
Suasana sore yang dingin dan gelap karena matahari tertutup kabut yang tebal menyelimuti seluruh Korea Selatan. Lampu gedung, hotel, rumah-rumah, toko, dan bangunan lainnya sudah mulai menerangi.
Ayli Hoon dan Young Hee sedang berdiri di samping mobil di depan kafe. Young Hee meminta maaf tidak dapat mengantar Ayli Hoon ke hotelnya karena satu jam lagi ia harus ke bandara internasional Incheon.
"Baiklah Young Hee, hati-hati di jalan, sampai jumpa."
Ayli Hoon memeluk sahabatnya dengan erat karena mereka akan bertemu kembali untuk dua bulan lagi. Lama mereka berpelukan, Young Hee melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Ayli Hoon.
"Iya Ayli Hoon. Kau dapat salam dari ayahku. Sebenarnya kami ingin mengajak mu, tapi aku tahu kau pasti sibuk menjadi stylish ArtD."
Sebelum Young Hee membuka pintu mobilnya, mobil silver datang dan berhenti di samping mereka.
"Ayli Hoon." Jung Soo memanggil nama Ayli Hoon, kemudian ia keluar dari mobil.
Young Hee berhenti membuka pintu. Ia terkejut begitu melihat siapa yang memanggil nama Ayli Hoon. Ia langsung ternganga dan membelalakan matanya. Jantungnya seakan berhenti dan nafasnya sesak.
"Oppa! Benarkah ini kau? Jung Soo ...?" Young Hee pasti akan pingsan dalam beberapa detik lagi.
Ayli hoon membantu Young Hee duduk di bangku panjang di teras kafe. Jung Soo mengambil topi dan kaca mata hitam dari mobilnya lalu memakainya. Ia tidak mau sampai ada fans yang melihatnya.
"Ayli Hoon, ini sudah sore, mari kita pulang." Jung Soo berdiri di depan Young Hee dan Ayli Hoon yang sedang duduk.
Young Hee yang sedari tadi entah berada di alam mana sedikit tersadar. Dalam pikirannya mengulang kata 'kita pulang', itu semua membuat Young Hee tambah sesak nafas.
Ayli Hoon tahu apa yang ingin Young Hee ucapkan namun tidak dapat mengeluarkan suara.
"Sebenarnya aku mendapat tugas di sini sebagai stylish Jung Soo. Ia sedang syuting iklan. Aku sengaja tidak membertahu siapa pun karena takut sasaeng fans akan mengikuti kami." Ayli Hoon menjelaskan dengan takut sahabatnya itu marah.
Jung Soo tidak berbicara apapun, ia hanya memandang Young Hee dan Ayli Hoon secara bergantian. Jung Soo melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia takut ada yang mengenalinya. Saat Young Hee menatap idola tampannya itu, Jung Soo memberi senyuman.
Beberapa menit kemudian, Young Hee mulai bisa berpikir, kemudian mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Aku ingin menjadi stylish juga, agar aku bisa sering bertemu dengan Oppa."
Jung Soo tersenyum dan menahan tawanya.
"Aku tidak percaya bisa bertemu dengan Jung Soo secera langsung, dan secara priabadi seperti ini. Ayli Hoon, beruntung nya dirimu bisa bertemu dengan Jung Soo oppa kapan saja. Ini seperti mimpi bisa bertemu dengan mu. Boleh aku minta foto bersama?" kata Young Hee panjang lebar.
__ADS_1
Jung Soo mengangguk.
Setelah foto bersama, Jung Soo memberi senyum.
Young Hee berkata, "Maaf Oppa, Ayli Hoon, aku harus pergi, jika tidak, aku tidak tahu apakah ruhku masih bisa berada di tubuhku atau tidak. Dia tersenyum pada ku."
Young Hee berdiri sambil memegang dadanya. Mungkin itu dapat menyangga jantungnya yang akan copot. Ia bergerak mundur ke mobilnya sambil bergumam tidak jelas. Matanya tidak lepas dari Jung Soo.
Ketika Young Hee sudah masuk kedalam mobil, Ayli Hoon melambaikan tangan. Melihat gadis di sampingnya melambaikan tangan, Jung Soo juga melakukan hal yang sama sampai mobil Young Hee tidak terlihat lagi. Ayli Hoon menurunkan tangannya sedangkan Jung Soo masih melambaikan tangan.
Tiba-tiba Ayli Hoon mencubit perut Jung Soo. Jung Soo meringis kesakitan lalu mengelakan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan, Ayli Hoon? Sakit." Jung Soo tersenyum walau ia menahan sakit yang tersisa.
"Bukan aku, tapi apa yang kau lakukan tadi? Kau dapat membuatnya gagal jantung saat kau melambaikan tangan sambil tersenyum."
Jung Soo memasukan tangan nya kesaku celana, matanya pura-pura melihat langit. "Ya, lain kali aku akan membuat kau yang gagal jantung."
Ayli Hoon langsung bergerak untuk memberi pukulan, tapi Jung Soo mengelak dan lari. Ayli Hoon mengejarnya. Mereka berdua berlari mengelilingi mobil Jung Soo dengan canda tawa. Kebahagian terlihat dari mata mereka.
Setelah cukup lelah, Jung Soo dan Ayli Hoon pulang ke hotel.
