
Sejak pertemuan antara kedua keluarga Amar Harrison dan Damar Hadinata, Aleena dan Frey mulai intens untuk saling berkabar.
Frey merasa berhasil mendapatkan Aleena walaupun tidak mudah. Apakah ini karena cinta? tentu saja tidak, karena sejujurnya Frey belum bisa menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintainya ternyata meninggalkannya demi laki-laki lain.
Saat ini Frey hanya merasa tertantang untuk dapat memiliki Aleena karena sejak awal ia sangat sulit untuk ditaklukan tak seperti wanita lain. Dulu juga saat mendekati Carla, Frey tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dekat bahkan sampai menjalin hubungan.
Sedangkan Aleena memilih menerima perjodohan ini karena sebagai tanda balas budi pada Om Damar yang selama ini membesarkannya, dan saat ini Aleena hanya punya Om Damar sebagai keluarganya.
Walaupun diantara keduanya hanya sebatas rasa saling mengagumi tapi Bukankah cinta itu selalu akan selalu hadir tanpa keduanya ketahui. Buktinya saja sudah mulai ada rasa saling cemburu, meskipun keduanya masih sama-sama mengelak.
Seminggu setelah pertemuan keluarga itu, mereka berdua mulai intens untuk saling mengirimkan pesan. Frey selalu mengirim pesan atau menelepon di malam hari dengan alasan untuk bisa lebih dekat lagi.
Aleena juga membiasakan diri untuk bercerita ketika memang ia harus ada tugas ke luar. Begitu juga seperti hari ini, Aleena berencana untuk bertemu dengan geng huru hara di sebuah Cafe.
Dav, hari ini aku mau ketemuan sama temen-temen sekantorku dulu waktu kita ke Jepang. Jadi maaf ya kalau slow respon.
Sesimple itu pesan yang Aleena kirimkan pada Frey.
Sampai jam berapa? di mana? mau dijemput ga?
Balas Frey tak lama setelah pesan itu terbaca.
Ga tau lah sampai kapan, di Cafe, ga usah jemput ntar pada heboh kantor kamu. Ledek Aleena.
Kenapa? toh sekarang atau nanti sama aja kan, mereka juga akan tahu? entah apa kali ini rencana Frey.
Jangan dulu ya please, aku ga siap. pinta Aleena dengan menambahkan emotikon kedua tangan yang menutup didepan dada.
Ya udah tapi duduknya jangan deket-deket cowok lain. Awas aja kalau ketahuan. Aleena heran dan tidak mengerti maksud Frey, padahal ada rasa kesal pada saat acara makan bareng mereka tempo lalu Aleena duduk diapit dua laki-laki dengan santainya.
Frey pun akhirnya menyerah, ditambah lagi tiba-tiba Dans asistennya menyampaikan bahwa ada rapat persiapan pembukaan Water Park. Oleh karena itu Frey tidak mungkin meninggalkan rapat hari itu demi keuntungan perusahaan.
Tepat pukul 17.00, mereka sudah berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Mereka memesan menu yang berbeda. Ada yang memilih nasi goreng seafood, cuma bakar, kerang saos padang, Mie goreng, es susu, kopi, dan lain sebagainya. Aleena memilih menu yang ringan yaitu kentang goreng, macaroni scootel ukuran medium dan Ice chocolate hazelnut favoritnya.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan datang, Arka yang punya acara pun membuka percakapan.
"Jadi guys, gue sengaja ngajak kalian ketemuan tuh buat ngasih ini, taraaaaa" Arka dengan wajah sumringahnya mengeluarkan surat undangan yang bisa dibilang mewah, hardcover yang dibungkus dengan dompet lucu.
"Wuiiih.. apaan nih.." Seru Leo antusias. Ia pun bergegas mengambil benda itu dan membukanya.
"Apaan sih.. apaan" Nania mendekat ke arah Leo.
"Ntar dulu apah.. gue juga kan baru mau buka" sanggah Leo.
"Iya sih Nan, biar Leo dulu yang buka" Ujar Aira yang masih asyik membuka-buka buku menu.
"Whaaaat???!!!!??? lu berdua... serius???" Leo ternganga yang membuat Aira dan Nania langsung kepo dan melihat berbarengan tulisan yang ada didalamnya. Rere tersenyum senang, Aleena juga tersenyum karena memang sudah tahu rencana mereka. Sedangkan Ghea si putri salju tak terpengaruh dengan situasi di sekitarnya.
"Jaa... Jadi.. itu.. kalian??" Aira melotot tak percaya, Nania shock dan hanya bisa diam menganga menahan air liurnya agar tidak terjatuh.
"Selamat ya Ka, Re.. Semoga semuanya berjalan lancar sampai hari H" Tutur si putri salju, dibalik wajah datarnya ia tetap selalu yang pertama mengucapkan kebahagiaan yang diraih temannya.
"Gua bahagia Re.. Selamat ya.. Semoga semuanya Lancar.." Aira memeluk Rere sambil mengusap-usap bahunya. Disusul dengan Nania di belakangnya. Sedangkan Leo mengulurkan tangannya kepada Arka seraya membenturkan bahunya lembut kepada bahu Arka.
"Ternyata lu gentle juga bro..." puji Leo tulus.
