Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 51


__ADS_3

Aleena terbangun ketika mendengar suara Rere yang muntah-muntah di kamar mandi. Berusaha mengembalikan kesadarannya sejenak kemudian Aleena menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat.


Aleena membersihkan jahe, kunyit dan sereh lalu merebusnya. Aleena mencampurkan madu sebelum ia memberikannya pada Rere.


Rere keluar kamar mandi dengan wajah yang pucat dan lemas.


"Sorry ya Leen, lu kebangun gara-gara gue ya?" sesal Rere.


"Enggak kok, ini emang waktu yang tepat buat bangunin aku" Aleena menyodorkan minuman yang sudah dibuatnya kepada Rere.


"Apaan nih?" Rere mengamati gelas bening tersebut, tapi dari wanginya ia merasa lebih baik, meskipun untuk meminumnya butuh perjuangan karena Rere memang baru mencobanya.


Rere baru berhasil meminum setengahnya kemudian kembali berbaring di ranjang. .


"Kamu tiap pagi seperti ini? sudah berapa lama seperti ini?" Aleena menarik kursi di meja riasnya sambil matanya seolah mengintimidasi Rere. Bukan karena marah atau tak suka, lebih kepada rasa khawatir dan tidak habis pikir.


"He'emh, sejak aku tahu bahwa aku hamil. Entahlah mual-mual ini selalu datang setiap hari di jam segini rutin tanpa pernah absen. Tapi hari ini tidak selama biasanya, mungkin karena obat semalam" Rere menyelimuti dirinya.


"Ya udah cuti aja ya, ikuti saran dokter minimal seminggu" bujuk Aleena.


"Tapi ini jumat Leen, nanggung besok weekend" Rere coba bernegosiasi.


"Terus emang kenapa? ga papa lah.. jadin kan kalau ternyata senin udah baikan kamu jadi cuti cuma 1 hari" hibur Aleena.


Rere tengah menimbang-nimbang perkataan Aleena yang ada benarnya juga. Selama Aleena mandi, Rere terlihat mengutak-atik handphonenya, melihat sesibuk apakah pekerjaannya hari ini. Rere bukan tipe yang akan meninggalkan pekerjaan begitu saja.


Aleena keluar dari kamar mandi dengan kondisi rambut basah yang digelung handuk. Ia sudah memakai pakaian kantor yang terdiri dari kemeja putih panjang dengan leher sabrina dan rok rempel warna Dusty Purple. Tubuhnya yang tinggi terlihat menawan menggunakan setelan tersebut.


Tidak ada seragam khusus bagi tim management WO yang berada dibawah naungan Anggi, kecuali untuk vendor-vendor tertentu, seperti tim cathering, tim make Up and gown atau tim sarana dan prasarana.


"Gimana? jadi cuti hari ini?" tanya Aleena sambil sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sebelum nantinya mengeringkan dengan hairdryer.


"Hemh.. sepertinya gue mau ambil cuti aja hari ini, gue numpang istirahat disini ya Leen" Rere masih nyaman berada di bawah selimutnya.

__ADS_1


"Take your time, Re.. aku ada di kantor kok hari ini, ntar kalau kamu bosan dan badannya udah enakan, main aja ke kantor ya" Rere mengangguk lemah mendengar ocehan Aleena.


Kemudian obrolan pun terhenti karena Aleena tengah mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hairdryer yang membuat suaranya agak bising.


Merasa sudah rapi, cantik dan wangi, Aleena mengecek perlengkapan kerjanya dan memasukkan ke dalam tas, kemudian mengambil sepatu pantopel kesayangannya.


"Re, aku berangkat ya. Kamu mau aku pesenin makanan apa?" Aleena bertanya sambil sibuk memakai sepatunya.


"Ga usah Leen, ntar gue Okay Food aja. Sekarang belum mau makan, takutnya ntar malah mual lagi"


Aleena pun berpamitan meninggalkan Rere dirumahnya dan bergegas menuju kantor yang hanya perlu berpuluh-puluh langkah saja untuk tiba disana.


Kantor masih sepi, Aleena langsung menuju ke ruangannya untuk mengecek agenda hari ini. Wedding Organizer yang dibangun oleh Anggi beberapa tahun lalu, memang bukan kaleng-kaleng. Kalangan yang dituju adalah kalangan menengah ke atas. Dalam satu event wedding saja mereka bisa mendapatkan keuntungan sampai puluhan juta.


Bukan tanpa alasan kenapa usaha yang Anggi rintis ini memilih golongan menengah ke atas. Anggi dari keluarga yang cukup terpandang, otomatis teman, kerabat, saudara bahkan tetangganya juga dari kalangan terpandang dan tau sendirilah buat mereka uang bukan masalah.


Ditambah lagi pribadi Kak Anggi yang ramah dan humble pada semua orang, membuatnya tak kesulitan untuk mendapatkan pelanggan. Beban yang berat untuk Aleena mempertahankan kestabilan usaha yang dirintis kak Anggi, ditambah lagi Aleena bukan tipe pribadi yang mudah berbasa basi dalam kesehariannya. Tapi selalu ada jalan setiap ada kemauan.


