
Restoran dengan konsep memanggang atau memasak makanan sendiri seperti di Korea ini memang sedang banyak digandrungi oleh anak-anak muda, terlebih lagi hari ini adalah malam sabtu di mana pada hari ini merupakan hari terakhir mereka bekerja sebelum menyambut weekend.
Namun di antara hiruk pikuknya restoran itu yang memang sedang ramai pengunjung, ada sekelompok anak-anak muda yang sesekali mencuri perhatian para pengunjung lain di sana karena kehebohan keramaian dan tawa renyah mereka yang secara bersamaan membuat suara mereka terkesan menggelegar.
Hal itu pun menarik perhatian Frey dan Yukita yang sedang menikmati dinner mereka, walaupun jaraknya berjauhan dan terhalang meja kasir di tengah-tengah mereka, akan tetapi hal itu tetap mengganggu mereka yang ingin menikmati nuansa makan yang romantis.
Sebenarnya bukan Frey yang menginginkan nuansa romantis, restoran ini pun sengaja Yukita yang memilihnya karena mengingatkan akan perjalanan mereka saat kuliah dulu yang sempat berlibur ke Korea.
kegaduhan yang terjadi itu pun membuat Yukita penasaran dengan orang-orang yang terlibat di sana. setelah memperhatikan dengan seksama ternyata Yukita merasa tidak asing dengan wajah-wajah yang ia lihat.
"Rei kayaknya itu semua karyawan kamu deh?" ujar Yukita sambil celingak celinguk ke arah meja tersebut. awalnya Frey tidak terlalu peduli, toh dia emang sering bertemu dengan segelintir karyawannya ketika sedang makan di luar. Perhatiannya seketika teralihkan ketika samar-samar ia mendengar suara cempreng Aira yang terus-menerus memanggil nama Alena, mau tidak mau Frey pun mencoba mencari tahu siapa saja yang terlibat di sana.
Ketika sudah terlihat jelas Frey sedikit merasa tidak nyaman karena melihat Alena yang diapit oleh dua laki-laki sekaligus Meskipun mereka tidak melakukan apa-apa hanya sekedar bercanda, saling ngobrol, saling menatap karena memang sedang berbicara dan makan bersama.
Frey berusaha cuek dan membiarkan mereka,
"Oh.." hanya itu yang keluar dari mulut Frey.
"Kok Oh doang, kamu ga berniat menegur mereka gitu? Ini kan tempat umum, harusnya mereka jaga sikap" melihat respon dari Frey hanya demikian membuat Yukita merasa tidak puas.
"Justru karena ini tempat umum. Dikantor aku memang bos mereka, tapi diluar mereka punya kehidupan masing-masing" Terang Frey.
"Tapi kan kalau gini kita makan jadi ga nyaman, liat tuh pengunjung yang lain juga kayanya ga nyaman sama mereka" Cecer Yukita lagi.
"Terus kamu mau aku gimana? bahkan yang punya restoran pun tidak menegur mereka"
"Ya gimana kek, terserah yang penting mereka lebih tenang" Yukita seolah ingin menguji Frey, apakah ia akan menuruti kemauan Yukita atau malah tersulut emosinya. Yukita juga ingin mengukur sedalam apa perhatian Frey padanya saat ini.
"Kalau kamu ga nyaman ya sudah kita pindah saja, toh dari awal kan makan disini itu kamu yang pilih" Ucap Frey datar, sebenarnya ia tak ingin ambil pusing, tapi rengekan Yukita dari tadi sangat mengganggu moodnya untuk makan.
"Kok jadi kita yang ngalah sih, nggak mau lah aku kalau harus pindah, orang aku udah cocok sama makanannya di sini. Pesanan kita juga baru datang, nih" Yukita kembali mengomel membuat mood makan Frey makin berantakan, ditambah tatapannya pada wanita di seberang sana yang berani menolak dengan tegas tapi tengah tersenyum bahagia diapit oleh dua pria.
__ADS_1
"Ck.. " Hanya suara itu yang keluar dari Frey setelah dumelan Yukita berhasil mengganggu ketenangannya.
Frey menyesap kopinya sedikit, kemudian berdiri untuk menghampiri karyawannya. Tim huru hara yang awalnya cekakak cekikik ngobrol ngaler-ngidul tiba-tiba terdiam saat melihat siapa yang mendekat. Hanya Aira dan Nania yang masih sibuk berceloteh ria tak menyadari bahwa bias mereka itu semakin dekat karena memang posisinya membelakangi sang bias.
"Lucu kan hahaha, lah kok pada sepi.. itu lucu banget tau.. " Seru Aira.
"Hahaaha.. gue juga ga nyang....." belum selesai Nania menanggapi Aira seketika ia terdiam karena mendengar sapaan lembut di belakangnya.
"Selamat Malam..." Suara nge-bass lembut nan tegas itu jelas terdengar.
"Malam.. " Jawab mereka saling bersahutan tak seirama.
