
"Pelan-pelan Hyeong, santai saja."
Jung Soo memanggil Hyun Jae yang berjalan cepat di depannya. Sementara itu ia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya. Cuaca masih sangat dingin walau sudah jam 12.00 lewat.
Di halaman gedung itu, mobil putih baru saja berhenti dan parkir di sebelah mobil merah. Ayli Hoon turun dari mobil. Ia berpakian seragam berwarna merah tua dari Nicefood. Setelah turun, Ayli Hoon memeriksa dan menyusun ulang kotak ketring dalam kantong putih.
"Hmmm pasti Kang Chungi mendapat pesanan khusus. Kotak makanannya saja sangat bagus, tidak seperti biasanya," kata Ayli Hoon pelan.
Hyun Jae lebih dulu sampai di dekat mobil dibandingkan Jung Soo yang sedang jalan santai di belakangnya. Jung Soo melihat layar ponsel dengan serius. Hyun Jae masuk kedalam mobil, sedangkan Jung Soo sama sekali tidak memerhatikan jalannya.
Jung Soo sampai di dekat mobil. Ketika ia membuka pintu mobil dengan kuat, pintu itu sedikit tertahan. Ternyata pintu itu menyenggol Ayli Hoon dengan kuat sehingga Ayli Hoon tersungkur dan terluka dibagian telapak tangan.
"Aduh!! Lagi-lagi jatuh! Aduh......sakitnya kakiku!"
Kata-kata itu keluar dalam bahasa yang tidak di mengerti oleh Jung Soo.
Hyun Jae yang sudah duduk di dalam mobil, turun kembali dari mobilnya. Jung Soo juga langsung menolong gadis itu. Ia memegang kedua lengan Ayli Hoon lalu membantunya berdiri. Ayli Hoon mendongak ke atas, pada Jung Soo. Ia sangat kagum atas ketampanan pria yang membuatnya jatuh.
Jantung Ayli Hoon menjadi berdebar-debar. Pria itu tinggi, perawakannya seperti seorang model, hidung mancung, memiliki garis kelopak mata ganda, alis yang tebal, rambut hitam dengan bagian depan yang diberi poni. Pria itu juga memiliki bibir yang tipis dan memiliki pahatan rahang yang sempurna. Benar-benar tampan, begitu pikir Ayli Hoon.
"Mengapa Anda berdiri disitu?" kata Jung Soo dengan wajah tidak bersalah.
Seketika itu Ayli Hoon menjadi marah, ternyata wajah tampan Jung Soo yang mampu membius jutaan wanita tidak dapat membius Ayli Hoon. Ayli Hoon meninggikan suaranya dan memelototi nya.
"Hei! Siapa yang salah? Anda jalan tidak lihat-lihat dan membuka pintu mobil sembarangan." Ayli hoon meringis kesakitan.
Jung Soo hanya terdiam di tempat tanpa berkata sepatah kata pun. Ia malah melihat mata dan wajah Ayli Hoon dengan lekat.
Hyun Jae sudah berdiri di samping Jung Soo. Ia menepuk bahu Jung Soo pelan.
"Maafkan teman saya ini. Apakah ada yang bisa saya dan teman saya bantu untuk menebus kesalahannya?" tanya Hyun Jae.
"Oh, tidak perlu Tuan, Anda tidak perlu membantu saya. Teman Anda ini hanya perlu menyadari bahwa seharusnya dia meminta maaf," jawab Ayli Hoo ketus.
Ayli Hoon menjinjing kantong yang jatuh dan berjalan terpincang-pincang meninggalkan kedua pria tersebut. Ingin sekali ia melemparkan kantong itu pada Jung Soo, pria yang sudah membuatnya jatuh. Tapi sayangnya itu adalah katering pesanan NSK tv.
"Sepertinya kaki Anda terkilir. Bisakah saya bantu membawakan kantong itu?" Hyun Jae bicara saat Ayli Hoon belum jauh.
__ADS_1
Ayli Hoon berbalik badan lalu seuntas senyum tersungging dari bibirnya. Namun senyuman itu terkesan sangat terpaksa.
"Tidak perlu Tuan, saya bisa sendiri. Urusi saja teman Anda itu agar tidak mendorong orang lagi." Ayli Hoon berbalik dan meneruskan jalannya.
Jung Soo berbalik badan untuk melihat Ayli Hoon yang berjalan membelakanginya. Matanya tidak lepas dari gadis itu. Sepertinya Jung Soo sedang memikirkan sesuatu. Hyun Jae menarik Jung Soo agar ikut masuk ke dalam mobil.
"Setidaknya kau harus minta maaf, itu memang salahmu. Kau hanya diam, entah apa yang kau pikirkan." Hyun Jae menasehati.
Jung Soo dan Hyun Jae masuk ke dalam mobil. Mobil merah yang ditumpangi kedua pria itu pergi meninggalkan halaman parkiran.
Ayli Hoon terduduk dan memijat kakinya yang bertambah sakit. Ia sangat kesal pada Jung Soo. Menurutnya, pria itu memang sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Kim Joon yang ia idolakan. Akan tetapi, pria itu juga sangat menyebalkan.
"Permisi, apakah Anda baik-baik saja? Apa saya bisa membantu Anda?"
Ternyata ada seorang staf kantor yang tengah berdiri di dekat Ayli Hoon. Pria itu terlihat sangat ramah. Melihat keramahan pria itu, akhirnya Ayli Hoon menerima bantuan nya.
