
Jam 9.00 pagi Young Hee berdiri di depan pintu apartemen 006. Young Hee ingin bertemu Ayli Hoon karena kemarin rencana makan siang mereka batal. Young Hee sengaja mengetuk pintu dengan keras sambil berteriak memanggil nama Ayli Hoon.
Untuk yang terakhir kalinya, Young Hee menendang pintu dengan keras. Alangkah terkejutnya ia setelah merasakan kakinya menendang sebuah kaki. Ternyata pintu telah dibuka dan Ayli Hoon terjatuh di depan pintu.
"Aduh, Young Hee, mengapa kau menendang ku." Ayli Hoon meringis sambil memegangi kaki kanannya.
"Maaf, aku tidak sengaja." Young Hee memegang kaki Ayli Hoon.
"Aww!!jangan disentuh!" jerit Ayli Hoon.
Terdengar pintu apartemen nomor 005 terbuka. Suara langkah kaki mendekat. Young Hee menoleh kebelakang dan seketika membelalakan matanya.
Bagaimana tidak, pria tampan dengan perawakan tinggi dan ramping, kulit putih, memiliki dua lipatan mata, rambut coklat dan begitu menawan. Pria itu begitu tampan, hingga membuat Young Hee terpesona.
"Ayli Hoon, apa yang terjadi?" Man shik berdiri tepat di belakang Young Hee.
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh," jawab Ayli Hoon santai.
"Baiklah, aku akan membantu mu berdiri."
Young Hee berdiri untuk mempersilahkan Man Shik membopong Ayli Hoon berdiri dan berjalan masuk kedalam apartemen.
Man Shik memijat kaki Ayli Hoon dengan lembut agar tidak terasa begitu sakit. Young Hee duduk di sofa di samping Ayli Hoon. Young Hee bisa melihat betapa perhatiannya Man Shik pada Ayli Hoon, sehingga ia berpikir bahwa Man Shik adalah kekasih Ayli Hoon.
Mereka bertiga belum berbicara sedikit pun, hanya Ayli Hoon yang terus mengaduh kesakitan. Setelah Ayli Hoon merasa sedikit membaik, ia pun meminta Man Shik untuk berhenti memijat kakinya dan mempersilahkan nya duduk. Man shik duduk berhadapan dengan kedua gadis itu.
Sambil memandang wajah Young Hee, Man Shik bertanya dengan lembut, "Apakah kau temannya Ayli Hoon?"
Young Hee mengangguk dengan malu-malu.
"Mengapa sebelumnya aku tidak melihat mu?" tanya Man Shik lagi.
Ayli Hoon memperbaiki posisi duduknya dan menjawab pertanyaan dari Man Shik dengan santai.
"Kami sudah berteman sejak aku pindah SMA ke Seoul. Selama kuliah aku tinggal di rumahnya. Kami berpisah karena aku memilih tinggal sendiri. Ini pertama kalinya dia datang ke sini, maka dari itu kau tidak pernah melihatnya."
Man Shik menganggukan kepala. Ia mengulurkan tangan untuk berkenalan. "Man Shik," ucapnya singkat.
"Young Hee," balas Young Hee dengan senyuman manis.
Matahari yang tertutup kabut musim dingin mulai meninggi. Mereka berbincang-bincang cukup lama. Man Shik dan Young Hee terlihat sudah cukup akrab satu sama lain.
__ADS_1
Sementara itu, wajah Ayli Hoon terlihat semakin pucat, terlihat lelah dan juga tubuhnya menggigil.
"Ayli Hoon kau pucat sekali. Apa kau sakit?" tanya Young Hee.
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Ayli Hoon sambil tersenyum.
"Aku tidak percaya. Kau selalu mengatakan kau baik-baik saja," kata Man Shik mengomel.
Man Shik memeriksa kening Ayli Hoon. Sambil merengut kesal, Man Shik mengomeli Ayli Hoon.
"Lihatlah kau demam, kau tidak pernah menganggap serius alergimu ini."
Ayli Hoon hanya diam saat Man Shik mulai mengomeli nya.
Suara dering ponsel Ayli Hoon berbunyi nyaring. Dengan segera Ayli Hoon mengambil ponselnya di atas meja dan menjawab panggilan
"Hallo Eonni ... tapi hari ini adalah hari liburku ... aku sedang tidak enak badan ... ok baiklah, demi dirimu aku akan membantu." Kemudian telepon ditutup.
(Eonni/언니 \= Panggilan perempuan yang lebih muda pada perempuan yang lebih tua.)
Ayli Hoon mendengus lalu memijat kakinya yang masih sedikit terasa sakit. Ia memandang Young Hee dan Man Shik secara bergantian. Kedua orang itu menjadi penasaran.
"Ada apa?" tanya Young Hee penasaran.
Ayli Hoon berusaha berdiri, akan tetapi ditahan oleh Man Shik
"Kau mau ke mana?" tanya Man Shik.
"Aku akan pergi kerja," jawab Ayli Hoon.
"Kau masih sakit."
