
"Dans.. kita ke Ueno Park" Ucap Frey memecah keheningan. Dans hanya mengangguk dan mengarahkan maps di layar mobil menuju ke Ueno Park, dan ternyata hanya hanya 15 menit.
Aleena, Rere dan Aira saling berpandangan, kita minta kemana tapi diarahkannya kemana. Tapi walau bagaimana pun mereka bersyukur karena masih diizinkan untuk jalan keluar di waktu perjalanan dinas.
"Shinjuku Gyeon National Garden beroperasi hanya sampai pukul empat, jadi kita tidak akan sempat untuk main disana"
"Oooh...." mereka semua ber"oh" ria.
Tak lama kemudian mereka tiba di lokasi, kemudian semuanya menuju ke gerbang utama. Mereka semua takjub dan antusias mengamati lingkungan sekitarnya. Dipenuhi bunga sakura yang bermekaran disisi kanan dan kirinya.
Aira sudah langsung mengeluarkan handphonenya untuk mengambil gambar suasana di sekitarnya, bahkan sempet nge-vlog juga.
"Ra sini jangan jauh-jauh.." pinta Rere.
"Eh, gue pengen ke kebun binatangnya nih" ucap Leo, Rere menyenggol tangan Leo karena mengucapkan kata "Gue-loe" saat ada atasannya disana.
"Ups... sorry" Ucap Leo.
"Iya.. Iya gue juga mau dong" Seru Aira yang juga pakai kata "Gue-loe". Rere hanya melotot pada Aira yang sama sekali tidak digubris. Sekilas Rere juga menatap ke arah Frey, namun Frey tidak menanggapi panggilan akrab mereka.
"Re, kita lihat museum art yuk.." Ajak Arka.
"Leen kamu mau ikut siapa? museum atau ke kebun binatang? sebelum ditutup nih" tanya Rere pada Aleena.
"Hah??" Aleena bingung sendiri. Namun sebelum sempat ia menjawab Frey baru bereaksi.
"Aleena, bukan kah ada banyak hal yang perlu kita bicarakan?" Ucap Frey.
Mereka berpandangan, heran, Aleena juga cuma menggendikkan bahunya tak mengerti, tapi gak mungkin juga kan Aleena menolak.
"Tapi Mr.. bukannya kita sudah selesai jam kerja ya?" kata Rere lagi.
"Bukankah saya tidak bilang kita mau bekerja?" Jawab Frey tak suka perintahnya dibantah.
"Oh iya baik Mr" Hanya itu yang Aleena katakan sambil menggunakan isyarat matanya pada Rere dan Aira bahwa dia akan baik-baik saja bersama Frey.
Dengan berat hati Rere pun meninggalkan Aleena dengan Frey, sedangkan mereka jadinya terpisah. Rere dan Arka menuju ke museum. Sedangkan Leo dan Aira ke arah kebun binatang. Mereka sudah membuat perjanjian untuk berkumpul di bawah pohon bunga sakura sebelum mencapai ujung di jam yang sudah ditentukan.
Lain halnya dengan Rere yang berat melepaskan Aleena, Leo dan Aira sudah langsung hilang ditelan ramainya manusia disana.
Sedangkan kini tinggal Aleena dan Frey yang jalan perlahan-lahan menikmati pemandangan bunga sakura yang mekar sejauh mata memandang.
"Gimana?" tanya Frey.
"Apanya?" Aleena balik bertanya sambil kurang fokus.
"Hemh.. Apanya?" Frey justru yang bingung.
"Iya.. apanya yang gimana? Mr. itu sebenarnya mau tanya apa?" Aleena membalikkan lagi pertanyaan itu.
"David, kita hanya berdua disini jadi panggil aku David saja"
"Jangan Mr, saya tak terbiasa"
"Biasakan Aleena, Ah.. akhirnya aku tahu namamu yang sebenarnya. Mana Hp mu" pinta Frey.
"Untuk apa??" Aleena kembali bertanya.
"Bisakah kau turuti saja, hp ku lebih bagus jadi tak mungkin aku bawa kabur hp mu"
__ADS_1
Aleena hanya bisa mendengus pelan sambil memberikan hp nya setengah tak rela.
"Atau kau malu memperlihatkan hp mu? mau kubelikan yang baru?"
"Ohow.. aku baru tahu ternyata kau memang benar-benar kaya, tapi hp ku masih sangat berfungsi dengan baik. Jadi aku tak membutuhkan hp baru" Aleena ketus.
Tiba-tiba Aleena terdorong dari belakang oleh seorang laki-laki yang sedang berjalan terburu-buru, hingga mau tidak mau Aleena jatuh ke pelukan Frey yang sedang menggenggam 2 hp, Refleks Frey memeluk pinggang kanan Aleena dengan tangan kirinya.
Secepat kilat Aleena meneggakkan kembali badannya karena kaget, "Maaf" Lirih Aleena.
Frey hanya tersenyum dan berkata kecil "Kok cuma sebentar?" hampir tak terdengar oleh Aleena.
"Kenapa?" tanya Aleena merasa kurang jelas. Namun Frey tak menanggapi malah sibuk menelpon seseorang menggunakan hp Aleena yang ada di tangannya. Setelah dering handphone nya terdengar Frey pun mengembalikan hp Aleena.
"Simpan nomer ku, jangan pernah mengabaikanku. Ingat.. aku ini atasanmu" tegas Frey.
