
Aku tidak perlu menghiraukannya. Entah dia akan mati atau selamat, itu bukan urusanku sekarang. Bagiku, yang terpenting sekarang adalah mengalahkan mereka, khususnya Kera Halilintar Raksasa itu. Dia monster yang tangguh, dengan dia berada di bawah kendali ku sebagai Prajurit Kegelapan, pasti itu sangat berguna.
Meski memiliki Halilintar di namanya, namun dengan ukuran sebesar itu. Perbedaan kecepatan antara Kera Halilintar Raksasa, dan Kera Petir memiliki celah yang besar. Kera Halilintar Raksasa, tidak akan bisa bergerak dengan lincah seperti Kera Petir dikarenakan ukurannya yang besar. Ditambah lagi, area ini juga cukup menguntungkan untukku, karena di sekitar terdapat banyak pohon. Aku bisa memanfaatkannya untuk mengecoh nya dalam pertarungan.
Meski telah menganalisis kehebatan dan kekuatan dari monster tersebut. Namun, Xi tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun. Apa lagi meremehkannya. Xi tetap menjaga pendiriannya, dan selalu berhati-hati. Terlebih lagi, untuk monster sepertinya, Kera Halilintar Raksasa itu belum ada kemampuan/skill khusus yang di tunjukkan. Xi tidak tahu, skill seperti apa yang Kera Halilintar Raksasa itu miliki.
Xi mengambil langkah pertamanya, dengan bergerak sangat cepat. Hingga ia dapat menggapainya, Kera Halilintar Raksasa. Xi melancarkan serangan dengan menebaskan daggernya sekuat tenaga.
Sesuai dengan yang aku pikirkan, kulitnya tebal, dan aliran listrik yang mengalir dan menyelimuti tubuhnya, melindungi tubuhnya dari setiap serangan yang berasal dari luar. Namun, Xi tidak akan membiarkan serangannya berhenti sampai di situ saja. Ia, melapisi dagger miliknya dengan mana, untuk memperkuat dan meningkatkan ketajaman dari mata daggernya.
Beberapa kemampuan seni dia gunakan untuk memuluskan keberhasilan serangannya.
“Enchantment! *Peningkatan Kekuatan Serangan, Penetrasi, Peningkatan Ketajaman!”
*Enchantment : adalah sebuah kemampuan yang dapat digunakan untuk menambahkan efek atau buff tertentu kepada sebuah barang yang di inginkan.
Dengan semua peningkatan itu yang diberikan kepada daggernya. Xi, dengan cepat memberikan serangan lanjutan, sebelum Kera Halilintar Raksasa sempat bereaksi untuk menyerang balik atau menghindari serangannya.
Dalam satu tebasan penuh, dengan mata dagger yang di pertajam. Menembus tebalnya kulit Kera Halilintar Raksasa yang di lapisi oleh aliran listrik.
*Erangan Kesakitan. Kera Halilintar Raksasa mengerang kesakitan. Mengetahui bahwa dirinya baru saja di serang dan terluka. Kera Halilintar Raksasa segera berbalik, melihat orang yang menyerangnya dengan marah. Ia langsung menyerangnya saat itu juga, dengan tangan besarnya yang berlapis aliran listrik.
__ADS_1
Akan tetapi, dengan sigap Xi menghindarinya. Meski dalam jarak yang begitu tipis, Xi mampu untuk melihat arah dari serangan tersebut dengan kedua matanya. Sehingga, serangan lanjutan yang di lancarkan oleh Kera Halilintar Raksasa tidak mengenainya.
Xi memfokuskan dirinya untuk menjaga jarak, oleh karena itu, dengan cepat dia mundur beberapa langkah kebelakang. Dalam kumpulan debu yang di sebabkan karena terjadinya benturan serangan yang begitu kuat dengan tanah. Xi, berniat untuk menyerangnya, berhubung kini pandangan Kera Halilintar Raksasa itu terhalangi oleh debu.
Ketika Xi melangkah maju, jaraknya dekat. Tiba-tiba, sebuah serangan dari dalam muncul mengarah langsung kepada dirinya. Sontak itu membuat Xi terkejut, tidak menduga bahwa serangan akan datang.
Meski dihadapi dengan serangan kejutan. Xi menghadapinya dengan tenang, menepis serangan tersebut, mengubah arahnya dengan lembut sehingga arah dari serangan itu tidak langsung mengarah pada dirinya.
‘Kera ini pintar. Aku tidak menduga dia akan berpura-pura diam dan kebingungan didalam kabut, dan menunggu ku untuk datang menyerangnya. Untungnya aku masih dapat menepis nya, jika tidak, serangan itu akan menghempaskan ku.’
Dalam hal kecerdikan, Xi mengakui bahwa Kera Halilintar Raksasa pintar. Sebagai buktinya, Kera Halilintar Raksasa dapat membuat trik menjebal itu dalam waktu singkat.
