Lamar Aku Di Namsan Seoul Tower

Lamar Aku Di Namsan Seoul Tower
Episode 53


__ADS_3

Di depan restoran ArtD, Seung Yun sedang berjalan masuk ke dalam restoran ditemani oleh Yin Xiejie. Ia sengaja memakai pakaian yang longgar untuk menutupi perutnya yang mulai membesar. Yin Xiejie tiba-tiba tersenyum sambil menundukkan kepala.


"Kenapa Eonni? Kau tersenyum malu begitu." tanya Seung Yun penasaran.


"Ada Hyun Jae di dalam restoran itu. Aku malu," jawab Yin Xiejie malu-malu.


"Haaaa kau pikir dia akan menyukai mu?" celetuk Seung Yun ketika mereka sudah berada di dalam restoran.


Yin Xiejie menggerutu dalam hati. Artis yang satu ini memang sangat menyebalkan. Tidak bisakah dia memikirkan perasaan orang lain ketika berbicara?


Yin Xiejie menghentikan langkahnya ketika melihat wajah Seung Yun memucat. " Kau baik-baik saja?" tanya Yin Xiejie.


"Kepalaku pusing," jawab Seung Yun. "Mungkin karena aku sedang mengidam. Sejak aku hamil aku sering muntah-muntah."


Tak lama setelah Seung Yun berbicara, tiba-tiba ia jatuh pingsan.


"Seung Yun! Tolong!" Yin Xiejie segera menggapai Seung Yun. Hyun Jae dan Kim Joon langsung menghampiri Seung Yun yang tergeletak pingsan di lantai. Kim Joon langsung mengangkat Seung Yun dengan khawatir.


"Hyeong, kita bawa dia ke rumah sakit," pinta Kim Joon.


* * * *


"Dia hanya kelelahan dan kurang asupan nutrisi dan vitamin. Di awal kehamilan biasanya wanita akan mengalami pusing dan mual. Maka dari itu seharusnya dia tidak boleh kelelahan dan harus banyak mengkonsumsi makanan yang bernutrisi dan minum vitamin." Dokter menjelaskan dengan jelas.


"Dokter, tolong jangan ceritakan pada siapapun bahwa Seung Yun pernah dibawa ke rumah sakit ini," pinta Hyun Jae.


"Tentu saja, Pak. Saya tahu bahwa saya harus merahasiakan ini. Baiklah, obat dan vitamin nya silahkan ambil di apotek. Saya sudah memberikan suntikan pada Seung Yun. Sebentar lagi dia akan segera siuman. Saya permisi." Dokter itu pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Kim Joon terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Hyun Jae.


"Tidak ada apa-apa. Hyeong, aku akan ke toilet dan setelah itu aku akan menebus obat dan mengambil obat di apotek," kata Kim Joon lalu berdiri.


"Baiklah, aku akan menunggu Seung Yun sampai ia sadarkan diri."


Kim Joon berjalan keluar dari kamar rawat Seung Yun. Bukannya berjalan ke toilet, Kim Joon malah berjalan menuju ruangan dokter. Ia berjalan dengan sangat tergesa-gesa. Ia masuk ke dalam ruangan dokter lalu menutupnya.


Beberapa menit kemudian, Kim Joon keluar dari ruang itu bersama seorang dokter. Mereka berjalan kembali ke ruang rawat. Sesampainya di sana, Hyun Jae bangkit dari duduknya ketika melihat Kim Joon dan dokter datang ke ruangan itu.


"Ada apa ini, Kim Joon?" tanya Hyun Jae bingung.


"Ada sebuah pemeriksaan yang sepertinya saya lewatkan. Kesehatan kandungan Seung Yun harus benar-benar diawasi. Maka dari itu saya akan memeriksa ulang kandungannya agar saya tahu prosedur apa yang harus dia lakukan," jawab dokter itu.


"Hyeong, ayo kita tunggu di luar," ajak Kim Joon.


Hyun Jae menatap mata Kim Joon. "Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari ku, kan?" tanyanya curiga.


Kim Joon tertawa. Ia menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, Hyeong. Aku tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu. Sudahlah, ayo kita pergi."


Hyun Jae setuju dan akhirnya ikut dengan Kim Joon keluar dari ruangan itu.


* * * *


Seung Yun sudah sadarkan diri. Kini sudah ada Hyun Jae dan Kim Joon yang menunggunya. Mata Seung Yun mencari sosok seseorang. Ia melihat ke sekeliling ruangan itu.

__ADS_1


"Oppa, di mana Yin XieJie?" tanya Seung Yun, suaranya masih pelan karena tenaganya belum pulih.


"Saat perjalanan ke sini, dia kembali lagi ke kantor karena Lee Jang Ho memanggil nya secara mendadak. Katanya ada urusan penting mengenai jadwalmu," jawab Hyun Jae.


"Terima kasih karena sudah mau menolongku," kata Seung Yun sambil tersenyum.


Kim Joon dan Hyun Jae membalas senyuman itu.


"Seung Yun, mulai sekarang kau jangan terlalu kelelahan dan jangan banyak pikiran. Kasihan anak yang kau kandung," kata Kim Joon.


"Baiklah," jawab Seung Yun masih dengan senyumnya.


Saat sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Jung Soo masuk ke dalam ruangan itu. Ia masih mengenakan pakaian sehari-hari. Kim Joon berdiri dan mempersilahkan Jung Soo untuk duduk di samping Seung Yun.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi anakku, bukan untuk menjenguk nya." Jung Soo memalingkan wajah dari Seung Yun.


Air mata Seung Yun tidak dapat dibendung lagi. Sepertinya Jung Soo sangat jijik hanya untuk sekedar menatap wajahnya. Dengan tangan kanan Seung Yun mengelap air matanya, lalu ia tersenyum kembali.


"Terima kasih sudah peduli dengan anak ini. Aku tahu kau sangat mencintai Ayli Hoon, maafkan ak-"


"Tidak perlu kau menyebut nama itu dengan mulutmu. Dengan menyebut namanya, kau telah menggores luka yang ingin aku lupakan."


Kim Joon dan Hyun Jae saling berpandangan. Mereka berpikir apakah begitu inginnya ia melupakan Ayli Hoon agar tidak menambah luka di antara mereka? Jung Soo sangat luar biasa. Ia harus merelakan cinta dan tidak mengedepankan ego.


"Baiklah, maafkan aku." Seung Yun tersenyum kecil. Ia merasa semakin bersalah.


"Sekarang perbanyak istirahat. Jangan banyak pikiran. Soal pernikahan kita, semua sudah aku siapkan dari sekarang. Kau hanya perlu menjaga anak itu."

__ADS_1


Setelah berbicara, Jung Soo langsung berbalik dan keluar dari ruangan itu. Ia tidak tahan untuk berlama-lama di sana. Setiap kali ia mengingat Seung Yun mengandung anaknya, maka ia juga akan mengingat Ayli Hoon yang sedang terluka.


__ADS_2