"Pada akhirnya cowok yang memberi harapan, kalah sama cowok yang langsung ngajak ke pelaminan, hihi" Ucap Aleena setengah menyindir Leo.
"Sayang.. kamu mau juga aku halalin?? mau kapan??" Leo menggoda Ghea, namun sayang godaannya tak digubris sama sekali. Bahkan Ghea tak sedikit pun merasa ke-gr-an atas godaan Leo.
"Datang kerumahnya, ngomong sama orang tuanya kalau emang lu ga dapet jawaban dari orangnya. Atau lu mau pake cara gue? Jalan pintas!" Seru Arka membuat mereka menyimak dengan penasaran.
"Jalan pintas gimana maksudnya? pelet??" Canda Leo.
"Hahaha.. ada yang lebih ampuh!" Membuat yang lain makin penasaran.
"Apaan sih, jangan setengah-setengah apa, ga enak banget dengernya" sanggah Aira.
__ADS_1
"Tanem benih" Arka berbisik pada Leo. Awalnya Leo tak mengerti apa maksudnya. Tapi kemudian Leo semakin terkejut dibuatnya.
"Jadi... ha.. apa?" Melihat reaksi Leo, Nania dan Aira kembali kepo tapi sebel karena ga tau arah pembicaraan mereka. Arka menunjukkan 2 jarinya yaitu jari manis dan telunjuk.
"Dua.. dua bulan??" Arka hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ih apaan sih kalian itu..." Nania mulai sewot.
Leo membuat gerakan ibu hamil dengan tangannya di depan perut dan berkata dua bulan tanpa suara. Nania dan Aira menerka-nerka dan butuh beberapa detik untuk menangkap sinyal tersebut kemudian keduanya menutup mulut secara bersamaan.
Akan tetapi kekagetannya itu harus tertunda karena satu per satu secara bergantian menu yang mereka pesan berdatangan. Setelah dirasa kondusif, Arka kembali melanjutkan pembicaraan nya.
"Oleh karena itu guys.. gue mau minta tolong kalian buat jadi bridesmaid ya..." mereka hanya mengangguk angguk tanda setuju.
"Dan karena itu juga, gue traktir kalian semua malam ini" mereka pun menyambut dengan antusias. Rere hanya menggendikkan bahunya. Sedangkan Leo, Nania dan Aira menyambut dengan sangat antusias.
"By the way gue perhatiin dari tadi lu kok diem aja sih Leen? maksud gue kok lu ga kaget??" selidik Aira.
Nania dan Aira memang setipe kalau masalah ekspresi. Akan tetapi dalam hal kepekaan, Aira lebih peka untuk dapat peduli pada lingkungan sekitarnya.
"Eh iya ya, bener juga" sahut Nania.
"Hehehe, iya jadi selama ini aku kalau ada masalah pasti langsung cerita sama Aleena, ya otomatis dia tahu duluan. Bahkan WO nya juga dia. Persiapan pernikahan juga dia semua yang ngatur" Tutur Rere.
"Oh... pantesan" jawab Nania kemudian ia menyeruput jus jeruk miliknya.
"Tapi bro, lu bukannya dijodohin ya sama anak marketing??" Leo menyinggung nya, Arka pun langsung klarifikasi tentang hal itu.
"Jadi gini ceritanya guys, gue itu sama Dina nggak ada hubungan apa-apa, Pure masalah kerjaan. Tapi kan emang lu pada tahu sendiri kalau manajer marketing itu memang suka ngejodoh-jodohin orang. awalnya karena memang kerjaan, tapi suatu waktu anak kantor sempat ribut tuh, pernah denger nggak Kalau ada pasangan yang belum nikah tapi pernah masuk ke satu apartemen bareng, gua ngerasa yang diomongin itu gue sama Rere jadi untuk menutup gosip itu gue pakai cara yang lain. Yaa bikin orang berpikir bahwa gue punya hubungan karena dijodohin sama Manager marketing itu. Supaya nama gua dan Rere tetap terjaga, tahu sendiri kan kalau udah di kantor sedikit aja gosip nyebar udah rame kemana-mana. Kebetulan juga Dina ini memang lagi ada keperluan yang butuh sosok laki-laki di situ. Karena kita sering kerja bareng dan dia merasa nyaman sama gue jadi Dina minta tolong sama gue tapi gue udah bilang udah jelasin sama dia bahwa gue udah punya orang yang gue sayang dan dapetin itu susah banget, sekalian juga gue pengen tahu gimana reaksi Rere kalau gue tiba-tiba menjauh darinya tapi sayang kata kecerobohan gue gue jadi hampir mencelakai anak dan ibu dari anak gue. Intinya gosip gua sama Dina itu nggak benar sampai sekarang pun gue masih berhubungan baik sama Dina dan dia juga udah tahu kalau gue sebentar lagi mau nikah cuman untuk waktunya gue belum kasih tahu dia karena gua nggak ngerasa sedekat Itu".
Oh jadi itu tuh cuma gosip Ya syukurlah kalau begitu detik tenang banget gua dengernya ucap Aira.
Mereka pun berbincang-bincang hingga langit di luar sana sudah berubah menjadi gelap.
__ADS_1