
"Frey David Harrison" Frey mengulurkan tangannya dengan percaya diri.
Tangan yang memutih karena genggaman kuat Frey itu seketika melongo, "A.. Apa???" Alvaro terbata-bata saat mendengar nama itu.
"Kenapa Pak Alvaro? apakah ada masalah?" tanya Frey menangkap kebingungan Alvaro.
"Oh ya bukankah harusnya anda bergabung dengan para tamu undangan? disana pasti mereka mencari anda"
Alvaro masih tak bergeming, entah apa yang membuatnya menjadi kaku tak berdaya.
"Sayang.. apa ada yang terluka?" tanya Frey memastikan kondisi Aleena sambil memegang pundaknya khawatir.
"Aku baik-baik saja, mas" Frey tersenyum kembali mendengar panggilan yang dirindukan.
"Pak siapa tadi? Pak Alvaro yah?? kalau sudah selesai boleh saya bawa calon istri saya?" Frey sengaja menekankan kata calon istri pada Alvaro.
"B..b.. boleh pak" Tanpa menunggu Alvaro beranjak, Frey sudah lebih dulu menarik lembut tangan Aleena menuju ke tempat parkir.
Frey memang sengaja datang karena mendapat undangan khusus dari Alvaro. Tanpa Alvaro ketahui bahwa Frey merupakan undangan VVIP yang menjadi target perluasan relasi bisnis melalui undangan ini.
Wajah Alvaro berubah pucat setelah kejadian tadi. Sekarang ia kebingungan harus bagaimana, mana Harrison Collection salah satu yang memberikan keuntungan besar untuk Bougenfil Tekstile.
Alvaro kembali ke area venue setelah dipanggil oleh Angga yang dari tadi menyimak pembicaraan mereka dari jauh tanpa diketahui oleh mereka.
Sedangkan Aleena dan Frey sudah tiba didalam mobil Rolls Royce milik Frey. Frey memberikan air mineral yang selalu tersedia di dalam mobilnya.
"Terima Kasih" Aleena menerima uluran botol tersebut dari Frey.
"Terima kasih untuk?" tanya Frey.
"Untuk menyelamatkanmu dari si brengsek itu, atau karena air minum ini? atau karena aku yang masih berharap padamu dan selalu mencari tentangmu tapi tak dapat apa-apa?" Ungkap Frey seraya berusaha menahan emosinya.
"Kau mencariku? untuk apa?" tanya Aleena polos.
"Ck" Frey berdecak kesal.
__ADS_1
"Maaf aku tidak sempat berpamitan. Kupikir kamu sudah bahagia dengan Yukita" ujar Aleena sambil menunduk.
"Yukita? Ah.. jangan bilang kau mulai cemburu padaku hemh??" Goda Frey.
Aleena yang awalnya menunduk langsung menenggakkan kepalanya.
"Hemh.. cemburu? untuk apa?" tanya Aleena polos.
"Mungkin kau berubah pikiran setelah merindukanku" jawab Frey.
"Jawabanku masih sama" Aleena berbicara tanpa menatap ke arah Frey.
"Sebenarnya aku kurang apa sih Al..??!" Aleena tercengang mendengar panggilan itu, tapi dia tetap berusaha menetralkan ekspresinya.
"Kurang meyakinkan mungkin" ungkap Aleena singkat, padat dan jelas.
"Ini adalah pertemuan kita yang keempat kali tanpa disengaja, apakah kamu belum percaya bahwa ini takdir kita Al?" Aleena terdiam.
"Sepertinya kamu masih berharap pada mantanmu itu, walaupun aku tidak tahu apa sebenarnya yang kamu harapkan dari dia. Atau mungkin benar katanya bahwa kau disini untuk merusak pertunangannya agar kalian bisa bersama lagi. Maka sampai kapan pun aku berusaha, hasilnya sama aja akan sia-sia"
"Ini ponselmu, setelah ini aku tidak akan menghubungimu lagi. Pastikan bahwa kau tidak mengundangku di acara pertunangan atau pernikahan mu, atau aku akan merusaknya dengan senang hati. Sekarang keluarlah... !!" Aleena mengambil ponsel dari tangan Frey, iya terkejut karena kok bisa gitu ponselnya ada di tangan Frey.
Banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin Aleena lontarkan. Tadinya juga ia ingin membuka hatinya untuk Frey sebagai rasa terima kasihnya. Tapi mendengar perkataan ketus Frey, Aleena membeku, ia hanya bisa mengikuti intruksi yang Frey berikan.
Aleena keluar dari mobil dengan menggenggam ponsel miliknya dari Frey. Belum sempat Aleena mengucapkan apapun, Frey langsung menutup pintu mobilnya dan melesat tanpa melirik Aleena lagi.
Aleena mematung ditempat ia berdiri tak tahu harus bagaimana. Ia kehilangan fans terberatnya saat hendak membuka diri. Tapi dalam hati, mungkin ini yang terbaik mengingat perjodohan yang ditawarkan oleh pamannya. Mungkin ini cara Tuhan untuk memantapkan hatinya memilih percabangan jalan menuju masa depannya. Walaupun dia tidak tahu siapa calon darinya kelak, satu harapannya bahwa sang calonnya nanti dapat menerima Aleena apa adanya.
Dengan langkah yang terlihat lelah, Aleena kembali ke area acara. Ia berpapasan dengan beberapa tamu yang berjalan berlawanan arah dengannya, seolah menandakan bahwa acara sudah selesai karena tamu sudah banyak yang keluar.
Sebelum sampai di area untuk menyelesaikan tugasnya, sebuah tangan menggenggam tangannya dan membawa Aleena ke tempat yang sepi didepan kolam ikan. Aleena terperangah memastikan tangan siapa yang menariknya. Aleena hanya pasrah mengikuti langkah kaki lelaki jangkung di depannya. Namun ia merasa lebih tenang setelah tahu bahwa yang menariknya adalah Angga.
Mereka duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke arah kolam. Udara sore yang mulai sejuk serta cahaya matahari yang mulai meredup, membuat Aleena merasa lebih tenang setelah apa yang dialaminya hari ini penuh dengan emosional.
"Kalau kamu mau marah juga, marah lah... lampiaskan semuanya padaku. Aku punya hati yang lapang untuk menerima semuanya" Ungkap Aleena perih, membuka percakapan diantara mereka tanpa sedikit pun menoleh pada lawan bicara disampingnya.
__ADS_1
"Lihat aku" Hanya itu respon Angga atas pernyataan panjang Aleena.
Dengan ragu-ragu Aleena menatap ke arah Angga, sehingga posisi mereka saat ini berhadap-hadapan tanpa merubah posisi duduk mereka. Angga membuka plester dan memakaikannya di dahi Aleena.
"Heuh.. saking sakitnya luka didalam, sampe ga kerasa aku punya luka diluar" Aleena tersenyum sinis pada dirinya sendiri.
Angga menekan bahu kiri Aleena dengan sedikit kuat, awalnya Aleena berekspresi kaget, tapi kemudian ia meringis kesakitan. Sedangkan orang disampingnya masih terdiam tanpa berkata apa-apa. Sedikit pijatan yang diberikan Angga membuatnya lebih baik, namun karena merasa tidak nyaman, Aleena langsung menggeser posisi duduknya menolak sentuhan lebih lama lagi.
"Terima kasih, aku sudah lebih baik" ungkap Aleena.
"Maaf..." satu kata berhasil keluar dari Angga.
"Untuk?" tanya Aleena.
"Ternyata aku salah mempercayai orang" mereka berdua berbicara tanpa saling menatap.
"Maksudnya?" Aleena kebingungan.
"Aku mendengar semuanya tadi" Angga masih terpotong-potong saat berbicara.
"Apa? yang tadi yang mana?" tuntut Aleena.
"Antara kamu dan Alvaro"
Aleena diam dan dalam ekspresi wajah yanga datar.
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu semuanya. Jadi aku tak perlu lagi menjelaskan apapun"
"Aku hanya ingin melindungi orang yang harus kulindungi, tapi ternyata aku melukai orang lain untuk melindunginya"
"Mungkin kalau aku di posisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama"
Mereka saling menatap, kemudian keduanya tersenyum seolah sudah saling memaafkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1