalahkan. Dan, mengirimkan semua kesatrianya yang menjaga keamanannya ke garis depan. Itu adalah sebuah kesalahan fatal. Aku tidak menduga, bahwa dia tidak dapat memikirkannya, meski hanya sebentar saja.
Ini adalah pelajaran umum. Dimana, bau darah dari sebuah pertarungan dapat menarik perhatian monster lainnya yang tinggal di sekitar. Dan lagi, sekarang, mereka semua berada didalam hutan. Bau darah, pastinya akan menyebar lebih mudah.
Aku melihatnya ketika aku sedang bersembunyi diantara bayangan pohon. Saat itu, aku menyadari, bahwa ada monster lainnya dengan jumlah yang cukup banyak dengan kecepatan tinggi sedang menuju kemari.
Dan aku, melihatnya dari sebuah minimap milikku. Saat itu, sekitar 20 ekor monster sedang menuju kemari, dan kelompok itu di memiliki seorang pemimpin didalamnya.
“Monster Kera halilintar raksasa... Aku tidak tahu monster seperti apa dia, tapi melihat dari karakteristiknya, sepertinya dia bukan monster biasa.” Aku melihat dari sebuah layar yang di tampilkan. Bahwa, monster-Kera Halilintar raksasa ini adalah monster evolusi dari monster-cakar petir.
Yang mana, monster cakar petir memiliki kegesitan yang sangat gila ketika berada didalam hutan, khususnya area yang memiliki banyak sekali pepohonan.
Cakar petir bukanlah monster yang akan menghadapi langsung musuhnya, namun mereka adalah monster yang menyerang secara tiba-tiba untuk melemahkan musuhnya. Sama seperti lebah, dimana mereka akan menyerang untuk melumpuhkan mangsanya terlebih dahulu. Baru, setelah mangsanya berhasil di lumpuhkan, saat itulah mereka akan menghabisinya.
Sebuah serangan dengan cepat melayang ke arah salah satu dari ke empat kesatria. Karena kecepatan terbang dari serangan tersebut, membuat kesatria tersebut tidak dapat melihatnya, maupun merespon dengan reflek untuk menghindarinya.
“Argh... *terjatuh. Serangan tersebut, tepat mengenai kepalanya, sehingga membuatnya sangat kesakitan dan tersungkur di tanah.
Ketiga kesatria, Tuan muda, dan para petualang lainnya terkejut ketika mendengar suara ledakan yang cukup keras. Dan seorang kesatria jatuh tidak berdaya di tanah. Dengan sebuah bekas luka yang sangat panah, menghancurkan wajahnya yang tampan.
Kini, seluruh wajahnya di penuhi oleh darah, karena luka yang di alaminya cukup parah.
“Apa?”
“Si siapa yang melakukannya? Keluarlah!”
Segera semua orang kembali ke dalam kewaspadaan. Kesenangan mereka hanya sesaat, ketika mereka berhasil mengalahkan semua monster, kini mereka harus menghadapi sebuah sergapan yang tidak di ketahui, dari mana asalnya.
__ADS_1
Seorang kesatria bergegas menolong rekannya yang terluka. Dia memopong temannya, dan membantunya untuk berdiri. Supaya, dia dapat membantunya untuk menyembuhkan lukanya, dengan sihir penyembuhan pada helaer.
“Helaer, helaer, kami perlu bantuan!” Dia berteriak, bahwa rekannya terluka cukup parah, dan memerlukan sebuah pertolongan segera. Jika pendarahan tidak di hentikan, maka rekannya ini akan mati karena kehabisan darah.
Seorang wanita, yang merupakan seorang helaer dari salah satu kelompok petualang yang disewa, itu segera berlari menghampiri untuk menolong dengan sihir penyembuhannya.
“Tunggu sebentar, bertahanlah, aku akan segera menolongmu... ~Boom!” Tepat ketika ia selesai berbicara, sebuah serangan dengan kecepatan tinggi. Lagi-lagi mengejutkan mereka, dan serangan tersebut langsung tertuju kepadanya.
Seorang helaer memiliki stat VIT yang jauh lebih rendah ketimbang dengan warrior. Selayaknya penyihir, helaer tidak tanah terhadap serangan langsung. Terlebih lagi, helaer memiliki kepekaan yang buruk, dan indra mereka tidak sebaik indra pada Assassin.
Karena saatnya yang rendah itu, sehingga membuatnya terbunuh hanya dalam satu serangan saja.
Rekan-rekannya, yang berada di barisan depan. Saat melihat helaer milik mereka mati, mereka tidak dapat berbuat banyak. Selain berdiam diri di tempat, sambil menunggu giliran mereka.
Seorang pemanah yang melihat kejadian tersebut sangat syok. Sehingga, kewaspadaannya menurun secara drastis. Memanfaatkan kesempatan tersebut, pemimpin para monster, Kera Halilintar Raksasa melompat tinggi, dan jatuh tepat menginjak dirinya.
*BOOM! Hantaman yang sangat kuat itu, bagaimana sebuah ledakan bom. Menyebabkan guncangan yang hebat, dan menghancurkan permukaan tanah di sekitar. Penyihir yang ada di dekat pemanah itu terhempas karena kencangnya hembusan angin yang di hasilkan.
Ketika Kera Halilintar Raksasa itu bangun dan membuka matanya di dalam kumpulan debu. Matanya yang menyala memberikan rasa takut kepada semua orang. Teriakan! Suara raungan yang begitu keras dari Kerajaan Halilintar Raksasa, memberika tekanan yang begitu luar biasa pada mereka semua. Suara nafas mulai terdengar dari mulut setiap orang, kesulitan bernafas di bawah tekanan yang sangat kuat itu, membuat aliran darah tidak mengalir dengan sempurna. Mengakibatkan, kulit menjadi pucat, dan tubuh menjadi kaku.
Aku melihatnya dari atas, dimana orang-orang ini begitu tidak berdaya dihadapan monster tersebut. Bagaimana tidak, Kera Halilintar Raksasa begitu hebat, bahkan hanya dengan raungannya menghasilkan tekanan yang memakan tubuh secara paksa.
Meski itu tidak berpengaruh pada diriku, namun raungannya sungguh menganggu telingaku. Rasa, itu terdengar berisik.
Pembantaian di lakukan oleh para monster. Sebelumnya, mereka yang di unggulkan, kini terbalik dengan begitu cepat bahkan tanpa perlawanan. Orang-orang ini, sudah lagi tidak berguna untukku, dan kini aku harus menghadapi semua monster itu sendirian.
“Namun sebelum itu... *Aku mengambil sebuah topeng dalam inventory. Yang mana, topeng tersebut aku beli dari shop sistem. Sebuah topeng kayu, yang tepat di wajah memiliki sebuah huruf Rune. (Gift) Setelah aku menutupi wajahku dengan topeng, kemudian aku membalut tubuhku dengan kegelapan yang aku miliki, lalu... “Kini saatny berburu!” Dengan sebuah belati di tangan, aku bergerak di antara bayangan pohon tanpa suara. Mendekati para monster tanpa mereka sadari, lalu aku menyerangnya di area vital.
Pembunuhan tanpa suara, di hari yang cerah. Dengan di ikuti kegelapan didalam hati.
__ADS_1