
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Makan malam sydah di hidangkan. Agung Alexa dan Sultan sudah duduk dimeja makan.
"Bi tolong panggil Ega di kamarnya ya bi!" Ucap Alexa.
"Baik non"
Bi Saidah memanggil Ega. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamarnya. Bi Saidah kemudian memanggil Agung dan Alexa.
"Non, Den, Non Ega nya di panggil nggak nyahut"
Alexa dan Agung saling berpandangan dan khawatir. Agung kemudian berdiri dan pergi melihat ke kamar Ega. Sultan juga mengikuti Agung dari belakang.
"Gak... , Ega...."
Agung berkali kali mengetok pintu kamar Ega. Tapi tidak ada respon. Agung kemudian kebawah menemui Alexa.
"Mbak. Ega nggak nyahut di panggil"
"Dobrak aja pintunya Gung!"
"Baik mbak." Agung kembali ke atas dan mencoba mendobrak pintu kamar Ega bersama Sultan. Tapi, tidak bisa.
"Pintu nya terlalu kuat Gung." kata Sultan.
Agung kemudian turun kembalj ke bawah menemui Alexa.
"Apa tidak ada kunci cdangan Mbak?"
"Oh iya ada. Sama Mang Dadang Gung" Alexa ingat. Mang Dadang adalah kepercayaan Daddy dan Mang Dadang punya Akses semua kunci ruangan kecuali ruang kerja Daddy dan Mommy.
Agung kemudian langsung mencari Mang Dadang. Mang Dadang lagi asyik di kebun menyiram bunga. Mang Dadang suka menyiram tanam pagi dan malam.
"Mang, ada pegang kunci cadangan kamar atas nggak?" tanya Agung penuh harap.
"Ada den"
"Syukurlah. Ambilkan Mang! Pinjam saya sebentar!"
"Baik Den, saya ambil dulu." Mang Dadang kemudian pergi buru-buru ke kamar nya. Lalu memberikan semua kunci cadangan rumah ke Agung.
"Itu ada nomornya ya Den!" tunjuk Agung
"Iya mang" Agung kemudian berlari ke lantai atas dan di ikuti mang Dadang dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Ada apa Den? kenapa Den Agung... " pertanyaan Mang Dadang terhenti ketika pintu terbuka.
Agung dan Sultan berlari memasuki kamar. Mereka melihat Ega sudah tidak bergerak lagi. Ega terbaring di ranjang dengan sebilah pisau buah yang telah menggores pergelangan tangannya.
Agung kemudian memeriksa aliran nadi, nafas dan detak jantung Ega. Tidak ada harapan lagi. Agung menggeleng ke arah Sultan. Sultan langsung terduduk lesu di samping jenazah Ega. Dia tidak menangis. Tapi wajahnya pucat pasi. Bagaimana tidak, Dia menyukai Ega sejak pertemuan pertama mereka. Tapi karena tau Ega hanya menyukai Agung, maka dia mengubur niatnya untuk menyatakan cintanya pada Ega.
Agung kemudian ingin menemui Alexa. Dari atas tangga Agung menatap Alexa yang masih berada di lantai dasar.
"Gung?" Alexa berharap Agung menjawab pertanyaanya. Tapi Agung hanya diam.
"Gung?"
Alexa kembali memanggil Agung. Agung turun dari tangga dengan perasaan yang tidak karuan. Setelah sampai di hadapan Alexa. Agung jongkok dan menggenggam kedua tangan Alexa.
"Dia sudah tiada Mbak" bisik Agung pelan.
Alexa termenung, matanya langsung basah. Dia tidak menyangka Ega masih nekat meng akhiri hidupnya. Padahal Alexa sudah memaafkannya dan begitupun Agung.
"Kenapa?... kenapa?"
Alexa bertanya pada Agung. Agung hanya menggeleng.
"Aku mau liat Gung!"
Agung langsung menggendong Alexa menaiki tangga. Sesampai di kamar itu. Alexa duduk di sisi pinggir tempat Ega terbaring.
Alexa kemudian menemukan sebuah surat di bofet samping tempat Ega tidur.
"Dear mbak Alexa."
"Mbak, sebelumnya aku minta maaf. Karena tidak bisa menepati janji ku untuk tetap baik-baik saja. Mbak orang yang paling baik yang pernah aku temui. Aku bersyukur Agung memilih mbak bukan wanita lain. Karena Agung juga baik, jadi dia pantas mendapatkan wanita baik-baik juga."
