
"Hm...." , sebuah gumaman membuat aku terbangun, semalam aku tertidur di kursi jaga samping Alexa, tangan Alexa tidak terlepas sedikit pun dari genggaman tangan ku. kulihat Alexa masih tertidur pulas, sepertinya aku tadi mendengar sebuah gumaman tapi Sepertinya aku salah dengar pikirku lagi. Lalu aku meregangkan sedikit tubuhku yang kaku karena tertidur di tempat yang tidak nyaman.
Alexa masih tertidur dengan nyenyak nya, lalu aku mengusap pelan wajah cantik Alexa, dia tetap terlihat sangat cantik saat terbaring sakit di atas Tempat tidur. Tidak puas rasanya aku memandang wajah nya, mengagumi nya dan memuja seorang Alexa. Masih tidak habis pikir kenapa masalah ku bisa membuat Alexa sangat shock dan seakan mati suri. Tidak tau apa yang bisa membuat dia terjaga dari tidurnya lagi, yang jelas aku masih disini, tidak akan kemana mana sebelum dia bangun dari tidur nya.
"Kamu sangat cantik, kamu membuat aku tergila gila padamu mbak, bahkan saat ini aku tidak sanggup berfikir jernih karena hanya ingin dekat denganmu, aku lupa makan, minum dan tertidur hanya saat lelah dan kantuk melanda, tidak terpikirkan oleh ku, bagaimana aku akan menjalani hidup tanpa mu". seperti biasa, aku kembali mengajak Alexa berbicara, tanpa aku tau, apakah dia mendengar ocehan ku atau tidak. Yang jelas, aku selalu mengutarakan isi hatiku padanya.
Aku kemudian melipat tangan ku di kasur Alexa terbaring, lalu aku merebahkan kepalaku di atas lipatan tangan ku yang tidak jauh dari tangan Alexa. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan mengusap pelan rambutku, aku menegakkan kepalaku dan melihat ternyata tangan Alexa bergerak membelai rambutku dan aku langsung menatap wajah Alexa yang seakan mengucapkan kata rindu untuk ku. Mata itu, mata yang sayu tapi penuh kerinduan dan meneteskan air mata diujung kelopak matanya yang cantik.
"Alexa? , mbak?... mbak sudah bangun? mbak sudah siuman? " Aku langsung berdiri dan memeluk tubuh Alexa dengan erat, sungguh... aku berasa hidup lagi, tubuhku gemetar memeluknya, karena menahan tangis yang hampir saja meluap melihat dia siuman, tidak tau apa yang terjadi saat ini dengan tubuh ini, tanpa diperintahkan aku menciumi semua wajah Alexa dengan segenap rasa yang tidak terungkap kan oleh kata-kata.
__ADS_1
"Agh.. " Alexa mengeluarkan suara kesakitan, "mbak kenapa? mbak kesakitan? " dengan cepat aku menghentikan ciuman bertubi ku ke wajah Alexa dan langsung menatapnya dengan perasaan khawatir. Alexa tersenyum lembut ke arah ku, "tidak Agung, aku tidak apa-apa, hanya saja kamu terlalu kuat mencengkeram kedua lenganku" jawab Alexa lemah, karena memang kondisi Alexa sepertinya sangat lemah.
"Maaf..., maaf mbak, aku nggak sengaja" jawabku malu, karena aku memang tidak bermaksud membuat dia kesakitan, memang aku saja yang terlalu menggebu melihat Alexa yang baru bangun dari tidur panjang nya. Lagi... Alexa memberikan senyuman yang selalu membuatku hanyut, "Ya Allah senyuman manis ini, akhirnya aku bisa melihatnya lagi" gumamku dalam hati.
Lalu aku menekan tombol pasien, tidak lama kemudian seorang perawat datang. " Ya mas, ada yang bisa dibantu?" tanya perawat itu. " Ya..., saya hanya ingin mengatakan kalau istri saya sudah siuman, kemaren Dokter bilang, apabila istri saya siuman segera kabari" ucap ku menjelaskan.
Si perawat kemudian memeriksa kondisi Alexa, Alexa diminta untuk menggerakkan tubuh nya satu-persatu. Semua terlihat baik-baik saja, sampai akhirnya Alexa diminta menggerakkan kakinya. "Sus...., kenapa kaki saya nggak bisa saya gerakan sus?" tanya Alexa mulai panik. "Sebentar..., saya panggil dokter dulu" perawat itu kemudian keluar dari ruangan dan Alexa terlihat ketakutan.
