
Frey mengerutkan dahinya ketika mendengar suara laki-laki di seberang sana. Baru satu minggu Frey tidak menghubungi Aleena karena kesibukannya, tapi sudah ada laki-laki lain yang berani menjawab panggilan telponnya. Rasa kesal sudah menumpuk di dadanya karena berbagai alasan, mulai dari dia keluar kantor tanpa sepatah kata pun sampai pada kekesalannya ketika menolak tapi menggunakan hati tapi dengan bebasnya ia bermain kesana kemari dengan banyak lelaki (Arka dan Leo).
Meskipun gelisah, Frey dapat mengontrol emosinya dengan baik.
"Hallo, oh iya pak apa bapak kenal dengan pemilik ponsel ini?" tanya laki-laki di seberang telpon.
"Iya saya kenal, ini dengan siapa?" selidik Frey.
"Ini pak, saya supir taksi online sepertinya handphone ini terjatuh di dalam taxi saya sudah seminggu pak, tapi tidak ada yang mencari. Saya juga tidak tahu pelanggan yang mana yang tertinggal handphone nya, jadi saya amankan dulu selama ini" Tutur driver taxi online itu dengan panjang lebar.
"Oke pak tolong kirimkan alamat bapak nanti saya akan ambil ke tempak bapak" setelah itu sambungan telpon pun terputus.
Sore harinya supir taxi tersebut datang ke kantor Frey. Awalnya Frey yang akan mengambil ponsel itu sendiri ke tempat Pak Jamil (driver taxi online), tapi ternyata ada pekerjaan yang tidak dapat Frey tinggalkan di kantornya. Dan pak Jamil bersedia mengantarkan ponsel Aleena yang hilang ke kanto Frey.
Pak Jamil tak menyangka bahwa orang yang memiliki menghubungi nya adalah seorang bos besar, tapi ia tetap berusaha untuk tidak pamrih. Setelah ponsel itu diberikan kepada Frey, pak Jamil pun keluar dari ruangan Frey.
Saat di lift pak Jamil diberikan amplop coklat oleh Dans sebelum pintu lift itu tertutup.
"Gunakan itu untuk kebutuhan keluarga. Terima kasih telah menyimpan ponsel itu dan mengembalikannya" Ucap Dans tanpa ekspresi.
Belum sempat pak Jamil menjawab pernyataan Dans, pintu lift itu sudah tertutup. Pak Jamil langsung membuka amplop tersebut dan terkejut saat melihat isinya, seketika pak Jamil lonjak kegirangan mendapatkan segepok uang seratus ribuan. Pak Jamil pun bergegas kembali ke rumahnya. Dengan hati yang bahagia ia ingin segera memperlihatkan apa yang ia dapatkan pada istrinya dirumah.
Frey menimbang-nimbang ponsel di tangannya. Ingin sekali ia membuka galeri foto yang ada didalamnya, tapi sayang ponsel itu terkunci. Frey mencoba menelpon nomor Aleena, tak berapa lama muncul sebuah nama di ponsel itu yang sedikit membuat Frey ternganga. Di layar ponsel itu tertulis "My Crazy Love".
Frey senyum-senyum sendiri melihat ponsel tersebut seperti orang yang sedang jatuh cinta. Satu hal yang Frey simpulkan setelah melihat ponsel tersebut, bahwa selama ini Aleena sebenarnya juga mungkin menyukainya, hanya pasti ada sebabnya kenapa dia langsung menolak.
Noval datang ke ruangannya ketika ia tengah tersenyum-senyum sendiri.
"Wuiiih.. kayaknya ada yang lagi bahagia nih.." Ledek Noval.
Frey langsung memasukkan ponsel Aleena ke kantong saku jas miliknya yang tergantung tepat disamping kursi kerjanya.
"Kau!! selalu saja masuk tanpa mengetuk" runtuk Frey.
__ADS_1
"Hey bos.. hati-hati kalau bicara, aku sudah mengetuknya 3x tapi kau malah senyam senyum sendiri tanpa memperdulikan tanganku yang mengetuk dengan pegalnya" sanggah David lebay dengan ekspresi sengaja dibuat lemah.
"Menjijikan!!! ada apa kemari" dengan nada tegas tapi memang bukan benar-benar marah.
"Biasa bos mau laporan. Untuk pengerjaan Waterpark kendala sudah di tangani, pembebasan lahan juga sudah aman terkendali. Perkiraan sebulan lagi kita akan launching"
Frey hanya mengangguk anggukan kepalanya mendengar laporan Frey.
"Oke.. oh ya Nov, tau ga kenapa cuti melahirkan hanya 3 bulan?" tanya Frey sambil memangku dagunya dengan kedua tangan diatas meja.
"Bukankah itu sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan, kenapa? apa ada yang salah? atau perlu di revisi?" tanya Noval antusias, karena bos nya itu biasanya tak terlalu mengurusi peraturan karyawan, apalagi terkait perizinan atau cuti, yang penting kerjaan lancar dan target tercapai. Karena perusahaan yang diurusnya juga banyak dan sudah ada bidangnya yang mengurusi terkait hal itu.
