
Pelayan Cafe itu memberikan Bill pada Arka, kemudian Arka mengeluarkan sebuah kartu di dalam dompetnya. Aleena menyadari secara sekilas bahwa kartu yang digunakan oleh Arka mirip dengan kartu yang waktu itu diberikan Frey kepada Arka saat acara makan-makan sebelumnya. Aleena berpikir bahwa mungkin kartu itu banyak yang punya jadi dia tidak terlalu memusingkan tentang kesamaan kartu tersebut.
Tring.. sebuah pesan masuk di ponsel Aleena
Masih di cafe? belum pulang? Tanya Frey melalui pesan singkat.
Iya nih udah mau pulang kok, jawab Aleena
udah malam aku jemput aja ya 15 menit lagi aku sampai.
Pesannya berupa pernyataan bukan pertanyaan atau pilihan yang bisa saja Aleena tolak. Tapi melihat satu per satu temannya sudah mulai pergi, Aleena pun mengiyakan pesannya itu.
Oke
setelah yang lain pulang kini hanya tinggal Rere, Arka dan Aleena yang masih duduk di cafe.
"Leen, lu mau gua antar pulang nggak" tanya Arka,
"Nggak usah deh ka, kalian pulang duluan aja. Aku nanti dijemput kok" jawab Alena, padahal Aleena dalam hatinya berharap mereka berdua segera pergi dari sana karena dia tidak mau mereka melihat Frey.
"Cie Jemput siapa nih?" Ledek Rere.
"Udah kalian kalau mau pulang, pulang aja duluan nanti kemalaman, ibu hamil nggak boleh pulang malam-malam" Aleena beralasan.
"Oh iya Leen ini aku nitip ini ya untuk pak Frey, kata Pak Frey aku suruh nitipin ke kamu. By the way kamu punya hubungan apa sama Pak Frey?" Arka penasaran
"Kok titipin ke aku ya? aku juga ga tahu ya, sebenarnya sih besok aku ada project memang sama beliau kan tahu sendiri gaun pengantin dari kantor gue itu ngambilnya di Harrison Collection" Aleena berusaha berkilah secantik mungkin.
"Oh iya ya, bener juga! Kok aku nggak pikiran sih" Arka menyadarinya, membuat Aleena bisa bernafas dengan lega.
"Makanya nggak usah mikir yang macam-macam" Sela Aleena menutupi rasa gugupnya.
"Kamu beneran gak apa apa kita tinggalin?" Rere khawatir. Sejak berdamai dengan Arka, Rere merubah panggilan gue-lu menjadi aku-kamu. Walaupun sesekali masih terdengar gue-lu sih.
"Iya tenang aja! udah, ntar kamu kemalaman di jalan. Ka titip jagain Rere ya, sampai dia kenapa-napa Awas aja!!" Ancam Aleena dengan nada lembut tapi tegas.
"Beres Leen... thanks ya..."
"Sampai ketemu lagi di acara persiapan pernikahanmu nanti" Ucap Aleena sambil melambaikan kedua tangannya.
"Kalau gitu kita duluan ya, See you....!!" Seru Rere dari dalam mobil. Arka langsung menstarter mobilnya dan melesat membelah jalanan ibukota mengantarkan permaisurinya.
__ADS_1
Ketika Arka dan Rere sudah tidak terlihat di pandangan mata. Alena pun memperhatikan kartu yang diberikan Arka dengan seksama. Ternyata benar kartu itu adalah kartu yang sama yang digunakan pada pertemuan mereka sebelumnya ketika memilih restoran bertema makanan Korea.
"Ternyata David baik juga, pantesan aja dia tahu kalau aku lagi di mana. Padahal kan cafe di sini tuh banyak banget tapi dia bilang mau jemput tanpa aku menyebutkan nama Cafenya" Gumam Aleena dalam hati.
Dan benar saja Kemudian mobil yang ditumpangi oleh Frey berada tepat berhenti di depan Alena, ia pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Sebelum jalan Frey memastikan Aleena sudah menggunakan seat belt nya terlebih dahulu.
"Kok tahu aku makan disini? Kan aku ga nyebutin nama Cafenya?" tanya Aleena membuka percakapan.
"Sebagai calon suami yang baik, perlu lah tahu untuk hal-hal kecil seperti ini? sekarang zaman udah canggih, jadi banyak caranya" kilah Frey.
"Ini nih, ada titipan dari Arka" Aleena mengeluarkan kartu didalam tasnya dan memberikannya kepada Frey. Frey hanya melirik kartu itu.
"Simpan saja, itu untukmu. Paswordnya tanggal pernikahan kita. Kalau kamu mau ganti juga boleh"
"Hah.. pernikahan kita kan masih 2 bulan lagi" Aleena kebingungan dengan polosnya.
"Kenapa memangnya?" Frey hanya menanggapi santai kebingungan Aleena.
Setelah itu mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Aleena menjawab pertanyaan dari Frey, atau mereka berbincang terkait banyak hal, mulai dari keseharian sampai persiapan pernikahan mereka yang masih tersembunyi.
"Kira-kira orang kantor mu pada heboh ga ya kalau tahu kita akan menikah?" tanya Aleena.
"Lah.. kok bagus? mereka pasti membandingkan status kita yang jauh berbeda itu" Aleena meragu.