Aleena hanya mengutak-atik hp nya sebentar kemudian ia memasukkan kembali hp nya ke dalam tas selempang kecil berwarna soft blue.
"Kau tidak menyimpan nomor ku?" selidik Frey.
"Nanti saja disini kondisi nya tak memungkinkan aku untuk main hp".
"Baiklah aku juga sudah pegal untuk jalan kaki, kita cari tempat duduk di pinggir kolam Shinobazu". Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
Aleena tersentak saat merasakan ada tangan yang merangkul pinggang rampingnya.
"Dav.. tanganmu" ucap Aleena sambil melirik ke tangan Frey. Tapi orang yang di ultimatum hanya tersenyum dan berkata,
"Apa aku harus merangkulmu dulu baru kau mau memanggil namaku?" Frey mengulum senyumnya.
"Kau rentan akan gosip, aku tak mau jadi bagian dari gosipmu" Sinis Aleena.
Aleena yang malas berdebat pun tidak menolak lagi. Tapi sejujurnya ia merasa berdebar sekali, hatinya cenat-cenut. Padahal saat bersama Alvaro, Aleena tidak merasakan debaran yang sama seperti ini.
Mereka pun berjalan menyusuri jalan panjang seperti gapura berhiaskan bunga sakura.
Sekitar 10 menit berjalan, mereka baru menemukan tempat duduk yang kosong di pinggir kolam. Kemudian mereka duduk berdua disana sambil beristirahat.
"Aku mencarimu setelah hari itu" Frey membuka pembicaraan.
"Mencariku?"
"Hemh.. tapi bodohnya aku, aku lupa nama aslimu siapa? siapa nama pasien yang dirawat dan aku tak berpikir kesana sebelum sampai di rumah sakit"
"Bagaimana kabar mamamu?" tanya Frey lagi.
Aleena terdiam, senyum yang dipaksakan kemudian memandang ke kolam.
"Mama sudah lebik baik. Mama sudah berada di tempat yang jauh lebih baik daripada di dunia ini".
Frey yang paham maksudnya langsung berkata, "Aku turut berduka cita Leen".
"Terima kasih" jawab Aleena datar.
"Lalu kenapa kau ada di pusat kota? bukankah itu jaraknya jauh sekali baik dari arah tempat kita bertemu ataupun dari rumah sakit" tanya Frey.
"Aku bekerja di pusat kota sejak 2 tahun yang lalu tapi sebenarnya sejak SMA aku berada di kota itu. Aku tahu kamu berasal dari pusat kota, tapi pusat kota itu luas dan ternyata aku nggak nyangka kamu seorang bos besar yang masih muda"
"Kau tahu?? tapi kau tidak mencariku?"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Hah!?! bukankah semua wanita akan senang berteman dengan pria tampan, kaya dan muda sepertiku?"
"Ya.. secara naluriah.. tapi entah kenapa aku biasa saja"
"Kau memang wanita aneh"
"Aku tidak suka memiliki saingan di sekitarku. Lihat dirimu betapa mudahnya cipika cipiki dengan wanita lain"
Frey melamun sejenak, lalu tertawa.
"Maksudmu antara aku dan Yukita-San?" Aleena melirik Frey sepintas tapi kemudian ia kembali menatap kolam.
"Kenapa? kau cemburu?" Frey terkikik geli.
"Apa? Cemburu? untuk apa aku cemburu?" Aleena menyangkal.
"Tak apa kalau kau tak suka, aku tak akan melakukannya lagi".
"Sesukamu.. kita kan baru bertemu 3x, aku tak suka diatur orang lain jadi untuk apa aku mengaturmu, apalagi kau atasanku".
"Apakah kau sejutek ini kalau ada lelaki yang mendekatimu"
"Jutek? aku?? aku biasa saja"
Yah begitulah percakapan antara mereka, hanya sekedar saling mengenal. Aleena juga masih belum bisa terbuka tentang dirinya kepada Frey mengingat ia juga hanya sebagai bawahannya Frey.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Arka dan Rere berjalan dengan santai menuju museum Art. Arka menggenggam tangan Rere sepanjan perjalanan. Rere tak menolak ataupun menerima genggaman tangan Arka.
"Sudah 2 tahun ini aku mengejarmu, dan kamu masih selalu seperti ini Re, kamu tak menolak tapi juga tak menerima" ungkap Arka.
"Lu udah tahu alesan gue ka"
"Karena aku berondong?? kita cuma beda 2 tahun Re, kalau bisa aku susul usia kamu sekarang Re"
"Gue ga maksa lu suka sama gue, tapi ya sampe sekarang gue ga tau harus gimana?"
"Aku pernah mencoba melupakanmu, mencari yang lain. Tapi aku selalu gagal dan aku gak punya kesempatan untuk deket sama kamu karena kamu selalu menolak"
"Terus gue harus gimana??"
"Kasih kesempatan aku buat deketin kamu, 10x nge date gimana? kayak di drakor-drakor Re"
"Hahaha kemakan drakor lu Ka..."
"Biarin aja yang penting ada usaha"
"Kalau gue tetep ga nerima lu?"
"Gue akan nyerah saat itu juga" ungkap Arka.
"Hemh.. ya udah gue coba, ini yang pertama oke"
"Hah?? cepet banget ra?"
"Yes or No??"
"Ya.. oke lah kalau begitu" dengan perasaan berat Arka menerimanya. Mereka pun lanjut berkeliling museum Art tanpa melepaskan genggaman tangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1