
"Sudah lihat kan?" Rere yang berniat untuk mengajak Aleena makan diluar, merasa mendapat zonk karena bertemu Arka. Sialnya lagi Arka sedang bersama wanita yang selama ini digosipkan dengannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aleena yang sebenarnya tanpa bertanya pun ia pasti sudah tahu bahwa Rere sedang tidak baik-baik saja, akan tetapi Aleena tidak tahu harus berkata apakah ia saat ini.
"Menurut lo?" muka jutek Rere sangat tergambar pada ekspresinya saat ini.
"Ada yang kamu butuhkan?" Aleena mencoba mencairkan suasana.
"Tadinya gue pengen ngajak lu makan diluar, tapi keburu kenyang" tahu bahwa kenyang yang dimaksud itu bukan kenyang yang dikira, Aleena berpikir keras dan singkat untuk bisa membuat Rere teralihkan.
Akhirnya Aleena mengajak Rere untuk berbelanja di swalayan terdekat. Aleena akan memberikan banyak kesibukan pada Rere saat nanti dirumah. Untung saja hari ini Aleena tidak punya banyak jadwal meeting atau checking perlengkapan serta laporan-laporan lainnya. Rere memutuskan untuk kembali ke rumah menunggu Aleena.
Sesampainya Aleena dirumah, ia melihat Rere yang sedang menonton televisi sambil menangis.
"Re.. kenapa Re?" Aleena panik, "Ada yang sakit? atau apa yang dirasa?"
"Itu Leen.. kasian banget bayinya dibuang sama ibunya sampai meninggal di tong sampah, hiks..hiks.. bayinya ga salah Leen.. gue gak bisa nolongin, gue ga bisa apa-apa, hiks.. hiks.." isaknya lebay. Aleena yang mendengarnya spontan ternganga keheranan. Setahu Aleena berita semenyedihkan apapun Rere bukanlah orang yang peka bahkan cenderung masa bodo.
Mau kesel tapi yang ia tahu sindrom ibu hamil muda memang demikian. Mau ketawa tapi takut Rere tersinggung. Ya sudah Aleena tak bereaksi apapun untuk itu dan bergegas menuju ke dapur.
Yang Aleena tahu Rere sangat menyukai makanan seperti cumi dan pakcoy, oleh karena itu Aleena mengajak Rere untuk memasak bersama. Sebenarnya tujuan utamanya itu untuk membuat Rere sibuk jadi melupakan kejadian tadi siang, namun tiba-tiba saat Rere sedang mengupas bawang dan mengirisnya, Rere menangis kembali sambil berkata "Kenapa sih lo diciptain buat menghasilkan air mata, gue dari tadi udah nahan loh supaya nggak nangis! tapi kenapa lo bikin gue nangis" Rere menangis tersedu-sedu sambil tetap fokus pada bawang yang diiris.
Aleena yang sedang mencuci sayuran di sampingnya, mematung sejenak melihat apa yang tengah terjadi pada Rere. Aleena pun mematikan Keran air dan mendekati Rere, sambil mengusap-usap pundak Rere ia berkata "Kenapa?? perih ya?!? Ya udah nggak usah diterusin lagi, Udah ya kamu istirahat aja tungguin aku sambil nonton TV" Tutur Aleena dengan tenang.
Rere mengambil bawang yang lain dan berkata "Enggak Ko, nggak apa-apa aku aja ini kayaknya yang sedang lemah jadi gampang nangis cuma gara-gara bawa bawang" Lagi dan lagi Alena hanya bisa memperhatikannya saja tanpa memberikan masukan apa-apa lagi.
kegiatan masak-memasak sudah selesai, Mereka pun berniat untuk makan bersama di meja makan. awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai tiba-tiba di pertengahan suapan Rere kembali menangis sambil berkata "Leen Makanan ini enak banget aku suka" terlihat matanya mengeluarkan butiran bening yang mengalir begitu saja. Aleena hanya bisa mengelus dada untuk hal itu.
__ADS_1
"Kalau enak dihabiskan ya Re.. nanti kita buat sama-sama lagi besok" ucap Aleena dengan sabar, tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Gue ngerepotin lo terus ya Leen? maafin gue ya Leen.. gue sayang sama lo" Rere bangun dan langsung memeluk Aleena.