Semua anggota tubuh Alexa berfungsi, hanya saja kakinya tidak bisa di gerakan dan Alexa tidak merasakan apa-apa saat kakinya aku pijit. Aku pun mulai takut dan panik, tapi aku mencoba mengendalikan diri, karena aku harus bisa menenangkan Alexa. Tidak lama kemudian suster dan Dokter pun datang.
__ADS_1
Dokter langsung meminta Alexa untuk tiduran kembali dan memeriksa semua kondisi Alexa, baik mata detak jantung , tensi dan melakukan terapi-terapi ringan pada kaki Alexa. "Dok..., aku kenapa dok? tanya Alexa ketakutan. Dokter hanya menggeleng. Tidak apa-apa, anda hanya butuh sedikit pengobatan lebih lanjut" ucap Dokter tersebut. "Saya perlu bicara dengan suami anda berdua saja soal proses pemulihan anda diruangan saya" lanjut Dokter. Dokter itu baru akan melangkah keluar Alexa langsung teriak. "Tidak". Langkah kaki Dokter itu terhenti.
"Dok..., jujur saja sama saya! katakan pada saya apa yang terjadi? ini hidup saya, ini kaki saya, saya harus tau apa yang saya alami, jangan anda berbicara dengan suami saya saja!" saya adalah wanita dewasa dan saya tau ada yang tidak baik-baik saja pada diri saya". Alexa berbicara sangat lantang. Baiklah saya akan jelaskan langsung, tapi saya harap Nyonya harus bisa menyikapi penjelasan saya dengan baik" ucap Dokter itu kemudian. "Tapi dok..., " aku mencoba menghentikan Dokter untuk menjelaskan nya karena takut Alexa terpuruk dengan penjelasan itu nantinya. Namun Dokter menahan dengan memberikan aba-aba dengan tangannya.
"Dalam kasus ini, Nyonya mengalami kelumpuhan sementara, yang di sebut dengan Myastenia Gravis.Myasthenia Gravis, yaitu kondisi dimana sistem imun tubuh menyerang saraf di otot, sebagai akibatnya tubuh akan menjadi lemah dan akhirnya lumpuh namun ketika beristirahat akan dapat bergerak kembali".
"Namun , bukan kah Alexa selama ini hanya istirahat di tempat tidur dok?" tanyaku lagi. "Iya...., Nyonya Alexa memang hanya istirahat di atas tempat tidur, namun otaknya tetap bekerja, ntah mungkin karena tekanan yang di alaminya hingga bisa di bilang, otaknya terlalu bekerja keras dalam memikirkan sesuatu hal, sehingga imun nya turun drastis hingga akhirnya dia lemah dan menyebabkan kelumpuhan. Namun ini hanya bersifat sementara asal pasien di rawat dengan baik". Jelas Dokter itu.
"Uh..hah...." Alexa bernafas berat. "Baiklah lalu apa hal yang harus saya lakukan Dok?" apakah saya harus menjalani terapi atau semacamnya?" tanya Alexa lagi. "Iya ... nanti saya akan membuatkan beberapa resep obat dan mengatur jadwal terapinya, asal bisa dilaksanakan dengan baik , maka InsyaAllah Nyonya akan segera pulih seperti sedia kala" jawab Dokter kembali. Alexa terlihat tenang mendengarkan, justru aku yang terluka melihat dia berusaha seakan terlihat baik-baik saja. Namun aku yakin, dia sangat terluka, dia merasa sakit dan merasa down dengan semua ini, tapi.... dia tetap bisa setegar itu.
__ADS_1
Dokter pun keluar dari ruangan, aku kemudian mendekati Alexa. "Mbak.... " aku menggenggam tangan Alexa, Alexa menoleh lalu tersenyum ke arahku. " Mbak...., maaf ini semua salah ku" aku membuat pengakuan kepada Alexa. " Salah apa? kenapa kamu bilang kamu salah?" tanya Alexa teduh padaku. "Andai tidak ada berita buruk itu, mbak pasti tidak akan pingsan dan seperti ini" jawabku lagi.
"Tapi.., tapi aku tidak melakukan nya mbak" jelasku lagi pada Alexa. "Aku tau, aku tau kamu nggak kek gitu Agung, saat itu aku hanya terlalu stres , dan lagi pula kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa. Karena aku mendengar semua kejadian di ruangan ini dengan baik, aku hanya tidak bisa membuka mata dan bergerak saat itu, tapi aku bisa mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut kamu dan setiap tamu yang datang kesini dengan baik. mungkin kecuali saat aku tertidur" jelas Alexa.