
Basah.... dingin...., marah....., sedih dan tertekan. Semua bercampur aduk, dalam hujan yang membasahi bumi seiring menutupi air mata yang mengaliri pipi Aku berboncengan pulang bersama Agung suami pilihan ku. Dia lelaki yang baik dan aku tertarik padanya, hanya saja aku tidak sanggup menghadapi perbedaan usia kami yang cukup jauh berbeda. Kebiasaan menutup diri sejak kecil membuat aku membangun tembok untuk tidak terbuka dengan siapapun. Aku terlihat dingin hanya untuk menutupi kekuranganku yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang lain.
Begitu sampai dirumah aku turun dari motor dan langsung memasuki ruang tamu, disana terlihat sudah ada Haikal, aku sempat terhenti di depan pintu masuk, ntah..., aku hanya merasa asing begitu sampai dirumah ternyata sudah ada orang lain di dalamnya. "Pakai ini mbak" ucap Haikal sambil menutupi sebuah handuk ke tubuh ku. Aku masih terdiam di depan pintu, tidak tau rasa apa ini, yang jelas dadaku sesak tiba-tiba aku kembali mengeluarkan air mata, dalam keadaan basah kuyup aku lebih merasa sakit di banding kedinginan.
Agung datang dan memegang kedua pundakku, yang telah ditutupi handuk, aku mengelak, Agung terdiam. Haikal mencoba mendekatiku dan melakukan hal yang sama dengan Agung. Memegang pundakku dan menggiringku ke kamar ku, sesampai di pintu kamar, Haikal berkata. "Keringkanlah tubuh mbak, nanti sakit, untuk masalah lainnya bisa di bicarakan nanti" ucap Haikal dengan tenang dan penuh simpati. "Ya..., terimaksih" ucap ku dingin dan tanpa ekspresi.
Aku memasuki kamarku, begitu sampai di kamar, aku hanya menutup pintu kamar dan bersandar di dinding pintu kamar. Tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar, "mbak...., your oke? " suara Agung terdengar dari balik pintu kamar. "Buka pintunya mbak, biarkan aku masuk, aku... aku... tidak ingin kamu sakit mbak, dengarkan penjelasan ku terlebih dahulu" ucap Agung memohon. Tidak ada balasan untuk setiap kata Agung, aku masih tetap duduk terdiam di balik pintu itu. "Baiklah mbak, tenangkan diri mbak dulu, tapi jangan lupa hangatkan tubuh mbak y, jangan sampai sakit, karena aku mengkhawatirkan mu mbak" ucap Agung penuh perhatian. Nada suara Agung terdengar sedikit gemetaran, mungkin karena menahan rasa dingin di tubuhnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian suara Agung sudah tidak terdengar lagi, aku terduduk bersandar di pintu kamar meratapi nasibku, bertahun tahun aku menjaga jarak dengan lawan jenis ku hanya karena takut perhatian nya, cinta nya, kasih sayang nya padaku tidak seperti aku padanya. Pengalaman hidup di besarkan dengan kesendirian, membuat aku takut untuk memulai hubungan, jika nantinya harus dibiarkan mengemis perhatian seperti cinta orang tua ku yang hanya cinta tapi lupa mengasah cinta itu tetap hangat. Lalu tiba-tiba aku harus menikahi Agung karena keegoisan orang tua ku yang menginkan akubsegera menikah, untung aku sempat bertemu Agung. Parahnya, aku mulai menyukai nya namun dia terlalu muda untukku, dan umpatan orang-orang disekitarku membuat aku tersakiti seakan aku hanya memanfaatkan Agung. Meskipun itu benar, setidaknya mereka tidak berbicara selancang itu padaku. Aku sedingin apa pun, tetap punya hati untuk merasakan rasakaku.