"Ga usah mikirin yang ga penting sayang.." goda Frey.
"Udah ah, kita udah sampe nih. Terima kasih banyak atas traktiran dan jemputannya hari ini" Aleena melembutkan suaranya.
"Terima kasih doang?" sinis Frey.
"Terus?" Frey menepukkan jari telunjuknya di pipi, meminta Aleena yah.. tau lah ya kaliaaan...
Aleena yang sudah melepaskan seat belt nya pun mendekati tempat duduk Frey. Sebenarnya dia gugup dan malu, tapi karena tidak ada pilihan lain dan agar urusannya cepat selesai, ia pun melakukannya dengan ragu.
Saat bibirnya sudah mendekati pipi Frey, Frey memalingkan wajahnya ke arah Aleena dan mengecup dalam bibir Aleena sepersekian Detik. Itu saja, jangan berharap lebih hahahaha (ketawa jahad)
Setelah Frey melepaskan bibirnya, Aleena sempat nge-freeze sejenak kemudian langsung memukul pundak Frey dan mencubitnya.
"Ga sopan ih.." gertak lembut Aleena.
"Tapi suka kan??" Frey malah senang menggoda Aleena.
__ADS_1
"Apaan sih, udah ah.. pulang hati-hati, jangan ngebut. kabarin kalau udah sampe rumah!!" Seru Aleena dengan jutek nya, tanpa menunggu jawaban Frey, Aleena bergegas keluar mobil dan melambaikan tangannya ke arah Frey. Frey hanya tersenyum melihat calon istrinya salah tingkah. Dan mereka pun berpisah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pernikahan Rere dan Arka berjalan dengan lancar dan hikmad. Orang-orang yang menyaksikan acara sakral itu terharu, Tak jarang pula yang menitikkan air mata. Salah satunya adalah Aleena yang beberapa kali terlihat menghapus air matanya. Mereka bahagia melihat temannya berbahagia.
Aleena menangis selain karena terharu, Ia juga memimpikan pernikahan yang seperti itu, di mana sang pengantin yaitu Rere dan Arka saling mencintai. Perlakuan Arka pada Rere di pelaminan mencerminkan perlakuan pria romantis yang sangat menjaga pasangannya. Aleena bertanya-tanya dalam hatinya Akankah aku mendapatkan pasangan yang seperti itu? mengingat pernikahannya nanti itu karena perjodohan bukan karena memang rasa saling mencintai di antara keduanya.
Karena sejujurnya Aleena juga belum bisa memberikan sepenuh hatinya kepada Frey. ternyata dari kejauhan ada sepasang mata yang mengamatinya sejak awal.
Acara pun berlanjut ke bagian penting dari suatu pesta yaitu ramah tamah alias makan-makan. Aleena selain menjadi bridesmaid dia juga punya tugas untuk mengecek segala sesuatu yang berkaitan dengan acara hari itu, oleh karena itu dia tidak ikut dengan teman-temannya yang mengantri untuk memilih makanan melainkan berkeliling di sekitar area acara.
Tanpa sengaja Aleena melihat seseorang laki-laki berpostur tubuh seperti Angga. Meskipun ragu Alena tetap berusaha mendekati orang itu dan semakin dekat ternyata benar semakin mirip dengan Angga. Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju Angga, tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang. Aleena pun membalikan badannya dan betapa senangnya Iya ketika tahu siapa yang menepuknya itu.
"Shilla" Seru Aleena dengan senyuman yang terkembang.
"Aleena apa kabar??? gue kangen banget sama lu" Jawab Shilla tak kalah antusiasnya.
"Sama Sil aku juga kangen, gimana kabar kamu sekarang? masih ngekos di situ?" tanya Aleena basa basi
"Iya nih aku masih di sana. gimana kamu nyaman di tempat baru?"
"So far so good lah ya... semuanya pasti ada proses yang harus dijalani"
Saat keduanya sedang berbincang di tengah keramaian para undangan yang berseliweran mencoba makanan ini dan itu, seseorang memanggil Aleena dari jarak dekat,
"Hai Alena.." sapanya.
"Nah kan bener ini Angga, Hai.. apa kabar??" Aleena balik menyapanya.
"Oh ya kenalin nih Ini temen kosan aku namanya Shilla"
entah kenapa Alena menangkap tatapan tidak bersahabat dari keduanya tapi kemudian Angga menyahut "hai" tapi tak ada jawaban apapun dari Shilla.
"Kok kalian bisa kenal sih sama pengantin?? Emang kalian diundang sama pengantin yang mana?" Aleena Kepo.
"Kalau gue teman kuliahnya Arka" Jawab shhukògue juga temennya Arka dulu sempet deket gitu sama dia tapi nggak lama setelah beda tempat kerja dan kesibukan masing-masing jadi kita udah jarang kontekan bareng lagi" Tutur Angga.
Mereka bertiga melanjutkan obrolan setelah mencari tentang tempat duduk yang aman untuk berbincang-bincang. Namun Aleena yang peka terhadap ekspresi orang lain membuat Aleena menangkap sinyal kurang nyaman dari Shilla. Tapi Aleena juga tidak bisa meninggalkan Angga begitu saja. Di lain sisi ada seorang laki-laki yang tidak nyaman melihat kedekatan antara Aleena dan Angga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1