"Mbak. maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Aku mengakhiri hidup ku. Karena, aku tidak sanggup menginggat hal buruk yang aku lalui terus menerus setiap malamnya. Aku malu dan aku tidak sanggup hidup miskin mbak. Aku terlahir sebagai orang kaya, jadi aku tidak akan sanggup hidup di kasihani oleh orang lain."
"Sekali lagi maafin aku ya mbak. Dan terimakasih karena sudah mau menerimaku dengan baik."
"salam"
Ega
Alexa meneteskan air mata. Dia bahkan tidak bisa membayangkan perasaan Ega saat tadi di ruangan bersamanya. Karena benar kata Ega. Seseorang yang terlahir kaya seperti dirinya, mana mungkin bisa hidup dikasihani orang lain. Apalagi orang itu, orang yang telah pernah dia Dzolimi. Tentu saja Ega tidak akan mampu.
Alexa kemudian memberikan surat itu pada Agung. Sambil berkata.
__ADS_1
"Urus pemakamannya sebaik mungkin!"
Agung mengangguk kemudian membaca surat dari Ega tersebut. Agung lalu hanya tersenyum dan berbisik dalam hati. "Semoga kamu bisa lebih tenanh di alam sana Gak."
Agung kemudian kembali menggendong Alexa ke kamar sementara mereka yang ada di lantai dasar. Lalu merebahkan tubuh Alexa di ranjang.
"Istirahatlah dulu mbak. Aku akan membersekan semua nya terlebih dahulu"
Alexa mengangguk pelan. Lalu mencoba menutup matanya. Karena sungguh dia telah lelah menangis seharian ini.
Agung kemudian mengurus proses pemakaman Ega yang alan dilakukan besok pagi. Dan Agung juga sudah mengumumkan kematian Ega pada teman-temannya. Sehingga ada beberapa yanh datang langsung melayat. Sultan tidak jadi pulang. Dia lebih memilih menemai Ega yang terbaring membeku di ruang keluarga itu.
Tidak lama kemudian Haikal pun pulang. Haikal heran kenapa ada banyak orang dirumah itu? lalu dia mendekati Agung yang sedang resah menanti seseorang mungkin, di depan pintu rumah itu.
"Ada apa ini?" tanya Haikal pada Agung.
Agung bingung mau menjawab apa, karena jenazah bukan siapa-siapa Alexa.
"Itu teman kampus aku meninggal"
"Teman? aneh, kenapa teman kampus kamu meninggal bawa nya kesini?"
"Panjang ceritanya" Jawab Agung singkat.
Agung malas membahas masalah Ega pada Haikal. Dan dia sendiri juga memang tidak pernah peduli dengan kehadiran Haikal. Karena baginya Haikal hanyalaj orang Asing.
Malam semakin larut. Tapi orang yang di nanti Agung belum datang. Agung menanti kehadiran sopir Ega. Agung sudah memberitahu bahwa Ega sudah tiada. Dengan maksud sopir Ega datang membawa bayi Ega sebagai pertemuan terakhir dengan jenazah ibunya. Namun sepertinya pak Dudu tidak mau datang kerumah Agung.
Alexa keluar dari kamar Menggunakan kursi rodanya. Agung yang melihat Alexa keluar kamar langsung mendekati Alexa.
"Mbak? bagaimana cara mbak naik ke atas kursi roda? kenapa mbak nggak nungguin aku?" Tanya Agunh penuh rasa khawatir.
"Aku nggak apa-apa Gung. Tadi aku coba perlahan menggerkan kaki aku dan ternyata bisa. Hanya saja belum kuat untuk berdiri." Ucap Alexa sedikit tersenyum.
"Alhamdulillah mbak. Aku senang sudah ada kemajuan. Padahal kita baru satu kali pergi terapi"
Agung kemudian membantu Alexa untuk duduk di ruang tamu dan bergabung dengan teman-teman Agung lainnya mengikuti pengajian untuk Ega.
Dan... lagi. Semua mata tertuju pada Alexa
Bersambung*****
Hai semua..., sambil nungguin aku up episode baru. Jangan lupa y mampir di karya teman aku juga. nah ini dia
__ADS_1
👇