
Hyun Jae sibuk dengan setumpuk kertas yang memenuhi meja kerjanya. Dari pagi sampai siang ia belum istirahat. Ia sibuk merekapitulasi biaya pengeluaran dan pemasukan Jung Soo untuk agensi, mengatur jadwal Jung Soo untuk minggu depan, menerima kerja sama iklan, konser dan lain-lain.
Wajar saja Hyun Jae sesibuk itu karena ia merangkap sebagai akuntan Jung Soo. Ia menghitung dan mencatat mengenai biaya produksi, total penjualan album, dana yang diberikan untuk Jung Soo dan penghasilan yang diberikan Jung Soo untuk agensi.
Sibuk dengan berkasnya, Hyun Jae sampai tidak menyadari CEO Kim Park Lee memasuki ruangannya.
Kim Park Lee duduk di hadapan Hyun Jae yang masih tidak menyadari keberadaan nya. Ia pun mendeham, "Ekhem".
Hyun Jae terkejut hingga hampir melemparkan kertas yang berada di tangannya.
"Serius sekali," sapa Kim Park Lee.
"Hyeong, aku sangat terkejut." Hyun Jae menenangkan jantungnya.
"Ya begitulah Hyeong, aku harus menata ulang jadwal Jung Soo." Hyun Jae tersenyum pada pria yang berjarak usia 8 tahun dengan nya.
"Ke mana Jung Soo?" tanya Kim Park Lee.
"Dia sedang menjenguk Ayli Hoon," jawab Hyun Jae. Setelah selesai dengan berkasnya, kini Hyun Jae bisa berbicara dengan santai.
"Oh ya Hyeong, aku mendengar dari Gyeong Hi bahwa anak keduamu sudah lahir, apakah itu benar?" tanya Hyun Jae.
"Ya, dua hari yang lalu istriku sudah melahirkan di rumah sakit, dan anakku lahir dengan sempurna," jawab Kim Park Lee.
"Bagaimana tentang asistennya Lee Jang Ho?" tanya Hyun Jae.
"Saat rapat kemarin, Kang Ditta sudah menyesali dan meminta maaf. Dan Lee Jang Ho tidak bisa memecat dia karena tidak mudah mendapatkan asisten baru, akan banyak hal yang harus dia perkenalankan ulang kepada asisten baru. Jadi Lee Jang Ho memilih untuk memberikan kesempatan pada Kang Ditta," jawab Kim Park Lee.
"Bagaimana tentang Ayli Hoon?" tanya Hyun Jae lagi.
"Hasil rapat kemarin juga, kita sepakat untuk tetap merahasiakan identitasnya. Jangan sampai ada yang tahu bahwa Ayli Hoon lah orang yang diberitakan itu."
__ADS_1
Mereka berbicara banyak hal, mulai dari hal pekerjaan sampai membicarakan hal sehari hari. Kim Park Lee pamit pergi karena harus mengurus kerja sama dengan agensi JC Entertainment.
* * * *
Suasana restoran itu begitu tenang pada pukul 8.00 malam. Suara di restoran itu tidak berisik walau banyak pengunjungnya. Terlihat bahwa pengunjung rata-rata memiliki pasangan karena restoran itu merupakan salah satu restoran yang terkenal romantis. Penerangan nya ditambah dengan lilin-lilin merah, bunga yang harum di setiap meja, dan lampu kecil yang berkerlap-kerlip menghiasi pilar restoran.
Jung Soo dan Ayli Hoon berkunjung ke restoran itu setelah lelah bermain di kebun binatang. Jung Soo meneguk jus jeruknya, ia telah menghabiskan makan malamnya. Sedangkan Ayli Hoon masih memainkan sendok, makananannya belum habis. Jung Soo memperhatikan mata Ayli Hoon yang sedang menatap makanannya dengan pandangan kosong.
"Kenapa? Apa kau merasa takut berada di tempat ramai?" tanya Jung Soo.
Ayli Hoon menggelengkan kepala.
Jung Soo tidak tahan melihat wajah Ayli Hoon yang terlihat sedang memikirkan masalah, ia pun berniat untuk menghiburnya.
"Ayli Hoon, apakah kau suka tempat ini?"
