
Hari berganti hari terus berlalu. Di tengah pekerjaan keduanya yang cukup padat terutama Frey, mereka tetap mempersiapkan rencana pernikahan mereka yang kini tinggal satu bulan lagi. Satu sama lain sudah mulai membuka diri untuk saling percaya, terbuka dan jujur atas perasaan masing-masing.
Setelah lebih dekat dengan Frey selama beberapa minggu ini, Aleena mulai menemukan Sisi Frey yang ia sukai dan yang tidak ia sukai. Alena juga sudah lebih dekat dengan keluarga Frey karena mereka lebih banyak terlibat dalam persiapan pernikahan antara Aleena dan Frey.
Seperti pada hari ini, Aleena bersama Frena dan sang mami berniat untuk mencari souvenir untuk para tamu undangan nanti. Mereka pun menuju ke Salah satu toko souvenir yang pemiliknya merupakan teman baik dari mami Frey. Begitu masuk ke dalam toko, Aleena sangat antusias memperhatikan setiap pajangan souvenir yang tertata rapi di etalase toko dan terlihat mewah.
"Ini adalah toko souvenir milik teman dekat mama dulu pada saat SMA. Dia tuh ya waktu SMA kan Mami tuh duduk bareng sama dia, di situ tuh dia udah mulai memperlihatkan ketertarikannya kayak di souvenir-souvenir gitu. Dia suka ngumpulin souvenir dari temen-temennya yang ulang tahun. Awalnya Mami pikir karena dia suka desainnya aja kan tapi ternyata ya Dreams Come True untuk dia" cerita Mami dengan antusias. "Hai Jeng, wah ternyata kamu on time juga ya, gimana-gimana kita duduk dulu yuk di sini" Amelia mengarahkan mereka bertiga menuju sebuah sofa panjang yang empuk dan berwarna cerah itu, kemudian dia meminta salah seorang karyawannya untuk menyiapkan minuman.
"Iya seperti yang aku kemarin ceritain sama kamu, ini aku tuh mau nikahin anak aku yang bungsu jadi aku pengen souvenirnya itu yang istimewa lah karena anak aku itu juga kan bisa dibilang orang penting juga jadi souvenir itu akan menjadi simbol, bener kan Mel?" Mami agak sedikit sombong ya, harap di maklum Ya pemirsa. "Vin.. Vin...., dari dulu kamu itu nggak pernah berubah ya, tetap rame dan agak sedikit sombong juga hahaha" ledek Amelia dengan nada bersahabat. "Maafin mami ya tante, ya maklumlah Mami emang gini orangnya, Tapi baik kok, bener kan Leen?" Alena hanya menjawab dengan senyuman yang ramah.
"Oh jadi ini nih Jeng calonnya, Wah cantik juga ya jadi ngiri Saya pengen cepet-cepet punya mantu juga" tutur Amelia.
"Oh iya ya bukannya anakmu usianya nggak jauh juga dari Frey ya? aku juga bingung sama anak sekarang kok kayaknya disuruh nikah tuh pada susah banget, alesannya itu belum mapan lah, belum mau berkomitmen lah, Emangnya enak hidup sendirian? Lagian kita juga kan butuh keturunannya ya Mel ya?!" curhatan emak-emak nih.
"Iya nih aku juga bingung, tapi ya namanya jodoh ya mungkin emang belum tepat aja waktunya, Ya udah yuk kita pilih-pilih aja kira-kira kamu mau souvenir yang model kayak gimana nih? kalau aku punya rekomendasi yang ini, ada emas batangan, atau sejenis handuk, atau mau yang model jewerly cuma memang kalau yang Jewelry ini lebih cenderung perempuan. Saran aku sih kalau yang diundang kolega lebih banyak orang pentingnya laki-laki yang memungkinkan lebih ke emas batangan atau juga bisa model-model jam tangan kayak gini atau pilih custom yang bisa perempuan dan laki-laki gitu biar biar lebih gampang aja gitu" Tutur Amelia.
Obrolan Mereka pun berlanjut sambil masing-masing memegang katalog berbagai souvenir. Berbeda dengan Frena dan mami Ravina yang fokus pada model bentuk souvenir bahkan jenis souvenir apa yang akan mereka pilih, Aleena dibuat menutup mulut dengan harga-harga yang tertera pada katalog tersebut.
__ADS_1
Bayangkan saja kalau satu souvenir seharga 2 juta dikali dengan misalnya 100 tamu undangan udah berapa ratus juta yang dikeluarkan hanya untuk souvenir. Sedangkan dari pembicaraan kemarin tamu undangan yang rencananya akan diundang saja mulai dari keluarga sahabat sampai rekan kerja sampai pada partner bisnis baik Frey maupun Amar bisa mencapai 1000 sampai 2000 orang yang terdaftar belum lagi yang tidak terdaftar.
