
Namaku Anya Putri Dewi. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Orang tua ku seorang pebisnis pakaian online. Usaha mereka sangat maju. Namun, dikarenakan rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi pakaian online kami ludes terbakar. keadaan ekonomi keluarga kami jadi anjlok.
Niat aku yang saat itu ingin kuliah di bidang Desainer setelah tamat SMK jurusan Tatabusana jadi kandas. Karena biaya kuliah di sana memang sangat mahal.Akhirnya aku hanya bisa kursus menjahit.
Setahun sudah aku menjalani kursus dan akhirnya bisa buka rumah jahit sendiri. Walaupun hanya dengan satu mesin jahit. Namun baru tiga tahun menjalani usaha menjahit, Ibu ku sakit keras. Akhirnya aku lebih sibuk mengurus ibu ku dan usahaku pun mulai sering tertinggal akhirnya pelanggan banyak yang pergi karena aku jarang bisa tepat waktu menyelesaikan jahitan ku.
Lalu akhirnya setahun kemudian ibu meninggal. Aku bukannya semakin fokus, malah semakin terpuruk. Karena rasanya semua kerja kerasku sia-sia. Tidak ada yang tau bagaimana rasanya jadi aku. Seorang mahasiswi teladan yang harus kehilangan mimpi hanya karena biaya pendidikan yang tinggi.
Rasanya sangat menyedihkan. Bahkan aku ingat sekali. Saat orang tua ku mulai bangkrut, ibuku sempat menemui saudaranya yang kaya untuk modal usaha kami lagi. Tapi, dia malah menolak dan memberika kami uang sebagai sumbangan.
Ya... dia adalah ayah Ega. Ayah nya sangat sombong dan kikir. Bahkan saudara kandung yang kesusahan pun dia tidak peduli. Aku tidak akan lupa bagaimana Daddy nya menertawai ibuku yang minta bantuan padanya.
Flasback~
"Saat itu aku dan dua karyawan ibu sedang menjahit pakaian. Aku yang baru duduk di bangku SMK kelas tiga baru saja menyelesaikan ujian akhir. Dan rencananya akan menyambung kuliah di sebuah Universutas Swasta jurusan Desain. Karena aku ingin menjadi Desainer yang terkenal. Tidak hanya sekedar menjahit seperti ibuku. Tapi ingin menjadi seorang Desainer ternama hingga Manca Negara.
Namun tiba-tiba kejadian naas itu datang. Api tiba-tiba datang dari arah kamar ibu. Karena bahan jahitan yang mudah terbakar sangat banyak, maka api merambat sangat cepat, hingga membakar semua dengan sekejap. Untung kami bisa melarikan diri dengan cepat keluar rumah.
"Ibu.... , rumah kita bu?" rengek ku sambil memeluk ibu. Ibu hanya diam tak bergeming. Namun air mata tetap berjatuhan membasahi pipinya. Harta satu-satunya peninggalan ayah hanya rumah itu dan mata pencarian ibu juga hanya dirumah itu selama ini. Dan tidak ada yang bersisa satupun didalamnya. Semua ludes terbakar. PLN mengatakan, kebarakan terjadi akibat konslet arus pendek di kamar ibu.
__ADS_1
Singkat cerita begitu api padam kami merenungi nasib kami. Ibu, aku dan kedua adik lelakiku hanya bisa menatapi dan meratapi rumah kami yang tidak berbentuk lagi. Lalu kami mengungsi untuk sementara waktu di rumah Saudara ibu. Dia adalah Daddy Ega. Saat itu Daddy Ega hanya tinggal sendiri, karena Ega dan ibu nya tinggal di luar Negeri.
keesokannya ibu pergi ke Bank dan men cek simpanan yang ada. Ternyata hanya seratus juta uang tabungan ibu selama ini dan rencananya itu untuk daftar kuliah aku begitu lulus SMK. Lalu ibu berpikir akan meminjam uang untuk mengontrak rumah dan modal usaha lagi ke Daddy Ega. Karena Daddy Ega pengusaha minyak yang kaya di wilayah nya.
Setelah selesai makan malam Ibu menemui Daddy Ega yang sedang duduk di ruang kerjanya. Ruang kerjanya berada disebelah ruang makan. Aku kebetulan sedang membersihkan meja makan karena kami semua baru selesai makan dan Adik-adik selesai makan langsung menonton telivisi.
"Dek, mbak mau bicara boleh?" tanya ibu pada Daddy Ega.