Dan kejadian itu berlangsung setiap harinya dalam kondisi apapun. Misalnya saja pada saat menonton drama romantis Rere menangis karena salah satu tokohnya atau protagonisnya bersedih. Atau misalnya ada tokoh yang meninggal, atau ada tokoh yang terluka. Intinya Rere selalu menangis dengan alasan yang tak jelas. Sampai Alena bingung sendiri menanggapi setiap tangisan Rere dengan harus bagaimana, pasalnya kalau salah bicara sedikit tangisan Rere akan lebih Lirih dari sebelumnya.
"Re.. kamu kenapa? kok sekarang jadi gampang nangis?" Aleena mencoba menggali informasi yang mungkin ia dapatkan langsung dari Rere.
"Ya gue nangis karena semua itu terlihat menyedihkan Leen, kenapa? lu ga suka ya liat gue nangis? gue nyusahin lu mulu ya???" Nah.. ini nih yang Aleena hindarin kalau Rere diajak biacara dari hati ke hati.
"Re.. ibu hamil itu ga boleh banyak nangis.. nanti jadi gampang stress, aku ngajak kamu masak, nonton biar kamu ga stress. Tapi yang ada malah kamunya nangis terus. Jadi aku bingung harus gimana?" akhirnya pecah juga, Aleena mencoba untuk meluruskan dan jika mungkin mengabulkan apa yang sebenarnya diinginkan Rere.
"Apa ini ada hubungannya sama Arka?" Aleena kembali bertanya.
Rere hanya diam tak bereaksi. membuat Aleena menyimpulkan bahwa benar ini karena Arka.
Hari ini hari minggu, tidak ada jadwal libur weekend untuk Aleena karena memang pekerjaannya yang justru ramai di weekend.
Aleena sudah bersiap dengan kemeja rapi nya berwarna pink fanta dan celana panjang hitam. Rambutnya ia kuncir kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Pemandangan yang mulai terbiasa bagi Aleena jika setiap pagi Rere bulak balik ke kamar mandi untuk muntah-muntah. Aleena tetap fokus memoles wajahnya dengan make up tipis. Biasanya Rere butuh 3x bulak balik kamar mandi baru merasa lebih baik.
Seperti biasanya Aleena membuatkan minuman hangat untuk mengurangi mualnya. Aleena membawa minuman itu ke meja kerjanya disamping kasur. Aleena mulai merasa aneh ketika Rere tak kunjung kembali dari kamar mandi setelah Aleena selesai membuat minuman.
Aleena mendekati pintu kamar mandi tapi ia tak mendengar suara gemericik air atau pun suara merdu Rere saat mual. Aleena memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.
"Re.. re.. kamu baik-aja kan???" tanya Aleena tapi Rere tak mendengar sahutan apapun dari dalam sana. Sekali, dua kali Aleena mulai panik karena masih tak ada jawaban dari dalam sana.
__ADS_1
Akhirnya Aleena membuka kamar mandi yang tak terkunci itu. Dan ternyata ia menemukan Rere sedang duduk lemah didepan kloset dengan wajah yang sudah tak beraturan.
Tanpa ba-bi-bu, Aleena langsung membersihkan area sekitar kloset dan membuka pakaian Rere yang terkena muntahannya. Aleena dengan tergopoh gopoh mengangkat Rere ke tempat tidur dan menggantikan bajunya dengan baju yang bersih.
Kondisi Rere sangat lemah, dibilang pingsan tapi masih terlihat ada kesadaran. Dibilang sadar juga tapi Rere benar-benar tak berdaya.
Aleena mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Arka. Dering ke 3 Arka mengangkat telpon itu.
"Ka.. tolongin aku ka..." tanpa salam tanpa sapa, Aleena langsung to the point.
"Iya Leen, kenapa Leen?" Arka masih terdengar tenang suaranya.
"Ka, kamu bisa kesini ga? maksudnya ke kantor aku sekarang tapi kalau bisa jangan lama-lama" pinta Aleena masih dalam mode panik.
"Kenapa Leen? ada apa??"
"Cepet kesini aja ya Ka.. anter aku kerumah sakit. cepetan ya ka..." tanpa menunggu Arka menutup telponnya, Aleena sudah memutuskan sambungan telpon itu.
Aleena langsung berganti pakaian, karena pakainya tadi sudah basah dan menyiapkan apa saja yang diperlukan untuk dibawa kerumah sakit.
Sekitar 15 menit kemudian, mobil Arka sudah terparkir di depan kantor Aleena. Aleena langsung mengarahkan Arka melalui ponselnya untuk berjalN menuju ke rumahnya di belakang kantor.
Arka masuk ke dalam rumah Aleena dan ia merasa terkejut ketika melihat siapa yang terbaring disana.
"Rere...." Seru Arka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1