
Sebuah mobil SUV berwarna putih berhenti di pelataran rumah sakit. Seorang lelaki menggunakan kemeja berwarna soft blue dan celana panjang Navy keluar dari salah satu pintu kemudi mobil tersebut. Kemudian lelaki itu mengenakan kacamata hitamnya dan melangkahkan kakinya menuju meja informasi rumah sakit tersebut. Dia menengok ke arah kanan dan kiri mencari seseorang yang telah membuatnya penasaran. Namun tak ada tanda-tanda yang terlihat dari wanita tersebut. akhirnya Ia memutuskan untuk meja informasi yang langsung disambut ramah oleh salah seorang perawat di sana.
" Selamat pagi Pak, Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang perawat sambil tersipu malu.
"Permisi, saya sedang mencari seseorang disini. Dia bernama Mariam, ah.. aku lupa itu bukan nama aslinya. Hemh.. Ini sus, ciri-cirinya seorang perempuan, tinggi, lumayan cantik, rambutnya lurus, kemarin dia pakai kaos dan celana panjang" Tuturnya.
"Kalau pasiennya atas nama siapa ya?" Suster itu terlihat kebingungan sendiri.
"Nah.. itu dia sus, saya juga lupa tanya" Frey menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Wah kalau begitu kami tidak bisa membantu pak, Kami ini shift pagi disini jadi mungkin saja wanita yang bapak maksud sudah berganti pakaian"
"Baiklah, saya cari sendiri kalau begitu"
Frey merutuki dirinya sendiri yang memang penasaran tapi tidak punya cukup bekal informasi yang ia dapatkan untuk mencari keberadaan wanita itu.
tiga puluh menit ia gunakan untuk berkeliling di area sekitar rumah sakit, namun hasilnya nihil. Akhirnya Frey pun memutuskan untuk pulang dan menyetujui kata terakhir yang Aleena ucapkan,
"Jika berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi".
Frey menghabiskan dua jam perjalanan untuk menuju kembali ke kantornya. Yah.. iya rela melakukannya demi bertemu kembali dengan wanita yang membuatnya penasaran sepanjang malam. Apakah Frey mulai menyukainya? Atau hanya sebatas penasaran?
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%
__ADS_1
Acara pemakaman tengah berlangsung saat ini. Tetapi kesakralannya terganggu oleh ulah seorang lelaki berusia hampir menyentuh lima puluh tahunan tapi masih gagah.
Dengan wajah sendu dan menangis terisak-isak seperti anak kehilangan ibunya, entah memang duka atau hanya settinggan, ia merangsek masuk ke kerumunan yang ada dan memeluk tanah, seraya berkata
"Ma.. Jangan tinggalin Ayah mah... Ayah sayang sama mama, Ayah bisa apa tanpa mama... hiks..hiks.."
Sebagian orang yang sudah kering air matanya, kini basah kembali terharu dengan apa yang dilakukan lelaki hampir tua itu. Padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hari kemarin.
Rinaya sudah ingin menghampiri lelaki hampir tua tersebut. Aleena yang membaca gerak gerik Rinaya langsung berusaha memeluk sang adik kemudian berkata,
"Bukan waktu yang tepat Nay, Biarkan saja dia melakukan hal itu"
Awalnya Rinaya merasa gemas dengan *******-***** kedua tangannya dan mencoba memberontak dari pelukan kakaknya, namun melihat mata kakaknya yang mulai berkaca-kaca kembali Rinaya pun sekuat tenaga menahan emosinya dan memilih untuk membalas pelukan kakaknya.
"Dasar lelaki nggak tahu diri!!! Ngapain lagi kamu ke sini? pergi sekarang sebelum wajahmu ku Habisi"
Alena dan Rinaya sontak berpandangan dan bernapas lega karena Omnya itu mewakili perasaan yang sedang mereka tahan. Tapi memang karena situasi dan kondisinya kurang tepat, para warga yang berada di sana pun melerainya dan memilih menenangkan Om Hamdan yang seperti kerasukan. Mana ada hati Om yang tidak sakit, melihat kedua ponakannya tengah berjuang menyembuhkan ibunya, sedangkan ayahnya malah asik berbuat hal yang tak bermoral, dirumahnya pula.
