
Hari ini Aleena sudah mulai bekerja di tempat Wedding Organizer milik Anggi. Hal itu disambut senang oleh Anggi dan keluarganya. Aleena mulai sibuk mempelajari banyak hal baru disana. Seketika itu ia dapat melupakan Frey dengan mudahnya. Ditambah lagi Aleena kehilangan handphone miliknya saat sedang mengurus kepindahan dari kost-an yang lama ke tempat yang baru, dimana kini ia tinggal di belakang kios WO yang sengaja disiapkan oleh Diandra dan Anggi untuk Aleena.
"Padahal kakak ga usah repot-repot loh nyiapin kamar segala buat aku, aku masih bisa nge kost kok" ungkap Aleena.
"Iya tapi kost-an kamu itu kejauhan dek kalau mau kesini, ditambah lagi kamu ga ada kendaraan. Selagi memang ada, kakak malah merasa lebih tenang kamu disini" jawab diandra.
"Semoga kamu betah ya Leen kerja disini" ungkap Anggi ramah.
Ya, lagi dan lagi Aleena harus beradaptasi dengan lingkungan baru dengan rekan kerja yang baru dan suasana yang baru pula.
Anggi memperkenalkannya dengan Resha, yang selama ini menggantikan pekerjaannya selama ini. Seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki satu anak. Suaminya hanya sebagai pekerja serabutan, sehingga membuat Resha harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Oleh karena itu ia dengan senang hati menerima setiap lemburan yang ada.
Aleena mulai mempelajari beberapa hal terkait WO, mulai dari dekorasi, wedding gown, vendor-vendor cathering dan juga upacara adat pernikahan dari setiap daerah untuk menyelaraskan semua kebutuhan dalam satu waktu.
"Bu, Klien kita sekarang yaitu seorang penulis. Ia ingin menggunakan pernikahan adat betawi. Semua sudah selesai di urus, tapi ada satu kendala nih bu. Tiba-tiba saja dari pihak Klien minta venue pelaminannya dirubah. Awalnya sudah sepakat warna merah dan gold, tapi entah karena apa mereka merubahnya jadi white and soft blue, sedangkan vendor venue kita ga ada yang ready warna itu" Ungkap Resha.
"Secara buggeting kita gimana?" tanya Aleena serius.
"Ya ga masuk kalau kita harus buat yang baru, kita juga ga bisa batalin vendor sebelumnya begitu aja, soalnya dari awal sudah deal" Resha menambahkan.
"Ya udah kita jalan siang ini ke tempat vendor itu"
"Siap bu"
"Eh tapi bentar deh.. Resh kayaknya kita seumuran, panggil aja aku Aleena"
"Tapi ini lingkungan kerja bu.. sepertinya agak gimana gitu"
"Ga usah sungkan Resh, soalnya aku juga ga biasa dipanggil ibu" ucapnya sambil tersenyum.
"Baiklah Leen, akan saya usahakan"
"Oke thanks ya Resha.."
Aleena menjalani hari-harinya tanpa mengalami kesulitan yang berarti selama sepekan ini. Acara pertama yang ditanganinya berjalan dengan lancar, aman dan terkendali. Keinginan klien pun terpenuhi setelah diskusi alot dengan vendor yang terkait.
Aleena mulai merasa nyaman dengan kondisi ini. Dimana ia dapat dengan mudah mempelajari sesuatunya dibantu Resha seolah tidak ada kendala yang berarti.
Sampai suatu hari, Aleena mendapatkan klien kejutan.
"Mbak Aleena, hari ini kita ada jadwal ketemu klien di Neo's Cafe, sekitar setengah jam lagi ya..." Resha mengingatkan kembali.
__ADS_1
Aleena yang fokus pada laptop didepannya hanya mengangguk dan berkata "oke.. oke..".
Setengah jam kemudian, mereka berdua melesat menuju lokasi janjian. Resha menyetir mobil kantor, disampingnya Aleena masih memainkan IPad untuk mengecek bahan diskusi dengan klien ini.
"Resh.. tolong ceritain tentang klien kita ini dong" Aleena memang selalu meminta gambaran profil klien yang akan ditemuinya. Dengan tujuan untuk memahami karakter klien dan harus bersikap bagaimana menghadapinya. Aleena sedikit belajar tentang kepribadian jadi tak dapat dipungkiri keberhasilannya dalam menggaet hati klien selama ini dari hasil praktek mempelajari tentang kepribadian manusia.
"Klien kita hari ini adalah seorang model, keponakan dari pemilik sebuah butik yang cukup maju di kota ini. Senang dengan sesuatu yang mewah dan Perfectionis. Klien kali ini hanya kerjasama di bagian vanue dan cathering saja mbak, yang lainnya mereka punya vendor sendiri" Tutur Resha sambil tetap fokus pada jalanan mengontrol laju nya mobil antara pedal gas dan rem.
"Calon suaminya seorang CEO loh mbak.. ganteng, kaya, romantis pula. Kemarin pas pertemuan pertama calon suaminya itu nurut-nurut aja gitu sama maunya sang pacar. Oh ya namanya itu.. kalau ga salah Fransisca Anne dan Alvaro deh"
Deg..
Aleena yang tengah fokus dengan Ipad nya langsung menghentikan gerak jarinya yang sedari tadi turun naik untuk mengecek materi.
"Oh iya mbak, katanya dulu mbak sempet kerja di bougenfil textile ya?? Mbak kenal ga sama calon lelakinya?" tanya Resha penasaran.
sedetik, dua detik, lima detik, 10 detik tak ada jawaban.