"Mbak.. tamunya sudah datang" Resha membuyarkan lamunan Aleena yang sedang memikirkan strategi pemasaran untuk usaha WO nya ini.


Tak lama kemudian seorang perempuan cantik berusia sekitar 30-an, menggunakan midi dress berwarna pink dengan motif daun di bagian lehernya terkesan modern dan elegan masuk ke dalam ruangan.


"Selamat siang, Saya Aleena. Mari silahkan duduk" Sapa Aleena ramah. Ini customer pertama yang Aleena tangani sejak awal.


"Hai Aleena, Maaf ya saya baru sempat pertemuan face to face, ternyata Anggi punya adik ipar yang cantik sekali ya.." Jawabnya dengan senyum yang tak kalah ramah.


"Terima kasih atas pujiannya, tapi sepertinya wanita didepan saya ini sangat berkelas dan mempesona. Senang berkenalan dengan anda nyonya"


"Aih.. ga usah lebay gitu ah, panggil saja saya kak Frana. Saya dengan Anggi bersahabat saat SMA"


Setelah merasa cukup berbasa-basi mereka pun langsung membahas terkait persiapan acara. Biasanya Aleena akan menangani acara lamaran, pertunangan ataupun pernikahan yang memang menjadi bahan utama dalam WO ini. Tapi customer kali ini, yaitu Frana akan mengadakan Anniversary yang ke-10.


Frana meminta konsep Anniversary-nya dengan tema Garden Party, santai tapi tetap sakral. Acara ini juga sekaligus perayaan ulang tahun anak pertama mereka yang ke 7 tahun.

__ADS_1


Aleena mencatat semua kebutuhan dari Frana, sesekali juga Aleena memberikan masukan dalam konsep tersebut. Setelah selesai mendapatkan konsep yang diinginkan, Frana meminta izin untuk berkeliling melihat dokumentasi acara yang pernah terlaksana dan sukses.


Frana terlihat sangat antusias untuk memilih dokumentasi yang menurutnya menarik dan ingin di padu padankan pada acaranya nanti. Frana juga melihat koleksi gaun yang ada beserta pernak perniknya.


"Koleksinya banyak dan bagus-bagus ya.." Frana yang memiliki senyum yang manis, terlihat menyenangkan hati ketika sepanjang perjalanan bersama selalu terlihat tersenyum.


Saat Aleena sedang berkeliling menemani Frana, tiba-tiba ia melihat sesosok lelaki yang menjadi topik pembicaraan semalaman tadi bersama Rere. Dan yang membuat Aleena semakin ternganga karena disampingnya berdiri dua wanita, yang pertama berusia sekitar 20 tahunan dan satu lagi berusia sekitar 40an lebih mendekati ke usia 50an.


Mereka sedang berbicara dengan Resha, seolah sedang mempersiapkan acara juga. Aleena menajamkan mata dan pendengarannya untuk menyimak apa yang sedang mereka bahas. Tanpa Aleena sadari Frana sedang mengajaknya berbicara,


"Aleena... Hallo.. Aleena.." Frana menyentuh lembut pundak Aleena.


"Oh.. iya maaf-maaf, Kenapa tadi kak?" tanya Aleena merasa tak enak.


"Siapa emang itu? kamu kenal dia?" Selidik Frana.


"Ah.. iya itu teman kantor saya dulu, tapi saya baru tahu kalau ternyata dia klien kita juga" tutur Aleena yang mendapatkan reaksi "Oh" saja dari Frana.


"Saya rasa udah cukup nih, Kita ketemu 2 minggu lagi di acara saya nanti ya. Saya berharap banyak untuk kelancaran acara nanti ya kak.."


"Terima kasih banyak ya atas waktu luangnya, senang sekali bisa bekerja sama dengan Kak Frana"


Aleena mengantarkan Frana ke depan ruko dan baru berbalik badan ketika mobil Frana melesat yang langsung akan menjemput anaknya ke sekolah.


Begitu berbalik, Aleena berpapasan dengan Arka yang terlihat seperti biasa, Arka tersenyum ramah dan seolah tak ada masalah apa-apa. Berbanding terbalik dengan kondisi Rere sekarang. Entah kenapa itu membuat Aleena jadi ilfeel pada Arka.


"Hai Leen, lu sekarang kerja disini?" tanya Arka ramah, lagi-lagi bikin Aleena bete.


"Iya" Aleena hanya menyahut demikian.


"Siapa Mas..??" tanya wanita usia 20 tahunan itu dengan sangat lembut.


Arka pun memperkenalkan wanita yang bernama Dina itu kepada Aleena. Ingin sekali Aleena mengabaikannya, akan tetapi itu tak bisa ia lakukan, mengingat posisinya saat ini, mereka adalah klien yang harus di nomor satukan.

__ADS_1


Tepat saat Arka berpamitan pulang, Rere datang dari arah rumah Aleena untuk menghampirinya ke kantor. Arka sempat melambaikan tangan pada Rere seolah mereka tak ada masalah. Arka juga bilang katanya nanti aku telpon dengan bahasa isyarat. Dan Rere hanya bisa mematung menyaksikan Arka masuk ke dalam mobil yang disampingnya sudah duduk manis seorang gadis yang selama ini digosipkan teman-temannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2