
Seung Yun duduk santai di atas sofa ruang tamu, ruang tamu itu sangat besar. Ia menggunakan celana dan baju tidur berwarna phink, kakinya disilangkan di atas sofa. Matanya fokus pada ponsel yang ia pegang.
Sesekali bibirnya tersenyum lebar dan mengeluarkan suara tertahan. Sepertinya ia sangat bergembira. Tak lama kemudian ekspresi senang berubah menjadi kesal. Ia membanting ponselnya ke atas sofa.
"Apa-apaan ini? Kenapa fansnya malah mendukung gadis itu?"
Seung Yun mengacak-acak rambutnya dengan kesal. kekesalannya bertambah ketika mengingat berita yang ia baca tadi. Berita itu menuliskan bahwa Jung Soo membatalkan semua jadwalnya selama seminggu demi menjaga dan merawat pegawai ArtD yang terluka itu.
Yang lebih menyebalkan lagi adalah, ketika Seung Yun berharap fans Jung Soo mengintimidasi Ayli Hoon, tapi pada kenyataannya malah mendukung keputusan Jung Soo merawat Ayli Hoon.
"Kenapa mereka malah berpikir bahwa Jung Soo sangat mencintai gadis itu?"
"Tentu saja, karena untuk apa Jung Soo sampai rela membatalkan jadwalnya dan mengabaikan uang jutaan won demi gadis itu, jika bukan karena dia sangat mencintai gadis itu," potong Chung Kwon.
Seung Yun menoleh pada ibunya yang membawa makanan ringan. Chung Kwon meletakan makanan itu dibatas meja, lalu duduk di samping Seung Yun.
"Bibi selalu ikut campur." Seung Yun memutar bola matanya, lalu pergi meninggalkan ibunya yang bersabar menghadapi sikap putrinya itu.
Chung Kwon tahu sikap Seung Yun terhadapnya itu karena kesalahannya dulu. Setelah bercerai dengan ayahnya Seung Yun, ia menikah lagi dan menjadi istri kedua seorang pria yang memiliki satu putra. Walau putra kecil mereka bisa menerima Seung Yun dan Chung Kwon, tapi istri pertama suaminya sangat membenci Seung Yun dan dirinya .
Istri pertama itu mau menerima kehadirannya asalkan Seung Yun tidak ikut tinggal bersama mereka. Maka dari itu ia memberikan hak asuh Seung Yun pada suami pertamanya. Seung Yun masih sangat kecil untuk ditinggalkan ibunya, ia masih membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu. Sampai pada akhirnya ia tumbuh menjadi seorang yang egois, sombong, dan apa yang ia inginkan harus didapatkan.
Setelah ayah Seung Yun meninggal, dan Chung Kwon sudah bercerai dengan suami keduanya, ia pun menjaga dan tinggal bersama Seung Yun. Akan tetapi, Seung Yun sangat membencinya hingga tidak mau memanggilnya ibu.
Mengingat itu, Chung Kwon menangis. Ia ingin Seung Yun bisa memanggil nya ibu.
__ADS_1
"Apakah putri keduaku pun akan membenci ku seperti Seung Yun membenci ku? Di mana kau berada sayang?" Chung Kwon mengingat anak kedua dari suami kedua.
Suara bel pintu berbunyi membuat Chung Kwon segera mengelap air matanya. Ia segera berjalan ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Setelah pintu dibuka, Jung Soo berdiri di depan pintu. Chung Kwon memandang Jung Soo dari atas sampai ke bawah. Jung Soo mengenakan kaus putih lengan pendek, celana jeans hitam dan memakai topi hitam.
"Selamat malam Bibi," sapa Jung Soo ramah dan sopan.
"Jung Soo, apa yang membuat mu datang ke rumahku malam-malam begini?" tanya Chung Kwon ramah.
"Saya mencari Seung Yun. Apakah dia ada di rumah?" tanya Jung Soo.
"Dia ada di kamar. Mari masuk, aku akan memanggil nya."
"Maaf Bi, saya ingin berbicara dengan nya di sini saja."
