Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
BAB 25


__ADS_3

Hari ini adalah hari ketiga sejak Ibunda tercinta meninggalkan anak-anaknya tanpa kembali. Rencananya malam ini adalah malam terakhir Aleena menginap di rumah yang sudah sekian bulan tidak ia singgahi. Aleena meminta izin kepada Rinaya untuk tidur sendiri di kamar sang mama terakhir kalinya sebelum kembali beraktivitas dalam dunia nyata.


Awalnya Rinaya berniat untuk menemani sang kakak, akan tetapi tadi malam tiba-tiba Boy menghubunginya membicarakan banyak hal hingga larut malam. Karena kurang nyaman jika harus berbicara di depan kakaknya, Rinaya pun memilih untuk menelpon di kamarnya sendiri sampai ketiduran.


Malam semakin larut dan suasana semakin sepi. Aleena yang tertidur nyenyak tiba-tiba merasa terganggu dengan sentuhan-sentuhan antara mimpi ataupun nyata. Aleena pelan-pelan membuka matanya dan terkejut saat melihat ada seorang lelaki yang sedang mengelus-elus kaki jenjangnya yang tertutup piyama panjang.


"Aaaaaaaaaaaaa"


Suara teriakan Aleena terdengar sampai ke kamar Rinaya yang sedang terlelap. Entah memang ada kontak batin atau memang karena terkejut, Rinaya langsung mengerjap matanya, sedikit linglung Rinaya melihat jam di ponselnya baru menunjukkan pukul dua pagi.


"Jangan Om.. hiks..hiks.. Jangaan" terdengar suara tangisan dan beberapa barang yang berjatuhan atau memang sengaja di jatuhkan.


"Mari kita bermain aman dan tenang, anakku sayang... Ayah sangat merindukanmu" terdengar suara lelaki yang sangat Rinaya hafal dan semakin didengar semakin jijik rasanya Rinaya untuk memanggilnya "Ayah".


Berpikir sejenak, Rinaya segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Boy.


"Boy, kerumah gue sekarang. Kita dalam bahaya Boy.. please... tolong... "


Di seberang sana, Boy yang merasa baru saja terlelap langsung membelalakan matanya dan bergegas menuju ke kediaman Rinaya dengan membawa beberapa temannya yang sedang menginap dirumahnya.


Tanpa berpikir lagi Rinaya mengambil sapu dan mendorong pintu kamar dengan full power. Rinaya yang sudah terbawa emosi semakin marah melihat kakak tirinya yang sudah terikat tangannya ke belakang dan mulutnya disumpal. Ia mengayunkan sapu ke arah laki-laki paruh baya yang sudah tidak ingin ia panggil Ayah.


"Dasar Penjahaaaat"


Namun sapu itu dapat dengan mudah ditangkap oleh Joan dan tanpa babibu ia menangkap sapu yang hampir dapat mematahkan hidungnya dan mendorong Rinaya ke dinding kamar yang membuatnya roboh seketika.


"Emhm... emhm... "


Aleena berusaha memberontak meskipun ia tak bisa berbuat apa-apa dalam keadaan terikat seperti itu. Hanya air mata yang terus mengalir melihat adiknya yang kesakitan.

__ADS_1


"Gadis manis, Ayahmu ini sudah mengingatkan untuk tidak melawan perintah ayah. Inilah akibatnya jika melawan, sekarang saatnya kau menyaksikan pertunjukan erotis gratis dari kakakmu yang cantik.. kita lihat apakah kakakmu ini masih perawan, hahahaha" seringai buasnya membuat Rinaya yang masih merasa lemas berusaha untuk bangkit dan menarik salah satu kaki Joan yang mulai merangkak.


Namun sayang sekali, tarikan lemah dari Rinaya dapat dengan mudah ditangkis oleh sang ayah laknatnya itu, sehingga Rinaya kembali terjungkal ke belakang hingga pingsan. Membuat Aleena semakin geram dan menangis histeris.


"Kenapa?? Maraah?? Dia hanya adik tirimu sayang.." sambil mengelus pipinya, Aleena menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak ingin disentuh oleh Joan.


Tanpa aba-aba Joan pun langsung merobek piyama bagian depan, sehingga terpampanglah bagian depan tubuh mulus Aleena yang bagian atasnya masih di tutupi oleh bra.


Joan tersenyum sumringah melihat tubuh mulus Aleena. Yang ditatap malah sebaliknya, merasa jijik, terhina dan tidak rela..


Tepat saat Joan berhasil menangkupkan kedua tangannya diatas kedua payudara Aleena yang masih menggunakan Bra, Boy dan ketiga temannya berhasil mendobrak pintu rumah itu.


Joan tiba-tiba panik dan langsung keluar bermaksud melarikan diri. Namun sayang Joan tersungkur saat salah satu temannya sengaja mengulurkan kaki ke arah tulang kering Joan, seketika ia meringis. Tanpa membuang waktu kedua teman Joan yang memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni, langsung meringkus Joan dan mengikat kedua tangannya ke belakang.


