Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
BAB 26


__ADS_3

Aleena menghabiskan jatah cutinya selama 10 hari masa kerja. Perusahaan tempat bekerja Aleena memberikan jatah cuti pada setiap karyawannya selama 12 hari setiap tahunnya, Aleena yang memiliki jadwal yang padat kadang tak sempat mengambil jatah cutinya. Oleh karena itu ia menghabiskan masa cutinya itu sekarang.


Atas saran dari Tante Tara, Rinaya yang awalnya ingin diajak tinggal bersama Aleena, akhirnya memilih tinggal bersama Om Damar dan Tante Almira, setelah sebelumnya mereka yang meminta Rinaya tinggal bersama. Diandra yang baru menikah memilih untuk mandiri dan sudah mempersiapkan rumah dari sebelum pernikahan. Jadi kini hanya Damar dan Almira hanya tinggal berdua di rumah megah itu.


Almira yang lembut dan hangat, menyambut dengan suka cita kehadiran Rinaya di rumahnya, walaupun secara garis keturunan ia sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarga ini, karena Om Damar merupakan keluarga dari Ayah Aleena.


Merasa aman menitipkan Rinaya pada tante Almira, Aleena pun kembali menata kehidupannya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena cutinya selama dua minggu ini.


Aleena tiba di kosannya saat malam tiba, setelah mengantar dan menitipkan Rinaya ke rumah Om dan tantenya.


Saat tengah membuka kamarnya yang terkunci, terdengar pintu kamar sebelah dibuka.


klek!


"Aleena.... " Seru Silla saat melihat orang yang membuatnya kesepian selama beberapa minggu ini. Silla langsung berhambur memeluk Aleena.


"Aku senang melihatmu kembali" ucapnya tanpa melepaskan pelukan.


"Kau merindukanku?" Tanya Aleena sambil tersenyum dibalik pelukan Silla.


"Kau baik-baik saja? Aku turut berduka ya Leen.. Aku yakin setelah ini kau akan jadi wanita yang lebih tangguh" Setelah mengeratkan pelukannya, Silla melepas pelukan itu sambil mengusap-usap punggung Aleena.


"Terima kasih ya Sill.." jawab Aleena singkat.


"Sudah, istirahat sana pasti lelah setelah perjalanan jauh" sambil menepuk bokong Aleena.


Kemudian mereka pun kembali masuk ke dalam kamarnya masing-masing.


%%%%%%%%%%%%%%%%%%


Aleena kembali ke kantor namun dengan semangat yang berbanding terbalik 180 derajat. Sebelumnya ia sangat bersemangat ke kantor karena ada ibu yang membutuhkan biaya besar dan kekasih yang, ah.. dia sudah hampir melupakan seutuhnya tapi sepertinya tidak mungkin, karena mejanya yang berada tepat didepan ruangan sang mantan.


Suasana ruangan masih sepi, belum ada satu pun yang datang. Selang beberapa menit kemudian Chelsy dan Ranti datang bersamaan.


Melihat Aleena yang sudah duduk di mejanya, Chelsy dan Ranti pun terperangah, kemudian mereka menghampiri Aleena.

__ADS_1


"Mbak, sudah masuk? Aku turut berduka cita ya.." Ucap gadis berkerudung biru muda itu.


"Yang kuat ya mbak... " Chelsy merentangkan kedua tangannya bermaksud untuk sedikit menghibur dan memberikan energi. Mereka bertiga pun berpelukan.


"Thanks ya.. kalian memang teman yang baik" hanya itu yang saat ini bisa Aleena ucapkan. Sedikit air mata menetes di ujung mata Aleena, ingin rasanya meluapkan tangis itu dalam pelukan kedua rekannya, namun rasanya ia tak tega untuk membuat kedua rekan kerjanya itu bersedih karenanya apalagi di hari pertama kerja seperti ini, bisa berpengaruh pada mood mereka nanti saat mulai bekerja.


Setelah merasa lebih tenang, Aleena melepaskan pelukan itu,


"Sudah.. ayo kita kembali bekerja, aku sudah terlalu lama meninggalkan tugasku dan melimpahkannya pada kalian, ayo sini apa yang harus kulakukan pertama"


Yah.. itulah Aleena yang selalu berusaha profesional saat bekerja. Mereka pun mulai melaporkan satu per satu pekerjaan Aleena yang dilimpahkan kepada mereka.


Tepat pukul 08.30, sang direktur datang dengan gagahnya. Dibelakangnya diiringi oleh sekitar 4 orang, 1 diantaranya yaitu seorang wanita bernama Amara, yakni salah satu bagian HRD yang fokus menyiapkan karyawan baru. 3 lainnya adalah laki-laki, diyakini sebagai calon karyawan baru terlihat dari pakaiannya bernuansa hitam putih.


"Selamat Pagi rekan-rekan sekalian" sapa sang HRD yang otomatis membuat Aleena, Chelsy dan Ranti berdiri.


"Selamat Pagi" Jawab mereka bertiga.


"Hari ini saya akan memperkenalkan 3 orang lelaki ini, yang nantinya akan ada yang bergabung diantara kalian, ataupun dipindahkan di divisi yang sesuai dengan kemampuan mereka berdasarkan penilaian"


Amara kemudian maju satu langkah membelakangi ketiga pemuda berbaju hitam putih itu, sedangkan sang Direktur langsung masuk menuju ruangannya setelah pembukaan tersebut tanpa sedikit pun menatap Aleena.


