Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 23


__ADS_3

Setelah meminta izin kepada perawat untuk keluar dari rumah sakit sebentar sekedar mengisi perut yang memang kosong karena sedari tadi belum terisi makanan, maka kedua adik kakak yang baru dipersatukan itu bergegas menuju tempat makan terdekat dari rumah sakit. Mereka memutuskan untuk makan di luar rumah sakit karena memang banyak hal yang perlu dibicarakan dan membutuhkan tempat yang nyaman. Pilihan pun jatuh pada Cafe yang terletak tidak jauh dari rumah sakit.


Sesampainya di cafe Mereka pun memesan menu yang tersedia hanya saja mungkin karena efek sedang banyak hal yang dipikirkan jadi mereka hanya memesan makanan ringan Seperti kentang goreng cheese cake dan roti bakar. Aleena tentu saja memilih coklat hangat sedangkan Rinaya lebih memilih ice lemon tea.


Sambil menunggu pesanan datang, Rinaya mengeluarkan beberapa barang yang diminta sang kakak sebelumnya seperti kartu ATM, buku tabungan dan handphone ibunya tetapi tanpa sengaja ternyata Rinaya juga membawa handphone milik ayahnya.


Alena mengecek mulai dari buku tabungan yang ternyata terakhir kali di print out yaitu 6 bulan yang lalu sebelum Mama sakit. Kemudian untuk ATM Rinaya menemukan di kantong celana ayahnya yang tercecer di koridor tadi sebelum diberikan kepada tantenya. Rinaya mengecek terlebih dahulu kantong ayahnya dan karena kesal ia juga sempat mengambil beberapa lembar uang di dalam kantong tersebut.


Tak lama kemudian handphone Rinaya berdering, ternyata tante Tara yang menghubungi. Ia pun meminta izin kepada sang kakak untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu.


"Halo tante, gimana Tan udah beres?" tanya Rinaya. "Iya Rin, ini baru selesai makanya Tante baru bisa telepon kamu, Gimana kabarnya mama?" tanya Tante Tara.


"Iya tadi kata kakak, Mama sudah siuman dan sempat mengobrol sebentar dengan kakak tapi memang masih dalam pengawasan dokter jadi belum boleh lama-lama berinteraksi nya." jawab Rina.


ya sesuai dengan apa yang disampaikan kakaknya.


"Oh ya syukurlah kalau begitu, tante senang dengarnya. Semoga terus membaik ya..." ucap tante penuh harap.


"Aaaaamiiiiin...," Terima kasih banyak tante doanya.<


"Rin, tadi ayah kamu sudah tante sama Om grebek. dan mereka terbukti melakukan perbuatan asusila yang melanggar norma. dan ternyata wanitanya adalah kakak kelas kamu dulu yang kembang desa itu di kampung sebelah. Tante juga nggak ngerti kenapa anak secantik itu mau dengan lelaki bangkotan seperti ayah kamu. Maaf ya Rin, Abis tante gemes banget sama Ayah kamu itu. Harusnya ayahmu tuh jadi bapaknya, sudah tua kok begitu kelakuannya!!" Tante Tara menggebu-gebu.


Memang sebenarnya sejak dulu Tara tidak menyukai sang kakak ipar. Lia selalu beralasan bahwa suatu saat Joan akan berubah, entah karena bucin atau memang karena dipelet jadi Lia tetap menikah dengannya dan mempertahankan pernikahannya sampai saat ini meski harus terluka dan berdarah-darah.


Rinaya berpikir sebentar tentang wanita yang


"Tapi kamu nggak usah khawatir, sekarang anak itu sama Ayah kamu sudah dibawa ke rumah keluarga perempuan tante juga nggak tahu apa yang nanti akan terjadi semoga apapun keputusannya itu yang terbaik untuk mereka berdua." lanjut tante Tara." Makasih banyak ya Tante, apapun keputusannya saat ini aku tidak bisa memberikan komentar karena masih Fokus sama kesehatan ibu Mama mungkin nanti setelah Mama keluar dari rumah sakit baru aku akan coba menyelesaikannya bersama kakak. Aku harap sampai Mama sehat nanti mama nggak tahu tentang hal ini ya Tante" pintar Inaya.


" ya nggak apa-apa kamu fokus dulu aja sama mama kamu udah makan sayang? " tanya Tante Tara khawatir." Ini lagi makan kok sama kakak, tante ada salam juga dari kakak" inisiatif hari raya. " Ya udah salam balik aja ya buat kakak, kalau gitu Tante tutup dulu ya udah kamu jangan banyak pikiran biar rumah tante yang jaga titik tante juga udah nggak ngizinin ayah kamu buat pegang kunci rumah karena khawatir ini bisa terjadi lagi." tante kembali menenangkan hati keponakannya. " Baiklah Tante terima kasih banyak, tante Tara memang yang terbaik" rayu rinaya.


Alena yang dari tadi fokus pada apa yang sedang dipegangnya, terlihat mengerutkan dahi seolah tengah kebingungan. Rinaya langsung mendekati dan bertanya perihal apa yang sedang kakaknya kerjakan,

__ADS_1


" Kenapa Kak? kok kayaknya bingung gitu sih?" Rinaya penasaran.


"Nay Kemarin kamu ke klinik dikasih uang berapa?" Alena bertanya.


"Dua ratus ribu kak" Jawab Rinaya polos.


"Apa cuma dua ratus ribu?? beneran?? Masa iya??" tanya Aleena heran tapi dengan nada yang masih lembut dan dahinya semakin berkerut tanpa mengalihkan pandangannya pada aplikasi M-Banking di Handphone mamanya.


"Emang Kakak transfernya berapa?" Rinaya jadi ikut bingung.


