
PART 9. PERTARUNGAN MELAWAN SINGA RAMBUT EMAS
Qin Tian terus berjalan dengan waspada menuju arah gunung Shi Shan sambil memetik mutiara hewan buas yang berasal dari kawanan hewan buas yang tiba tiba mati di sepanjang jalan yang akan ia lewati.
Mutiara hewan buas merupakan inti kehidupan dari binatang yang berkultivasi.
Mutiara itu terbentuk dari kekuatan murni hewan buas yang terkristalisasi selama hewan itu melakukan proses kultivasi.
Mutiara hewan buas termasuk sumber daya tingkat tinggi karena dapat membantu peningkatan kultivasi dengan cepat.
“I… ini” ucap Qin tian terbata sambil memegang sebuah bola transparan sebesar kepalan tangan orang dewasa yang mengeluarkan cahaya kuning dengan tiga pola melingkar membalut bola itu.
“Mutiara hewan spirit bintang tiga” lanjutnya seakan tidak percaya
Mutiara hewan buas disebut juga Mutiara hewan spiritual yang terdiri dari sepuluh tingkatan.
Tingkatan pertama mutiara hewan spiritual bintang satu merupakan mutiara hewan yang berasal dari hewan dengan kultivasi tingkat pemula, mutiara hewan bintang dua berasal dari hewan dengan kultivasi tingkat peserta, mutiara hewan bintang tiga berasal dari binatang dengan kultivasi tingkat master, mutiara hewan bintang empat berasal dari binatang tingkat grand master, mutiara hewan bintang lima berasal dari binatang dengan kultivasi tingkat raja, dan seterusnya hingga bintang sepuluh yang berasal dari binatang dengan kultivasi tingkat surga.
Sebagaimana tingkatan kultivasi yang masih menjadi misteri, tingkatan mutiara hewan juga masih menjadi misteri jumlah tingkatan sebenarnya.
Legenda mengatakan selain sepuluh tingkatan itu, ada binatang kuno yang disebut binatang suci merupakan binatang warisan dari para dewa yang memiliki tingkatan berbeda di atas sepuluh tingkatan tersebut.
…. …. …. …. ….
Setelah lama berjalan tanpa menghitung hari perjalanannya, Qin tian tanpa sadar memasuki bagian dalam wilayah terlarang, yang berarti dirinya diterima oleh wilayah terlarang.
“Ini aneh, kenapa tidak ada binatang buas yang mati lagi” batin Qin tian yang tidak melihat ada hewan buas yang mati maupun yang bergerak mendekatinya.
Di sana hanya terlihat pohon pohon besar dengan sulur menjalar dari atas ke bawah pohon itu, akar akar besar yang menggelayut di berbagai tempat, tumbuhan tumbuhan aneh dan hewan kecil menggeliat di tanah, yang memberi kesan tak tersentuh pada kawasan dalam hutan itu.
“Ini…” Qin tian terkejut saat melihat lima gunung yang lebih besar dari gunung lainnya tertanam berjajar di depannya yang berhadapan langsung dengan lima gunung lain yang berada di timur dari arahnya, sepuluh gunung raksasa itu seperti melindungi sebuah gunung yang berada di tengah sepuluh gunung itu.
“Apakah ini yang orang sebut gunung Shi Shan” ucap Qin tian yang baru menyadari penyebab hilangnya binatang buas yang mati di depan jalannya itu karena dia sudah memasuki kawasan gunung Shi Shan.
__ADS_1
Setelah menyadari dirinya berada di kawasan gunung shi Shan Qin Tian kembali mengeluarkan pedang pemberian ayahnya dari cincin penyimpanannya lalu melanjutkan perjalanan dengan menambah lebih hati hati.
…. …. …. ….
Tiga haru sudah berlalu, namun Qin Tian belum berhasil melewati jalur perjalanan yang harus dilewati untuk mencapai gunung leluhur.
Saat Qin tian mencari tempat untuk beristirahat, Qin tian tiba tiba dikejutkan oleh aura kehadiran dari hewan buas yang sangat kuat.
Dari persepsi yang Qin tian rasakan itu adalah hewan buas dengan kekuatan tingkat raja atau lebih kuat.
Tidak mau mengambil risiko, Qin tian memilih beristirahat di tempat yang agak jauh dari binatang itu.
Namun belum sempat Qin tian melangkah tiba tiba ia merasakan hewan itu bergerak mendekat kearahnya.
“Woarr” auman terdengar dengan menampakkan sosok singa dengan rambut emas bermata kuning bergerak sangat cepat menuju arah Qin Tian.