Tapi ya memang dasar Aleena pintar menyembunyikan emosi dan ekspresi, Ia hanya tersenyum saja ketika sang Mami dan calon kakak ipar menunjuk satu persatu dan menanyakan pendapatnya tentang souvenir yang mereka pilih. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada souvenir berbentuk Gold Card seberat 1 gram dan tea set yang memiliki model lucu, unik khas china, tapi harganya tak selucu itu. Aleena bernafas lega ketika pemilihan souvenir itu sudah selesai. Kemudian mereka pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu mencari bahan untuk Bridesmaid.
Perjalanan melelahkan hari ini ditutup dengan sedikit bersantai di sebuah toko cake sekalian mencari referensi cake untuk dihidangkan pada saat pernikahan nanti. Aleena memutuskan untuk menghampiri Frey di kantornya karena toko cake itu terletak tidak jauh dari kantor Frey. Sedangkan Mami dan Frena memilih untuk langsung pulang karena hari itu cukup melelahkan untuk mereka.
Aleena menolak menerima tawaran mereka Untuk mengantarkan Aleena menuju ke rumahnya karena memang arah perjalanan mereka berbeda dan butuh waktu sekitar 30 menit kalau harus memutar ketika mengantarkan Aleena terlebih dahulu. Jadi Alena memutuskan untuk menghampiri Frey saja di kantornya.
Aleena langsung bergegas menuju ke ruangan Frey menggunakan lift pribadi, Iya tak perlu izin resepsionis ataupun satpam penjaga lift tersebut karena ia sudah dibekali kartu akses khusus untuk menuju ke ruangannya Frey. Sebenarnya baru hari itu Aleena menggunakan kartu akses yang diberikan Frey padanya karena sebelumnya selalu Frey yang menghampiri Alina ke tempat kerjanya titik ditambah lagi free yang memang jarang ada di kantor karena hampir sekitar 75% pekerjaannya itu dilakukan di luar ruangan atau bahkan sampai ke luar negeri dan keluar kota.
Begitu keluar lift Aleena berpapasan dengan Dans yang sepertinya baru saja dari kamar mandi, "Hai Dans, Mr. Frey ada di dalam?" Sapa Aleena.
" Oh tidak perlu Dans biar saya saja yang aka langsung memeriksa Frey ke ruangannya" jawab Aleena.
"Baiklah silahkan kalau begitu, saya izin untuk melanjutkan pekerjaan saya miss" izin Dans sopan.
Alena menuju ruangan Frey dengan ceria, ia tidak sabar untuk menceritakan kegiatannya hari ini tentang persiapan pernikahan mereka. Setelah berjalan beberapa langkah kemudian berbelok ke arah kiri, Aleena menemukan sebuah pintu yaitu pintu ruangan Frey. Karena terbuat dari kaca tebal, jadi dalam jarak dekat Aleena bisa melihat keadaan di dalam ruangan Frey dengan menempelkan wajahnya. Awalnya Aleena mau langsung membuka ruangan dan bermaksud mengejutkan Frey.
__ADS_1
Ketika melihat siluet bayangan Frey dari kaca yang menandakan dia ada di dalam, Aleena sudah bersiap memegang handle pintu. Akan tetapi kegiatan membuka pintunya itu harus terhenti karena ternyata bukan hanya Frey yang ada di dalam ruangan itu, melainkan juga seorang wanita yang sangat familiar bagi Aleena, Yap dia adalah Yukita.
Aleena tidak bisa mendengar apapun yang sedang mereka bicarakan tapi Aleena bisa melihat dengan jelas bagaimana Yukita mencium pipi kiri dan pipi kanan Frey walau tanpa ada balasan. Adegan terakhir di tutup dengan mereka yang saling berpelukan satu sama lain di situ Aleena melihat bagaimana Frey memeluk Yukita dengan penuh perasaan.
Merasa kehadirannya dapat menjadi pengganggu bagi kedua insan didalam sana, Aleena pun mundur perlahan-lahan. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan tanpa menunggu lama, Aleena mengangkat telpon itu sambil meninggalkan ruangan Frey. Dans yang berada di posisinya langsung berdiri melihat Aleena berjalan keluar sambil memegangi handphone di telinga kirinya. Dans tetap menunduk walau tanpa balasan apapun dari Aleena yang terlihat berjalan dengan terburu-buru.
Lima menit setelah Aleena menghilang dari Lift yang ada di ujung lorong, Dans terkejut karena melihat Yukita keluar dari ruangan Frey yang juga di temani Frey.
"Aku selalu berdoa, agar kamu sukses dimanapun kamu berada" Ucap lembut Frey pada Yukita.
"Thanks a lot Frey, Dans.. aku pamit ya.." kemudian Yukita juga berlalu menuju lift yang sama dengan lift yang Aleena pakai tadi.
"Jadi ini alasan bos tidak mengantar miss Aleena pulang?" Dans menyimpulkan.
"Aleena.. jangan bercanda Dans.. mana mungkin Aleena datang kesini" kekeh Frey.
"Jadi bos tidak tahu Aleena kesini?" Dans jadi bingung sendiri.
__ADS_1
"Hahaha.. ga usah nge-prank" Frey meninggalkan Dans yang membeku di tempatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...