"Tapi mereka sangat membutuhkan ku, lagi pula aku mendapat gaji tambahan."
"Tapi bagaimana kesehatanmu? aku tidak ingin kau bertambah parah."
"Aku akan minum obat, kakek tua cerewet," ejek Ayli Hoon.
Young Hee menggelengkan kepala. Ia ingin tertawa melihat bagaimana temannya dan Man Shik berdebat. Setelah cukup lama berdebat, akhirnya Man Shik pun mempersilahkan Ayli Hoon untuk berangkat kerja.
Man Shik dan Young Hee mengantar Ayli Hoon sampai ke teras gedung Seoky Apartment. Ayli Hoon tidak ingin diantar ke Nicefood karena ia membawa mobil ventaris dari Nicefood. Ayli Hoon masuk kedalam mobil, menyalakan mesin dan melesat cepat meninggalkan gedung apartemen.
__ADS_1
Young Hee dan Man shik masih berdiri di depan teras. Keduanya merasa canggung antara satu sama lain. Sebagai pria, Man Shik tau apa yang harus ia lakukan jika menghadapi gadis yang pemalu. Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu memasukan kedua tangan ke dalam saku celana. Dengan begitu Man Shik seperti model yang memperagakan salah satu pose.
"Kau mau pulang? Biar aku mengantarmu, tapi jika ingin tinggal dan menunggu Ayli Hoon pulang, mari kita berbincang di bangku taman itu," kata Man Shik sambil menunjuk bangku taman yang berada di bawah pohon.
Sambil tersenyum malu, Young Hee mengangguk setuju.
* * * *
Di gedung NSK tv, tepatnya di ruang tunggu, Hyun Jae yang mengenakan Jas hitam sedang duduk dengan santai di sofa. Ia sedang menuggu Jung Soo yang sedang mengisi sebuah talk show.
Ruang tunggu itu sangat indah, dihiasi perabot yang indah dan pastinya mahal. Sofa dan meja disusun rapi untuk tamu penting atau para artis yang beristirahat. Pada siang itu, di ruangan hanya ada Hyun Jae yang duduk menunggu Jung Soo.
Hyun Jae berdecak lidah karena begitu bosan menunggu dua jam lebih. Seorang pria sekitar umur 50-an bertubuh sediki gemuk dan berpostur pendek, memakai jaket tebal masuk ke dalam ruang tunggu. Ia menghampiri Hyun Jae dan ikut duduk di sofa.
"Selamat pagi menjelang siang," sapa pria itu.
"Oh, selamat pagi menjelang siang juga, Pak. Sedang tidak sibuk?" tanya Hyun Jae dengan sopan dan ramah.
"Ya begitulah, ini hampir jam makan siang tentu saya tidak terlalu sibuk," jawab pria itu.
"Oh ya, saya baru memesan ketring untuk makan siang Jung Soo dan kita semua. CEO Kim Park Lee juga akan mampir dan ikut makan siang bersama. Tapi, pihak gedung ketring mengatakan mereka mungkin akan sedikit terlambat karena mereka sangat sibuk." Pria itu berbicara lagi dengan santai namun tetap sopan.
"Sebelumnya saya minta maaf, tapi sebaiknya Pak Koroshi tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan untuk kami. Jam 1.00 nanti kami harus pergi ke acara jumpa fans." Hyun Jae memasang mimik menyesal.
"Oh iya pasti jadwal Jung Soo sangat padat. Tidak apa-apa, tidak perlu merasa tidak enak." pria yang bernama Koroshi itu tersenyum ramah.
"Nah itu Jung Soo, dia sudah selesai," kata Koroshi senang melihat kedatangan Jung Soo.
Jung Soo menyalami Koroshi dengan seulas senyum yang ramah.
"Pak Koroshi sudah pulang dari Jepang, katanya mau ambil cuti panjang?" tanya Jung Soo.
Jung Soo duduk di samping Hyun Jae. Ia mengambil ponsel yang ia titipkan pada Hyun Jae sebelum masuk ke studio tadi. Sambil tertawa Koroshi mengubah posisi duduknya lalu berbicara dengan santai.
"Ya bagaimana lagi, produser mana bisa cuti terlalu lama. Lagi pula ayah mertuaku sudah membaik dan sudah pulang dari rumah sakit. Jadi saya balik lagi ke Korea secepatnya."
"Kau tidak kedinginan hanya mengenakan kemeja putih itu?" tanya Koroshi
"Sebenarnya dingin Pak, tapi bagaimana lagi, tidak mungkin saya syuting menggunakan jaket musim dingin, syal, dan topi berbulu. Nanti saya dikira sushi yang dibungkus," canda Jung Soo.
Hyun Jae membuka ponsel miliknya. Ia sedang melihat Jadwal Jung Soo selanjutnya.
__ADS_1
"Pak, kami harus pamit sekarang. Kami takut terlambat di acara berikutnya," kata Hyun Jae sambil berdiri dan memasukkan ponsel kedalam saku jas hitamnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan dan semoga semakin sukses," kata Koroshi sambil menjabat tangan keduanya.