
PART 22 TERUNGKAPNYA IDENTITAS
Pertarungan kedua saudara itu belum berakhir, Qin chen memulihkan diri setelah menerima serangan tapak Qin tian pada tinjunya.
“Aku sudah berlatih banyak tentang keterampilan fisik, namun aku tau tidak ada yang lebih ahli dalam hal keterampilan fisik selain dirimu” ucap Qin chen pada sosok bertopeng itu membuat Qin nan dan para penonton tercengang.
“Ternyata mereka saling mengenal” ucap para penonton
“Siapa sebenarnya sosok bertopeng itu” gumam para penonton semakin penasaran
Di sisi lain para peserta juga tidak kalah terkejutnya mendengar itu, terlebih Qin feiyan di kursi murid tingkat pemula yang berteman dengan Qin chen bahkan tidak mengetahui jika Qin chen memiliki teman yang sangat kuat.
Sosok tetua klan saling berpandangan
“Sosok bertopeng itu adalah teman tuan muda, siapa dia. Kenapa kita tidak pernah melihatnya” ucap mereka saling bertanya
Di kursi kehormatan, Qin Nan juga tidak kalah terkejutnya melihat anaknya yang ternyata mengenali sosok bertopeng itu.
Di dunia kultivator, kekuatan seperti sosok bertopeng itu melebihi kata sempurna, karena memiliki kekuatan fisik dan mental yang kuat sejalan dengan kekuatan spiritualnya.
Whuss. . . Qin chen mengedarkan kekuatan spiritualnya
Qin tian di sisi lain juga mengedarkan kekuatan spiritualnya.
Pertarungan berlanjut dengan kekuatan spiritual.
Dua cahaya berbeda dengan cepat bergerak dari arah berlawanan lalu saling bertabrakan, mengakibatkan efek ledakan yang dahsyat.
Cahaya itu terus saling bertabrakan dengan kecepatan yang sangat cepat, membuat para pendekar pemula tahap dasar tidak bisa melihatnya.
Cahaya itu berhenti, menampakkan dua sosok dengan balutan cahaya berbeda yang berjarak sekitar tujuh meter bersiap kembali saling menyerang.
Qin chen membentuk segel tangan, cahaya kuning di sekitar tubuh Qin chen semakin banyak dan memekat, lalu membentuk tombak tombak berwarna kuning yang menghadap Qin tian bersiap melancar.
Qin tian di sisi lain juga dengan segera membentuk segel tangan, cahaya putih kebiruan muncul di depan Qin tian lalu semakin banyak, cahaya itu kemudian membentuk tapak dengan ukuran raksasa menghadap Qin chen.
Qin tian dan Qin chen bersama sama melepaskan serangan spiritual mereka.
Puluhan tombak kuning melesat ke depan menyerang ke arah Qin tian, sementara di arah lain tapak raksasa berwarna putih kebiruan juga bergerak menyerang ke arah Qin chen.
“Dhuar... Dhuar...
Suara bergema saat tombak tombak kuning itu menghantam tapak putih raksasa.
Tombak kuning itu hancur, namun tidak meninggalkan bekas apapun pada tapak raksasa itu, tapak itu terus bergerak ke depan dengan cepat.
Qin Chen yang melihat bahaya itu segera memadatkan kekuatan spiritualnya menjadi perisai kuning transparan.
__ADS_1
Tapak itu terus maju menuju Qin chen, meskipun puluhan tombak kuning terus menghantamnya.
Whung. . . udara terdistorsi saat tapak raksasa itu berubah semakin membesar.
Dhuar. . . Ledakan dahsyat terjadi saat tapak raksasa itu menghantam pelindung Qin chen lalu memecahkannya hingga mengirim Qin chen hampir keluar dari arena pertarungan.
“Saudara chen!” teriak Qin tian saat melihat Qin chen terlempar dengan darah segar mengali dari sudutnya bibirnya.
Qin tian tidak menyangka kekuatan serangan tapak raksasa itu sangat kuat, meskipun serangan itu hanya menggunakan dua puluh persen dari kekuatannya.
“Saudara Chen maaf” ucap Qin tian menghampiri Qin chen.
Qin Tian mengangkat tangannya akan menyerah
“Aku menyerah” ucap Qin Chen mendahului Qin Tian
“Apa yang terjadi” gumam para penonton melihat adegan yang sangat membingungkan itu.
Tetua yang memandu jalannya sekesi itu juga terdiam bersama tetua pemukul gong, siapa yang menyerah dan siapa yang akan mereka anggap menyerah.
“Siapa pemuda bertopeng itu, sepertinya sangat dekat dengan tuan muda Chen” ucap para penonton saling bertanya.
“Tetua aku yang menyerah” ucap Qin tian kepada para tetua.
“Tidak tetua, aku yang lebih dulu menyerah” ucap Qin chen
“Iya, benar tetua” ucap para peserta lain mengiyakan
“iya, itu benar”
“Itu benar” ucap para penonton menginginkan keduanya dimenangkan
“Tidak bisa, itu adalah aturan resminya, kami tidak bisa mengubahnya” ucap tetua menjelaskan setelah berunding dengan para tetua lainnya.
