
Dan akhirnya aku sadar, Cinta yang sedari dulu aku simpan bukanlah milikku, wanita yang selama ini aku impikan memang hanya sebatas mimpi. Malam ini aku masih di kamar yang sama, kamar yang aku tempati selama tujuh hari sepuluh tahun silam.
Tidak ada perbedaan di rumah ini. Penghuninya masih saja kaku, desainnya masih tetap klasik , meja makannya masih meja makan yang sama, dan kolam renang nya pun masih dalam bentuk yang sama. Tidak ada perubahan, yang berubah hanyalah dia tidak lagi sendiri.
Rasanya sakit. Tapi aku masih coba untuk bertahan karena masih berharap bahwa mereka tidak akan cocok lalu berpisah. Tapi lagi-lagi aku salah. Semakin kesini mereka semakin mesra dan aku semakin susah untuk mengendalikan perasaanku padanya.
__ADS_1
"Ibu, kenapa Ibu melakukan ini padaku Bu? kenapa Ibu memberikan aku sebuah angan bahwa Alexa adalah calon istriku? apakah Ibu tidak tau, betapa aku benar-benar mempercayai dan berharap atas ucapan Ibu itu benar-benar nyata? sungguh Alexa adalah cinta pertamaku, ku kunci hatiku hanya untuk memuja dan menantikan masa dewasaku untuk menikahinya.
Dan itulah alasan mengapa aku ingin kuliah di kota ini dan bekerja di perusahaan Daddy Alexa seperti yang di atur oleh Ibu. Dan siapa sangka, Alexa malah memilih lelaki lain sebagai suaminya. Ibu berkata tidak akan membiarkan lelaki lain mendekati Alexa. Tapi apa? ternyata Alexa sudah punya pilihan sendiri. Ternyata Ibu tidak bisa menepati janji Ibu padaku.
Ibu, haruskah aku tetap bertahan di rumah ini merasakan sakit setiap melihat kebersamaan mereka? apakah aku menyerah saja dan kembali ke kampung? tapi ibu tidak membiarkan aku kembali sekarang. Sudahlah cintaku kandas, akupun harus kembali seperti pecundang pengangguran? lalu apa yang harus aku lakukan? bertahan disini? lama-lama aku bisa gila melihat Alexa dan Agung yang semakin hari semakin mesra dan menyiksa ku.
__ADS_1
"Ha........" aku berteriak sekeras mungkin meski aku tau tidak satupun yang akan mendengar teriakanku. bahkan kalaupun ada yang mendengar, mereka tidak akan peduli pada ku. Siapalah aku? aku bukan siapa-siapa.
Ibu dengan bangga mengatakan ini rumah keluarga nya, dan ini juga merupakan rumah ku juga. tapi apa? keberadaann ku disini seakan tidak ada bagi mereka. aku benci diriku. aku benci hidupku dan aku benci Ibu ku.
Air mataku berlinang, untuk seorang lelaki aku begitu terlihat cengeng. Aku berdiri dari ranjangku. lalu aku melangkah ke cermin. seketika aku melihat lelaki bodoh dan cengeng ada di dalam ceemin itu menyeringai se akan menertawakan ku. Kesal, Marah akhirnya aku melepaskan tinju ke cermin itu. "Prang...," kaca nya pecah berantakan sedangkan tangan ini mulai berlumuran darah.
__ADS_1
Sakitkah? tidak, tidak sesakit hati ini. Semua rasa sakit ini tidak ada apa-apa nya dengan apa yang aku rasakan semenjak jadi penghuni rumah ini.
Tidak ada yang datang dan sadar, bahwa aku baru saja memecahkan cermin kamar ini. Karena rumah ini terlalu besar untuk bisa mendengar suara-suara yang tidak jelas seperti ini. Dan aku pun bukanlah seseorang yang pantas mereka perhatikan. Akhirnya aku putuskan membalut luka di tanganku sendiri dengan kaos ku yang aku sobek lalu aku pun lemah dan tertidur di lantai kamarku.