"Baik rekan-rekan sekalian, Tim utama Divisi Publikasi. Disini ada Pak Agung dan Pak Soni yang akan magang di bagian publikasi yang dipegang oleh Bu Chelsy dan Bu Ranti. Sedangkan pak Angga akan belajar banyak dari Bu Aleena."


ketiga laki-laki itu menunduk hormat kepada ketiga gadis yang ada didepannya, Kemudian mereka pun bersalaman sambil saling memperkenalkan diri. Aleena, Chelsy dan Ranti berusaha menutupi kebingungan mereka dan se-natural mungkin untuk berkenalan. Hanya Ranti yang menolak bersalaman dengan ketiga pria itu, tetapi tetap sopan menyambut kehadiran ketiganya.


Dalam riuhnya ruangan saat itu, tiba-tiba Aleena diajak menuju sudut ruangan oleh sang HRD.


"Leen, sebelumnya aku turut berduka cita ya, atas wafatnya ibumu, semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan" Ucap Lembut dari Amara.


"Terima kasih bu Amara, Aaaamiiiin... Maaf kemarin saya terlalu mendadak untuk cuti" jawab Aleena.


"It's okey Leen, buat saya itu hak kamu dan secara peraturan perusahaan juga itu sah-sah saja. Akan tetapi..... " Amara terlihat berpikir sejenak, entah bagaimana dia harus menyampaikan kabar yang kurang baik ini.


"Apakah ini ada kaitannya dengan kedatangan ketiga orang itu?" Aleena mengungkapkan firasat kurang baiknya, terlihat ekspresi Amara sedikit terkejut seolah membenarkannya.

__ADS_1


"Mungkin karena posisimu yang cukup penting ya diperusahaan ini, sehingga ketidakhadiranmu satu hari saja membuat banyak hal terjadi. Meskipun ini pertama kalinya untukmu dan sudah jelas juga alasannya" Aleena hanya mengangguk-anggukan saja walau belum dapat menebak apa alasannya.


"Untuk lebih jelasnya mungkin sekarang kamu bisa menemui direktur dulu, nanti setelah itu kamu bisa lanjut untuk menemui saya lagi" lanjut Amara.


"Baik bu, terima kasih" jawab Aleena.


Amara meninggalkan Aleena dan ruangan itu kemudian.


-----%%%%%------


"Sepertinya Urusan pribadi kita belum selesai" ucap Alvaro membuka topik pembicaraan.


"Mohon maaf pak, kita sedang di kantor" Tegas Aleena.


"Owh.. kau selalu seperti itu, baiklah berhubung kita sedang di kantor. Kemana saja anda 10 hari ini? Tidak menghubungi bahkan tidak bisa di hubungi? Apakah ada sesuatu hal pribadi yang terjadi? misalnya putus cinta begitu? atau patah hati? separah dan selama itu kah?" Alvaro mencoba memprovokasi Aleena dengan percaya diri bahwa Aleena pasti memohon untuk kembali.


"Mohon maaf sebelumnya pak, tapi sepertinya sesuai prosedur saya sudah mengajukan cuti kepada pihak HRD. Dan terkait hal pribadi saya, ada hal yang lebih penting bagi saya daripada sekedar merasa patah hati" Aleena berusaha setenang mungkin menjawabnya.


"Baiklah kalau begitu saya tidak peduli dengan urusan pribadimu. Kamu punya waktu 2 minggu untuk mengajari Angga tugas menjadi sekertaris disini, jadi saya harap kamu mengajarinya dengan cepat. Oh ya ada hal penting yang harus kamu ketahui, beberapa bulan lagi saya akan menggelar resepsi pertunangan dengan kekasih saya" Alvaro sengaja menjeda perkataannya untuk melihat reaksi Aleena, namun lagi-lagi reaksi yang diharapkan tidak ia dapatkan. Aleena masih berdiri dengan tenang di posisinya dengan ekspresi datar.


"Dia wanita cantik yang berkelas, seorang model. Tapi dia cukup posesif oleh karena itu dia kurang suka jika ada banyak wanita di sekitar saya. Angga adalah calon adik ipar saya, jadi tolong diajarkan dengan sebaik-baiknya" Anehnya dia yang memprovokasi tapi dia juga yang kesal sendiri melihat reaksi Aleena.


"Sebelumnya saya ucapkan selamat pak, Semoga rencananya bapak berjalan dengan lancar. Saya bersyukur atas hal itu. Dan seperti yang bapak tahu, saya akan melakukan tugas baru saya dengan sebaik-baiknya. Apakah ada lagi pak yang akan bapak sampaikan?"


"Tidak, sudah cukup" jawab Alvaro singkat.


kemudian Alena pun keluar ruangan dengan perasaan lega. Alena bukan tidak tahu bahwa direkturnya itu mencoba memprovokasi, akan tetapi Alena berusaha untuk tidak terpancing emosinya. setelah berbasa-basi sedikit kepada Angga yang merupakan partner barunya. Aleena pun bergegas menuju ke ruangan Amara untuk membahas Apa yang dimaksud oleh direkturnya itu.


Putus Cinta?


Patah Hati?


Ya, Aleena memang putus cinta, tapi ia semakin yakin untuk meninggalkan Alvaro lebih jauh karena ternyata kecurigaannya terkait Alvaro yang berselingkuh itu benar adanya.


Kalau untuk Patah hati, Aleena saat ini merasa sangat patah hati, bukan karena ditinggalkan oleh Alvaro. Tapi karena ia memang ditinggalkan oleh wanita yang sangat ia cintai didunia ini dan rasanya masih membekas, entah kapan akan menghilang dan sepertinya Aleena juga tak ingin menghilangkan rasa itu. Hanya doa yang bisa ia panjatkan saat ini untuk mengiringi kepergiannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2