Tak lama kemudian Seung Yun muncul di hadapan Jung Soo. Ia terlihat sangat senang mengetahui Jung Soo sengaja datang pada nya. Seung Yun juga sedikit salah tingkah karena begitu gembira. Sedangkan Jung Soo berdiri tegak, menatap tajam pada Seung Yun. Entah apa yang ada dalam pikiran Jung Soo, tetapi ia terlihat sedang menahan emosi.
"Kenapa kau tidak mau masuk ke dalam. Aku akan membuatkan minuma-"
"Diam!" Jung Soo memotong perkataan Seung Yun dengan bentakan keras.
"Jangan kau pikir aku bodoh dan tidak mengetahui perbuatanmu," lanjutnya.
Seung Yun terkejut dengan amarah Jung Soo yang tiba-tiba itu. Ia pura-pura tidak tahu apa-apa. Ia mulai berakting, menundukan kepala dan mulai menangis.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku?"
Akting yang Seung Yun mainkan memang sangat bagus, orang yang melihatnya pasti akan merasa iba. Lain halnya dengan Jung Soo, ia tidak tertipu oleh akting Seung Yun.
"Hentikan aktingmu itu. Aku tahu kau yang ada di balik kekerasan yang menimpa Ayli Hoon."
"Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apapun." Seung Yun menangis.
"Kau yang telah memberitahu sasaeng fansku tentang Ayli Hoon. Kau yang memberikan fotonya, kau yang memberi mereka informasinya, yang mengirim pesan suara itu pada kelima gadis sialan itu!" Jung Soo sekarang mulai meledakan amarahnya. "Kau bekerja sama dengan Kang Ditta asistennya Lee Jang Ho, merekam pembicaraan kami di ruangannya, dan kau mengirimnya."
"Jung Soo hentikan! Aku tidak tahu apa-apa." Seung Yun mengelak.
"Kau butuh bukti atas apa yang aku katakan? Lihat ini!"
Jung Soo memperlihatkan sebuah rekaman video. Video itu berasal dari CCTV yang berada di gedung ArtD. Di sana terlihat Seung Yun yang menghentikan Ayli Hoon ketika akan masuk kedalam toilet. Seung Yun mengatakan sesuatu kemudian pergi.
Video itu berlanjut ke CCTV yang ada lantai delapan, lagi-lagi Seung Yun menemui Ayli Hoon yang akan membuka pintu ruang kerjanya. Video berlanjut lagi ke CCTV di lobby ArtD. Di sana ada Ayli Hoon yang sedang berjalan sambil merapikan kemejanya. Saat itu muncul Seung Yun keluar dari restoran di sebelah kanan lobby yang terpisah oleh dinding kaca. Seung Yun mengeluarkan ponsel dan sepertinya mengambil foto Ayli Hoon secara diam-diam.
"Tidak, aku tidak berbuat jahat padanya." Seung Yun masih mengelak.
"Kau masih tidak mengakuinya. Bagaimana dengan ini?"
Jung Soo menyetel lagi sebuah video saat kelima gadis itu sedang diinterogasi oleh pihak polisi. Gadis berambut pirang itu mengatakan bahwa Seung Yun menemui nya dan memberikan informasi tentang gadis yang tertangkap kamera bersama Jung Soo waktu itu. Seung Yun juga mengirim pesan suara untuk meyakinkan mereka.
"Aku tidak menyangka kau akan berbuat seperti ini. Untung saja, Lee Jang Ho memikirkan nasib ArtD Entertainment. Jika tidak, maka ini akan dipublikasikan dan kau sudah masuk penjara sekarang. Kami merahasiakan ini dengan rapat. Tapi ingat satu hal, aku tidak akan memaafkan mu."
__ADS_1
Jung Soo pergi begitu saja. Ia memasuki mobil lalu melesat meninggalkan halaman rumah Seung Yun.
Pipi Seung Yun berubah merah, matanya tidak lagi meneteskan air mata. Ia tidak menyangka semuanya dapat terbongkar begitu saja. Seung Yun yakin Hyun Jae yang menyelidiki kasus ini. Karena setahunya, yang bisa menyelidiki kasus secepat itu hanya Hyun Jae dan orang-orang nya.