"Sebenarnya saya tidak ingin merepotkan Anda, tapi saya tidak sanggup untuk melakukannya sendiri. Apakah Anda bisa membantu saya membawakan ketring ini kelantai tiga?" tanya Ayli Hoon.
Pria itu mengangguk dan membantu Ayli Hoon berdiri kemudian membawa kantong-kantong ketring di kedua tangannya.
"Baik Nona, mari," ajak pria itu.
* * * *
Young Hee dan Man Shik sedang duduk di bangku taman Seoky Apartemen. Pada sore dan pagi hari, pemandangan di halaman gedung apartemen itu sangatlah indah.
Ada enam bangku taman yang tersusun rapi di bawah pohon yang besar, bunga-bunga yang tumbuh di pot tertata rapi pada sekeliling teras apartemen. Halaman Seoky Apartemen luas karena letak apartemennya yang lumayan jauh dari jalan besar kota Seoul.
"Oh, jadi dulu Man Shik oppa adalah seonbae nya Ayli Hoon." Young Hee memberikan senyum pada Man Shik.
(Oppa / 어빠 \= panggilan wanita yang lebih muda kepada pria yang lebih tua). (Seonbae /선배 \= kakak kelas ).
"Ya, itu saat masih SMA, kami sama-sama sekolah di Gangneun. Seharusnya aku sudah lulus SMA sebelum dia masuk sekolahku. Tapi karena aku berhenti setahun, jadi aku menjadi kakak kelasnya."
"Satu tahun bersekolah di Gangneun, Ayli Hoon pindah sekolah. Sejak itulah kami tidak bertemu. Satu tahun yang lalu kami bertemu lagi di apartemen ini. Ternyata dia sudah pindah ke kota Seoul," jelas Man Shik.
Mereka duduk di bangku taman Seoky Apartemen sambil melihat langit sore kota Seoul yang dilanda musim dingin. Walau sederhana, tempat itu sangat indah. Begitu nyaman sehingga Young Hee pun berpikir ingin pindah ke Seoky Apartment.
__ADS_1
"Kalian sangat akrab, tapi kenapa Ayli Hoon tidak memanggil mu Oppa?" Young Hee bertanya lagi.
"Dia memang begitu, jika ingin lebih akrab dengannya, biarkan dia memanggil nama saja," jawab Man Shik.
Young Hee menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Ayli Hoon memang unik. Mungkin itu karena dia besar di Indonesia. Dia sangat pintar, apalagi dalam hal berdebat. Aku tidak pernah menang saat berdebat dengannya, dan kalau dia sedang marah, dia akan sangat senang berdebat." Young Hee tersenyum sendiri membayangkan sahabatnya itu.
"Ya, tapi kau juga unik." Man Shik tanpa sadar berbicara pada dirinya sendiri.
Young Hee menatap wajah Man Shik yang sedang memandang tangannya sendiri. Young Hee mengerutkan alisnya.
"Unik? dari mana sisi uniknya?" Young Hee tertawa tidak percaya.
Man Shik ikut tertawa. "Ya bagiku kau unik. Aku sendiri tidak tahu dari sisi mana uniknya," jawab Man Shik sambil tersenyum lebar.
Man Shik menatap wajah Young Hee. Tiba-tiba Young Hee merasa sangat canggung saat Man Shik menatap wajahnya dengan dalam dan cukup lama. Ia pun mengalihkan pandangan pada pohon bunga yang ada di depannya.
"Bukankah kau lahir di Gyeonggi? Kenapa sekolah di Gangneun?" tanya Young Hee mencoba mengalihkan pertanyaan.
Man Shik pun mengalihkan pandangannya dari Young Hee. "Maaf, itu alasan pribadi. Aku belum bisa menceritakannya pada siapa pun," jawab Man Shik.
Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Man Shik tidak ingin banyak bercerita tentang kehidupannya dan adik yang sangat ia sayangi. Menyadari akan ketidak nyamanan Man Shik, Young Hee pun mengalihkan topik pembicaraan lagi.
"Suasana di sini sangat indah ya. Aku yakin saat musim dingin ini berakhir dan memasuki musim semi, pasti dua pohon sakura itu akan berbunga dengan indah," kata Young Hee.
Man Shik tersenyum, matanya beralih pada dua pohon yang tak jauh dari mereka. "Iya benar, aku tidak sabar menantikan itu," kata Man Shik menanggapi.
"Iya, aku juga," kata Young Hee sambil menengadah untuk melihat langit.
Mereka sedang asik bercerita, mobil putih datang dan parkir di depan apartement. Man Shik mengalihkan pandangannya pada mobil yang jaraknya beberapa langkah di depannya.
Ayli Hoon keluar dari mobilnya sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Ayli Hoon jalan terpincang-pincang. Man Shik langsung berdiri dan berjalan menghampiri Ayli Hoon yang kemudian disusul oleh Young Hee.
"Ayli Hoon, sepertinya kakimu bertambah parah dan....wajahmu pucat sekali." Man Shik sangat mengkhawatirkan Ayli Hoon.
"Sudah ku bilang jangan bekerja," lanjut Man Shik.
__ADS_1
"Sudah jangan mulai berdebat lagi, lebih baik kita masuk ke dalam," kata Young Hee.
Man Shik menuntun Ayli Hoon masuk kedalam, dan Young Hee membawakan tas tangan Ayli Hoon.