Dengan perbedaan kekuatan yang sangat jauh itu membuat Qin tian tidak mampu berlari lebih cepat dari sosok singa itu.
“Roarr…” auman singa itu terdengar sekali lagi, namun kali ini auman itu dikeluarkan dengan kekuatan spiritual sang singa yang dengan aumannya saja membuat Qin Tian terjatuh saat berlari.
Dengan kecepatan tingkat raja membuat singa itu dengan mudah dapat mengejar Qin tian.
Saat singa itu berjarak tiga puluh meter dari Qin tian singa itu tiba tiba menyerang Qin tian dengan jurus cakar emasnya.
“Dhuar” Qin tian terlempar saat terkena gelombang udara yang mengandung kekuatan destruktif dari serangan cakar emas singa itu.
Qin tian terguling hingga tanpa sengaja memasuki sebuah gua yang dipenuhi batu kristal yang mengeluarkan berbagai cahaya.
Qin tian mencoba membuka matanya untuk melihat singa emas itu namun perlahan pengelihatannya menjadi gelap dan semakin gelap akibat gelombang angin yang dihasilkan oleh serangan singa itu.
“Ayah maaf…” ucap Qin tian dengan lemah hingga tanpa sadar dari sudut matanya yang kini mulai tertutup terlihat butiran air yang perlahan menetes jatuh seperti kristal bening yang murni.
…. …. …. ….
__ADS_1
Dunia kultivasi merupakan tempat yang sulit untuk bertahan.
Di dunia ini, siapa yang kuat akan memiliki martabat dan kekuasaan, tanpa kekuatan anda bukanlah siapa siapa.
Tempat yang ditentukan dengan kekuatan ini yang kuat menindas yang lemah, yang lemah akan tertindas, sehingga membuat orang berlomba untuk menjadi kuat.
Tak jarang orang berusaha untuk menjadi kuat dengan mengorbankan nyawanya sendiri, jika dia beruntung maka ia akan mendapatkan kekuatan, namun jika ia gagal maka hidupnya akan berakhir.
.... …. …. ….
Di klan Qin, terlihat sosok paruh baya duduk di gazebo yang menghadap ke hutan bambu emas.
Matanya yang tajam menatap hutan itu lamat lamat lalu memalingkan wajahnya menghadap ke timur, kawasan terlarang klan Qin.
Ia menutup matanya perlahan lalu menarik nafasnya dalam dalam, disetiap kedipan matanya seolah mengungkap cerita tentang masa kelam hidupnya.
Tarikan nafasnya yang bermartabat seolah memberi kesan kejayaan yang pernah dicapainya, rasa hormat, rasa takut, dan berbagai rasa yang orang sematkan kepadanya telah ia rasakan semuanya.
Hembusan nafasnya yang berat mengatakan kesedihanya yang diperlakukan takdir secara tidak adil, dirinya yang telah kehilangan seorang yang sangat berharga dalam hidupnya, kini harus merelakan kepergian satu satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya, itu seperti setelah direnggut separuh dunianya, kini direnggut sekali lagi oleh takdir yang tidak adil.
“Tian er, apapun yang terjadi disana ayah harap kamu baik baik saja” gumam sosok paruh baya itu berharap putranya baik baik saja.
Tidak mudah bagi orang yang pernah mengalami kehilangan melepaskan orang yang berharga baginya sekali lagi tanpa kejelasan keselamatannya, seperti mengantarkannya kepada dewa kematian.
Sosok paruh baya itu lalu meraih botol arak yang berada di depannya kemudian meneguk minuman itu dengan kasar.
“Ha ha ha” ia tertawa sinis pada dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.
“Yue er, jika dalam tiga tahun Tian er tidak kembali maka aku bersumpah akan pergi menghancurkan gunung leluhur, meskipun aku harus mati, aku akan mati setelah menghancurkan gunung leluhur itu” ucap Qin meng tian putus asa.
Gunung leluhur yang sangat bahaya, bahkan pendekar tingkat tinggi pun sulit untuk mencapai puncaknya, bagaimana mungkin seorang pendekar kelas rendah bisa memasuki wilayah tersebut tanpa adanya pengawalan.
Jika ia memaksa melakukannya maka konsekuensinya adalah kematian, itulah hukum yang berlaku di kawasan hutan yang mengerikan itu, hanya orang bodoh yang mau melakukanya.
__ADS_1
..."komentar lah meski hanya 'up' atau 'ehrfuhro' "...
...Author...