* * * *
Man Shik menyantap makan malamnya dengan sangat lahap. Semua makanan di atas meja tidak ada yang terlewat dari mulutnya.
Mi Cha yang duduk di seberang meja makan memerhatikan kakaknya makan dengan sangat lahap. Mi Cha meletakan sendoknya di atas mangkuk, lalu menghadap lurus pada Man Shik.
"Oppa, apakah kau sedang lapar sekali?" tanya Mi Cha.
Man Shik mendongak ke atas untuk melihat Mi Cha. Dengan mulut yang masih penuh, ia menjawab santai, "Ya aku lapar sekali, karena aku sedih Young Hee pergi ke Tokyo selama dua bulan."
Mi Cha tertawa sambil menggeleng gelengkan kepala.
"Oppa, aku tahu kau menyukainya, tapi jika kau sedih ditinggal oleh nya, jangan kau habiskan semua makanan itu. Nanti aku tidak kebagian," canda Mi Cha yang diikuti tawa mereka berdua.
"Aku sudah selesai makan, perutku sangat penuh." Man Shik mengambil piring kotornya lalu berdiri meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Setelah Man Shik selesai mencuci piring dan masuk ke kamar, Mi Cha merenung di meja makan. Sebenarnya ia ingin menanyakan tentang keluarga di Gyeonggi dan menanyakan bagaimana tentang ibunya. Tapi, ia tahu bahwa Man Shik pasti tidak akan menceritakan apa pun pada nya.
Yang terpenting bagi Man Shik adalah Mi Cha masih merasakan bahagia bersama kakaknya, masih merasakan kehangatan keluarga walau pun hanya tinggal berdua.
Mi Cha memutuskan untuk tidak memikirkan hal itu, ia berusaha memahami perasaan Man Shik yang ingin adiknya bahagia bersamanya tanpa mengingat masa lalu.
Beberapa saat termenung, ia memutuskan pergi ke kamarnya.
* * * *
Pagi-pagi sekali, Ayli Hoon bersiap- siap untuk berangkat ke lokasi syuting. Ia telah berpakaian rapi, rambutnya di ikat, dan tidak lupa memakai syal. Walau sudah di penghujung musim dingin, tapi udaranya tetap saja dingin.
Karena hari ini adalah hari terakhir syuting, maka Ayli Hoon sudah merapikan pakaiannya ke dalam koper. Kamarnya sudah dirapikan serapi mungkin dan sebersih mungkin. Setelah merasa semua sudah selesai, Ayli Hoon mengambil tas tangannya dan berjalan keluar kamar.
Ayli Hoon menutup pintu kamar hotelnya. Saat berbalik badan, sosok Seung Yun yang mengenakan jaket tebal, dan berkaca mata hitam, telah berdiri di belakang nya. Di tangannya membawa sebuah kantong. Ia terlihat sangat cantik, sungguh artis yang profesional.
Seung Yun membuka kaca mata hitamnya. "Kau stylish yang sok diperhatikan oleh Jung Soo, kan?" kata Seung Yun sinis.
Ayli Hoon tentu sangat terkejut dengan perkataan Seung Yun. "Apa maksudmu?"
Seung Yun mendengus sambil membuang muka. "Kau pikir aku tidak tahu kejadian di kafe ArtD siang itu? Jung Soo menganggap mu teman tapi kau jual mahal. Aku tidak suka kau dekat dengan Jung Soo. Jung Soo itu tidak cocok dengan mu. Dia pantas mendapatkan orang yang memiliki kesetaraan status dengan nya."
Tiba-tiba saja Ayli Hoon merasa hancur. Ia merasa apa yang dikatakan oleh Seung Yun itu sangat jahat. Seumur hidupnya belum pernah ia mendapat perkataan seperti itu. Itu lah sebabnya ia hampir menangis.
Sebelum matanya tergenang air mata, Ayli Hoon menguatkan hatinya karena ia bukanlah sosok yang lemah. Tapi bagaimana pun, ia tahu bahwa yang dikatakan oleh wanita di hadapan nya itu memang benar.
Seung Yun berniat untuk meneruskan perkataannya, tapi ia mengurungkan niatnya karena pintu kamar nomor 259 dibuka dan keluarlah Jung Soo.
Jung Soo berjalan santai mengampiri kedua gadis itu. Ia mengenakan kemeja lengan panjang. Tangan kanannya membawa jaket tebal. Seung Yun dengan segera menghampiri Jung Soo dan memberikan senyum termanis nya.
"Jung Soo, aku membawakan makanan kesukaan mu, odeng dengan saus mustard. Dulu kau sangat suka ini, kan?" Seung Yun menunjukan kantung yang ia bawa.
"Itu dulu, sekarang aku tidak suka" jawab Jung Soo acuh tak acuh.
"Ayli Hoon, ayo berangkat. Hyeong akan menyusul nanti," kata Jung Soo sambil berjalan lalu menarik tangan Ayli Hoon agar ikut bersamanya.
Seung Yun menghentakan kaki nya karena kesal. Bisa-bisanya Jung Soo mengacuhkan keberadaan nya dan pergi begitu saja sambil menggandeng wanita lain.
__ADS_1
Ia membuang kantung yang dibawa lalu berjalan menuju lift.