
"Keluarga Lia Amarta"
Aleena dan Rinaya bergegas menghampiri sumber suara. Seorang perempuan paruh baya dengan membawa papan jalan ditangannya menjelaskan tentang kondisi sang ibunda.
"Kondisi Ibu sudah mulai stabil, nafasnya juga sudah lebih tenang. Tapi tetap dalam pantauan kami. Dokter akan mengecek kondisi pasien per satu jam sekali sampai kondisi ibu benar-benar stabil. Ada beberapa dokumen dan administrasi yang perlu dilengkapi bu, ini silahkan"
Kemudian perawat itu pun kembali ke ruangannya.
"Nay, ini ada hasil pemeriksaan ibu kemarin ga?"
"Ada kak tapi dirumah, Aku ambil ya sekalian aku juga mau ganti baju"
"Ya udah kakak urus administrasi dulu ya, oh ya sekalian tolong ambilkan hp, atm dan buku tabungan ibu ya"
Rinaya mengangguk dan bergegas keluar rumah sakit menuju rumahnya.
Aleena pun menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan, dengan pembayaran melalui kartu. Perawatan kali ini menghabiskan sekitar setengah tabungannya untuk membeli rumah yang memang belum terkumpul sepenuhnya. Selama ini Aleena bekerja dengan sangat keras mengumpulkan rupiah untuk dapat membawa ibunya tinggal bersama seperti impiannya selama ini. Jauh dari bayang-bayang ayah tirinya.
"Keluarga Lia Amarta"
Kembali panggilan itu membuat Aleena tersadar dari lamunannya.
"Iya saya Sus.. "
"Apakah ada keluarga yang bernama Aleena?"
"Saya Sus, kenapa?"
"Ibu anda ingin bertemu"
Kesadaran ibu belum sepenuhnya pulih, setelah memakai serangkaian atribut Aleena pun menghampiri sang ibu. Senyuman yang lamaaa sekali Aleena rindukan kini dapat ia lihat lagi secara langsung walau dibalik masker udara.
Sekuat tenaga Aleena menahan air matanya yang hampir saja terjatuh. Ia ingin memberikan kekuatan kepada mamanya agar tetap berjuang.
"Mama... Maafin Leena ya, jarang sekali mengunjungi mama. Tapi Aleena yakin mama tau kalau Aleena selalu sayang dan rindu sama mama. Mama yang kuat ya.. biar kita bisa berkumpul lagi. Sekarang akan selalu disamping mama sampai mama sembuh"
Dengan suara yang hampir tak terdengar sang mama berbisik, "Jaga Naya, Mama bangga sama Leena" mama berkata dengan suara yang terputus-putus.
Hanya itu..
"Iya mama sayang... Leena juga bangga sama mama, yang sabar, yang selalu menjaga anak-anaknya dengan baik, kuat dan jago masak. Leena kangen sama masakan mama yang sedap"
Aleena melanjutkan percakapan monotonnya dan hanya menceritakan hal-hal indah saja.
15 menit berlalu suster pun meminta Aleena kembali ke tempatnya karena pasien memang belum bisa merespon lebih lama dari itu.
Aleena kembali melepas atribut dan meletakkan di tempatnya, kemudian ia izin ke toilet sebentar kepada suster.
Saat di toilet, Aleena sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang ia tahan sedari tadi di ruang ICU. Ia mengeluarkan semua air mata yang ingin ditumpahkannya sampai terisak isak.
Tiba-tiba teleponnya kembali berdering, ternyata Ranti yang menelponnya. Setelah menggeser gambar telpon warna hijau di layar handphone nya, Aleena menempelkan handphone itu telinganya.
__ADS_1
"Halo mbak... maaf ya aku ganggu lagi... "
"Hiks... Hiks..."
"Mbak.. Mbak Al.. Mbak kenapa?" Suara diseberang sana terdengar panik.
Sejenak mengatur Nafas, kemudian Aleena menyahut "Ga papa, iya kenapa Ran?" tanya nya dengan suara parau.
"Engngng... Maaf ya mbak, ga bermaksud buat ga berempati nih.. tapi are u oke??"