"Mbak.. Mbak.. kok ngelamun??" Rasha yang menyadari Aleena terdiam tanpa ekspresi pun mencoba mengembalikan kewarasannya. Seketika Aleena kembali tersadar,
"Eh.. kenapa tadi Resh?? Maaf ya.." ucap Aleena.
"Mbak ga papa kan? ada yang sakit kah?" Tanya Resha yang melihat wajah Aleena tiba-tiba memucat.
Aleena berharap perjalanan masih jauh, karena pikirannya tengah terganggu dengan banyak sekali pertanyaan seperti, bagaimana aku harus memulai komunikasi? Apakah hal ini tidak akan mengganggu profesionalitas pekerjaannya? Kenapa harus dia sih kliennya? Mana aku belum faham banyak lagi.
"Oh ya Mbak, ini klien VVIP kita ya mbak, soalnya Miss Fransiska itu sahabat baiknya Bu Anggi" Resha memecahkan keheningan didalam mobil itu, sekaligus juga mengusaikan pikiran Aleena.
What?? bersahabat? iya sih aku ga terlalu dekat, jadi ga tau sedekat apa persahabatan mereka. Saat mbak Anggi menikah pun sepertinya dia tidak hadir. Pertanyaan itu muncul dari pikiran Aleena.
"Mbak.. mbak.." Kembali Resha memecah pikiran Aleena.
"Ah Iya Resh, thanks informasinya"
"Mbak kenapa?? lagi kurang sehat? atau lagi ada masalah?" Resha mulai khawatir.
"Ah tidak Resh.. aku hanya sedang menebak-nebak teman yang mana? karena saat Mbak Anggi menikah banyak tamu yang hadir, sebagian saya kenal, sebagian lagi tidak" Aleena mengeles se-rapi mungkin.
"Oke mbak, kita sudah sampai"
Sebelum Aleena membuka pintu mobil, ia sempat menarik nafas cukup dalam untuk mengurangi kegugupannya. Satu yang ia khawatirkan yaitu bertemu Alvaro setelah 8 bulan ini, ia sudah merasa berhasil move on.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruang rapat yang dingin terasa tenang ketika para karyawan yang hadir mendapatkan pujian ringan atas laporan yang diberikan.
"Kerja Bagus, ini laporan yang saya harapkan" Seru Frey sambil menyimpan kembali laporannya di meja, setelah Ghea selesai mempresentasikan hasil Perjalanan Bisnis Aleena kemarin.
"Bagaimana kalian bisa membuat laporan yang baik ini, sedangkan yang ikut perjalanan bisnis saja tidak hadir hari ini?" Selidik Frey yang sebenarnya gelisah karena melihat tidak ada Aleena dalam rapat.
"Kami membuatnya bersama-sama Mr, lengkap dengan laporan dan dokumentasi saat kami menyusunnya. Mengenai kehadirannya bukankah harusnya Mr. lebih tahu dari kami?" Semprot Ghea tanpa basa basi merasa waktunya untuk balas dendam pada atasan yang pertemuan sebelumnya membuat Aleena murung.
"Maksudnya?" tanya Frey.
"Aleena sudah menyelesaikan kontrak kerjanya dengan Harrison Collection sejak 2 minggu yang lalu Mr, karena beliau hanya menggantikan saya sementara waktu selama saya cuti" Ungkap Vivian.
Frey hanya terdiam, ia merasa ada yang terlewat selama ini sampai-sampai dia ketinggalan informasi tentang itu.
Selepas rapat, Frey pun langsung meminta salah satu staff HRD kepercayaannya untuk keruangannya dan menanyakan perihal selesainya kontrak kerja Aleena.
"Iya Mr, dua hari sebelum Mr. berangkat ke Jepang saya memberikan beberapa dokumen yang perlu ditanda-tangani, salah satunya dokumen kontrak kerja" Ucapnya hati-hati, salah bicara maka siap-siap saja dia celaka.
Frey mengingat kejadian tersebut, satu hal yang Frey sadari waktu itu, bahwa dia belum mengenal nama asli Aleena, yang sebelumnya dia bilang namanya Mariam.
"Ah iya, Apakah tidak bisa dilanjutkan kembali kontraknya dengan memberikan kontrak yang baru?" tanya Frey setengah bernegosiasi yang sebenarnya ini bukan untuknya.
"Sebenarnya bisa Mr, tapi keputusan kembali pada karyawan tersebut. Jika ia menginginkannya maka akan kita rekrut kembali, sedangkan ketika karyawan tersebut menolak maka kami tidak bisa memaksanya" Ungkap HRD tersebut.
Setelah pegawai HRD itu keluar dari ruangannya, Frey segera meraih ponselnya dan mengetikkan satu kontak dan memanggilnya. Tak berapa lama, deringan ke 3 telpon diseberang sana terangkat.
"Halo..." Jawab suara bass khas lelaki di seberang telpon.
"Ini siapa? bukankah ini no ibu Aleena??" tanya Frey dengan sangat penasaran.
Muncullah pikiran-pikiran negatif Frey terhadap Aleena saat menerima jawaban dari orang diseberang sana.
Akankah ini pertanda buruk untuk hubungan mereka???
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Happy Eid Mubarak Gaess... 👳
Selamat Idul Fitri bagi yang merayakannya...
__ADS_1
Semoga Allah merima amal ibadah kita semua, Aaaamiiiin.... 😇
Sehat selalu untuk kalian semua..