
Sambil mengusap-usap dagunya, Jung Soo berkata pada Hyun Jae, "Baiklah Hyeong, aku akan menerima tawaran itu. Ingat, ini kulakukan demi nama baik mu. Lain kali jangan asal setuju dulu sebelum bertanya kesanggupan ku."
Jung Soo meminum teh hangat yang dituangkan oleh Hyun Jae pada cangkir nya.
"Iya maaf, lain kali aku akan bertanya dulu." Hyun Jae menjawab dengan santai.
"Andaikan Hyeong yang menjadi artis, pasti Hyeong tidak akan mengatur-atur artis seperti ini."
Mendengar perkataan Jung Soo, Hyun Jae tertawa terbahak-bahak. "Tidak mungkin Jung Soo, aku tidak layak untuk menjadi artis."
Jung Soo menyeringai, ia menyeruput teh yang ada di cangkir.
"Mungkin saja Hyeong. Jujur kau sangat cocok untuk jadi seorang idol K-POP. Kau tinggi, bentuk tubuh bagus, dan tampan. Pasti kau akan memiliki banyak fans," kata Jung Soo santai.
"Walau tidak setampan diriku," lanjut Jung Soo bercanda Jung Soo.
"Tapi aku tidak memiliki bakat apapun. Bila aku menari, maka aku akan dijuluki robot menari. Bila aku bernyanyi, maka telinga semua orang akan pecah, dan bila aku akting, yang ada sutradara akan melempar ku dengan kamera," canda Hyun Jae dengan gelak tawa diikuti oleh tawanya Jung Soo.
Tiba-tiba saja Hyun Jae mengingat gadis yang jatuh tadi siang. Ia membuka jas hitam yang ia kenakan, mengeluarkan ponsel dari saku jas, dan meletakkan nya di atas meja. Hyun Jae berdekham pelan.
"Ehm, ngomong-ngomong, wanita yang tadi siang kau tumbur dengan pintu mobil itu cantik dan manis juga ya," kata Hyun Jae sambil tersenyum pada Jung Soo yang sedang menatap cangkir teh di tanganya.
Jung Soo mengalihkan pandangan dari cangkir ke mata Hyun Jae. "Iya begitulah." Jung Soo menanggapi dengan ringan.
Hyun Jae tertawa lalu meminum teh nya yang tinggal sedikit sampai habis.
"Kau ini, kenapa santai begitu? Dia cantik dan ku perkirakan usianya sekitar dibawah 25 tahun. Ia memiliki tinggi sekitar 160 cm, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang, dan matanya bulat seperti bulan. Tapi, mengapa wajahnya tidak terlihat orang Korea? ku perhatikan dia berbicara bahasa Korea dengan sangat fasih. Seperti Native Korea. Ya apapun itu, dia tetap cantik." Seperti biasa, Hyun Jae sangat detail bila menilai orang lain.
Tanpa menanggapi ucapan Hyun Jae, Jung Soo hanya menatap cangkirnya dengan mata kosong. Hyun Jae menghela nafas panjang. Ia yakin Jung Soo sedang memikirkan sesuatu.
"Ku dengar, ada beberapa fans yang mengatakan mungkin kau tidak ingin mengenal cinta setelah diputuskan dan dikhianati oleh mantan pacarmu itu," lanjut Hyun Jae.
__ADS_1
Jung Soo menoleh pada Hyun Jae. Ia tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain, tapi Jung Soo tidak suka ketika Hyun Jae membahas mantan pacar yang sudah ia lupakan sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Hey, ayolah Hyeong, aku sedang tidak ingin membahas itu." Jung Soo bersandar pada sofa ruang tamu Hyun Jae yang luas.
"Kau selalu sensitif ketika orang membahas soal itu. Jika kau sudah melupakannya, seharusnya kau biasa saja," kata Hyun Jae sambil merebahkan diri ke sofa.
"Hyeong, aku sudah melupakannya. Hanya saja aku muak mengingat hal itu." Jung Soo mengusap wajah untuk menenangkan diri. Sepertinya ia sedang mengingat masa lalunya yang tidak menyenangkan.
"Apakah kau ingin mencari cinta pertamamu? Gadis itu saja tidak tahu kau mencintai nya. Jung Soo sadarlah itu tidak mungkin. Kau juga tidak tahu, kan? Apakah dia mencintai mu atau tidak. Lagi pula pertemuan kalian hanya dua bulan." Hyun Jae ingin Jung Soo mencari cinta barunya.