"Boleh mbak, mbak mau ngomong apa? kebetulan kerjaan aku sedang numpuk mbak. Jadi kalau ada yang mau dibicarakan, bicarakan dengan segera mbak." Ucap Daddy Ega dengan sombongnya.
Aku yang berada di luar ruangan, dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas. Karena pintu tidak di kunci dan aku juga dengan sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Mbak rencana mau pindah, mau ngontrak aja. Jadi mbak mau pinjam uang untuk kontrakan setahun dan modal usaha." jelas ibu.
"Sekitar limaratus juta dek" jawab ibu.
"Waduh, banyak itu mbak. mana ada aku uang sebanyak itu mbak. Lagian kok untuk kontrakan sampai limaratus juta? emang mbak sanggup bayar dengan pinjaman sebanyak itu apa?" Daddy Ega bicara seolah tidak mampu tapi juga meremehkan ibu.
"Untuk kontrakan setahun mungkin hanya butuh seratua juta dek, tapi mbak butuh modal beberapa mesin jahit , mesin obras dan semua bahan beli dari nol lagi dek. Itu kira-kira bisa menghabiskan dua sampai tiga ratus juta dek. Karena harga mesinnya juga mahal dek. Dan sisanya bisa untuk biaya keponakan kamu sekolah menjelang mbak aktif lagi jahit nya dek. Belum lagi untuk mengganti kerugian mereka yang pakaiannya ikut terbakar waktu itu. Karena sebagian besar sudah bayar lunas dek upah jahitnya." Jelas Ibu dengan perasaan sedih dan merendah.
__ADS_1
Tapi Daddy Ega tidak melihat sama sekali. Dia masih sibuk dengan laptop nya dan mengetik, ntah apa yang dikerjakannya. Yang jelas aku geram liat sikap sok nya yang tidak mehargai ibu. Namun, aku hanya bisa melihat dari luar dan sungguh aku tidak tega melihat Ibu seperti itu.
Daddy Ega kemudian menghentikan pekerjaanny.
"Memang selama ini mbak nggak punya simpanan apa? bukannya jahitan mbak lumayan terkenal dan rame?" tanya Daddy Ega dengan sinis.
"Mbak ada simpanan tapi hanya seratus juta dan itu pun untuk biaya keponakan kamu Anya menyambung kuliah ke sekolah Desain. Karena dia mau jadi Disainer dek." jelas ibu.
Daddy Ega lalu tertawa terkekeh.
"Dengar ya mbak, mbak harus mengajarkan anak mbak untuk hidup seadanya. Kalau tidak mampu kuliah nggak usah kuliah. Sekolah Desain itu sangat mahal lo mbak. Mending suruh dia kuliah di Universitas biasa aja lalu lulus, kerja dikantoran. Biaya nya nggak terlalu gede lagi." Daddy Ega bicara semakin sombong.
"Gini aja ya mbak. Aku yakin mbak nggak bakal mampu ganti uang kalau aku pinjamkan. Lebih baik mbak aku kasih uang untuk kontrakan." Daddy Ega membuka laci nya dan mengambil cek.
"Ini, aku kasih seratus juta secara cuma-cuma. Mbak cari kontrakan saja. Jujur aku pun terganggu dengan keusilan kedua anak lelaki mbak yang suka lari-larian dalam rumah." Daddy Ega malah seakan mengusir kami.
Lalu aku yang sudah tidak tahan dengan semua sikapnya langsung masuk ke dalam ruang kerja itu dengan tanpa izin.
"Om...., maaf sebelumnya. Tidak bisakah om bersikap lebih baik sama Ibu aku? om itu adek ibu nggak sih? kok bisa-bisa nya bicara seperti itu ke kakka om sendiri?" ucapku kesal.
__ADS_1
"Kamu itu cuma anak ingusan. Kamu tidak akan tau susahnya mencari uang. Saudara ya saudara, uang ya uang. Saya saja sampai pisah Negara dengan anak istri saya cuma untuk mencari uang. Eh kamu udah dikasih malah nyolot. Dasar anak tidak tau diri!" Daddy Ega malah balik membentaku.
"Sayang jangan begitu, ayo kita pergi!" ibu kemudian membawaku keluar. Tanpa mengambil cek yang diberikan Daddy ega. Lalu kami pun langsung berkemas dan meninggalkan rumah itu. Semenjak itu aku sangat dendam dengan Daddy Ega.