"Kau tau kan dalam suatu projek kita perlu waktu lebih dari 3 bulan untuk mengurusinya, kalau cuma 3 bulan terus diganti sama orang baru secara berkala, yang ada nanti kerjaannya setengah-setengah, ya ga?" Tutur Frey. Noval berpikir sejenak, menimbang-nimbang terkait apa yang Frey sampaikan.
"Kenapa? ada masalah? atau punya solusi?" Noval balik bertanya.
"Apakah cukup waktu cuti 3 bulan itu?" pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan.
"Gimana kalau kita terapkan di perusahaan ini?" lagi-lagi Frey balik bertanya.
"Baik, akan saya sampaikan pada tim HRD"
"Oke, thanks..."
Frey sempat merenung sejenak, ingin sekali Frey bertanya tentang Aleena kepada Noval. Namun lagi-lagi ia merasa ragu untuk menceritakannya. Pengalaman pahit atas kisah cinta sebelumnya membuat Frey merasa malu untuk bercerita tentang gadis yang baru ditemuinya.
"Kenapa sih?? muka mu itu akhir-akhir ini penuh misteri" Noval mulai curiga dengan Frey.
"Menurutmu, kalau aku merasa menemukan gadis yang cocok walaupun belum menyukainya dan aku memilih untuk mengajaknya menikah, bagaimana pendapatmu?" akhirnya Frey membuka tabir yang berusaha ia tutupi meskipun belum semuanya.
"Haha.. apakah gadis itu menerima mu?"
"Apakah menurutmu aku tidak punya daya tarik?"
__ADS_1
"Hemh.. Sebenarnya kemungkinan besar akan diterima, tetapi apakah gadis itu mau diajak berlari bersama, sedang dia belum mengenalmu luar dan dalam?"
"Bukankah itu banyak terjadi diluaran sana?"
"Ya benar sekali, tapi ada aturan dan cara mainnya, ga sembarangan lah.. by the way aku penasaran, kau diterima atau ditolak?"
"Haha.. itu kan baru misalnya, tapi masa iya orang sepertiku ditolak? apakah gadis itu buta??" Frey menutupi gengsinya setelah ditolak Aleena. Sebenarnya Noval masih ingin menanggapinya, karena antara ekspresi dan perkataannya Noval menangkap hal yang tak sinkron. Tapi Noval membiarkannya karena hal itu bisa melukai harga diri Frey. Selagi temannya itu baik-baik saja, Noval tidak akan mencampuri apa yang sedang Frey selesaikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aleena bernafas lega karena hari ini ia hanya bertemu dengan Fransiska. Ketika bertemu, Fransiska memang langsung mengenali Aleena yang dulu sempat menjadi sekretaris tunangannya itu. Mereka pun terlibat percakapan pribadi setelah menyepakati konsep yang dipilih untuk acara minggu depan.
"Aleena kenapa kamu memilih resign? bukankah kamu juga dapat jabatan yang lebih baik di tempat yang baru?" tanya Fransiska setelah selesai meeting, saat itu Resha sedang menyelesaikan tagihan mereka.
"Mungkin memang sudah waktunya bu, lagi pula kontrak saya sudah habis" Aleena menjawab setenang mungkin.
"Oh.. aku hanya berharap kamu tidak dendam ya Leen, karena awalnya memang aku yang minta mas Varo untuk mengganti sekretarisnya menjadi perempuan, Maaf ya jadi membuatmu tidak nyaman" Ucap Fransiska sehalus mungkin, Aleena yang berpositif thinking tidak melihat aura benci dari Fransiska padanya.
"Tidak perlu minta maaf bu, keyakinan saya adalah roda itu akan berputar, kadang kita dibawah dan kadang kita diatas. Untuk yang satu ini saya lebih merasa bahwa waktu saya untuk mencari pengalaman diluat sudah cukup. Ini bisnis keluarga, jadi saya harus memilih prioritas yang utama sekarang" Aleena berusaha bijak agar tidak menimbulkan prasangka negatif padanya.
"Syukurlah kalau begitu, saya sangat tenang mendengarnya. Terima kasih Aleena atas penjelasan yang menenangkan" Ujarnya membuat Aleena merasa lebih lega. Sampai saat ini Aleena masih tetap berharap agar Fransiska tidak mengetahui seputar hubungannya dengan Alvaro.
Resha kembali setelah menyelesaikan transaksi, seketika itu Fransiska tidak membahas lagi tentang Alvaro. Tadinya Resha dan Aleena hendak pulang duluan, akan tetapi mereka kurang enak kalau harus meninggalkan Fransiska sendirian disana karena sedang menunggu jemputan.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, jemputan yang Fransiska tunggu ternyata sudah datang. Ketika melihat siapa yang menjemput, Aleena tersenyum semakin lebar karena yang menjemput adalah Angga, sekretaris yang menggantikan posisinya.
"Angga..." Sapa Aleena, tetapi Aleena melihat hal yang berbeda dari ekspresi wajah Angga yang biasanya manis padanya.
Ada apa dengan Angga? Apa aku membuat kesalahan? pikir Aleena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guys.. boleh tahu ga? kalian lebih suka novel dengan episode yang panjang atau pendek?? sekalian alasannya ya.. Thanks reader.. 🤩, Sehat selalu ya...
__ADS_1