"Sepertinya ada sebuah perayaan ya disini, senang bisa melihat kalian kompak walau diluar kantor" Ungkap Frey berusaha mengontrol emosinya, bukan karena karyawannya itu berisik, tapi lebih karena Leo yang sedang menuangkan daging di piring Aleena yang baru selesai dipanggangnya. Cemburu??? apakah itu terlalu cepat dibilang cemburu.
Mereka yang mendengar Frey berbicara, tak ada yang berani menanggapinya. Mereka hanya bisa menunduk dan tersenyum ke arah Frey. Kemudian Frey mengeluarkan kartu dari dompetnya.
"Ini, kartu pribadi saya, pinnya hari jadi kantor. Kalian bisa menggunakan ini untuk makan disini sepuasnya kalau kalian tahu no pinnya. Tapi saya minta tolong untuk jaga nama baik kantor, tidak membuat kegaduhan karena ini tempat umum" Pinta Frey tegas.
"Terima kasih Mr. " Ucap Arka.
"Hemh..., Bijaklah dalam berbelanja" Frey memberikan nasehat.
Kemudian Frey berlalu kembali ke tempatnya bersama Yukita.
"Gila men.... ini kalo ga salah limitnya sampai 50 juta woy..." seru Leo terlihat bahagia.
"Heh ingat tadi kata Pak Frey, bijaklah dalam berbelanja. Lagian lo PD banget ka dikasih kartu sama Pak Frey emang udah tahu berapa no pinnya?" seru Rere.
"Eitz... jangan panggil gue Arka, kalo tibang begini doang gue ga bisa!!" ucap Arka penuh rasa percaya diri.
"Aseeek... gue suka gaya lo..." Seru Leo senang.
__ADS_1
Mereka pun kembali menikmati santapan di hadapan mereka dengan saling mengingatkan untuk lebih tenang lagi.
"Emang ya bos kita itu ternyata pengertian, jadi makan sayang" Nania berbinar.
"Ga salah ya sis, kita nge fans sama dia.." timpal Aira.
"Btw lu liat ga? Bos lu itu ga sendirian loh makan disini" Leo membuka pergibahan dengan ekspresif.
"Oh.. iya itu Yukita-San... kan kita udah kenal" Arka menjawab dengan polos.
"Siapa Yukita-San?" Tanya Ghea yang sedari tadi sibuk dengan makanannya, sekali-kali ia juga memotongkan daging ke piring Leo, membuatnya tersenyum bahagia seolah mendapat rezeki nomplok, sedangkan Ghea tetap pada mode wajah datar tanpa ekspresi.
"Dia itu partner bisnis kita, sayang. Sewaktu di Jepang dia yang banyak kasih kita materi. Eh iya dia kesini sendiri apa diundang ya?" Leo menimpali. Ghea sudah sangat sering dipanggil sayang oleh Ghea, seperti biasa Ghea tetap tak terpengaruh apapun. Gila ya, ada cewek yang ga baper di panggil sayang.
"Ya namanya juga partner bisnis, ya pasti diundang lah.. atau mungkin udah ada kesepakatan gitu, makanya mereka hari ini ketemuan!" Aira mulai tersulut cemburu yang sebenarnya sia-sia.
"Tapi kok mereka cuma makan berdua ya kalau emang urusan bisnis?" Tanya Nania polos
"Ah udah-udah biarin aja mereka, itu bukan urusan kita, sekarang yang penting gimana nih caranya kita buat ngabisin ni makanan, gue udah mulai kenyang" tutur Rere.
Memang tadi Nania dan Aira membawa banyak sate-satean sehingga sisanya masih banyak tersaji.
"Tenang.. ada abang Leo, neng semangatin abang ya.." Pinta Leo sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ghea.
Aleena tak banyak berbicara, ia hanya menyimak apa yang teman-temannya bicara kan, Ah.. kalian, bagaimana aku tanpa kalian, pasti nanti hari-hariku akan kesepian. Gumam Aleena dalam hatinya.
Saat mereka tengah memikirkan bagaimana cara menghabiskan hidangan yang kurang lebih baru habis setengah sedangkan para perempuan sudah mengeluh kenyang, saat itulah Frey bersama Yukita berjalan melewati mereka.
"Guys, saya duluan. Take your time and enjoy your holiday" seru Frey, mereka pun langsung berdiri dan menunduk kepada Frey dan Yukita. Hanya dibalas anggukan kecil oleh Yukita tanpa suara. Terakhir tatapan Frey mengarah pada Aleena yang menatap pada tangan Yukita yang dengan santainya bertaut pada lengan Frey. Seolah sengaja ingin membuat Aleena cemburu, Frey pergi dari situ sambil merangkul pinggul Yukita.
Saat ada kesempatan untuk melihat kembali ke arah Aleena, Frey tersenyum senang melihat ekspresi Aleena yang terlihat kurang suka, seolah menangkap sinyal-sinyal rasa cemburu. Setelah diluar jangkauan para karyawannya itu, Frey kembali melepaskan rangkulannya dan menjadi Frey yang biasa saja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...