Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 27


__ADS_3

Aleena menghembuskan nafas dengan kasar secara berulang-ulang di depan kaca besar, didalam toilet wanita. Benar saja feeling tidak enaknya sejak tadi, keluar dari ruangan HRD Aleena baru mengerti apa maksud dari perkataan Direkturnya tadi pagi.


Yah ternyata pegawai magang itu salah satunya akan menggantikan posisi Aleena sebagai sekertaris Alvaro. Bukan tanpa Alasan posisi yang didudukinya selama beberapa tahun ini harus berpindah tangan. Kuat dugaan Aleena karena kandasnya hubungan mereka, walaupun HRD mengatakan bahwa cutinya yang terlalu lama membuat sang Direktur keberatan akan hal itu.


"Maaf sekali Aleena, saya berusaha mempertahankan posisi mu, tapi kamu lebih di butuhkan di parik utama kita di luar kota. Tapi kamu ga usah khawatir karena disana sudah disiapkan mess khusus karyawan, disini kamu nge-kost kan?"


"Apakah tidak ada pilihan lain untuk saya bu, karena ini terlalu mendadak untuk saya" Aleena coba bernegosiasi.


"Hanya 6 bulan saja Aleena, setelah itu kamu bisa kembali kesini walaupun memang dengan jabatan yang berbeda nantinya"


"Kalau saya menolak?" tawar Aleena lagi.


"Kamu bisa mengundurkan diri, tapi Leen... ada pinalty nya, kamu tahu kan kontraknya seperti apa" Amara mencoba memberikan pilihan yang bukan solusi untuknya.


Mengingat percakapan tadi dengan Amara, Aleena tidak bisa marah apalagi menangis. Ingin rasanya ia menghampiri Alvaro yang diyakini sebagai biang keladinya dan memukul wajah sok dinginnya itu dengan tumpukan map. Tapi pastinya itu bukan Aleena yang sebenarnya.


Setelah merasa lebih tenang, Aleena bergegas kembali ke mejanya untuk bekerja sesuai dengan perintah sang bos tadi pagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari-Hari terus berlalu dengan wajah Aleena yang terlihat semakin murung. Meskipun wajah melankolisnya dapat memanipulasi ekspresi, tetapi masih saja tidak dapat menutupi seutuhnya kegelisan dalam pikirannya.


Beberapa konten pekerjaan yang berkaitan dengan proyek, presentasi dan kerjasama sudah Aleena turunkan ilmunya secara bertahap kepada Angga. Usia Aleena yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Angga, membuatnya tak canggung dalam mengajari karena menganggap seperti mengajari adik sendiri.


Berbeda dengan Angga yang menanggapinya dengan sedikit membawa perasaan, walaupun Aleena tak peka dengan hal itu. Angga masih menanggapinya dengan santai karena memang merasa baru kenal. Hal itu ia tunjukan dengan terkadang curi-curi pandang saat bekerja.


"Ga, bahan presentasi hari ini yang diminta sama Pak Alvaro udah ready kan?" tanya Aleena sambil tetap fokus pada layar komputer didepannya. Ia memang sengaja memanggil nama karena memang Angga yang memintanya.


Sedetik.. dua Detik.. lima detik..


Tak ada jawaban dari Angga, kemudian Aleena pun menoleh kearahnya yang ternyata sedang asyik memandangi dirinya.


"Eh.. apa tadi mbak? emh.. presentasi ya?" Angga tiba-tiba gugup dan seolah mencari-cari sesuatu di laptopnya tapi dia juga lupa apa yang harus dicarinya.


"Angga... Angga... fokus ga, meetingnya tinggal 2 jam lagi"

__ADS_1


"Hehe.. maaf mbak, tadi apa? oh ya presentasi hari ini ya, udah kok mbak. Sebentar... ini mbak tolong di cek" pintanya.


Untungnya walaupun sering kurang fokus Angga merupakan anak yang mudah mempelajari, ditambah karena ya Fresh graduate jadi masih encer lah. Aleena juga tidak menemukan kesulitan yang berarti saat mengajarinya.


Sebenarnya dari pintu kaca ruangannya, Alvaro terkadang masih curi-curi pandang. Ia berharap Aleena masih mau kembali padanya meski menjadi yang kedua. Alvaro memanfaatkan kedudukannya untuk menekan Aleena, dalam bayangannya Aleena akan memohon-mohon padanya untuk tidak di mutasi dan mau melakukan apa saja.


