Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 29


__ADS_3

Setelah mengantarkan Aleena pulang, Angga langsung pergi dari sana. Mengingat Aleena juga tinggal di kosan putri dan ini sudah sangat larut, mendekati tengah malam jadi Angga tidak memungkinkan juga untuk diajak mampir oleh Aleena.


Kini Aleena tengah bersiap untuk menanti kejutan baru, entah apa yang akan dihadapinya nanti di kota orang. Dengan teman yang baru, pengalaman yang baru serta suasana dan lingkungan yang baru. suka atau tidak Inilah Pilihan Alena. Sebenarnya sih Bukan Pilihan yang terbaik yang diinginkan oleh Aleena.


Perusahaan hanya memberikan dua pilihan padanya, yaitu bertahan dan dimutasi dalam jangka waktu 6 bulan lalu kemudian kembali ke kantor atau mengajukan pengunduran diri tapi harus membayar penalti karena kontrak kerjanya yang belum selesai. Meskipun Iya tahu bahwa mungkin ada konspirasi di belakangnya tapi Alena masih harus bersikap realistis bahwa saat ini ia membutuhkan uang. Sebentar lagi Rinaya akan melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi yang pastinya membutuhkan biaya yang besar ditambah lagi kehidupan Rinaya sekarang adalah sepenuhnya tanggung jawab Alena.


Aleena tidak kesulitan ketika harus beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Ia juga dapat mengerjakan semua tanggung jawab yang dibebankan padanya tanpa harus bekerja keras dari awal mempelajarinya. Pasalnya memang saat kerja bersama Alvaro, ia harus multitalent agar bos nya itu selalu merasa puas, Zero Mistake, itu prinsip Aleena dalam bekerja, ngikut-ngikut ala komedi yang di tivi itu looh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kok bisa sih komplen separah ini??? Harusnya kan kamu bisa handle itu tanpa sedikit-sedikit bertanya!!!" Alvaro melempar berkas yang ada di tangannya ke meja, ia mengacak-acak rambutnya frustasi.


Hal ini terjadi karena salah satu customernya yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan kain mengembalikan sebagian besar kainnya dan meminta ganti rugi uang kembali karena kain yang dipesan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh customer.


Tak tanggung-tanggung, perusahaan harus mengembalikan puluhan juta sebagai ganti rugi. Seperti yang diketahui, terkadang penyampaian Alvaro saat presentasi dengan di lapangan sering berbeda. Aleena selalu menyiapkan catatan dan notulensi selesai rapat, kemudian konfirmasi bulak balik antara pabrik dan customer.


"Tapi sejujurnya memang posisi kita yang salah pak, mau bagaimana juga" Angga mencoba mengklarifikasi.


"Apa sih yang kamu pelajari 2 minggu ini dari Aleena, kok gini aja saya harus turun tangan!!"


"Kamu itu lulusan kampus ternama dan prestasi kamu juga sangat baik untuk kalangan Fresh graduate, harusnya kamu cepat belajar dong sama hal-hal kayak gini"


Angga yang mulai terpancing emosi pun mengeluarkan tanduknya.


"Pak, Bayi aja lahir tuh ga langsung jalan. Saya sudah berusaha belajar secepat mungkin, tapi ada banyak hal yang perlu saya pelajari. Harusnya kalau bapak tidak bersedia dengan perubahan baru, ya jangan rekrut orang baru, pertahankan yang sudah expert di bidangnya. Bener ya kata bu Aleena, saya harus selalu siap jadi samsak baik itu kesalahan saya ataupun kesalahan bapak sendiri".


Wajah Alvaro mulai panas dan ingin rasanya menyerang Angga saat ini juga, kalau saja ia lupa bahwa ia adalah sepupu calon tunangannya. Pada akhirnya Alvaro hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat didalam saku celananya.

__ADS_1


"Saya sudah berusaha secepat mungkin mempelajari job desk saya disini. Akan saya perbaiki yang saya bisa, jika bapak masih merasa kecewa atas kinerja saya, Bapak boleh memecat saya. Kalaupun saya harus mengganti kerugian yang perusahaan, bukankah bapak tahu saya sangat mampu untuk itu!!" tantang Angga.


Angga mengambil berkas yang tadi dilempar Alvaro diatas meja, kemudian berjalan menuju pintu. Hampir selangkah lagi menuju ke pintu, Angga berbalik


"Seorang pemimpin itu ketika mendapat masalah ia hadapi dan mencari solusinya, bukan malah menyalahkan bawahannya tanpa memberikan solusi. Terima kasih atas pelajaran berharganya pak dan Permisi!!"