Jung Soo menatap langsung pada mata managernya.
"Tidak ada sesuatu yang mustahil Hyeong." Jung Soo menegaskan kata-katanya.
Hyun Jae memahaminya. Jika seseorang sudah mencintai seseorang, maka akan sangat sulit untuk melupakan, apalagi itu menyangkut cinta pertama.
Hyun Jae menepuk bahu Jung Soo dan tersenyum. "Ya aku paham. Lupakan topik ini, bahas yang lain saja."
Mereka melanjutkan pembicaraan lain. Hyun Jae bercerita tentang keluargnya yang sekarang berada di Jepang. Hyun Jae mengambil posel di atas meja lalu membuka dan melihat layar ponselnya. Seperti biasanya, Hyun Jae selalu mengecek jadwal Jung Soo.
Jung Soo menangkat alisnya, ia tidak tahu siapa Cheo Jin.
"Sebelum kau bertanya, aku tahu, mungkin kau tidak mengenal artis cantik ini karena dia bukan artis terkenal seperti mu. Dia baru debut empat bulan yang lalu."
"Aku adalah teman dekat managernya dan dia mengundangku ke acara pesta ulang tahun Cheo Jin. Pasti dia akan senang sekali apabila kau juga datang ke pestanya. Ya, hanya acara makan-makan saja," jelas Hyun Jae sambil menatap wajah Jung Soo.
"Baiklah aku ikut, lagi pula aku bosan di rumah."
Jung Soo dan Hyun Jae sudah selesai minum dan berbincang-bincang.
"Aku akan menjemputmu besok, ok," kata Hyun Jae setelah mereka sudah berada di teras depan rumah.
__ADS_1
Hyun Jae menyerahkan kunci mobil kepada Jung Soo. Jung Soo hanya tersenyum.
"Lalu besok kau mau menjemputku naik apa, Hyeong?"
Hyun Jae melihat ketangannya dan tertawa.
"Oh iya, sudah kebiasaan, jadi aku lupa. Lalu sekarang kau pulang naik apa?" tanya Hyun Jae.
"Aku bisa naik taksi. Besok pagi aku akan menghubungi mu, Hyeong." Jung Soo beranjak pergi.
"Baiklah, selamat malam" Hyun Jae melambaikan tangan ketika Jung Soo berjalan meninggalkan halaman rumah Hyun Jae yang luas.
Setelah pergi dari rumah Hyun Jae, Jung Soo melajukan mobilnya dengan sangat santai. Pikirannya tidak bisa fokus pada jalan di depannya. Ia terus melamun sepanjang perjalanan.
"Apakah aku tidak salah lihat? Apakah aku tidak berkhayal? Mata itu, aku sangat mengenal mata itu. Mata itu masih ku ingat sampai sekarang, tidak mungkin aku salah." Jung Soo terus berbicara pada dirinya sendiri.
* * * *
Di kamar apartemen yang tidak terlalu besar, seorang gadis sedang meringkuk di atas ranjang dengan berselimut tebal. Tubuhnya menggigil kedinginan, hidungnya tersumbat, ia selalu bersin-bersin, dan wajahnya pucat.
Gadis itu adalah Ayli Hoon yang sedang sakit. Karena ia bekerja memaksakan diri, akibatnya sekarang ia jatuh sakit. Di tambah lagi dengan sakit di kakinya yang masih terasa akibat terjatuh di depan gedung NSK tv.
Sampai sekarang ia masih sangat kesal pada pria itu. Bagaimana tidak, pria itu bukannya meminta maaf tapi malah diam saja seperti tidak bersalah.
Dering telepon mengejutkan Ayli Hoon yang masih mengumpat dalam hati.
"Hallo Eonni," sapa Ayli Hoon dengan suara serak.
"Hallo juga, Ayli Hoon, besok tolong datanglah ke gedung nicefood pagi-pagi. Aku memiliki pekerjaan yang penting," kata Kang Chungi seorang manager di nicefood.
"Aku sakit Eonni, aku ingin ambil cuti," kata Ayli Hoon.
__ADS_1
"Aku akan memberikan uang bonus dan uang pengobatan. Tolonglah Ayli Hoon, aku hanya percaya pada mu." Seperti biasa, Kang Chungi akan terus memohon sampai Ayli Hoon memenuhi permintaannya.
"Baiklah."