Kemudian tante Tara menghampiri Joan, dengan lembut ia berkata
"Sudahlah mas, jangan cari gara-gara lagi. Dari dulu juga kamu tidak peduli dengan istrimu. Kenapa sekarang kamu tiba-tiba datang? kalau memang kamu berniat mengucapkan selamat perpisahan pada istrimu, harusnya kamu datang dari kemarin malam bukan malah berzina saat istrimu di rumah sakit!! Sekarang pergilah kami tidak membutuhkanmu lagi dan jangan ganggu kami lagi!"
Orang-orang yang mendengar perkataan Tante Tara pun terkaget-kaget karena tidak menyangka bahwa Joan akan bertindak sejahat itu pada istri dan keluarga kecilnya.
__ADS_1
Joan yang tak mau kalah pun berseru
"Itu hanya salah paham, kamu tidak tahu masalah sebenarnya seperti apa. Rinanya hanya mencoba mengadu domba kita"
"Apa setelah semua ini kamu menyalahkan anakmu sendiri sebagai biangnya?? Sungguh Tega Kamu Joan! Bapak-bapak saya mohon demi ketentraman kakak saya dan ibu dari ponakan saya tolong bantu saya untuk menyingkirkan orang ini sekarang juga di hadapan kami. Jangan percaya apapun yang dikatakannya, kami keluarganya lebih tahu dan sangat sakit atas perbuatannya" Tante Tara yang sepertinya sudah jengah terhadap Joan pun akhirnya memilih untuk mengusir Joan dari pemakaman.
"Apa maksudmu Tara? setelah apa yang aku dan istriku lakukan untukmu dan Hamdan kau tega berbuat seperti ini padaku? sungguh adik yang tidak tahu malu, tunggu pembalasanku!! sudah lepaskan aku, Kalian juga kedua anak yang tak tahu balas budi sama orang tua, Jangan pegangi aku!! aku bisa jalan sendiri. Ingat apapun yang terjadi, Jangan pernah cari aku lagi" dengan tatapan tajam Joan pun pergi dari tempat itu dan acara kembali dilanjutkan. Namun suasananya menjadi berbeda dari sebelumnya.
Tiba-tiba rinaya menangis dengan tersedu-sedu di pelukan kakaknya. Semalam ia bermimpi sang mama memeluknya sambil tersenyum, seraya mengucapkan salam perpisahan namun Rinaya tak dapat membalas perkataan sang mama. Ketika bangun tidur ia dikejutkan dengan melihat ibunya sedang dilakukan tindakan menggunakan alat pacu jantung. Hatinya sudah tak karuan mendengar bunyi mesin tersebut melihat kakaknya yang hanya bisa memejamkan mata sambil berdoa, Rinaya menitikkan air matanya sambil berkata dalam hati,
"Ma.. Rinaya ikhlas melepas mama, Maafin Rinaya ya.. Rinaya belum bisa membahagiakan mama"
Setelah berucap demikian dalam hati Rinaya melihat Dokter dan suster mulai merapikan perlengkapannya serta mencabut beberapa alat yang terpasang di tubuh ibunya. Benar saja sang dokter dan dua perawatnya keluar menyampaikan berita duka cita. Rinaya merasa tubuhnya lunglai dan mulai jatuh terduduk di lantai keramik rumah sakit yang dingin.
Sampai pada saat itu Rinaya masih berharap sang ayah muncul memberikan pelukan dan menguatkan tanpa perlu menjelaskan kesalahannya tadi siang, Akan tetapi nihil.
Ketika jenazah dibawa ke rumah pun Rinaya masih menantikan kehadiran ayahnya. Masih dengan harapan yang sama yaitu datang memeluknya, memberikan kekuatan, mengucapkan kata maaf dan memposisikan dirinya sebagai seorang ayah yang baik, ayah yang siap melindunginya menggantikan posisi ibunya, Tapi sama saja, Nihil.
Sampai pada saat pemakaman tiba Rinaya pun berhenti berharap akan kedatangan sang ayah walaupun itu menjadikannya semakin terpuruk dan pada saat itulah kakaknya yang selalu setia di samping untuk saling menguatkan.
Bukannya datang dan memeluk sang Anak, Ayahnya malah menangis meronta-ronta diatas makan sang ibu. Dan yang membuat Rinaya semakin benci pada ayahnya, kedatangan Ayahnya bukan malah menambah hikmat, tetapi malah mengacaukan segalanya.
Setelah acara doa bersama selesai. Aleena dan Rinaya memilih untuk tetap berada disamping makam ibunya. Sampai tak lama kemudian hujan mulai turun, barulah mereka bergegas kembali kerumah yang penuh kenangan dengan sang mama.
__ADS_1
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%