“Baiklah, jika begitu aku saja” ucap Qin tian
“Saudara, aku pernah berjanji kepadamu untuk memberikan hadiah saat kau kembali dari wilayah terlarang, hari ini aku memberikannya untukmu, yaitu kemenangan ini” ucap Qin chen membuat alasan.
Mendengar pernyataan itu semua orang di sana terkejut termasuk Qin nan dan feiyan.
Di sisi lain, Qin Hun semakin takut pada sosok bertopeng itu karena mengetahui sosok bertopeng itu adalah Qin tian yang sering ia permainkan karena hanya Qin tian yang beberapa waktu terakhir ini pergi ke wilayah terlarang.
Qin tian yang tidak memiliki alasan untuk menolak hanya bisa menerima kemenangan yang di berikan Qin chen padanya.
Whuss. . . Qin meng tian turun dari tempatnya ke arena pertandingan.
"Itu. . . bukan kah itu sang jenius yang terjatuh” ucap para penonton melihat Qin Meng tian yang turun dari tempatnya menuju arena pertandingan.
__ADS_1
“Apakah itu sang jenius yang legendaris?” ucap para peserta yang tidak tahu kabar kejatuhan Qin meng tian, mereka adalah para murid cabang dan murid yang berlatih di luar klan.
“Iya, namun sekarang orang menyebutnya sang jenius yang terjatuh” ucap Qin Du menjelaskan dengan rinci setiap kejadian itu pada mereka.
“Orang yang berkata seperti itu adalah sampah, sang jenius tetaplah jenius, hanya mereka yang tidak pernah merasakan kerasnya pelatihan yang menganggap seperti itu” ucap Qin Xiao yang diikuti anggukan Qin Wuji.
Qin meng tian yang berjarak jauh dari mereka menatap kearah Qin Xiao.
“Anak muda, terimakasi. Namun apa yang orang lain katakana itu benar, kini aku bukan sang jenius yang legendaris lagi” ucap Qin meng tian dengan tenaga dalamnya sehingga terdengar dekat oleh Qin Xiao dan rombongannya.
“He… hebat, dari jarak sejauh itu dia bahkan bisa mendengar semua pembicaraan kita” ucap murid lain mengagumi kehebatan Qin meng tian.
“Seperti dugaan ku” batin Qin Xiao
“Ayah…” ucap Qin Tian yang tidak bisa menahan kerinduannya berlari lalu memeluk sosok paruh baya yang mendekati mereka di ikuti Qin chen yang berjalan di belakang Qin tian
tanpa bisa menahan kerinduannya, tanpa terasa butir kristal yang murni keluar dari sudut mata Qin Tian dan Qin Meng tian.
“Apa….”
“Ternyata sosok bertopeng itu putra dari sang jenius” gumam para penonton tidak percaya
“Bukankah dia sebelumnya adalah sang sampah klan?” timpal yang lainnya
“Apa kau dengar tuan muda chen menyebut wilayah terlarang, apakah sosok itu sebelumnya pergi ke wilayah terlarang yang membuatnya menjadi kuat seperti sekarang” ucap penonton yang lain.
Whuss. . . Qin Nan turun dari tempatnya mendekati Qin tian dan Qin meng tian
“Ayah…” ucap Qin Chen dengan hormat
“Paman” ucap Qin tian juga dengan hormat
“Chen er, bagaimana kau tau jika sosok bertopeng ini ternyata adalah tian er” ucap Qin nan dengan tersenyum sambil mengelus kepala Qin tian yang telah membuka topengnya.
Qin chen lalu menjelaskan dirinya mengetahui jika sosok bertopeng itu adalah Qin tian saat pertama mereka memulai pertarungan.
Dia mengingat kata kata yang sama yang pernah Qin tian ucapkan, tentang ingin bertarung bersamanya, mereka juga telah berjanji akan melakukan pertarungan kekuatan fisik dan kekuatan spiritual secara terpisah saat sebelum Qin tian berangkat menuju wilayah terlarang.
“Saudara kedua…” ucap Qin nan menatap Qin meng tian yang ternyata juga tahu jika sosok bertopeng itu adalah Qin tian.
“Aku sudah lama mengetahuinya. Aku tahu saat tian er mengeluarkan kekuatan jiwanya” jawab Qin meng tian dengan tersenyum.
Qin meng tian lalu menjelaskan, jika setiap orang memiliki aura yang berbeda namun aura itu dapat berubah seiring dengan perubahan yang dialami orang tersebut.
Selain itu aura spiritual juga bisa disembunyikan dan bahkan diubah dan ditiru, itu yang membuat Qin meng tian tidak mengenali Qin tian pada awalnya.
Namun kekuatan jiwa, yang pada dasarnya adalah kekuatan sejati juga memancarkan aura seperti kekuatan spiritual, namun aura ini relatif pasif dan sulit untuk ditiru, itu yang membuat Qin Meng tian tahu jika sosok bertopeng itu adalah putranya, karena aura jiwanya sangat persis dengan milik Qin tian saat ia mengajari Qin tian di hutan bambu emas.
__ADS_1