
Arka menyetir dengan degup jantung yang tak beraturan. Jalanan pagi yang masih sepi membuat Arka tak ragu untuk melajukan mobilnya dengan cepat. Dibelakang kemudinya Rere dalam kondisi tidur di pangkuan Aleena terlihat tengah tak sadarkan diri.
Aleena mengusap-usap rambut Rere dengan penuh rasa cemas. Ia bahkan tak terlalu memperdulikan Arka yang membawa mobilnya dengan kekuatan penuh.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di rumah sakit yang dituju. Rere digendong oleh Arka menuju brankar rumag sakit. Begitu bankar di tarik, Aleena langung mendorong brankar tersebut, entah kenapa ia merasa memiliki kekuatan yang besar untuk bisa mendorong. Dibantu dua orang suster dan Arka tentunya.
"Sus... Dokter Kandungan, sus!!" Seru Aleena, yang membuat Arka terlonjak. Arka menatap Aleena dengan penuh tanda tanya, seolah seperti minta klarifikasi, tapi Aleena hanya diam tak berekspresi.
Rere sudah dibawa keruang IGD, sedangkan Arka dan Aleena hanya boleh menunggu diluar. Tepat setelah pintu IGD tertutup, Arka mendekati Aleena dengan maksud meminta penjelasan, tapi sepertinya Aleena enggan menanggapi.
"Leen..." Beru saja Arka memanggilnya tiba-tiba ponsel Aleena berdering. Ternyata Resha yang memanggil, mengingatkan bahwa Aleena memiliki klien hari ini dan sebentar lagi klien tersebut akan tiba di kantor. Aleena hanya bisa tertunduk lesu karena terpaksa harus meninggalkan Rere, untung saja masih ada Arka, walaupun berat tapi Aleena menjadi tida khawatir.
"Ka.. Sorry, aku udah ada janji nih sama klien. Aku gak bisa nemenin Rere sekarang, titip Rere ya.. kalau kamu mau tau kejelasannya tanya aja sama Rere, aku rasa kalian juga perlu untuk bicara berdua, aku pamit ya ka..." Tutur Aleena.
Arka yang seolah tak diberi kesempatan untuk bicara, hanya bisa mengangguk lemah dan membiarkan Aleena meninggalkannya sendiri di ruang tunggu IGD.
Setelah Aleena tak terlihat lagi dari kejauhan, Arka menghempaskan tubuhnya untuk duduk sambil menarik nafasnya dalam-dalam. Banyak pertanyaan yang pada akhirnya berputar di kepala Arka.
Kenapa Rere sakit? Kenapa Rere ada dirumah Aleena? kenapa akhir-akhir ini Rere sulit dihubungi? kenapa harus dokter kandungan?
Pertanyaan Arka yang paling terakhir yang membuatnya bingung, ingin bahagia takut prediksinya salah.
"Keluarga Reina Anandhyta" Panggil sang perawat lembut. Arka langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri sumber suara.
"Silahkan pak, Dokternya mau bicara" ucap suster itu tanpa memastikan kembali bahwa Arka benar atau tidak keluarganya Rere.
Arka bergegas menghampiri brankar Rere yang hanya tertutupi gorden antara brankar satu dengan brankar lainnya. Disana terlihat dokter sedang memeriksa beberapa bagian dari tubuh Rere. Sedangkan Rere masih dalam kondisi yang lemas tak sadarkan diri.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Arka to the point.
"Kondisi bu Rere sepertinya memang sedang drop, tapi tidak apa-apa kok bayinya sehat-sehat saja, hanya memang bu Rere ini jangan dibiarkan kelelahan atau stress yang berkepanjangan. Kalau memang ada masalah sebaiknya langsung di selesaikan ya pak. Untuk kondisi janin kuat dan sehat, tapi sepertinya kondisi bu Rere nya yang agak rentan apalagi mengingat bu Rere juga masih bekerja" Dokter menjelaskan panjang lebar.
"Bayi.. Janin.. itu Artinya??" Arka bergumam sendiri di dalam hatinya. Tapi ia tak berbicara lantang karena khawatir menimbulkan kecurigaan.
"Jadi apa saja yang harus saya perhatikan untuk menjaganya dok?" tanya Arka antusias.
Dokter pun menjelaskan secara panjang lebar kepada Arka terkait apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga ibu hamil tri semester pertama ini. Arka menyimak dengan baik setiap penjelasan yang diberikan oleh dokter sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
30 menit kemudian, Rere tersadar dari pingsannya. Ia melihat ke sekelilingnya dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.
"Dimana ini?" lirihnya.
"Re... sudah sadar sayang??? syukurlah..." Arka langsung menggenggam tangan Rere dan menciuminya.
"Kenapa gue disini ka?? Aleena mana?" Rere bertanya lagi.
"Minum dulu ya Re.. " Arka langsung menyodorkan gelas yang ada di atas meja lemari kecil ke Rere tanpa menerima bantahan dari Rere sendiri.
"Bayiku.. " Rere yang sudah sadar sepenuhnya baru menyadari akan kondisinya dan langsung memegangi perutnya yang masih terlihat rata. Tapi sedetik kemudian Rere tersadar karena otomatis hal itu membuat Rere menutup mulutnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri posisi nya masih diatas perut.
"Bayi kita sayang... " Arka mengelus rambut Rere dengan penuh kelembutan.
Tiba-tiba saja Rere menangis tersedu-sedu.
