
PART 45 PENDEKAR ZHANG
Di sebuah tempat yang sudah porak poranda, pohon pohon tumbang di mana mana, ada yang tergores seperti terkena tebasan pedang ada juga yang tergores seperti terkena cakaran hewan.
Terlihat seorang pemuda berjalan menuju tubuh hewan buas, macan akar taring perak yang dipenuhi luka lalu membelah kepalannya dengan pedang lagit biru di tangannya mengambil sebuah bola semi transparan yang di dalamnya terdapat enam titik cahaya yang menunjukkan kekuatan hewan tersebut berada di ranah kaisar.
Pemuda itu adalah Qin Tian yang berhasil mengalahkan macan akar taring perak dengan serangan badai hujan pedang jiwa miliknya lalu mengambil mutiara hewan buas dari macan akar tersebut.
“Aku akan segera naik tingkat” gumam Qin Tian senang karena mendapatkan sumber daya yang sangat berharga tersebut.
Qin setelah mengambil mutiara esensi kekuatan hewan buas milik macan akar taring perak itu Qin Tian lalu berjalan menjelajahi hutan makam kuno tersebut mencari di mana letak makam yang disebut Pendekar Zhang itu.
Qin Tian terus berjalan hingga melihat empat macan akar lain yang berkumpul di depan sebuah gua seperti sedang menjaga gua tersebut.
“Sepertinya ada benda berharga yang mereka jaga” batin Qin Tian yang penasaran dengan benda apa yang dijaga hewan buas tersebut.
Penjagaan yang ketat dari keempat macan akar taring perak itu tidak membuat Qin Tian takut sedikitpun malah membuat Qin Tian semakin tertarik dan merasa tertantang untuk masuk dan menjelajah lebih dalam ke dalam gua tersebut.
Qin Tian lalu membuat segel tangan mengumpulkan kekuatan langitnya yang terbatas lalu menggabungkannya dengan kekuatan spiritualnya dan kekuatan jiwanya.
Whus…. empat pedang biru muncul dari kehampaan.
Qin Tian menyerang salah satu macan akar itu dengan pedang spiritual yang sudah dialiri kekuatan jiwa Qin Tian membuat serangan itu lebih efektif pada binatang buas pengendali kekuatan bumi.
Dhuar…. Qin Tian meledakkan pedang tersebut membuat macan akar taring perak yang sedang duduk di depan gua tersebut meraung tanpa sempat merasakan kedatangan serangan tersebut terlebih untuk menghindari serangan itu.
“Arghh. . ..” Raungan terdengar menggetarkan kawasan hutan tersebut membuat pendekar yang berada di dekat wilayah tersebut menjauh tidak berani mendekati pusat pertempuran itu.
“Ba****an, ada yang mencoba masuk kesini” teriak salah satu macan perak tersebut murka.
__ADS_1
“Manusia rendahan! Kau hanya mencari mati datang kesini” teriak macan perak lainnya memancing Qin Tian agar keluar dari persembunyiannya.
Swhus. . .. Swhus. . .. Tiga pedang lainnya bergerak melesat menyerang ketiga macan itu bersamaan tanpa sempat mereka hindari.
Dhuar. . .. Dhuar. . .. Ledakan bergema menggetarkan kawasan itu membuat pendekar yang ingin melihat pertempuran itu merasa bergidik dengan suara tangisan macan akar taring perak tersebut.
“Pendekar kuat mana yang melawan binatang pelindung itu” ucap seorang pendekar pada pendekar lain yang sudah bertemu dengannya.
“Benar benar kuat, namun aku yakin tidak mungkin pendekar yang kekuatannya dibatasi oleh hukum ruang dan waktu di tempat ini mampu melawan hewan penjaga yang berada di ranah kaisar” pendekar di sampingnya menanggapi yang ditanggapi dengan anggukan kepala dari temannya yang bertanya.
Qin Tian kembali membuat segel tangan lalu ratusan pedang kembali muncul menghujani keempat macan akar yang terluka akibat ledakan empat pedang sebelumnya.
Dhuar. . .. Dhuar. . .. Suara ledakan terdengar bersamaan dengan raungan kesakitan dari keempat macan akar tersebut.
Setelah menyerang keempat macan akar yang melindungi gua itu, tanpa memberi sedikitpun celah bagi keempat macan akar itu untuk melawan Qin Tian akhirnya berhasil membunuh keempat macan akar tarian perak tersebut tanpa perlawanan.
Setelah keempat hewan itu mati, Qin Tian lalu bergerak kembali mengambil mutiara esensi kekuatan hewan buas dari keempat hewan buas itu.
