
Pesta hari ini terlihat sangat meriah dan elegan. Ini adalah dua acara yang digabungkan menjadi satu. Acara ulang tahun anak dan ulang tahun pernikahan orang tuanya.
Aleena berkeliling untuk mengecek persiapan acara. Alena memastikan kembali agar tidak ada kekurangan ataupun hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan mereka pada saat berdiskusi kemarin. Ditambah lagi ini adalah klien VVIP yang memang sengaja Anggi titipkan untuk Alena tangani.
saat berkeliling Alena juga bertemu dengan Frena yang juga sedang mengecek persiapan acara. Pada saat itu acara masih akan dimulai sekitar 15 menit lagi. Mereka terlibat percakapan singkat yang intinya Frena merasa sangat terbantu dan senang sekali dengan setiap dekorasi kemudian menu dan pernak-pernik yang sudah disiapkan untuk acara hari ini.
Frena menggunakan pakaian bernuansa pramugari lengkap dengan topi baretnya, demikian juga dengan suaminya yang menggunakan pakaian pilot. Mereka memilih menggunakan konsep itu karena anaknya yang berulang tahun sangat menyukai atau sangat menggemari sesuatu hal yang berkaitan dengan pesawat.
Tak berapa lama kemudian para tamu pun sudah hadir memenuhi area Garden Party di pekarangan rumah milik keluarga Amar Harrison. Termasuk juga om, tante, Kak Anggi dan Diandra. Hari ini Rinaya tidak ikut karena memang masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Aleena yang seharusnya bekerja untuk controlling dari awal sampai akhir di kegiatan acara itu, spesial untuk acara hari ini dia juga menjadi bagian dari tamu acara. Oleh karena itu setelah persiapan selesai Aleena langsung bergabung dengan keluarganya di satu meja yang sudah disediakan.
Aleena heran karena satu keluarga itu hanya lima orang tapi kenapa mereka duduk di kursi utama yang bisa memuat hingga 12 orang. Tanpa menaruh curiga atau apapun Aleena duduk sesuai dengan arahan Diandra dan menyimak acara dari awal sampai akhir.
Aleena merasakan keharuan selama acara berlangsung, dia tidak pernah merasakan keharmonisan keluarga seperti yang ditampakkan keluarga Harrison saat ini. Mengingat masa kecilnya dulu yang harus ditinggalkan ayah dan tidak ada kenangan indah saat ulang tahun, hanya makanannya saja yang lebih spesial dari biasanya.
Itulah alasan kenapa Aleena sangat menyukai anak kecil. Dia ingin anak-anak kecil yang ditemuinya tidak akan merasakan apa yang dulu ia rasakan.
Tak Terasa rangkaian acara ulang tahun mulai dari tiup lilin, potong kue, bernyanyi, sulap dan lain sebagainya sudah selesai di lakukan. Acara pun berlanjut ke kegiatan ramah tamah. Ternyata keluarga Amar Harrison bergabung dalam meja yang sama dengan keluarga Damar.
"Selamat ya Amar.. luar biasa harmonis sekali keluargamu ini ya.. " Sambut Pakde yang langsung bangun dari tempat duduknya untuk menyalami satu persatu keluarga Amar secara bergantian, diikuti oleh keluarga Damar juga, termasuk Aleena.
Kemudian mereka pun masing-masing memperkenalkan keluarganya.
"Ini Anak saya, sudah menikah dan sebentar lagi saya mau punya cucu pertama, hehehe. Dan ini keponakan saya yang sudah saya anggap sebagai anak sendiri, karena menikah nanti pun saya yang jadi walinya. Ini anak gadis yang ingin saya perkenalkan, siapa tahu berjodoh, hehehe. Silahkan kenalkan dirimu Aleena" pinta Damar.
"Selamat sore semuanya, salam kenal saya Aleena Rainsyakha" Sapa Aleena dengan lembutnya. Sebenarnya ia merasa malu. Tapi langsung ditembak seperti itu oleh om nya mana bisa dia mundur.
"Cantik ya.. senang saya lihatnya, maaf ya Aleena anak saya yang ingin saya perkenalkan belum datang. Biasalah anak bungsu memang susah kadang diaturnya. Tapi kalau ga diatur, ya kayak gini jadi kebablasan.. ga inget umur" tuturnya santai.
"Terima kasih Pak" Jawab Aleena singkat.
"Dulu tuh Amar ini yang suka ngajakin hang out, suka traktir-traktir temen-temennya gitu. Orangnya ramah dan gampang bergaul sama siapa aja" celoteh Damar yang terus bernostalgia dengan kenangan masa lalunya.
Mereka yang mendengarkan sesekali tertawa dan bersahut sahutan sambil menikmati hidangan yang disajikan. Aleena sendiri lebih banyak diam karena sebenarnya dia gugur sekali, harapan Aleena laki-laki yang dikenalkan itu tidak jadi datang dan menolak pernikahan ini karena tidak setuju.
Tiba-tiba Diandra berseru, "Nah.. ini nih orang yang ditunggu-tunggu" Diandra langsung keluar dari kursinya dan menghampiri seorang laki-laki gagah, badannya sedikit gempal dan memakai setelan kemeja rapi tanpa dasi. Mereka berdua pun saling berangkulan. Aleena menatap ke arah Diandra melangkah, ternyata Aleena mengenal dengan baik siapa laki-laki yang sedang dipeluk Diandra.
