Lamar Aku Di Namsan Seoul Tower

Lamar Aku Di Namsan Seoul Tower
Episode 1


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 1.34 malam. Ayli Hoon sedang berbicara pada seseorang di seberang telepon. Sesekali ia menganggukan kepalanya. Ia mengenakan topi hitam dan seragam kerja merah hati dengan tulisan 'Nicefood' di belakangnya. Ayli Hoon berjalan santai membawa kantong putih besar di depan gedung Nicefood yang besar. Ia berbicara santai dengan Young Jin.


"Baik Paman, aku akan segera pulang. Katakan pada Young Hee bahwa aku minta maaf karena tadi tidak bisa menemuinya di kafe ... tenang paman, alergi ku tidak kambuh ... baik paman terima kasih." Sambungan telpon ditutup.


Setelah menarik nafas panjang, Ayli Hoon memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia meneruskan langkah menuju mobil ventaris yang diberikan oleh nicefood tempat ia bekerja. Musim dingin yang sedang melanda kota Seoul memang sangat tidak disukai oleh gadis berusia 26 tahun itu, ia alergi dingin. Ia selalu memakai jaket dan syal ketika akan pergi keluar dari apartemen.


Hari memang sudah larut malam. Tapi kota Seoul menunjukan bahwa kota itu belum mengantuk. Mobil masih padat memenuhi jalan, pejalan kaki sibuk berlalu-lalang, toko-toko 24 jam masih ramai dipadati oleh pengunjung, lampu gedung-gedung masih berkerlap-kerlip menambah indahnya kota. Terkecuali lampu perumahan biasa yang pasti penghuninya sudah terlelap dengan mimpinya masing-masing. Di sekitar gedung Nicefood itu sendiri masih ada beberapa karyawan yang bekerja sift malam.


Ayli Hoon ingin cepat sampai di apartemennya, ingin membuat teh panas untuk menghangatkan tubuh. Ia juga berencana akan tidur lalu bangun siang karena besok adalah hari liburnya. Ia berharap malam ini adalah sift malam terakhir nya di musim dingin kali ini.


* * * *


Di kantor agensi ArtD Entertainment lantai ke-tujuh, Jung Soo duduk di kursi, di dalam ruangan managernya. Ia terlihat sedang menahan kekesalan.


"Hyeong, sudah aku katakan berkali-kali, aku tidak mau menerima konser itu." (Hyeong/ν˜• \= Sebutan laki-laki yang lebih muda pada laki-laki yang lebih tua.)


Jung Soo merebahkan diri ke sandaran kursi, wajahnya terlihat kesal. Sementara di hadapannya, duduk pria yang juga tampan. Kim Hyun Jae memijat-mijat kedua alisnya. Sebelah tangannya lagi membolak-balik setumpuk kertas kontrak dan berkas penting lainya. Dengan nada datar ia berusaha meyakinkan Jung Soo.


"Heo Jung Soo, penyanyi dan aktor teratas di ArtD Entertainment. Dengarkan aku, konser itu bayarannya mahal, sayang sekali jika ditolak. Lagi pula kau hanya tinggal bernyanyi di depan penonton di stage terbuka di sebuah lapangan, setelah itu, hari- hari selanjutnya kau hanya syuting iklan. Itu pun hanya seminggu saja. Apa susahnya?"


Hyun Jae berkata tanpa melihat wajah Jung Soo, nada bicaranya datar karena sudah lelah untuk meyakinkan Jung Soo yang keras kepala. Matanya terus berpaku pada tulisan-tulisan yang ada di kertas.

__ADS_1


Pria berusia 32 tahun itu adalah raod managernya Jung Soo. Ia sangat tahu tentang watak Jung Soo yang sangat tidak suka dipaksa.


"Hyeong, tolong mengertilah. Aku tidak mau konser di Yongsan-gu. Aku punya trauma dengan fansku di sana. Mereka seperti ingin membunuhku." Jung Soo berkata dengan kesal sambil duduk tegak menghadap lurus ke Hyun Jae.


Kenangan dua bulan yang lalu, saat itu Jung Soo akan membagikan hadiah pada penggemarnya. Pada saat akan memberikannya pada seorang wanita, wanita itu malah menariknya hingga ia jatuh ke kerumunan fans.


Pada akhirnya Jung Soo dibawa kerumah sakit akibat sesak nafas. Itulah yang membuat Jung Soo selalu menghindari daerah Yongsan gu.