"Dasar bocah ingusan, lepasin.. kurang ajar kalian!! ini rumahku" Joan berteriak seperti kesetanan.


Tanpa sadar suaranya yang keras itu membuat beberapa rumah di sekitarnya terlihat menyalakan lampu, termasuk rumah tante Tara.


"Tolong Rinaya Boy... hiks.. hiks.." itu kata yang keluar dari Aleena pertama kali. Sedangkan ternyata Boy tak menyadari akan adanya Rinaya dalam keadaan pingsan dibawah kasur.


"Boy tolong angkat Rinaya ke kasur" pinta Aleena yang masih bergetar.


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%


Kejadian dini hari tadi masih meninggalkan shock yang mendalam untuk kedua putri Lia. Jika Almarhum melihat dari kejauhan di atas langit sana, pasti dia sangat teriris melihat kejadian ini.


Tante Tara berada di tengah keduanya, masih membujuk mereka berdua untuk sarapan. Namun diantara keduanya terlihat tak bernafsu melihat berbagai hidangan di meja. Rinaya yang sudah sadar sekitar satu jam lalu masih merasa pusing, duduk bersandar di sofa rumah tante tara sambil menggenggam erat tangan kakaknya dibelakang punggung tante Tara.


"Kalian disini dulu ya, tante mau ngecek rumah kalian dan membersihkan yang perlu di bereskan" seolah tante Tara mengetahui bahwa mereka butuh waktu berdua untuk berbicara.

__ADS_1


"Kemana lelaki b**ad itu kak?" Tanya Rinaya


"Dibawa ke kantor polisi" Rinaya menoleh ke kakaknya dan baru menyadari bahwa kakaknya sudah mengganti pakaian.


"Aku pingsan berapa lama?"


"Beberapa jam mungkin, bagaimana rasanya sekarang? apa ada yang sakit?" Aleena memandangi adiknya dari atas ke bawah tanpa membalik badannya.


"Ada kak, disini" Tunjuk Rinaya tepat di hatinya. Kemudian ia menangis sesegukan. Tak ayal hal itu pun membuat Aleena menggeser duduknya dan memeluk erat adiknya, tanpa terasa ia pun menitikkan air mata. Joan menancapkan luka yang teramat dalam padanya, dan semakin dalam ketika ia membuat darah dagingnya sendiri terluka.


"Maafin Aleena ma... Aleena belum menepati janji Aleena untuk menjaga Rinaya" Lirih Aleena dalam tangisnya yang hanya bisa ia utarakan dalam hati.


"Maafin kakak nay.. Maaf... harusnya kakak yang jaga kamu, bukan kamu yang jaga kakak, hiks.. hiks.." Sesal Aleena.


Rinaya semakin merekatkan pelukannya. Dia tak peduli kalau pakaian kakaknya sudah banjir oleh air matanya. Setelah beberapa saat Ia melepaskan pelukannya dan menatap kakaknya dengan tatapan sayu.


"Enggak kak.. Sekarang aku faham, kenapa kakak harus pergi ninggalin kita, jarang berkunjung bahkan seolah mengabaikan mama yang sakit dengan alasan pekerjaan.. hu..hu..hu.. " Rinaya berusaha mengatur nafasnya yang masih tergugu.


"Aku pernah marah besar sama mama, mama selalu melarang aku untuk meminta kakak pulang saat kondisi mama drop. Mama selalu membela kakak walau kakak ga pernah ada buat mama. Sedangkan aku yang selalu ada didepan mama, harus menanggung semua yang terjadi. Mulai dari merawat mama, membersihkan rumah tapi mama seolah tak memikirkan perasaan ku yang lelah dan butuh kakak untuk bergantian menjaga, atau untuk sekedar menguatkan aku.. hu.. hu.. hu.."


Aleena langsung merengkuh tubuh adiknya ke dalam pelukan. "Maaf... hiks.. hiks.."


Rinaya melepaskan pelukan itu, memandang sang kakak, lalu menghapuskan air mata kakaknya.


"Sekarang dengan mata kepala aku sendiri, aku baru memahami kenapa mama demikian. Aku gak nyangka punya ayah yang sangat jahat pada anaknya. Jika dari dulu aku tahu ini kak, aku akan bersikap lebih baik lagi padamu kak.."


"Maafin aku ya kak.. sekarang aku sudah tidak punya rasa dendam lagi pada kakak. Aku yakin mama hanya ingin yang terbaik untuk kita. Dan aku kini tak menyesali apapun karena selama mama sakit aku menghabiskan banyak waktu yang indah dengan mama. Mama meninggalkan banyak kenangan indah untuk kita"


Aleena tak bisa berkata apa apa, dia tersenyum melihat adiknya yang terlihat dewasa dan lebih baik darinya. Kini Aleena sedang memikirkan bagaimana kelanjutan kehidupannya. Untungnya ujian sekolah tingkat SMA sudah selesai 2 minggu lalu, jadi setelah ini Rinaya hanya memikirkan akan melanjutkan kemana ia bersekolah.

__ADS_1


%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%


__ADS_2