__ADS_1
Itu kan Mr. Noval, apakah dia yang dijodohkan denganku?? tapi sepertinya mereka ga mirip, sedangkan wajah pak Amar aku perhatikan mirip seseorang diluar sana. Tapi siapa ya.. lupa
(Pikir Aleena)
"Siang om, tante.. siang semuanya.. Loh.. ada Aleena juga disini" Sapa Noval ramah.
"Siang juga Mr.." Jawab Aleena masih dengan kebingungannya. Pasalnya kalau mereka orang tua Mr. Noval, kenapa dia memanggilnya om dan tante?
"Loh Aleena juga kenal dengan Mr. Noval" tanya Ravina, istri dari Amar Harrison.
"Iya kenal tante, Aleena kan sempat kerja juga di Harrison Collection" belum selesai pembahasan tentang Aleena, Amar sudah menyahut dengan nada tak bersahabat.
"Mana si anak nakal itu, kan sudah dibilang datang tepat waktu" seru Amar.
"Maaf om tadi masih ada yang harus diurus" jawab Noval.
"Kamu itu terus aja jadi tameng buat dia" nada Amar sinis tapi bukan menunjukkan rasa marah pada Noval.
Aleena yang masih sibuk menyantap hidangan yang bisa dibilang sangat nikmat itu, seketika terdiam dan tertunduk mendengar suara seorang laki-laki yang sepertinya dia sangat kenali.
Frey menatap wanita yang sedang tertunduk itu, namun ia belum bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang tepat berada didepan mejanya.
"Kamu itu.. kan mama sudah bilang datang lebih awal, ga enak tuh sama calonmu" Ucap Ravina.
"Apa?? calon tante, maksud tante Aleena??" tanya Noval yang malah antusias mendengar kabar itu.
"Oh ya, kalau Aleena ini pernah kerja di Perusahaan kita, berarti kamu sudah mengenalnya kan Frey?" Amar bertanya penasaran.
"Aleena???" Frey menaikkan satu alisnya.
Perlahan Aleena pun mengangkat wajahnya dan tersenyum seadanya pada pria yang ada di hadapannya.
"Wuaah.. ternyata.. aku sudah bilang kan Leen.. kita ini sudah takdir" sindir Frey nadanya agak ketus memang.
"Sebentar.. Bos jangan bilang dia wanita yang menolak bos berkali-kali??" ledek Noval yang langsung dihujani tatapan tajam bak meriam yang siap menyerang.
__ADS_1
"Maksudnya, kalian ini sudah dekat begitu?" tanya Frena yang mulai penasaran.
"Ya sudah, Syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal. Jadi apakah kalian akan lanjut ke tahap berikutnya" tanya Amar dengan mode serius.
"Sepertinya aku harus menarik kata-kataku" jawab Frey misterius. Membuat dua keluarga itu keheranan.
Aleena memandang Frey dengan penuh rasa penasaran.
"Jadi aku pernah bilang pada Aleena bahwa aku akan mengacaukan acara pernikahannya jika ia benar-benar sudah dijodohkan setelah 3x dia menolakku dengan tegas. Tapi karena itu aku, jadi sepertinya aku akan memuluskan langkahnya saja, bagaimana Aleena apakah kamu bersedia?" tanya Frey yang sambil berbicara sambil berjalan dengan pelan-pelan mengitari kursi Aleena dan sekarang ia berada tepat di samping kursi Aleena tanpa malu.
"Kau menyukainya Frey?" tanya Amar.
"Menurut papa?" Frey balik bertanya.
"Jadi Bagaimana Aleena? apakah masih akan menolakku?" tantang Frey tepat di telinga kanan Aleena membuatnya bergidik ngeri mendengar hal itu.
"Aku... aku.." Aleena terlihat sangat gugup karena saat ini semua mata hanya tertuju padanya.
"Ah.. bos kau masih ingatkah waktu diandra menikah? ada satu wanita yang ingin ku kenalin sama bos, nah dia ini wanita itu" Noval berusaha menutupi kegugupan Aleena saat ini.
"Darimana kau mengenalnya?" selidik Frey
"Awalnya dulu kita itu parnert bisnis, Aleena sekretaris dari Direktur bougenfill textile" jawab Noval.
"Aaah.. lelaki itu ya.. " Frey sambil berpikir dan mengingat tentang kejadiannya saat di pantai dan di acara pertunangannya beberapa waktu yang lalu.
"Jadi Bagaimana Aleena, apakah kamu menerima pinangan dari ananda Frey?" tanya Damar dengan suara basnya, yang membuat Aleena kembali gugup.
"Jangan bilang kau mau menolakku, bukankah kita pernah tidur seatap?? bahkan kita...... " Aleena dengan sigap menutup mulut Frey dan membuat mereka yang ada dimeja makan tertegun dengan apa yang diucapkan Frey walaupun belum sampai usai, tapi cukup mengarahkan pembicaraan ke fantasi dewasa, mengingat mereka semua sudah menikah kecuali Noval.
"Om, tante, kami permisi dulu. Sepertinya kami perlu diskusi berdua terlebih dahulu" Aleena memberanikan diri untuk meminta izin sambil tangannya tak lepas menutup mulut Frey. Dan mereka pun menjauh dari meja makan, dengan tatapan penasaran yang serempak dari semua yang ada disana.
"Hahaha.. anak muda jaman now memang begitu sekarang, kalau begitu saya juga izin mau menyapa keponakan kecil saya disana ya om dan tante" ucap Noval dan kemudian berlalu tanpa menunggu respon dari orang yang diajak bicaranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1