Pertarungan kali ini dapat di menangkan Qin Tian dengan mudah karena Qin Tian yang sudah mempelajari kelemahan dari hewan buas tersebut saat melawan macan akar sebelumnya, yang mana hewan buas ini tidak bisa menahan serangan yang dilapisi kekuatan jiwa didalamnya.
Setelah menyimpan mutiara esensi kekuatan hewan buas itu, Qin Tian lalu bergegas masuk ke dalam gua yang dilindungi macan akar taring perak itu sebelumnya.
Setelah memasuki lorong gua itu, Qin Tian lalu menyegel pintu gua dengan berbagai formasi perlindungan tingkat tinggi agar tidak ada pendekar lain yang masuk ke dalam gua tersebut.
“I…ini” gumam Qin Tian setelah keluar dari lorong gua yang gelap melihat bangunan raksasa yang megah yang sangga pilar pilar batu raksasa yang memancarkan kekuatan bumi yang sangat kuat.
“Tekanan yang sangat kuat, apakah ini makam pendekar Zhang” batin Qin Tian perlahan menaiki tangga batu untuk masuk kedalam bangunan megah tersebut.
“Argh…” Qin Tian merintih saat menaiki anak tangga ke sepuluh merasakan tubuhnya seperti berjalan namun memikul gunung leluhur di pundaknya membuat dirinya hampir tidak bisa melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
“Arrgghh. . ..” Qin Tian berteriak mengumpulkan kekuatannya kembali melanjutkan langkahnya
Setiap satu anak tangga yang Qin Tian lewati semakin besar kekuatan bumi yang menekan kekuatan Qin Tian.
Qin tian yang tau kekuatan langit dan bumi saling menolak menyimpan kekuatan langitnya lalu berusaha menggunakan kekuatan jiwa untuk melindungi tubuhnya.
“Sedikit lagi” gumam Qin Tian yang sudah berada di tangga ke empat puluh dari lima puluh anak tangga.
Setelah menaiki anak tangga ke empat puluh, Qin Tian tidak mampu langi melangkah berusaha terus naik dengan merangkak.
“Aku tidak boleh menyerah, karena di pundak seorang lelaki ada beban berat yang harus dia pikul” teriak Qin Tian menyemangati dirinya sendiri mengulang apa yang pernah ayahnya ajaran kepada dirinya.
Qin Tian terus menaiki tangga hingga berada di anak tangga ke empat puluh lima, dengan wajah yang dipenuhi darah, darah itu keluar dari mulut, hidung, telinga bahkan mata Qin Tian akibat menahan tekanan kekuatan langit yang menghimpit Qin Tian dengan ekstrem.
Di tangga ke empat puluh delapan, Qin Tian yang sudah kehilangan hampir seluruh kekuatan jiwa dan kekuatan spiritualnya kini juga hampir kehilangan kesadarannya.
Tatapannya perlahan buram, pendengarannya perlahan hening, matanya perlahan menutup.
“Tian er, jadilah kuat agar kau bisa melindungi orang yang kau cintai” kata itu terdengar samar di telinga Qin Tian, bayangan tetua angung Qin Xie yang mati di pelukannya kembali terlihat di pelupuk matanya memberi kekuatan untuk Qin Tian agar kembali bangkit dan melanjutkan peruangannya.
“Arghhh…” Qin Tian berteriak mengembalikan kesadarannya yang perlahan menghilang karena kehabisan seluruh kekuatan dalam tubuhnya berusaha merangkak menaiki tangga terakhir hingga akhrinya Qin Tia berhasil melewati ujian lima puluh anak tangga, dengan penuh perjuangan.
Saat Qin Tian hampir kehabisan seluruh tenaganya, tiba tiba pintu bagunan megah itu terbuka memancarkan kekuatan penyembuhan yang masuk dengan ekstrem ke dalam tubuh Qin Tian bersamaan dengan aliran kekuatan bumi yang juga ikut masuk ke dalam tubuh Qin Tian.
Qin Tian yang menerima kekuatan itu lalu duduk menyerap energi yang masuk kedalam tubuhnya secara ekstrem.
Setelah merasa cukup menyerap energi itu, Qin Tian lalu menangkupkan tangannya dengan hormat menghadap ke pintu ruangan megah yang tiba tiba terbuka itu.
“Tuan pendekar, terimakasi atas penyembuhannya” ucap Qin Tian menangkupkan tangannya dengan hormat.
__ADS_1
“ha ha ha…. Ternyata anak muda sekarang masih ada yang memiliki sopan santun” ucap sosok transparan yang tiba tiba muncul dari balik pintu raksasa yang mengah itu.