"Yes, Am I. kenapa?"
"Itu mbak, katalog digital dari tim publikasi sudah jadi belum?
"Belum ada draft yang masuk nih" jawabnya sambil menahan sesegukan.
"Oh oke... kalau gitu, untuk File katalog yang lain lain adakah mbak buat bahan presentasi?" Ranti yang sebenarnya merasa berat untuk bertanya ini itu dengan sangaaaat terpaksa harus menanyakan ini.
"A.. ada di.. di Fd warna merah di laci aku, kalo ga lengkap ada di komputer aku nama foldernya Katalog di Data D" Aleena menjawab dengan terbata-bata.
"Oke mbak.. makasih ya.. mbak kalau ada masalah bilang ya sama Ranti.. jangan ditahan sendiri"
"Ma.. makasih ran.. aku ga papa.. maaf ya, kalo nanti aku agak susah dihubungi" Aleena masih berusaha menstabilkan nafasnya.
Percakapan itu pun terhenti dan Aleena melanjutkan isakannya. Setelah merasa cukup menyalurkan emosinya, Aleena pun bergegas membersihkan wajah dan kembali keruang ICU dengan ekspresi wajah yang ia buat berubah 180 derajat. Dengan sabar Aleena menantikan kabar dari suster atau dokter yang akan memanggilnya.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
"Kenapa Ran? ga ada file nya?" tanya Chelsy membuyarkan lamunan Ranti yang masih memegang telpon.
"Eh, iya bentar" Ranti langsung menuju meja Aleena membuka laci dan menyalakan CPU yang sejak kemarin tak ada empunya.
"Kok bengong Ran?" Chelsy masih menatap heran rekannya itu.
"emh.. itu mbak Aleena... " Obrolannya terputus karena ia terfokus pada komputer yang meminta password.
"Ada apa sama mbak Aleena?" Chelsy semakin penasaran dibuatnya.
"Ga tau nih, aku ada feeling ga enak gitu. Kayaknya dia ada masalah deh makanya izin sampe lebih dari sehari"
"Iya juga ya, biasanya juga dia jarang banget ga masuk, sekalipun sakit pasti dia maksain masuk"
"Aku khawatir aja sesuatu terjadi sama beliau" sambil fokus pada pekerjaan mereka masing-masing tetapi tetap mengobrol hanya sesekali saja saling menatap.
Tanpa disadari keduanya, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kantornya yang sedikit terbuka karena memang awalnya sang pemilik hendak keluar dari ruangannya. Namun langkahnya tertahan karena tertarik obrolan mereka membicarakan wanita yang sedang dicarinya sudah dua hari ini.
Lelaki itu masih di posisinya untuk mendengarkan kelanjutan cerita karyawannya yang mengobrol dengan posisi berjauhan sehingga membuat suara mereka terdengar dengan jelas.
"Kok kamu se-khawatir itu sih Ran, biasanya juga enggak" tanya Chelsy dengan mimik wajah keheranan.
"Iya, jadi tuh tadi aku cuma nanya file, masa jawabnya sesegukan banget sy.. aku kan ga pernah ya liat mbak Aleena nangis. Ya kaget aja aku, perasaan aku juga nanyanya ga kasar kok" Ungkap Ranti panjang lebar.
__ADS_1
"Masa sih, mbak Aleena sesegukan?"
"Iya, beneran deeh... "
"Terus, terus??"
"Ya aku tanya dong, mbak ga papa? dia bilang ga papa. Ya aku juga ga mau maksa dong.. secara, kita kan ga terlalu deket" Chelsy hanya manggut-manggut sambil berusaha fokus pada layar didepannya.
"Mbak Aleena kerjanya rapi juga ya, aku tuh ga pernah kesusahan kalo nyari file atau apapun yang kubutuhkan darinya kalau dia ga ada" Puji Ranti.
"Yah.. Jam terbangnya udah tinggi, tau lah kamu se-profesional apa dia. Sampe kita aja ga pernah tau kehidupan pribadinya karena se-Fokus itu dia bekerja".
"Hemh.. iya juga ya.." kini gantian Ranti yang mengangguk-anggukan kepalanya.