Mengingat itu, Hyun Jae sedikit bimbang. Hyun Jae berdiri, mengangkat tangan pasrah, berkeliling mengelilingi kursinya. Setelah berpikir sejenak, ia berhenti, memandang ke atas ruangan lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskannya.


"Oke, baiklah. Kita akan bicarakan besok saja. Ini sudah lewat tengah malam. Ingat, jadwalmu besok jam 9.00 mengisi acara talk show, setelah itu jam 1.00 siang jumpa fans sampai sore selesai. Kita akan bicara soal ini sambil istirahat di rumahku."


"Oh ya satu lagi, jangan lupa pakai jaket tebalmu. Aku tidak mau kau flu di acara besok." Hyun Jae menyerahkan jaket tebal berbulu pada Jung Soo.


Jung Soo tertawa kecil. "Hyeong pikir aku anak kecil," kata Jung Soo.


"Kau memang bukan anak kecil, tapi adakalanya kau harus diperhatikan seperti anak kecil. Kau sering mengabaikan kondisimu."


"Baik Hyeong, lagi pula aku sudah lelah. Seharian ini aku berkeliling kota Seoul." Jung Soo merenggangkan otot tangannya.


"Masih saja kau berkeliling mencarinya. Jung Soo kau sudah bertahun-tahun mencari dia, berkeliling setiap jalan dengan harapan dapat menemukan nya. Jika dia tidak di negara ini bagaimana? Apakah kau akan berkeliling dunia?" Hyun Jae memukul pelan punggung Jung Soo.

__ADS_1


"Mungkin." Jung Soo tertawa kemudian membalas pukulan Hyun Jae.


Hyun Jae dan Jung Soo berjalan keluar dari ruangan Hyun Jae.


* * * *


Ayli Hoon sampai di apartemen bernomor 006 yang ada di dalam gedung empat lantai. Masing-masing lantai terdapat dua apartement yang pintu depannya saling berhadapan. Ayli Hoon tinggal di lantai tiga.


Apartement itu sederhana dan tidak terlalu luas. Ruang tamu berukuran sedang, dapur, kamar berukuran kecil dan balkon yang menghadap keluar untuk bersantai dan menjemur pakaian.


Ayli Hoon sudah satu tahun tinggal di apartemen itu. Begitu lulus kuliah, ia memutuskan untuk pindah dari rumah Young Hee anak dari Young Jin. Semua tetangga di gedung apartemen itu sangat baik hati dan ramah.


Apartemen nomor 005 diisi oleh kakak beradik Mi Cha dan Man Shik. Kedua kakak beradik itu tinggal berdua tanpa orang tua karena kakaknya Mi Cha yaitu Man Shik bekerja sebagai manager di salah satu perusahan di Seoul. Sebab itulah mereka harus hidup mandiri jauh dari orang tuanya. Ayli Hoon sudah mengenal mereka sejak masih di bangku SMA. Mereka adalah tetangga terbaik Ayli Hoon.


Ayli Hoon sangat lelah, rasa dingin seperti menusuk sumsum tulangnya. Ia mengeluarkan kunci dari dalam tas kecilnya lalu membuka pintu. Sebelum ia masuk, ia menoleh kebelakang, pada apartemen nomor 005. Ia berpikir bahwa Mi Cha dan Man Shik pasti sudah tidur lelap mengingat ini sudah lewat tengah malam.


Ayli Hoon masuk dan mengunci pintu depan. Dengan gontai ia berjalan menuju dapur kecilnya. Ia memutuskan membuat secangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan. Ia mulai bersin-bersin dan kepalanya pusing, alerginya mulai kambuh. Ayli Hoon merasa kantuk telah menyerang, matanya terasa lengket dan berat.


Ayli Hoon masuk kedalam kamar yang paling ia cintai lalu mengunci pintu. Ia mengganti pakaian dengan baju tidur favoritnya. Setelah ganti pakaian, ia berbaring di atas kasur berukuran kecil tapi sangat nyaman.


Serasa bosan dengan malam yang dingin dan sepi, Ayli Hoon memutuskan untuk mendengarkan musik melalui headphonenya. Lagu James Arthur just say you want let go mengalun menghantarkan tidurnya. Tanpa sadar Ayli Hoon memejamkan mata lalu tertidur.

__ADS_1


__ADS_2