Berhari-hari Alvaro menantinya, melihat raut wajah Aleena yang semakin murung setiap harinya Alvaro semakin percaya diri bahwa Aleena-nya akan memohon. Tapi sampai H-3 kepergiannya, Aleena tetap bersikap datar dan bekerja seperti biasanya tanpa menyinggung apapun terkait mutasinya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mohon maaf pak, sudah waktunya meeting" Angga mulai menggantikan peran Aleena sepenuhnya sejak kemarin. Alvaro yang sedang melamun langsung memfokuskan lagi fikirannya dan segera bangun dari kursi nyamannya untuk bergegas meeting dengan klien.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Guys... makan siang bareng yu..." Ajak Aleena pada kedua gadis didepannya yang masih Asyik mengotak-ngatik komputer dihadapan mereka.


"Wuuuiiizz... akhirnya kita bisa makan bareng juga nih" balas Ranti tanpa menoleh pada Aleena.


"Yuk lah aku udah laper banget nih.. Nasi kapau seberang Yuk" pinta Chelsy.


Setelah mematikan perangkat komputer yang digunakan, mereka bertiga pun keluar kantor bersama. Para lelaki memang tidak diajak, selain karena masih canggung, saat itu juga mereka sedang ada tugas diluar kantor. Hanya Soni yang stand by di kantor karena sedang meeting dengan tim pemasaran, paling nanti dia bingung karena kantor kosong pas kembali.


"Angga kemana mbak? kok ga kelihatan?" Tanya Ranti membuka percakapan saat mereka sudah memesan makanan.


"Angga tadi meeting sama pak Direktur diluar, kenapa? kangen ya..." Goda Aleena.


"Ahahaha... siapa yang kangen mbak, mbak kali tuh yang kangen, wong biasanya dia nempelin mbak kemana-mana, kayaknya dia suka deh sama mbak, kamu merhatiin ga Chel?" Ranti mencoba mengalihkan.


"Hah.. eh.. ga tau aku" yang ditanya malah gelagapan karena memang sedang fokus pada gawai di tangannya.


"Kamu tuh ya.. dia itu lebih muda dari aku" sanggah Aleena.


"Lah emang brondong kenapa?" tanya Chelsy yang mulai melepaskan gawainya dan fokus pada obrolan, diselingi dengan datangnya pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Udah deh, kalian ini!" sela Aleena.

__ADS_1


"Jangan marah dong mbak, kan kita cuma menduga-duga saja" timpal Ranti yang mulai merasa tak enak pada Aleena.


"Hemh.. gini guys, aku mau ngasih tau sesuatu sama kalian. Jadi aku mau pamit sama kalian, minggu depan aku sudah tidak bertugas disini lagi" tutur Aleena.


"Waaah.. mbak ini, bales becandanya bisa aja..." ujar Ranti dengan polosnya.


"Enggak Ran.. ini serius aku ga becanda" Aleena mencoba meyakinkan. Chelsy yang daritadi asyik mengunyah nasi dan telor barendo dihadapannya seketika berhenti sejenak.


"Kok bisa mbak? emang kenapa dengan disini mbak? mbak ga betah?" Ranti mulai panik.


"Yah.. ini sudah tugas, mau bagaimana lagi?"


"Apa ini maksud dari kedatangan ketiga pria magang itu?" Chelsy yang daritadi hanya menyimak langsung masuk dalam obrolan. Aleena hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Apa ini juga yang buat mbak makin hari makin murung?" tanya Ranti.


"Emh... sementara aku dipindahkan di pabrik yang ada diluar kota. Walaupun di pabrik tapi aku bagian office, katanya disana lebih membutuhkan aku daripada disini" Aleena mencoba memberikan penjelasan.


"Tapi sementara kan?" tanya Chelsy


"Itulah yang buat aku murung. walaupun sementara, aku disini punya tanggung jawab lebih yang ga bisa aku tinggalnya sebenarnya, yaitu adik aku. Tapi ya.. mau bagaimana lagi??"


Ranti dan Chelsy hanya bisa memberikan doa terbaik untuk Aleena tanpa banyak berkata-kata. Sesi makan siang itu menjadikan moment perpisahan yang terlihat biasa namum membuat pertanyaan besar dibalik pemikiran Ranti dan Chelsy. Karena tak ingin menduga-duga, mereka pun lebih memilih fokus untuk membuat Aleena tersenyum kembali.


Mengingat jam makan siang telah usai, Mereka pun kembali ke kantor bersama-sama. Sesampainya di Front Office tiba-tiba salah satu staff resepsionis memanggilnya,


"Mbak, Mbak, maaf ini ada paket untuk Mbak" Seru Kea yang memang sudah mengenal Aleena sejak setahun yang lalu.


"Paket?? Paket apa ya? kayaknya aku ga belanja online deh" Aleena keheranan.


"Ini dari Harrisom Collection katanya?


"Oooooh... oke thanks ya Ke.. "


"Sama-sama kak... "

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2