Jung Soo berusaha membuat Ayli Hoon berbicara.
Gadis itu mengangkat wajah dan menatap Jung Soo lalu memperhatikan sekeliling restoran.
"Lain kali jika kau mau, aku ingin mengajak mu ke restoran makanan Indonesia. aku ingin tau makanan Indonesia."
Ayli Hoon hanya tersenyum, ia meletakan sendok yang sedari tadi ia pegang. Ayli Hoon melihat kesekitarnya. Orang-orang terlihat bahagia makan malam bersama pasangan dan keluarganya.
"Mengapa kau tidak menghabiskan bulgogi nya?" tanya Jung Soo.
"Aku tidak selera makan."
Jung Soo mengambil piring yang ada di hadapan Ayli Hoon, menyendok sesuap bulgogi, lalu menyodorkan sendok itu tepat di depan mulut Ayli Hoon.
Ayli Hoon mengerutkan alis karena tidak mengerti apa yang dilakukan oleh pria di hadapannya itu.
__ADS_1
Jung Soo tersenyum lalu berkata, "Jika kau tidak selera makan, aku akan menyuapi mu. Bulgogi di sini sangat enak. Ayo buka mulutmu."
Ayli Hoon tersenyum lebar. Dengan ragu, ia membuka mulutnya. Sesuap demi sesuap masuk ke dalam mulutnya.
Jung Soo menyuapi Ayli hoon sambil menatap mata yang bersinar itu, begitu juga dengan Ayli Hoon. Mata mereka memancarkan kebahagian. Baru kali ini Ayli Hoon merasa begitu nyaman berada di dekat seorang pria.
Setelah selesai makan, Jung Soo memanggil pelayan lalu membayar makanannya. Jung Soo mengajak Ayli Hoon untuk pulang karena hari sudah malam dan Ayli Hoon butuh istirahat. Mereka berjalan ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil Jung Soo.
* * * *
Kamar tidur yang luas sudah hancur berantakan. Bantal berserakan di mana-mana, cermin makeup pecah, dan peralatan makeup berserakan dan hancur di bawah lantai. Di sudut tempat tidur, Seung Yun sangat marah besar, rambutnya acak-acakan, dan nafasnya tersenggal-senggal.
"Akh..mengapa? Mengapa Jung Soo semarah itu pada ku? Dan kenapa aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu?"
Seung Yun merasa sangat kesal, kini imagenya hancur di depan Jung Soo dan para petinggi ArtD. Jika ia dikeluarkan oleh ArtD Entertainment, maka orang pertama yang akan ia cari adalah Ayli Hoon. Menurut Seung Yun, semua ini terjadi karena gadis itu.
Dengan menggunakan pakaian dress pendek selutut berwarna phink, Seung Yun pergi meninggalkan kamar.
Sesampainya di ruang tengah, Seung Yun dihentikan oleh Chung Kwon.
"Seung Yun kau mau pergi kemana malam-malam begini?"
Seung Yun tanpa menoleh memutar matanya. "Bibi, aku mohon jangan atur-atur aku. Ke manapun aku pergi, sama sekali bukan urusanmu." Seung Yun berbicara datar dan dingin.
Chung Kwon berjalan untuk berhadapan dengan Seung Yun. Ia berdiri tepat di depan Seung Yun lalu berpangku tangan.
"Sebenci apapun kau terhadap ku, kau tetap anakku," kata Chung Kwon tegas.
Seung Yun hanya membuang muka dan tersenyum masam. "Kau pikir kau bisa mengganti semua waktu saat kau meninggalkan ku? Kau lebih memilih suami barumu itu, kan?"
Tanpa berkata-kata lagi Seung Yun menyingkirkan Chung Kwon dari jalannya dengan kasar.
__ADS_1
Ibunya hanya menghela nafas dalam, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Walau berusaha sekeras mungkin, tetap saja tidak bisa membuat Seung Yun menganggap dan menghargainya sebagai seorang ibu.
"Oh Tuhan, bantulah aku untuk mencairkan hatinya yang keras." Chung Kwon berkata pelan sambil melihat Seung Yun yang mulai masuk mobil dan meninggalkan rumah besarnya.