"Kamu lihat deh ini Kakak itu setiap bulan selalu transfer itu pasti lima juta minimal. Emang kamu nggak pernah ngecek kalau kakak udah transfer?"


"Serius lima juta kak?? kakak tau ga kenapa aku ga pernah ramah sama kakak?" Aleena yang masih berkutat dengan handphine tersebut menatap sebentar ke arah Rinaya.


"Aku selama ini berpikir bahwa kakak itu kakak terpelit sedunia, udah ga pernah jengukin, ngasih uang kalau dipinta aja dan setiap ngasih uang paling besar itu satu juta, itu juga kata ayah, ayah yang nambahin, kakak paling ngasih tujuh ratus ribu katanya" Jawab Rinaya.


"Lihat ini Rin, setiap bulan kakak pasti transfer ke rekening mama. Bahkan sudah empat bulan ini kamu sering minta transfer lebih dari dua kali dalam sebulan" Aleena menunjukkan mutasi rekening yang ada di aplikasi tersebut.


"Ini beneran kak, lalu sisanya kemana??" tanya Rinaya. "Maafin aku ya kak.. aku ga tau kalo ternyata semua ini ulah ayah" Rinaya kembali berkaca-kaca.


Setelah dihitung-hitung ternyata uang yang selama ini Aleena transfer, hanya disampaikan sekitar 25% nya saja, dan entah sisanya dikemanakan oleh sang ayah, karena ketika di cek saldo yang tersisa hanya tinggal tiga puluh ribu rupiah.


Akhirnya Aleena pun harus merelakan tabungan untuk membeli rumah yang ia punya demi perawatan intensif sang mama yang memang membutuhkan biaya tidak sedikit untuk permalamnya.


Tak lama kemudian pelayan pun membawakan makanan pesanan mereka, karena tidak tenang meninggalkan mama terlalu lama di rumah sakit Aleena dan Rinaya pun memilih untuk bersegera dan kembali ke rumah sakit.


Hari pun semakin gelap, tidak ada kejadian yang berarti dan mereka masih di posisinya masing-masing. Sesekali Rinaya melihat ke arah jendela kaca yang membatasi antara ia dan sang Mama. Sesekali juga bergantian Alena yang menatap ke jendela kaca tersebut. semua alat yang dipasang masih terpantau menunjukkan bahwa kondisi Mama yang baik-baik saja.


"Maafkan Aleena mama... Aleena ingin yang terbaik untuk mama, tapi ternyata kebaikan Aleena dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak seharusnya, walaupun Aleena tau mama sangat menyayanginya" Air mata pun kembali mengalir deras namun tanpa suara, Aleena tidak ingin membuat Rinaya juga semakin sedih ketika melihat kakaknya menangis. Aleena segera menghapus air matanya sebelum berbalik badan mendekati adiknya lagi. Terlihat Rinaya sedang memainkan ponselnya sambil menunduk, sedikit tenang Aleena melihatnya.


"Sibuk banget sih balesin chat ayangnya" ledek Aleena.

__ADS_1


"Ini kak, si Boy yang tadi nganterin aku kesini. Dia nanyain kabar mama, sambil aku ngucapin makasih"


jawab Rinaya sedikit gugup.


"Si?? bukannya dia udah kuliah?"


"Hehehe.. iya kak, kita tuh deket banget dari dulu, jadi aku udah nyaman aja manggil nama. Lagian dia juga ga protes tuh aku manggil nama"


"Temen apa demen??"


"Ih, apaan sih kak.. namanya juga tetangga, masa iya demen. Nanti pas nikahannya deketan banget dong hahaha"


"Ya bagus Nay, jadi ga repot"


Rinaya hanya mencebik tanpa berkomentar.


"Udah Nay, kita gantian aja istirahat ya.. sekarang kamu dulu tidur" pinta Aleena.


"Kakak ga apa-apa kalau aku tidur duluan?"


"Ya ga papa Nay, sini di pundak kakak"


Aleena merasa bahwa selama ini ia kurang perhatian terhadap adik tirinya itu. Dielus rambut sang adik yang lurus, hitam dan lebat.


"Hebat ya Nay, kamu bisa mengurus dirimu sendiri bahkan mengurus mama sendirian. Maafkan kakak yang bukan tidak mau mengurusmu, bahkan kakak sendiri mungkin tidak bisa sebaik dirimu untuk mengurus mama. Terima kasih atas segalanya Nay.. kakak janji akan menjagamu kali ini" mata Aleena kembali berkaca-kaca setelah memastikan sang adik terlelap. Dari wajahnya terpancar kelelahan yang sama dengan Aleena namun masih tetap manis untuk dipandang.


Malam semakin larut, tanpa sadar Aleena juga ketiduran. Namun tiba-tiba ia terbangun karena suara yang roda yang cukup keras karena dorongan dengan terburu-buru.


Aleena mencoba untuk menyadarkan dirinya dengan segera untuk memastikan apa yang terjadi. Rinaya yang juga ikut terbangun karena pergerakan kakaknya masih limbung dan butuh waktu lebih lama untuk kembali membuka mata.


Beberapa suster dan satu orang yang terlihat berpakaian berbeda mengelilingi tempat tidur sang mama. Antara setengah sadar Aleena mengamati dan berpikir apa yang sedang mereka lakukan di area mamanya. Dari jauh Aleena melihat pergerakan alat pemacu jantung di tangan sang dokter pada dada mamanya.

__ADS_1


Seketika itu Aleena tersadar dan langsung memejamkan mata. Mulutnya komat kamit melafalkan doa. Aleena baru membuka matanya ketika terdengar suara pintu ruang ICU terbuka..


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%


__ADS_2