Angga keluar dari ruangan, melempar berkas yang tadi ia ambil lalu pergi menuju lift. Yang ada dipikirannya hanya kopi saat ini. Ia butuh sesuatu yang dapat menjernihkan kembali pikirannya.


Di dalam ruangan Direktur, Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil terus mengacak-acak rambutnya. Belum selesai urusan yang satu, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.


"Masuk" Jawab Alvaro sambil merapikan kembali rambutnya dengan tangan.


"Pak saya mau menyampaikan laporan bahwa pegawai magang kita sudah menyelesaikan masa trainingnya. Ini berkas untuk kontrak mereka" Amara memberikan map biru dengan sopan kepada Alvaro.


"Mengenai mutasinya, bagaimana?"


"Aah.. Aleena maksudnya? sudah saya atur pak. Dia pun menerima keputusan itu, awalnya dia berniat untuk memilih mengundurkan diri. Akan tetapi saya memberikan pilihan yang keduanya tidak menguntungkan baginya" Alvaro hanya manggut-manggut.


"Saya juga sudah berkoordinasi dengan manager tim produksi untuk membuatnya kerja full time, sehingga sebisa mungkin selama 6 bulan ini beliau tidak akan kembali ke kota ini".


"Baik Amara, saya akan menyampaikan pada manager keuangan untuk memberikan mu bonus bulan ini"


"Benarkah pak? Wuaah saya senang sekali. Terima kasih pak, saya akan selalu mendukung keputusan bapak" sekalipun harus membuat orang lain kesusahan, tuturnya dalam hati tanpa merasa bersalah sedikit pun pada Aleena.


Rupanya Alvaro mengarang cerita pada Amara tentang alasannya membuat Aleena harus dimutasi. Yah benar, feeling Aleena tentang konspirasi atas kepindahannya benar sekali, akan tetapi ia tidak memiliki cukup bukti ataupun saksi untuk mengusutnya.


Sikap profesional Aleena dalam pekerjaan, membuatnya mengesampingkan apapun yang membuatnya resah. Ia fokus pada bidang yang sekarang sedang diembannya.

__ADS_1


Amara yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hanyalah korban disini, tapi dia pun tak menyadari bahwa saat ini ia sedang dimanfaatkan oleh bos nya sendiri.


Selepas kepergian Amara, Alvaro menyatukan kedua tangannya dan menahan dagunya agar tak terjatuh sambil mengangguk-anggukan kepalanya perlahan. Lelah.. ia sangat lelah. Niat awalnya ia ingin menghukum Aleena dan berharap wanita itu mengemis-ngemis untuk kembali padanya dan rela menjadi yang kedua demi status dan jabatannya. Tapi walaupun ia berusaha menjatuhkannya, naasnya ia yang terkena imbasnya. Rugi puluhan juta tak pernah terjadi saat Aleena berada disampingnya. Bahkan langganan akan kain yang dihasilkan oleh pabriknya berkembang pesat selama tiga tahun ini.


Tapi Gengsi dan harga diri, membuatnya memilih rugi daripada harus mempertahankan Aleena disisinya. Ditambah lagi setelah pertemuan kedua keluarga antara keluarga Alvaro dan keluarga Fransiska beberapa minggu lalu membuat Fransiska lebih posesif pada Alvaro, itu sebabnya Fransiska meminta sekertaris Alvaro diganti menjadi laki-laki saja. Walaupun secara wajah Fransiska lebih unggul dari Aleena, tapi Aleena tidak terlihat wanita biasa saja dimata Fransiska.


Dering ponsel nyaring berbunyi, Alvaro yang tengah melamun langsung mengambil gawainya, melihat siapa yang tertera di layar handphonenya.


"Haloo sayang... lagi sibuk ya??" Tanya wanita diseberang sana dengan nada manja.


"Hemh.. enggak kok. Kalau aku sibuk mana mungkin aku angkat telpon kamu. Ada apa honey?"


"Sebentar lagi jam makan siang nih, udah ada rencana makan siang?"


"Belum, kenapa?"


"Kayaknya calon suami ku ini lagi banyak pikiran, gimana kalo nanti siang makan bareng sama aku. Temen aku lagi buka Cafe baru deket tempat ku pemotretan, kamu bisa kan sayang?"


"Oke nanti jam 12 aku otw ya jemput kamu"


"Aaa.. Yess!! oke deh aku tunggu ya sayang.."


"Bye Honey"


Setelah menyelesaikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani dan di revisi, Alvaro mengambil jasnya dan bergegas keluar ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2