"Maafin aku ya Re.. aku ga tau kalau kamu hamil anak kita. Kenapa kamu susah sekali di hubungi Re..." Sesal Arka.
"Gue ga tau harus gimana, gue ga tau bakal secepat ini, gue juga ga tau lu bakal nerima gue dan anak ini atau engga?" Rere menangis dengan lirihnya.
"Hey.. kok fikirannya begitu, pantes aja tadi dokter ngomel-ngomel" Ucap Arka sengaja berbohong, ia ingin melihat reaksi Rere saat mendengar hal itu.
"Kamu enggak apa-apa kok bunda.., Bayi kita juga sehat, cuma bunda itu banyak pikiran katanya. Pasti bunda mikirin ayah kan??"
Hah?!? Rere terperanjat, apa-apaan ini.. kok tiba-tiba maen ayah dan bunda aja.
"Ka.. lu baik-baik aja kan?" Rere kebingungan.
"Ssst... Ayah, panggil aku Ayah, atau mas, atau sayang juga boleh" goda Arka.
"Iiih.. " Rere kesal sendiri.
"Emang kamu yakin Bayi ini adalah anakmu?" Rere melunak, dia mengganti sebutan gue-lu yang sengaja di pertahankannya kepada Arka.
"Jangan kamu pikir selama aku menjauh dari kamu aku nggak merhatiin gerak-gerik kamu ya, Kemanapun kamu pergi aku selalu tahu dan dengan siapapun kamu pergi aku pasti tahu. Oleh karena itu aku sangat yakin bayi yang kamu kandung adalah anak aku, anak kita. makanya pas telepon aku nggak diangkat pesan aku nggak kamu jawab, aku nggak terlalu khawatir Karena aku tahu kamu sedang bersama Aleena" Tutur Arka.
Arka yang notabene nya orang mampu memang bisa saja menyewa seseorang untuk memata-matai Rere dengan mudah. Ia juga akan berusaha mencari tahu Apakah ia tengah dekat dengan seseorang atau memang ada yang sedang mendekatinya atau bahkan bisa saja jalan dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuan Arka. Tapi tidak ada yang mengarahkan kesana. Fakta membuktikan bahwa Rere yang memang jutek terhadap orang di sekitarnya tak mudah didekati atau mendekati laki-laki lain. Untuk itulah Arka sangat yakin bahwa anak yang dikandung Rere adalah anaknya.
__ADS_1
Rere hanya diam saja mendengar penuturan Arka panjang lebar. Kemudian ia teringat akan wanita yang bersamanya serta digosipkan dengannya yang membuat mereka berjarak.
"Jadi kapan kamu mau aku lamar, sayang??" tanya Arka melihat Rere yang masih terdiam.
"Lamar?? untuk apa?" Rere balik bertanya.
"Ya.. untuk menikah, untuk mensahkan hubungan kita, untuk anak kita" Arka bicara dengan percaya diri.
"Haha.. kau mau melamarku sedangkan kau tengah mempersiapkan pernikahan dengan wanita lain. Yang benar saja masa ada 2 pengantin di pelaminan" Arka menggaruk kepalanya padahal sebenarnya tidak gatal.
"Sudahlah Ka, aku tidak akan memintamu untuk bertanggung jawab terhadap aku dan Bayi ini. Cukup biarkan kami hidup dengan ketenangan. Itu saja" Rere mencoba berbesar hati.
"Bagaimana aku bisa membiarkanmu setelah melihat keadaannya sekarang ini, Re.. "
"Terus Lo mau apa Ka?? gue udah bilang, gue ga mau nikah sama cowok yang emang udah punya calon pengantin yang lain.. ga apa apa ka, gue ga apa-apa. gue janji gue ga akan sakit kayak gini lagi" pecah sudah tangis dan kesabaran yang Rere pertahankan sejak kesadarannya pulih.
"Siapa sih yang mau nikah sama cewek lain?? emang Aleena ga bilang kemarin aku ke kantornya mau apa??"
Rere seketika menoleh, adakah yang belum ia ketahui terkait hal ini. Rere menghapus air matanya dan menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Aku kesana cuma nganter Dina aja, kakaknya mau menikah disini tapi dia belum bisa cuti dan kerjanya diluar negeri sana. otomatis segala persiapan dilakukan oleh Dina dan ibunya. Aku ga tega ngebiarin dia bawa motor sedangkan ibunya yang jalannya saja butuh penompang harus boncengan sama dia"
"Hah.. " Rere cengo sendiri.
"Makanya kalau aku telpon itu diangkat. Biar ga langsung ambil kesimpulan sendiri. Kamu juga kan janji mau kasih kesempatan 10x kita kencan, tapi baru 7x kamu udah sulit hubungi"
"Mana mau aku deket sama orang yang punya kisah menarik di kantor sama cewek lain?"
"Oh.. hahaha.. " Arka tersenyum dengan lebarnya.
"Kenapa ih, ga lucu" Rere cemberut.
"Makasih ya... sekarang aku tahu bahwa kamu sangat mencintai aku.. " Bisik Arka, membuat Rere makin kebingungan.
"Apaan sih.. "
"De.. tau ga, Ayah bahagia banget.. ternyata bunda bisa cemburu juga sama ayah" ucap Arka sambil mengelus-elus lembut perut Rere yang belum terlalu terlihat itu.
__ADS_1
Rere tak bisa berkata apapun. Ia hanya menyaksikan interaksi antara Ayah dan anak yang masih belum berbentuk itu tapi sudah bernyawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...