Ada satu hal yang tidak aku duga saat itu. Ketika aku membakar wajahnya dengan api, bahkan itu tidak melukainya. Terlihat dia yang melihatku dengan tatapan marah, sepertinya rencana itu telah gagal. Rencana untuk membutakan pandangannya dengan api yang panas.
Dia mengangkat tinggi tangannya, dengan sekuat tenaga dia menyerang ku dengan tinju besarnya.
Menyadari bahwa serangan itu sangat berbahaya, dan aku mungkin akan terluka jika menahannya. Untuk menghindari risiko tersebut, aku segera berbalik dan melompat kesamping kanan untuk menghindarinya.
*BOOM! Terjadi ledakan ketika serangan penuh kekuatan itu menghantam tanah. Tidak hanya menghancurkan tanah, bahkan itu memberikan dorongan yang kuat.
Aku bersyukur saat itu aku memikirkan untuk menghindarinya, dari pada menahannya. Jika tidak, itu akan membuat tulang-tulangku remuk. Dan bagian terburuknya, aku bisa saja mati oleh serangan itu....
__ADS_1
*Berguling. Dalam jarak, aku mendarat dengan mulus. Kemudian, aku melihatnya lagi, melihat ke arah Kera Halilintar Raksasa itu. Aku mulai berpikir, bagaimana caraku harus mengalahkan kera tersebut. Dia begitu kuat, dan memiliki pertahanan yang luar biasa. Di tambah, ia memiliki tipe serangan yang mematikan.
Aku mulai memutuskan ketika aku telah menganalisisnya lagi. Bahwa sihir tidak akan berguna untuk menghadapi Kera Halilintar Raksasa ini. Jadi, aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukan pertarungan jarak dekat. Dari pada aku, harus menghabiskan manaku untuk sihir, lebih baik aku menggunakannya untuk pertarungan ini. Akan aku pastikan, aku menggunakan semua mana yang aku miliki dengan baik.
Aku mulai bersiap dengan kuda-kuda. Menatap tajam Kera Halilintar Raksasa, dengan kedua mataku yang tersembunyi di balik topeng. Aku telah bertekat, untuk bertarung melawannya. Tentu saja, dengan semua rencana, dan segala cara yang aku miliki. Aku akan mengalahkannya.
Aku mengambil langkah pertama untuk menyerangnya. Dengan langkah cepat, aku mulai menutupi jarak antara diriku. Mengumpulkan semua mana kedalam satu kepalan tangan, dan memberikan beberapa buff kepada diri untuk memperkuat serangan dan saya rusak yang bisa ku hasilkan.
*Peningkatan Kekuatan, Peningkatan Serangan, Peningkatan Kerusakan dari hasil serangan, dan Penetrasi. Aku berharap dengan semua ini, aku dapat memberikannya sebuah luka yang serius.
Untuk diriku, saat ini aku tidak bisa begitu saja menggunakan banyak buff kepada diriku sendiri. Hanya beberapa buff yang aku gunakan saja, itu telah membebani tubuhku. Jika aku menambahkan beberapa buff lagi, tubuhku akan mengalami cedera atau bahkan kerusakan yang fatal. Hal tersebut tidak hanya berlaku pada diriku saja, namun kepada orang lain juga. Intinya, semua orang akan menerima dampak yang sama jika seseorang menggunakan buff yang berlebihan yang melebihi kapasitas buff yang bisa di tampung oleh tubuh.
Kami saling berhedap-hadapan satu sama lain, dan kami telah siap dengan posisi kami di masing-masing. Sebelum aku melancarkan serangan ku, terlebih dahulu, aku telah membaca pergerakan lawanku. Sehingga, ketika Kera Halilintar itu menyerang diriku, aku dapat menghindarinya dengan mudah, dan mencari posisi aman untuk melancarkan serangan balik.
*BANG! Aku meninju pinggul kanannya sekuat tenaga. Hal tersebut, menghancurkan sebagai tulang pinggul miliknya, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan, terdorong jatuh akibat gaya dorongan yang terlalu besar. Hanya dengan satu kaki yang dapat berdiri dengan benar setelah serangan, itu membuatnya kesulitan untuk menjaga diri untuk tetap berdiri. Meski kesakitan, namun terlihat dia mengabaikannya, rasa sakit itu. Dan dia balik menatapku dengan tatapan marah.
Dalam hal ini, aku telah merasa unggul dari lawanku. Sehingga, aku dengan santai berjalan menghampirinya, berniat untuk menghabisinya dengan cepat. Satu hal yang aku lupakan ketika aku berada di atas angin... Aku melupakan, bahwa monster yang sedang aku hadapi adalah monster yang memiliki kecerdasan untuk berpikir. Dan lagi, aku kembali masuk dalam jebakannya.
Ketika jarak itu telah begitu dekat, dan berada dalam jangkauan. Kera Halilintar Raksasa itu bangun dan kemudian memukul ku dengan begitu kuat.
“Sialan... Perisai mana! Dinding Tanah!”
__ADS_1