Lelaki yang masih mencuri dengar itu tersenyum sinis mendengar percakapan kedua anak buahnya.
Sudah kubilang Aleena, kau akan menyesal atas apa yang kau lakukan kemarin. Walau keujung dunia pun kau bersembunyi dan tak mau menjawab pesan atau telpon dariku, tetap saja aku mendengar tangis penyesalanmu. Baiklah kalau ini permainanmu, aku akan mengimbanginya. Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang.
Alvaro berceloteh ria dalam hatinya, menarik kesimpulan sendiri tanpa tahu duduk permasalahannya.
%%%%%%%%%%%%%%%%%%
Sesampainya Rinaya dirumah, sedikit keheranan menyergap dirinya. Ia merasa sangat yakin telah mengunci pintu rumah tadi sebelum berangkat, bahkan kuncinya pun masih ada di dalam tas yang ia bawa. Rinaya masuk dengan perlahan-lahan khawatir ada penyusup atau maling yang masuk.
Rinaya memperhatikan dengan seksama ruang tamu rumahnya yang masih tertata rapi tanpa ada tanda-tanda penyusup atau maling masuk. Masih dengan tanpa suara, Rinaya menuju kamar ibunya yang memang dalam kondisi terbuka. Sama dengan ruang tamu, semua barang masih berada pada tempatnya.
Rinaya pun bergegas untuk mengambil beberapa keperluan dan dokumen yang diminta oleh perawat tadi. Kemudian ia juga mengambil handphone milik ibunya beserta penambah daya dan memasukkannya ke dalam tas. Mengambil buku tabungan dan sempat mencari-cari kartu ATM milik ibu, tapi setelah diingat terakhir ayahnya yang memegang kartu itu.
Setelah dirasa lengkap Rinaya keluar kamar dan menutup pintu kamar ibunya dengan sangat perlahan, masih dalam kondisi siaga satu. Rinaya melangkah lebih dalam untuk menuju kamarnya karena hendak ganti baju. Tiba-tiba ia melihat beberapa baju yang sudah tergeletak, mulai dari celana panjang, kaos belang-belang yang ia yakini itu milik ayahnya. Ada juga rok putih pendek, kaos lengan pendek yang ia yakini milik seorang perempuan. Pandangannya tertumpu pada pintu kamar tamu yang tidak tertutup rapat karena ada sebuah bra yang tersangkut disana.
Rinaya semakin tersadar, ketika mendengar ada suara-suara erotis yang sangat pelan tapi jelas antara laki-laki dan perempuan didalam kamar itu yang ia yakini lelaki itu adalah ayah kandungnya.
"Ah.. Tuan.. kenapa kau perkasa sekali.. " suara perempuan itu terdengar sangat menggoda, membuat Rinaya jijik mendengarnya.
"Apa kau mau bilang bahwa aku sudah tua?"
"Ah.. kau tua-tua keladi, hahaha" dan mereka pun tertawa dengan sangat bahagianya.
Sesak... Perih...
Ayah yang selama ini ia puja-puja karena sangat perhatian dan romatis kepada anak istrinya, seketika berubah menjadi monster yang selalu mengincar gadis gadis belia untuk dimakannya.
Sambil bergidik ngeri, Rinaya bergegas ke kamarnya mengambil pakaian ganti yang termudah ia jangkau.
Rasa yang awalnya hanya sedih, kecewa dan kesal kini berubah menjadi amarah yang secepat kilat. Karena mendengar ******* yang makin memanas diantara kedua orang didalam kamar itu.
Rinaya yang memang mudah tersulut emosinya dan bisa dibilang agak kasar karena dasarnya ia cewek tomboy, merasa tidak puas jika belum mengerjai kedua orang dikamar itu sekalipun salah satunya orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Dengan bergegas Rinaya merapikan perlengkapan yang akan dibawanya. Niat awal ingin mengganti pakaian pun harus diurungkannya karena sudah tak tahan lagi jika ia harus berlama-lama dirumah itu.
Dasar Lelaki buaya..... Tega !!!!
__ADS_1
%%%%%%%%%%%%%