Aku mulai merasa kedinginan lalu bangkit dari duduk ku dan membersihkan tubuh ku, selang beberapa lama kemudian Aku sudah berganti pakaian dan beranjak naik ke tempat tidurku. Bayangan tamparan gadis tadi masih saja menghantuiku, kata-kata nya yang tajam masih juga ter ngiang-ngiang oleh ku, apakah aku benar-benar seburuk yang dia katakan? mungkin kah dia dan Agung memang ada hubungan dan aku datang sebagai pengganggu. Lalu dalam sekejap aku merusak hubungan mereka? apakah Agung benar-benar mencintaiku?, apakah aku sebaiknya melepas Agung? padahal aku mulai nyaman dengan nya. semua pertanyaan ini membuatku resah.
Lima jam sudah aku uring-uriangan di kamar, aku lihat sudah pukul satu malam, lalu tiba-tiba aku merasa lapar, ya aku belum makan dari sore tadi, lalu aku berencana turun kebawah untuk mencari makanan, tapi rasa malas melandaku. Klik...., aku akhirnya membuka pintu kamarku, dan berjalan pelan menuruni tangga, namun belum beberapa langkah aku mendengar suara bersin dari arah balkon atas. Karena penasaran Akupun menaiki tangga lagi , dan memeriksa balkon, ternyata disana ada Agung yang duduk dan bersembunyi dibalik tirai balkon, kakinya ditekuk dan kepala nya bersandar pada tangan yang dilipat ke lututnya dan wajahnya mengarah ke arah ku.
"Hm.... " akhirnya Agung bersuara . "Bangun yuk, kita pindah ya, ganti pakaian kamu" ucap ku. Agung mengangkat sedikit kepalanya dan menatap ke arah ku. "Mbak...., mbak nggak apa-apa kan? " Agung malah mengkhawatirkan keadaan ku. Aku terdiam dan hanya menggeleng pelan. "Kita pindah yuk" ucapku lagi. Agung memberikan sedikit senyum tipis yang dipaksakan, sepertinya dia menahan rasa dingin yang luar biasa. Aku membantunya berdiri dan memapahnya ke kamar. Tubuhnya terasa panas sekali, dia sepertinya meriang, sesampai di kamar, Akupun merebahkan tubuh Agung di atas tempat tidur, dia terlihat setengah sadar dan mengigil.
__ADS_1
Aku kemudian membantu melepaskan pakaian Agung yang masih lembab, dia kedinginan pikirku, dia menggigil, dan semua ini salahku. selesai membuka pakaian atas Agung, akhirnya aku harus melepas celana nya. Tubuh Agung sangat proporsional untuk seorang remaja, aku sedikit menelan slavina melihat ke elokan tubuhnya dan akhirnya aku harus melepas pakaian dalam nya juga. Ya ampun apa-apa an ini Alexa pikirku, haruskah aku lepaskan?? tapi kalau tidak, dia akan tetap kedinginan, tidak mungkin aku minta tolong Mang Dadang, karena mereka taunya kami suami istri.
Akhirnya aku mempunyai ide, aku selimuti tubuh Agung dengan selimutku, lalu tanganku merayap kedalam selimut untuk membuka pakaian dalam Agung, surrrr darahku mengalir deras, detak jantungku bagai gemuruh, Agung sepertinya terbangun dan memegang tanganku lalu menatapku. "Alexa" ucapnya pelan, "ya.." jawabku.
Dia seperti nya kembali tertidur, lalu aku melanjutkan membuka pakaian dalam nya dan akhirnya berhasil. Sungguh tidak terpikirkan olehku bahwa aku akan melakukan ini pada seorang lelaki, Aku akhirnya duduk disamping Agung yang sekrang sudah tertidur namun masih dalam keadaan sedikit menggigil, tubuhnya berselimutkan selimut hangat miliku, aku memegang wajah Agung dan melihatnya lekat.
"Agung, kamu lelaki yang baik, kamu juga sangat tampan, apakah aku salah jika menginkanmu menjadi seseorang yang kupilih untuk ada disampingku?, aku tidak tau, tadi seketika aku ingin melepasmu, tapi melihatmu seperti ini, aku bahkan tidak rela memikirkanmu di dekati wanita lain. Apakah ini cinta?, apakah aku jatuh cinta? jika iya, bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang dalam waktu sesingkat ini?. Apakah ini rasaku yang sesungguhnya?? .
__ADS_1